“Manisnya” Cuan Petani Kakao Desa Bloro, Sikka NTT

Saat ini harga kakao bean (biji) non-organic sudah mencapai Rp140 ribu per kilogram.  Sedangkan kakao yang sudah memiliki sertifikasi organic harganya meningkat naik 50 persen dari harga non-organic. Petani kakao di Desa Bloro, Sikka NTT pun turut merasakan “manisnya” cuan dari produk komoditi ini!

Pohon kokoa tumbuh subur di Kabupaten Sikka, NTT/Foto: Ist

Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki varietas kakao  yang tahan terhadap serangan hama yang membuat buah kakao menjadi hitam. Bila pohon kakao  diserang hama tersebut, maka  hasilnya tidak bagus, buahnya kecil-kecil. Kalaupun buahnya besar, tapi  di dalamnya hitam semua.

Sementara Sikka, salah satu kabupaten di NTT, merupakan penghasil kakao terbesar di Pulau Flores. Petani  Kakao di sana  rata-rata  sudah bertani lebih dari 15 tahun.  Saat ini NTT menjadi salah satu dari 10 penghasil kakao berkualitas di Indonesia.  Akhirnya pemerintah berharap Flores menjadi salah satu daerah penghasil kakao terbaik di NTT.

Yofani Maria Rosari Francis dari DSA Sikka – Rumah Biru Sejahtera

Yofani Maria Rosari Francis dari DSA Sikka – Rumah Biru Sejahtera memaparkan, luas area perkebunan kakao di Kabupaten Sikka tahun 2024 mencapai kurang lebih 22.500 hektar. Luas area tersebut terdiri dari Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) atau berumur 1 tahun sebanyak 7933 hektar, tanaman yang sudah menghasilkan sebanyak 12.148 hektar dan hasil produksinya mencapai 8034 ton pertahun atau sekitar 700 kilogram per hektar.

Yofani merupakan pedamping para petani kakao di Sikka.  Satu  kelompok tani (koptan) terdiri dari 29 petani. Masing-masing petani memiliki rata-rata 1 hingga 3,8 hektar kebun kakao. Kurang lebih luas lahan dari 1 koptan sekitar 30 – 50 hektar. Di Desa Bloro, Kabupaten Sikka misalnya,  ada  3 koptan kakao. “Program Desa Sejahtera Astra (DSA) meminta minimal 6 desa,”urainya.

Menurut Yofana, selama ini para petani kakao di Sikka bertani secara natural atau organic.  Tapi tidak ada sertifikasi yang memvalidasi  hasil kakao petani tersebut organic farming.  “Berangkat dari Desa Sejahtera Astra (DSA),  kami mengembangkan kakao,”jelasnya seraya menambahkan  tidak hanya Desa Bloro, di desa-desa lain juga memiliki potensi yang sama. Potensinya  berkelanjutan dan produktifitas.

Koptan-koptan di desa Bloro misalnya, kata Yofani, sudah terbentuk koperasi bernama Rumah Biru Sejahtera. Koperasi  ini gotongroyongnya  kuat,    transparansi dan memiliki kepatuhan yang tinggi.  Jadi untuk keberlanjutannya  sudah ada modal. Satu sama lain patuh dengan kesepakatan bersama yang mereka buat.

Koperasi  Rumah Biru Sejahtera  bergerak di bidang serba usaha. Sementara dengan berdirinya program Desa Astra Sejahtera dibentuk Koperasi Produsen. Para Koptan  akan diajak menjadi anggota Koperasi Produsen atau buat koperasi baru. Yang jelas mereka sudah eksis sebagai koptan yang solid.

“Yang penting  pendampingan. Kemudian, ditingkatkan produksinya. Lalu bagaimana meyakinkan para pembeli  untuk mendapat produk yang lebih baik. Selama ini kami yang susah payah, tapi harga ditentukan oleh pembeli.  Sementara ada banyak nilai tambah bila  menjadikan kakao sebagai produk olahan,” tambah Direktur Operasional dan Pembiayaan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Musubu Bali ini.

Biji kakao hasil panen koptan Desa Bloro, Skka/Foto: Ist

Ia memberi contoh,  1 banding 6 biji kakao (cocoa bean) menjadi 1 kilogram  bubuk kakao.  Dari 1 kilogram bubuk kakao  bisa dapat kakao butter dan bisa dibuat jadi kakao bar. Semuanya punya harga!  Sementara mereka jual dalam bentuk kakao bean. Dulu 1 kilogram kakao  harganya Rp 35 ribu. Kalau dijadikan bubuk yang premium   (kakao bubuk tanpa campuran-red), maka harganya makin melambung.

Adapula cocoa butter (kakao butter) yang harganya mahal.  Itu kalau mau dapatkan kakao premium dan  menjadikan kakao  rasanya lebih enak. “Belgia beli dari kami.  Bagaimana kalau kita berpikir desa ini difasilitasi dengan peralatan yang sederhana mereka sudah bisa buat kakao butter sendiri  dengan SOP  ((Standard Operating Procedure) produksi yang sudah hiegene. Itu bisa dilatih,” tandasnya.

Lebih lanjut ditambahkan, orang Belgia  tidak punya pohon kakao, tapi terkenal sebagai produsen cokelat. Terus kenapa kita yang tanam kakao tidak bisa jadi produsen cokelat? “Itu dasarnya kami berkumpul petani kakao. Meski hanya 30 hektar kita bisa berkumpul dengan yang lain-lain dan target menjadi 100 hektar nantinya,” ujar Yofani.  

Ia melanjutkan, meskipun  produksi kakao saat ini baru sekitar 500 kilogram per bulan, tapi hasilnya premium. Sudah ada sertifikasi organic. Karena dengan sertifikasi organic berstandar internasional, hasil kakao dari koptan bisa diterima pasar luar negeri seperti Jepang, Uni Eropa dan Amerika.  Kini kakao bukan lagi sebagai komoditi,  tapi sudah naik kelas menjadi produk olahan. “Tapi saat ini masih on going,”ucap Yofani tentang sertifikasi organic kokoa yang sedang ia urus.

“Sebelumnya para petani jualan kakao tanpa ada sertifikasi. Para petani  jual bean ke pengepul-pengepul besar. Para buyer datang, lalu mereka kirim ke Surabaya. Pokoknya rantai distribusinya panjang. Sementara hasil kakao kami rasanya unik, karena intensitas matahari di Sikka  cukup baik. Tanahnya masih  penuh humus,  dan varietasnya membuat rasa cokelatnya tajam. Waktu dibawa ke Trade Expo Indonesia (TEI) 2024, banyak pengunjung yang bilang cokelatnya enak, tidak tersedak di leher yang  bikin batuk. Waktu di TEI kemarin itu banyak pengunjung dari luar negeri  seperti Oman, China, Korea Selatan, Jepang, Pakistan, Rusia, Amerika, dan Singapura. Kemarin bagian purchasing dari Kelompok usaha Marriot bilang  kalau ada sertifikat organic lebih baik lagi,” papar Yofani. Dari sekian banyak potensial buyer yang teken kontrak selama TEI berlangsung memang baru buyer dari China sebanyak 500 kilogram kakao bubuk per bulan.

Yofani menambahkan, akan masuk pasar  niche spesifik  yang menghargai proses  dan  tidak menggunakan  bahan kimia. Meski  pasarnya kecil sekitar 1 – 2 ton,  tapi premium. Mungkin hanya 100-200 kilogram,  tapi harganya sama dengan cokelat komoditi,  bukan massal. ”Kami mengkhususkan di situ. White label seperti toko cokelat yang mengutamakan kualitas. Packaging-nya punya mereka, tapi kami lakukan di desa dengan pendampingan, “ urainya.

Produk olahan kokoa DSA Sikka-Koperasi Biru Sejahtera/Foto: ist

“Sekarang ini perusahaan-perusahaan harus memberikan penghargaan bahwa purchasing itu penting.  Kami tidak hanya marketing  dan vendor  saja,   tapi sejajar dengan buyer.  Kalau tidak berproduksi,   maka kami tidak dapat barang. Kami tidak menjual komoditi yang berton-ton. Mungkin maksimal 1 ton, tapi sudah komoditi yang dihargai  mahal.  Harga kami beda disesuaikan dengan effort petani. Sebab kalau organic itu ada banyak aturan yang harus diikuti  petani,” tandasnya.

Sejauh ini pihaknya menggunakan dua pabrik,  pabrik organic dan  non-organic. Kakao organic tidak bisa disatukan pengolahannya di pabrik non-organic. Petani yang sudah bersertifikasi akan menghasilkan kakao organic dan diolah di pabrik organic yang saat ini berada di Java Spices, Bogor, Jawa Barat. “Sedangkan yang di Flores sedang on going,”tambahnya.

“Kami berkolaborasi dengan Boja Farm  yang memiliki sertifikat organic. Pemiliknya on the spot melihat petani kami langsung!. Kalau mau pameran mereka membawa produk kakao dari sini,“ lanjutnya. Dan dari kolaborasi ini para koptan di Sikka mendapat fasilitas sertifikasi  yang diberikan  Astra (DSA).

Menurut Yofani, Koperasi Produsen di Sikka bekerjasama dengan Yayasan Mitra Organic Boja Farm, melakukan sertifikasi kakao dari hasil koptan.  Bila tidak ada aral melintang akan dilakukan pada Mei 2025, sementara panen raya kakao pada Juli. Walaupun pohon kakao bisa panen setiap minggu. “Setelah panen raya bulan Juli, setelah itu setiap minggu dan bulan ada panen sampai September atau Oktober panen besar lagi,” jelasnya sambil menambahkan setahun ada 2 kali panen raya.

Lebih lanjut ditambahkan, 1 hektar kebun kakao bisa panen sebanyak 1 ton cokelat biji. Di mana 12 buah kakao menghasilkan 1 kilogram biji kakao (cocoa bean). Sementara  varietas lain 30 buah kakao baru menghasilkan 1 kilogram bean. Itupun belum semua kebun koptan binaan DSA di Sikka  mendapat Sekolah Lapang (Sekolah Lapang Pertanian adalah bentukan Kementerian Kehutanan untuk pengetahuan tentang Pertanian Perkotaan/urban farming-red)  karena sedang musin hujan. “Pasalnya, untuk melakukan Sekolah Lapang diperlukan cuaca yang tidak terlalu lembab. Mungkin Maret mendatang  akan diadakan Sekolah Lapang dari desa-desa tetangga yang mau didampingi dan desa induk agar mempunyai 1 SOP (Standard Operating Procedure) budidaya supaya mendapatan bean yang standar kualitasnya,” katanya.

Sementara pohon  kakao yang sudah tua, menurut Yofani, bisa diovulasi untuk melakukan peremajaan pohon kakao. Di Sikka ada 2 orang master kakao yang tersertifikasi nasional dari Kementerian Pertanian. Kedua master tersebut adalah petani yang setiap hari bergelut dengan kakao. Berdasarkan pengalaman menjadi petani kakao dan leaning by doing, akhirnya mendapat gelar master kakao.

Selama ini masing-masing petani kakao, tambah Yofani beguru dengan master kakao. Walaupun ada patani yang rajin mengikuti petunjuk-petunjuk dari master kakao, tapi ada juga tidak. Di samping itu, kehadiran Sekolah Lapang akan menambah pengetahuan petani dalam berkebun kakao. Di mulai mempersiapkan lahan , melakukan sambung silang, sehingga menghasilkan bibit baru dengan varietas yang unggul. Dan bagaimana cara menanam,  bagaimana pemeliharaan dan pemupukan, dan bagaimana mengatasi hama dan penyakit.

“Setelah itu bagaimana paska panen? Dalam kondisi buah kakao seperti apa yang sudah dapat petani petik, sehingga mendapatan kualitas kakao tua. Bagaimana tahap fermentasi” ujarnya. Baru kemudian masuk ke tahap pengolahan.

Selama ini proses tersebut, lanjut Yofani, hanya dijalankan oleh beberapa petani  kakao yang mengikuti SOP seperti   itu. Maret mendatang, akan dijalankan serentak oleh seluruh koptan kakao yang menjadi binaan DSA. Pihak Astra akan membantu fasilitas yang dibutuhkan dalam budidaya kakao agar menghasilkan kakao yang berkualitas yang standarnya sama.

Menurut Yofani DSA bagi petani kakao di Sikka sudah masuk tahun ketiga. Meskipun pendampingan baru dilakukan tahun pertama. “Tapi saya udah dua tahun mendampingi petani vanili dan mente. Yang menantang saat ini adalah kakao, karena kakao merupakan beverage no 3 di dunia, Di mana pertama air mineral, kedua kopi dan ketiga kakao,” urainya.

“Pohon kakao berbuah pada usia 3 tahun. Tapi bila dilakukan penyilangan untuk menghasilkan bibit berkualitas, maka usia 1,5 tahun sudah berbuah,” katanya seraya menambahkan walaupun rata-rata tingkat produktivitas tanaman kakao di kabupaten Sikka baru mencapai 700 kilogram per hektar, tapi Koptan DSA yang sudah mendapat pendampingan bisa menghasilkan 1 ton per tahun.

Berdasarkan data,  jumlah petani kakao di Sikka ada 34.500 petani. Dari jumlah tersebut, yang baru terpapar program DSA baru mencapai 200-an  petani kakao. Target tahun 2025 mencapai 400-an petani kakao.

Selain meningkatkan jumlah petani yang terpapar dalam program DSA, tambah Yofani, pihaknya menargetkan tahun 2025 untuk ekspor kakao organic dan non-organic. “Mungkin yang kami fokuskan ke organic dulu yang diekspor,” katanya sambil menambahkan harga kakao bean non-organic Rp 110.000 – 125.000 perkilogram. Tapi sekarang harganya sudah Rp 140.000 per kilogram. Sedangkan kakao yang sudah memiliki sertifikasi organic biasanya harga meningkat sekitar 50 persen dari harga non-organic.

Mekanisme kerjasama antara petani kakao dengan pihak pendamping (penjual-red), kata Yofani,  biasanya 70 : 30. Di mana 70 untuk petani dan 30 persen untuk pendamping/penjual. “Tapi kesepakatan akhir dibagi sama, yaitu 50 : 50 antara petani kakao dan pendamping,” tandasnya mengunci percakapan.[] Siti Ruslina