Mengintip Roti Jepang Obun Semarang
Roti khas Jepang dengan brand Obun hadir di Semarang! Mencoba bersaing di pasar red ocean dengan membidik segmen middle up, tak membuat Lukman Kurniastoro dan kawan-kawan gentar. Bahkan semester satu tahun ini akan hadir di tiga mall Semarang dan siap mendobrak pasar dengan produk Melonpan Gelato. Bagaimana kisahnya?
Kolaborasi tiga sekawan Lukman Kurniastoro, Aditya Sabdaning Pratama dan Sabdo Wardani menghasilkan Roti Jepang Obun. Sejak kecil berteman dan ketika dewasa ‘ngaji’ bareng, membuat ketiganya konek bersinergi dalam dunia usaha.
Berawal dari cerita Lukman yang mengisi waktu luang saat pandemic Covid-19, pada pertengahan tahun 2021, dimana ia menyarankan istrinya ikut kursus membuat roti. Dari iseng-iseng belajar membuat roti akhirnya pasutri ini tertarik ke bisnis kuliner. Dalam tempo tiga hari mengikuti kursus, alhasil sang istri mampu membuat roti yang enak. Roti buatan istrinya ternyata mengundang selera Lukman, sehingga terbetik niat membuat usaha roti. Pilihannya adalah Roti Jepang.
Namun demikian di luar dugaan istri Lukman hamil dan kondisi kesehatannya kurang baik. Akhirnya Lukman yang meneruskan misi membangun usaha kuliner ini. “Saya coba ikut kursus membuat roti khas Jepang. Dalam tempo dua bulan ternyata saya bisa membuat roti, ” ujarnya kepada pelakubisnis.com, di Obun Bakeshop, minggu pertama, Maret 2023.
Proses pembuatan brand Obun, kata Lukman, memerlukan waktu dua bulan. Brand ini mempunyai makna, Bun yang berarti roti, sementara huruf O mencerna dari nama roti yang sudah terkenal sebelumnya. Secara utuh kata Obun sendiri dalam bahasa Jepang artinya oven. Jadi, Obun merupakan satu kesatuan dari roti dan alat pembuat roti. Diakuinya saat ini Obun sudah mendapat sertifikat HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).
Menurut Lukman roti yang diproduksinya ini berciri khas roti Jepang. Roti khas Jepang ini merupakan sesuatu yang baru di Indonesia. Sebelumnya yang banyak beredar di tanah air adalah roti Taiwan.
Meskipun perlu waktu lama menguasai pembuatan roti, tapi tekad Lukman sangat kuat membesut bisnis roti yang dapat menghasilkan cuan. Dari situ dilakukan uji coba untuk menghasilkan formula roti yang sempurna yang mempunyai rasa dan aroma khas. Sedikitnya ia sudah menghabiskan 30 kg tepung terigu, menghabiskan lebih dari 150 telor yang sesuai resep dan puluhan kali mengalami trial and error. Tak patah arang Lukman terus mencoba hingga akhirnya ditemukan formula yang menurutnya cocok dengan segmen pasar yang akan dibidik khususnya di Semarang.
Lukman menambahkan, Roti yang diproduksinya tidak menggunakan bahan pengawet. Roti ini bisa bertahan dua hari, sedangkan bila dimasukkan dalam kulkas bisa bertahan sampai empat hari, walau teksturnya berubah. Di kemasan disebutkan bahwa roti ini bisa tahan sampai dua hari dari mulai diproduksi. Roti Obun diroduksi setiap hari agar selalu fresh.
Bersama Aditya Sabdaning Pratama dan Sabdo Wardani, Lukman membesut bisnis roti. Aditya mengurusi bidang marketing, sedangkan Sabdo lebih banyak menangani operasional produksi, bahan baku dan bagian administrasi. “Founder-nya adalah Mas Lukman yang merangkap sebagai CEO. Sedangkan saya dan Sabdo diajak bergabung karena mempunyai visi yang sama,” kata Aditya kepada pelakubisnis.com, awal maret lalu. Kolaborasi ini bisa berjalan, timpal Lukman karena mempunyai visi yang sama, “Tidak ingin cepat kaya, semuanya melalui proses. Yang paling penting usaha ini bisa jalan dulu!”
Menurut Aditya, Roti Obun baru launching pada 11 Februari lalu, tapi sebelumnya sudah jualan online. Obun mulai jualan secara online sejak Juli 2022.”Alhamdulillah dalam tempo enam bulan jualan online berjalan lancar. Bahkan sekarang sedang dipersiapkan produk baru yang masih ada hubungan dengan roti Jepang, Insya Allah roti yang akan diluncurkan ini di Indonesia belum ada,” tandas Aditya seraya memberi bocoran kalau roti pendatang baru itu bernama Obun Melonpangelato.
Lukman mengakui bisnis roti memang termasuk bisnis red ocean. Persaingannya sangat ketat. “Sampai saat ini kami masih proses riset. Nantinya Roti Obun dikombinasikan dengan produk roti khas Jepang, yaitu Melonpan Gelato, “ tandasnya seraya menambahkan memang terbilang tak mudah karena untuk gelato-nya masih impor dari Jepang karena alatnya lebih mahal dibandingkan oven pembuat roti biasa. Tapi nantinya tidak menutup kemungkinan diproduksi sendiri.
Lebih lanjut ditambahkan Lukman yang juga memiliki bisnis ekspor kayu ini, meski sudah launching, tapi proses riset pasar tetap dilanjutkan untuk mengetahui Roti Obun akan diposisikan ke segmen pasar kelas mana. “Dalam semester satu tahun ini Obun akan masuk ke mall. Targetnya tahun ini Obun akan masuk di tiga mall di Semarang,” tambahnya. Tapi rencananya yang akan dipasarkan di mall adalah produk Melonpan Gelato. Roti jenis ini di Indonesia belum ada. Meski demikian, produk Melonpan Gelato tetap menggunakan brand Obun supaya market dari masing-masing produk bisa menderek brand Obun.
Jenis produk roti yang akan diluncurkan itu di Indonesia belum ada. Tapi kalau roti dicampur dengan ice cream, kata Lukman mungkin ada di Jakarta dan beberapa tempat lainnya. Memang produknya sejenis dengan Melonpan Gelato. “Bedanya kalau produk kami menggunakan melonpan dan gelato, sedangkan produk sejenis lainnya menggunakan vla,” lanjutnya. Nanti Melonpan Gelato juga menggunakan story telling untuk mengedukasi pasar.
Memang Gelato itu mindset-nya eksklusif. Targetnya produk ini akan launching masuk mall di semester pertama tahun ini. Meski saat wawancara produk ini belum masuk mall, tapi di media sosial sudah diperkenalkan. Bahkan untuk roti dan gelato yang secara terpisah sudah dipasarkan melalui dapur yang sekaligus gerai penjualan Roti Obun.
Dalam hal ini, kata Lukman, Obun bekerjasama dengan Frutta Gelato yang diproduksi di Bali yang sudah dikenal masyarakat dan sudah ikut pameran sekelas Muslim Life Fest. Jadi soal bahan baku yang digunakan semuanya halal.
Produk yang akan dipasarkan di mall ini jelas Lukman, justru Melonpan Gelato. Di mana roti yang digunakan tetap berciri khas Jepang, kemudian di tengah-tengah roti dioleskan gelato. Sebetulnya roti dicampur ice cream itu ide dasarnya. “Kami ingin coba mengikuti ‘ombak’ ice cream yang sudah lebih dulu dikenal,” urainya.
Alasan membuka gerai di mall, lanjut Lukman, traffic-nya tinggi dan branding yang diinginkan mereka yang ke mall mau makan. Walau saat awal ia belum berani mematok revenue yang tinggi. “Dari dua brand saya, yaitu Obun dan Melonpan Gelato itu, mana yang bisa diterima pasar,” tandasnya. Bila Melonpan Gelato yang dterima di pasar, misalnya, akhir brand itu yang akan difokuskan, sementara Roti Obun sebagai second brand.
Menurut Lukman, selama ini konsumen Roti Obun tidak ada yang komplain, baik dari segi rasa maupun aroma. Artinya problem yang dihadapi bukan dari produk (roti-red), tapi dari sisi harga jual. Obun dari sisi harga sama dengan roti yang lain. “Meskipun tidak membidik market tertentu, tapi dilepas dulu ke pasar dan market mana yang cocok, itulah yang akan dibidik nantinya,”tandas pria asal Semarang ini.
Lukman menjamin produknya lebih unggul dibandingkan pemain bakery lainnya. Dari sisi aroma dan rasa menjadi nilai tambah Obun. Sementara pangsa pasarnya sudah ada, tinggal mengalihkan dari brand roti yang satu ke brand Obun. Biasanya orang Indonesia melihat dari sisi harga. Roti Obun dijual dengan kisaran harga Rp 16.000 – Rp 17.000 per-piece. Dengan harga jual sebesar itu, boleh jadi pasar yang dibidik adalah middle up.
Lukman bersyukur, dalam 2 bulan terakhir ini, penjualannya terus meningkat. Tapi secara target memang belum tercapai karena usia Roti Jepang Obun masih terbilang muda. Tapi yang penting menurutnya, EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization ) atau pendapatan sebelum bunga, pajak , depresiasi dan amortisasi terlewatkan (tercapai). Meski saat ini volume produksi baru mencapai 2 – 4 kg/hari, namun ia berharap target volume produksi tahun ini minimal bisa sebesar 10 kg tepung terigu per hari atau sekitar 800 pieces roti per hari.
Ia juga berharap kehadiran Obun Melonpan Gelato di mall menggunakan konsep take away, atau hadir di area food court dapat mendongkrak omzet penjualan perusahaan. “Tapi kalau posisinya di food court, maka tempat makan bisa di-share. Itu alasan mengapa saya tidak menyewa tempat di ruko. Karena sewa ruko sekarang mahal bisa mencapai Rp 100 juta per tahun, sementara sewa space kecil di mall lebih murah. Untuk ukuran 6 m2 harga sewa Rp 3 juta perbulan dengan minimal kontrak antara tiga sampai empat tahun,” urainya.
Lukman optimis Obun bisa menghasilkan cuan. Pasalnya, hasil survei di Semarang menempatkan konsumsi roti berada di peringkat ketiga (17 persen) setelah nasi dan satu produk lainnya. Artinya roti menjadi pilihan masyarakat Semarang sebagai makanan utama.
Itu sebabnya, Lukman berani menggelontorkan dana sekitar Rp 300 juta untuk membesut bisnis roti. Rencananya akan melakukan ekspansi ke Solo. Tapi tahap awal akan jajaki pasar Semarang dulu. “Rumah ini saya sudah kontrak untuk tiga tahun bayar di muka dan komitmen untuk mengontrak selama enam tahun. Dalam tahun ini juga Obun ditargetkan akan hadir di tiga mall di Semarang,” ucapnya mengunci percakapan. [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa



