Kiprah Yudi  UMKM Lebak Banten, Cari Cuan Dari Limbah Kotoran Domba

Usaha ternak domba atau kambing keuntungannya tidak hanya di momen lebaran haji, aqiqahan atau berakhir di dapur restoran saja, tapi limbah kotorannya ternyata bernilai tinggi untuk dijadikan pupuk cair dan pupuk padat. Yudi, pemuda asal Desa Mekarwangi, Lebak Banten   salah satu peternak domba dan kambing yang sukses mengolah limbah kotoran hewan ruminansia ini menjadi cuan.

Tak heran bila Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Lebak Banten menargetkan wilayah ini  menjadi sentra peternakan domba. Mengutip dari laman  rri.co.id 1 Desember 2025, disebutkan,  populasi domba di Kabupaten Lebak sampai September 2025 sebanyak 57.804 ekor dan kambing 41.466 ekor serta setiap tahun mengalami peningkatan. Salah satu peternak yang mencari cuan di bisnis pemeliharaan domba dan kambing ini adalah Yudi, pemuda asal Desa Mekarwangi, Kecamatan Muncung, Lebak Banten.  Ia mulai terjun ke bisnis domba dan kambing sejak  tahun 2022.  Meski demikian, sebelumnya Yudi  juga memiliki usaha menanam buah-buahan dari durian hingga pete dan jengkol yang dijual ke pengepul di pasar.

Hingga suatu hari ia berkesempatan mengunjungi  usaha ternak domba temannya di  Jawa Tengah dan Jawa Timur. Yudi pun tertarik  menjalankan usaha ternak domba mulai dari nol.  Ia belajar lewat temannya di Surabaya bagaimana beternak domba dan kambing dengan benar. Mulai dari bagaimana mengolah urine yang  diproses fermentasi menjadi POC (pupuk organic cair) karena ternyata baru ia ketahui kalau kotoran limbah cair dan limbah padatnya domba dan kambing dapat dimanfaatkan  menjadi pupuk. “Tidak ada yang terbuang memelihara kambing/domba,”ujar Yudi, peternak domba dari Desa Mekarwangi, Kecamatan Muncang, Lebak Banten.

Yudi (kemeja putih), peternak domba dari Desa Mekarwangi, Kecamatan Muncang, Lebak Banten/Foto: dok. pribadi

Melihat beberapa temannya sukses membudidayakan domba dan kambing hingga ratusan ekor, dari  kotorannya yang dapat dijadikan pupuk dan bernilai jual tinggi, mereka juga sudah memasok daging domba dan kambing ke restoran-restoran.

Sejak tahun 2022 bahkan  sampai tahun 2025 jumlah pemainnya terus bertambah. Khusus  di kampungnya dalam satu rukun tetangga yang berada di Desa Mekarwangi, Lebak Banten, sudah ada komunitas usaha kambing/domba sekitar 10 orang yang aktif, bergerak bersama-sama dan menjualnya di satu pintu sehingga bisa menentukan harga yang sama.

Kemudian di tahun 2022 itu Yudi dan kawan-kawan bergabung dengan Komunitas UMKM YDBA (Yayasan Dharma Bhakti Astra).  Banyak ilmu didapat dari YDBA yang memberikan banyak ilmu untuk mengembangkan usaha. Dari ilmu pemasaran, manajemen keuangan, basic mentality, belajar merawat hewan biar sehat hingga diajarkan bagaimana mengolah pupuk yang baik dan benar. “Saya ingin pasar lancar, enak menjualnya. Kemarin-kemarin YDBA sudah bantu carikan pasar, Alhamdulillah dengan Dompet Dhuafa sudah kerja sama untuk Lebaran Haji kemarin,”alasan Yudi bergabung dengan YDBA, namun diakuinya semua ilmu yang didapat belum dapat diimplementasikan secara maksimal.

Diakui Yudi, awalnya ia kewalahan dalam mencari pasar. Namun sejak didampingi YDBA ada perubahan yang cukup signifikan di bidang pemasaran.  Untuk produk pupuk juga cukup berkembang. “Dulu sebelum ada YDBA, paling menjualnya menunggu tengkulak datang dengan harga jual Rp2,5 – 5 juta,”ungkapnya yang dari awal usaha  sudah memproduksi pupuk.

Yudi mengolah limbah kotoran domba menjadi pupuk/Foto: dok. pribadi

Kemudian ia melihat pasar yang lain dari pemeliharaan hewan ruminansia ini yakni pasar pupuk organik. Di Lebak Banten misalnya,  masyarakatnya sudah mulai meninggalkan pupuk kimia. Namun saat itu masih sulit mengembangkan pasar, hingga bertemu YDBA. “Awalnya paling saya jual di sekitar sini saja ( Mekarwangi, Lebak – Banten), sesekali kawan bawa ke Palembang bawa 1000 liter. Coba ke sana dan ternyata respon mereka bagus,”ungkapnya membahas penjualan produk pupuknya. 

Di awal usaha ia mengambil semua jenis hewan ruminansia  (hewan pemakan tumbuhan seperti kambing, kerbau, sapi, domba).  Namun ia melihat potensi paling besar dan peminat paling banyak justru untuk jenis domba. Sekarang ini trennya untuk  hewan kurban orang banyak mencari domba.  “Awalnya saya punya 10 ekor domba dan kambing, bikin kandang yang semua modalnya dari hasil bertani buah-buahan,”terang Yudi yang mengaku di awal usaha,  omzet penjualannya tak sampai ratusan juta rupiah, hanya sekitar 20 sampai 30 ekor kambing per tahun.”Alhamdulillah kalau sekarang jumlah segitu sudah per bulan,”tutur pria 40 tahun ini.

Ia yakini banyak pihak yang membantu sukses usahanya. Dari YDBA hingga komunitas peternak yang sama-sama memotivasi dan memiliki semangat yang sama. Dengan YDBA juga diajarkan tentang bagaimana mengembangkan kambing dan domba dengan bioteknologi reproduksi  untuk peningkatan genetik hewan ruminansia (kambing, kerbau, sapi, domba), peningkatan kualitas genetis ternak keturunan dan perkawinan silang antar ras dengan cara  inseminasi buatan. Kegiatan inseminasi buatan sudah berlangsung sejak pertengahan 2024 di desa Mekarwangi Kecamatan Muncang, Lebak Banten. Hingga tahun ini kegiatan tersebut masih berlangsung.

Diversifikasi usaha dari sekedar menjual kambing dan domba, akhirnya ia paham ternyata kotoran dari hewan ruminansia ini memiliki nilai tambah.  Pun akhirnya, YDBA mempertemukan Yudi dan kawan-kawan dengan pasar yang membutuhkan pupuk organik. Bahkan para petani Lebak Banten seperti petani sereh wangi, jahe merah dan sebagainya terkoneksi dan menjadi pelanggan tetap untuk produk pupuk yang berasal dari Mekarwangi, Kecamatan Muncang, Lebak Banten ini. “Seperti jahe merah dan sereh itu mereka  pakai pupuk padat. Sekali per tiga bulan mereka pesan 1 sampai 1,5 ton. Sementara untuk padi, mereka pakai pupuk cair (POC-red), “papar Yudi  seraya menambahkan YDBA sudah menjadi jembatan bagi usahanya untuk berkembang dan berkolaborasi dengan pihak-pihak lain.

Diakuinya keuntungan terbesar justru dari jual kotoran domba dan kambing. Dalam satu bulan bisa menghasilkan 2 sampai 3 ton pupuk padat senilai Rp3 juta per ton, bila 3 ton berarti senilai Rp9 juta. “Setiap musim tanam padi pasti permintaannya tinggi. Setahun paling ada 3 kali order,”jelas Yudi sambil menambahkan, untuk pupuk cair yang harga ecerannya  sekitar Rp50 ribu per liter ini sebenarnya bisa diambil sebanyak mungkin namun untuk ternaknya baru menghasilkan 300 sampai 400 liter pupuk cair. “Dari 30 ekor sehari semalam bisa menghasilkan 10 liter urine dan itu disaring dan masukkan ke tong lalu dilakukan fermentasi selama sebulan,”ungkap Yudi yang sejauh ini hanya menjual pupuk belum merambah ke daging kambing/domba. []Siti Ruslina