Kisah Asrip, Pemuda Baduy Luar Kembangkan Jahe Merah

Di usia 15 tahun, pemuda asal Baduy Luar ini sudah menjadi petani jahe merah. Namun beberapa kali  mengalami kegagalan. Dari gagal panen hingga kena tipu tengkulak.  Suatu hari ia bertemu Yayasan Astra – YDBA  yang membukakan jalan untuk kemajuan usahanya .  Harga  jahe merah yang dulu hanya terjual Rp3000-6000 per kilogram,  kini  bisa terjual  Rp15 ribu per kilogram bahkan off taker sampai menjemput ke lokasi produksi  dengan jumlah permintaan 20 hingga 30 ton per tahun. Kalau kita hitung, omzetnya mencapai Rp300 – 450 juta per tahun.    

Asrip: “Kami sudah biasa menanam jahe merah bertumpang sari dengan tanaman lain”/Foto: Dok. Asrip

“Tanaman jahe sebagai  contoh, bahwa tanaman kita gak usah diragukan lagi, sudah pasti subur. Tidak perlu dipupuk, malah sama sekali tidak dipupuk,”  dari akun  media sosialnya, Asrip, pemuda  asal Baduy Luar, Banten,  memberikan tutorial  cara menanam jahe merah. Lalu ia menunjukkan tanaman jahe merah yang baru berumur 1,5 bulan yang sudah terlihat bagus dan sudah beranak-pinak.

Bagi anak Baduy Luar,  membantu orangtua bercocoktanam di ladang keluarga  adalah hal biasa. Tak terkecuali bagi Asrip yang kini dikenal sebagai pegiat UMKM jahe merah (jahe bereum). Ia cukup piawai memproduksi jahe merah, namun untuk menjual ke pasar tak semudah membalikkan telapak tangan.   

Menanam jahe bereum (jahe merah) bagi masyarakat baduy luar sudah bukan hal yang baru tetapi sudah menjadi pekerjaan yang dilakukan secara turun menurun.  Dari generasi ke generasi  sudah sangat mafhum dengan kegiatan menanam jahe. Salah satunya  Asrip  memilih menjadi  pegiat UMKM jahe merah. Ia tidak sendirian, bersama teman-temannya ia mengembangkan budi daya  jahe merah. “Anak-anak Baduy sudah biasa bantu-bantu orang tua sejak kecil.  Karena anak Baduy tidak sekolah seperti anak-anak di perkotaan.  Kami sudah biasa menanam jahe merah bertumpang sari dengan padi, cabai (cengek), kencur dan masih banyak lagi yang lain. Sudah turun temurun.  Di Baduy Dalam juga ada jahe merah tapi tidak sebanyak di Baduy Luar,”ungkap Asrip kepada  pelakubisnis.com.

Namun diakuinya yang paling unggul dan menghasilkan lebih banyak hasil panen itu jenis tanaman jahe dan kencur. Tahun 2020 menjadi milestone bagi perjalanannya memproduksi jahe  merah ketika bertemu dengan  tim LPB Yayasan Astra – YDBA (Lembaga Pengembangan Bisnis Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra). 

Dari usia 15 tahun ia sudah fokus mengembangkan jahe merah,  Namun karena belum berpengalaman, seringkali ia mengalami kerugian karena ditipu tengkulak. Menyuplai sekian banyak  jahe merah ke pasar, dari harga Rp7 ribu per kilogram namun ketika ditagih mereka ingkar bayar. “Saya masuk sendiri ke pasar-pasar,  waktu itu saya mengalami kerugian karena gak dibayar sama bos yang  di pasar itu. Nomor hp  saya langsung diblok. Baru tiga kali pengiriman saya sudah ketipu. Tidak banyak sekitar 2 sampai 3 ton dengan harga Rp7 ribu per kilogram,”cerita Asrip yang pernah mengalami kerugian kena tipu tengkulak.

Dari situ  ia  berpikir, kalau ada yang bisa menerima produknya  dalam jumlah lebih besar dengan komitmen yang jelas, mungkin ia akan lebih semakin semangat bertani.  Akhirnya ia berkenalan dengan   LPB Yayasan Astra – YDBA yang menyediakan pasar dan mengarahkan untuk melakukan pendekatan ke PT Bintang Toejoe. 

Yang membuatnya tertarik bergabung dengan Yayasan Astra  – YDBA karena  mendapatkan ilmu dan praktik. Diajarkan cara budi daya yang baik, bagaimana merawat tanaman sampai diajarkan bagaimana cara memasarkan produk. Materi  ilmu pemasaran menjadi minat pria 29 tahun ini. 

Ia menanam di atas tanah seluas  2 hektar milik keluarga  di lokasi yang  berbeda-beda, ia  membudidayakan jahe merah bertumpang sari dengan tanaman lain seperti kencur, cabai rawit, pohon aren juga menanam padi.  Ada sekitar 36 pegiat UMKM jahe merah yang didampingi LPB  Yayasan Astra – YDBA, lebih dari 20 UMKM diantaranya berasal dari Baduy Luar.  Dalam proses pelatihan bersama Yayasan Astra – YDBA, seleksi alam terjadi. Ada anggota yang berhenti, ada juga yang menanam jahe merah tapi tidak banyak.  Sementara  Asrip termasuk yang semakin konsisten menekuni usaha budidaya jahe merah.

Jahe merah adalah asset yang dimiliki keluarga Baduy Luar/Foto: Ism

Bersama teman-teman UMKM ia diajarkan mulai dari membangun Basic Mentality hingga  Ilmu Manajemen. Yang membuatnya bertahan ikut pelatihan karena menurutnya, jahe merah adalah asset yang dimiliki keluarga Baduy Luar secara turun temurun yang tidak mungkin punah. Karena di Baduy pekerjaannya di ladang.  Menanam tanaman seperti jahe dan kencur  bisa menjadi sumber ekonomi keluarga. Itu yang membuatkan harus bertahan melanjutkan arahan dari Yayasan Astra – YDBA. “Karena sangat bermanfaat sekali buat saya pribadi,”tutur bapak dua anak ini.

Sebagai bagian dari suku  Baduy yang patuh dengan  tradisi dan adat istiadat ia memahami  akan menemui benturan ketika berinteraksi dengan dunia luar. Namun sejauh ini menurutnya ia harus bisa mengimbangi  untuk ikut menerima hal baru namun jangan terlalu menolak pada hal baru supaya adat tidak terlalu ketinggalan oleh kemajuan zaman  tapi harus memiliki pemikiran yang lebih luas agar tidak tertinggal. 

Bagaimana ia memahami  materi pelatihan yang diberikan Yayasan Astra – YDBA seperti  penerapan rumus 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) dan apa itu QCD (Quality Cost Delivery) untuk diimplementasikan di ladangnya? “Sedikit-sedikit saya belajar lewat Pak Dani (Dani Kurnia, Koordinator LPB Yayasan Astra – YDBA-red). Saya pribadi merasa pelatihan itu sangat bermanfaat . Harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari di ladang. Dalam hal apapun bagi saya harus l rajin dan konsisten menjalani ,” jawabnya.

Pengimplementasian 5R menurutnya tidak sulit karena dipraktekkan setiap hari.  Karena  lama-lama jadi kebiasaan, bahkan ia menularkan ilmunya ke orang lain. Karena tak jarang ia mempekerjakan saudara dan teman-teman ketika ia butuh karyawan untuk menyelesaikan permintaan off taker (pembeli-red).  Kalau tidak ada kegiatan penyiangan, pengeringan, selebihnya dilakukan sendiri. Dari mulai pembukaan  lahan, penyiangan yang dilakukan 2 kali sebelum tanam, kemudian pembakaran , baru proses tanam. Untuk bibit unggul ia dapat dari local saja. Cuma dari Yayasan Astra – YDBA ia diajarkan memilih bibit yang berkualitas. Itu semua ia peroleh sambil belajar dan sambil praktik langsung.

Setelah adanya Yayasan Astra – YDBA ia terus belajar mencari bibit jahe yang bagus dan hasilnya pun diakuinya lebih bagus.

Rencana Asrip di tahun ini ia akan membuat mix gula aren dan jahe merah  (Zingiber officinale var. Rubrum).     Karena ia melihat perkembangan di luar daerah dimana ia pernah diajak Yayasan Astra – YDBA, studi banding ke daerah-daerah seperti Majalengka  tentang teknik pengeringan yang boleh jadi bisa diterapkan di desanya.  “Karena di lokasi itu juga masih dilakukan dengan alat tradisional jadi masih bisa diterapkan di Baduy Luar.  Karena alat-alat yang modern tidak memungkinkan diterapkan di Baduy. Paling tidak di perbatasan luar Baduy boleh diterapkan. Makanya ke depan kami rencananya ingin juga produksi spesies yang seperti itu. Seperti proses pengeringan  di Majalengka itu lebih bagus pakai sinar matahari dengan menggunakan medium plastik,”akunya.

Selain kerugian kareng ditipu tengkulak, sebelum  tahun  2020 Asrip dan kawan-kawan juga pernah mengalami kegagalan panen karena hujan yang mengakibatkan hasil panen busuk. 

Di tahun 2019 hasil panen hanya mencapai 16 kilogram. Sebelum 2019, dengan varietas unggulan  hasil produksinya pernah mencapai 4,5 kwintal atau 450 kilogram. Murni karena alam varietas unggulan itu tumbuh. Namun setahun kemudian mengalami gagal panen namun sebagian masih bisa diselamatkan.  Persisnya di tahun 2019-2020 ada sebagian gagal. Secara hitungan keseluruhan masih untung.  

Hingga akhirnya bergabung dengan Yayasan Astra – YDBA yang kemudian membuka pasar bagi Asrip dan kawan-kawan memasok ke perusahaan manufaktur farmasi Bintang Toejoe.  Tahun pertama (2020)  hanya menyuplay  sekitar 16 ton.  Lalu tahun-tahun berikutnya mengambil lebih dari 30 ton. 

Diakuinya,  dari   2 hektar lahan ia dan kawan-kawan  menanam 1 ton bibit per hektar bisa memasok 30-an ton jahe merah . “Kita tidak bisa menghitung dari besarnya lahan, tapi hitungannya berapa banyak bibit yang ditanam. Lagipula menanamnya bertumpang sari dengan pohon-pohon besar seperti pohon aren dan ada batu-batu juga yang tidak bisa kita hitung karena tidak bisa menanam. Kami menghitungnya dari jumlah bibit. Kalau panen normal dari 1 ton bibit bisa menghasilkan 10 sampai 12 ton jahe merah dengan tingkat kegagalannya masih di 20%. Kalau tidak ada gagal sama sekali harusnya bisa 15 hingga 20 ton,”papar Asrip.

Untuk sekarang ini Asrip dan kawan-kawan melalui kelompok tani hingga saat ini mempercayakan Yayasan Astra – YDBA untuk mencari pasar yang besar. Selain jaringan pemasaran lewat Yayasan  Astra – YDBA, ia juga masih memasok   hasil panen jahe merah dan bibit jahe merah di pasar lokal.

Diakuinya,  sejak  2022 hingga tahun  ini  masih memasok jahe merah ke Bintang  Toedjoe.  Namun demikian,  sekarang pihak off taker  ini justru meminta  jahe merah kering (simplisia/Zingiber officinale var. rubrum) .  Tapi menurutnya sementara saat ini masuk musim hujan  jadi agak susah dalam proses penjemuran.  Pun saat ini jumlah permintaan memang tak sebesar  dulu. Paling tidak 13 sampai 20 ton.

Ia punya mimpi suatu hari bisa memproduksi  produk turunan seperti minuman bubuk atau sirup mix jahe merah dengan gula aren, dengan proses sederhana,  mengambil sari jahe merah dicampur dengan gula aren yang merupakan resep nenek moyang orang Baduy seperti minuman wedang jahe.  Ia juga ingin bisa menghasilkan gula semut dengan proses pengolahan secara tradisional.  “Saya masih belajar soal ini, saya cuma kepikiran aja,”kata Asrip menutup percakapan.[]Siti Ruslina/Dok. Asrip