Tak Ingin Terjajah Dalam Alam Kemerdekaan
Oleh: Yuniman Taqwa Nurdin
Dalam suatu kesempatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa Indonesia pada tahun 2045 atau 100 tahun Indonesia merdeka akan menjadi negara maju. Pada saat itu pendapatan perkapital Indonesia mencapai Rp 320 juta per jiwa. Dengan kata lain, Indonesia akan mendekati angka nol persen penduduk misikin.
Prediksi itu artinya – mengantar Indonesia – menjadi negara maju dan sejahtera, sebagaimana harapan dari kemerdekatan suatu bangsa. Pertanyaan apa mimpi besar itu hanya merupakan utopis atau “mimpi di siang bolong”?
Saya meyakini bahwa harapan itu bukan suatu hal yang mustahil. Pasalnya, negeri ini diberi oleh Tuhan Yang Esa anugerah kekayaan melimpah. Potensi kekayaan dari perut bumi bangsa ini tak terhingga nilai keekonomiannya. Potensi nikel, misalnya, menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Indonesia memiliki 30% cadangan nikel dunia, yaitu sebesar 21 juta ton. Nikel dapat ditemukan di berbagai wilayah, seperti Halmahera Timur di Maluku Utara, Morowali di Sulawesi Tengah, Pulau Obi di Maluku Utara, dan Pulau Gag di Kepulauan Raja Ampat.
Potensi yang besar itu – bila ditingkatkan nilai tambahnya – bukan tidak mungkin akan menghasilkan cuan berlipat ganda. Itu sebabnya pemerintah mencanangkan stop ekspor raw material. Semua potensi material yang terkandung di dalam perut bumi ini harus diolah di dalam negeri (hilirisasi) untuk ditingkatkan nilai tambahnya.
Nikel kini diprediksi menjadi nilai ekonomis menggiurkan di masa mendatang. Betapa tidak, dari nikel dapat dijadikan komponen penting produksi baterai kendaraan listrik. Nikel menjadi pendorong perubahan dalam pemanfaatan energi. Diperkirakan ada 3.269.671 unit kendaraan listrik di pasar kendaraan listrik global pada tahun 2019. Jumlahnya akan mencapai 26.951.318 unit pada tahun 2030. Semakin tingginya permintaan kendaraan listrik secara otomatis akan membuat industri kendaraan listrik menjadi salah satu industri paling populer. Oleh karena itu, nikel sebagai komponen penting akan menjadi incaran negara-negara di dunia.
Mobil listrik menjadi tren kendaraan masa depan! Perlahan tapi pasti kendaraan berbahan bakar fosil akan mengalami transformasi menjadi mobil listrik. Apalagi komitmen masyarakat dunia untuk menekan emisi gas buang. Bila tidak ada aral melintang, pada tahun 2060 negara-negara di dunia berkomitmen membangun peradaban net zero emission. Di mana emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas manusia yang dilepas ke atmosfir tidak boleh lebih dari daya tampung bumi dalam menangkap emisi tersebut.
Mengingat sumbangan polusi udara terbesar berasal dari transportasi, menyusul industri pengolahan, pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan lain-lain. Potensi pencemaran udara tersebut terbesar disumbangkan dari transportasi, maka kendaraan listrik di masa mendatang menjadi jawabannya.
Namun demikian, sumber listriknya pun perlahan tapi pasti akan mengurangi sumber-sumber pembangkit listrik dari fosil. Simbiosis tersebut bagaikan mata rantai yang tak lepas dari program hilirisasi yang raw material berasal dari perut bumi. Fenomena ini, akan menjadi daya ungkit ekonomi bagi anak bangsa di masa mendatang.
Kini pemerintah Indonesia sedang memasuki tahap transisi energi ke energi bersih. Seluruh stakeholders berkomitmen untuk mengurangi energi fosil. Komitmen itu dibuktikan dengan Indonesia tengah berjuang mengembangkan potensi energi bersih. Sekaligus menetapkan target ambisius menghasilkan 23% energi terbarukan sebagai sumber energi pada 2025. Bahkan, Pidato Presiden Joko Widodo pada Conference of the Parties (COP 21) United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), akhir November 2015 lalu mengatakan bahwa Indonesia berkomitmen mengurangi emisi 29% di bawah business as usual pada 2030. Angka ini meningkat menjadi 41% dengan bantuan dana internasional.
PT Pertamina (Persero) mengembangkan penelitian dan teknologi diesel biohidrokarbon dan bioavtur. Upaya ini dilakukan dalam ikhtiar Pertamina untuk mempercepat ketahanan dan kemandirian energi bagi negeri.
Komitmen kemandirian energi tersebut ditandai dengan penandatanganan antara PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), PT Pupuk Sriwidjaja, PT Rekayasa Industri, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), dan LEMIGAS di Gedung Patra Graha, Cilacap, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan, penandatanganan ini sebagai komitmen Pertamina dalam energi transisi dengan cara mengembangkan sumber daya nabati yang banyak tersebar di Indonesia.
“Kedaulatan energi harus kita wujudkan dengan memanfaatkan sumber daya nabati yang harus menjadi dasar untuk pengembangan energi ke depan. Jika itu terwujud maka kemerdekaan ini bisa kita wujudkan sebagai kedaulatan energi,” ujar Nicke.
Boleh jadi kini seluruh stakeholder bergerak dengan “satu tarikan napas” – memanfaatkan semaksimal mungkin potensi raw material dalam negeri untuk ditingkatkan nilai tambahnya. Bila skenario besar ini berjalan on the track, maka modal dasar yang dimiliki Indonesia menjadi “lokomotif” untuk menarik “anak bangsa ke gerbang” kesejahteraan.
Dapat dibayangkan sumber daya alam yang dimiliki “Ibu Pertiwi” dapat menjadi modal dasar dalam meakselerasi kemajuan ekonomi bangsa ini. Semua potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia – bila diolah – dapat menghasilkan berbagai produk setengah jadi dan produk jadi yang nilai ekonominya meningkat berkali-kali lipat dibandingkan hanya menjual raw material belaka.
Gas bumi, umpamanya, bila diolah sampai ke sektor hilir, maka akan melahirkan produk-produk turunan, seperti petrokimia. Dan dari di sini dapat melihat beberapa produk turunan lainnya. Sama halnya dengan sumber daya alam lainnya. Kepala sawit utamanya, dapat melahirkan produk-produk turunan lainnya yang nilai ekonominya pun turut terdongkrak.
Selama ini – bertahun-tahun sumber daya alam kita — di eksploitasi oleh kapitalis asing. Kita merasa tidak memiliki “power” atas kekayaan bangsa ini. Kita cukup puas mendapat royalty dan komposisi saham yang sangat kecil, akibat penanaman modal asing, dengan model bisnis yang menguntungkan sepihak. Puluhan tahun kekayaan “Ibu Pertiwi” berpindah tangan ke negara seberang. Nilai tambahnya mereka lipatgandakan. Bangsa ini hanya melihat dari jauh, kekayaan itu berpindah tangan. Bertahun-tahun potret itu terpampang jelas di depan pelupuk mata anak negeri.
Jejak sejarah itu tak lekang ditelan waktu. Fenomena itu harus dipangkas! Beruntung pemimpin bangsa – saat ini — ini punya “mimpi besar untuk bisa keluar dari negara berpenghasilan menengah, menjadi negara maju. Seratus tahun Indonesia merdeka, pada tahun 2045, mimpi itu, Insya Allah menjadi suatu kenyataan.
Oleh karena itu, kedaulatan suatu bangsa bukan hanya dilhat dari perspektif sebagai negara merdeka. Tapi sejauhmana segenap komponen bangsa dapat menentukan sikap apa yang menjadi hak kita. Kita tak ingin “tergoda dengan gula-gula” kapitalis asing”, tapi tidak berdaulat dalam menentukan arah pembangunan bangsa ini.
Ayo kita bangkit! Kapitalis-kapitalis asing yang tidak taat azas atas kedaulatan bangsa ini sudah waktunya harus hengkang dari bumi Pertiwi. Kini kita membangun peradaban baru. Berdaulan terhadap sumber daya yang kita miliki. Itulah essensi dari nilai kemerdekaan. Kita tak ingin “terjajah dalam alam kemerdekaan!”[] foto ilustrasi: website Kementerian ESDM
*Penulis pimpinan redaks pelakubisnis.com
