Membangun Harapan BOBIBOS dari Indonesia Untuk Dunia

Oleh Yuniman Taqwa Nurdin

Awal November lalu diluncurkan bahan bakar alternatif yang diklaim sebagai bahan bakar 100 persen nabati bertajuk BOBIBOS (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos). Peluncuran tersebut digelar di Bumi Sultan Jonggol, Kabupaten Bogor. Inovasi ini hasil besutan anak muda negeri ini, M. Ikhlas Thamrin bersama timnya.

Setelah riset lebih dari sepuluh tahun, akhirnya ditemukan formula bahan bakar yang mampu menekan emisi gas buang mendekati nol. Bahan bakar ini dibuat dari limbah padi (jerami) yang bahan bakunya mudah dijumpai di seantero Indonesia. Konsepnya tidak hanya mendorong kemandirian energi, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan nasional dan kemandirian energi.

Sementara Indonesia salah satu negara penghasil padi terbesar di dunia. Limbah jerami tersedia setiap tahun. Bila diolah menjadi bioetanol atau biodiesel, misalnya,  jerami berpeluang menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Dengan kata lain, bahan baku yang digunakan tidak ada tarik menarik kepentingan antara kemandirin pangan dan energi. Justru dari limbah yang tadinya tidak ada nilai tambah, maka bukan tidak mungkin ke depan limbah tersebut akan menjadi nilai tambah bagi petani. Tentu dengan catatan bila BOBIBOS berhasil menjalankan uji coba secara komprehensip yang disyaratkan oleh Kementerin Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) c/q Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE).

Sampai saat ini pihak BOBIBOS, katanya telah melakukan uji laboratorium di LEMIGAS (Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi) memiliki Research Octane Number (RON) mendekati 98. Angka ini secara dengan RON Pertamax Turbo, tapi dengan harga sepertiga dari harga Pertamax Turbo, sekitar di kisaran Rp5000 – Rp6000 perliteri. Namun demikian, uji laboratorium tersebut bukan uji sertifikasi, tapi hanya sebatas uji laboratorium yang hanya tindakan teknis untuk menguji kualitas produk migas, 

Sedangkan uji sertifikasi Lemigas adalah proses yang lebih luas yang mencakup hasil uji laboratorium, audit, dan evaluasi lain untuk memberikan pengakuan resmi bahwa produk telah memenuhi standar mutu dan regulasi yang ketat. Uji lab merupakan salah satu bagian dari proses sertifikasi. 

Tak pelak lagi, dengan harga yang murah dengan RON yang tinggi membuat penemuan BOBIBOS langsung viral. Media sosial dibanjirin dengan posting BOBIBOS. Ada harapan besar di kalangan masyarakat bahwa penemuan ini dapat merubah landscape bisnis energi. Energi yang selama ini dikonsumsi untuk kendaraan bermotor hanya mengandalkan energi berbasis fosil atau campura dengan energi nabati, seperti B40 (campuran minyak nabati 40 persen dan minyak berbasis fosil 60 persen).

Rencananya tahun 2026 pemerintah akan menerapkan program mandatori biodiesel B50 (campuran 50 persen bahan bakar nabati) . Langkah ini akan menjadi kunci sebagai subtitusi seluruh kebutuhan solar impor..Boleh jadi ini merupakan langkah strategis untuk mencapai kedaulatan energi dengan menargetkan penghentian total impor minyak solar pada tahun 2026.

Sementara Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman mengapresiasi inovasi yang dilakukan tim BOBIBOS dalam menghadirkan BBM ramah lingkungan. Namun, Laode menjelaskan produk BBM dikatakan layak beredar di masyarakat membutuhkan waktu dan tahapan yang cukup panjang.

Sejauh ini Dirjen EBTKE belum mempunyai parameter penilaiaan untuk bakan bakar 100 persen nabati yang belakangan heboh dengan kehadiran BOBIBOS. Oleh karena itu, untuk merespon kehadirn BOBIBOS, tak ada salahnya pihak stakeholders yang terkait dengan sektor bahan bakar dan otomotif perlu “duduk bareng” menindaklanjuti penemuan BOBIBOS untu merumuskan formula dalam parameter bahan bakar nabati 100 persen.

Kementerian ESDM membuka pintu lebar untuk memfasilitasi pihak yang melakukan inovasi membuat produk BBM baru dengan Badan Usaha (BU) yang sudah ada untuk dilakukan kerja sama. Hal ini agar produk tersebut dapat diperjualbelikan di masyarakat, sebagaimana dikutip dari detik.com, pada postingan 7/11.

Pasalnya kata Laode, sudah banyak pihak yang membuat BBM baru. Namun untuk bisa diperjualbelikan di masyarakat harus melalui proses yang sudah ditetapkan pemerintah.”Jadi sebenarnya ini banyak yang membuat seperti itu. Ada juga kan dari plastik pernah tuh. Seperti ini banyak. Tapi kita tidak ingin menanggapi satu per satu lah. Saya ingin menyampaikan prosedur legal bagaimana suatu BBM tersebut disahkan oleh pemerintah untuk menjadi bahan bakar resmi,” katanya.

Memang sampai artikel ini ditulis, BOBIBOS belum mendapat izin edar BBM. Sepanjang belum mendapat izin edar, maka BOBIBOS belum bisa didistribusikan secara komersial kepada masyarakat, Perlu waktu untuk melakukan pengujian secara komprehensip dan holistic. Misalnya pengujian untuk sekian ribu km pengujjian jarak tempuh dengan menggunakan berbagai merek kendaraan. Apakah selama 1000-an km uji layak pakai tidak mempengaruhi mesin kendaraan? Bagaimana kinerja kendaraan dengan menggunaan BOBIBOS dan sebagainya.

Tahapan demi tahapan pengujian tersebut harus dilalui, sehingga secara komprehensip dapat dinilai memang layak BOBIBOS mendapat izin edar distribusi BBM secara komersial.

Dan yang tak kalah penting apakah BOBIBOS memenuhi kelayakan keekonomian untuk diproduksi secara massal? Justru di sini kunci keberhasilannya! Kalau memang keekonomian produksi bisa kompetitif dibandingkan BBM berbasis fosil, maka BOBIBOS menjadi solusi menyelamatkan bumi dari efek rumah kaca.

Masyarakat jangan terjebak euporia atas kehadiran BOBIBOS. Biarkan tim BOBIBOS mengikuti tahapan demi tahapan pengujian sampai benar-benar dinyatakan layak konsumsi dan mendapat izin edar BBM. Semua pihak harus mendukung hasil temuan anak bangsa ini. Bila berhasil, bukan hanya Indonesia yang menikmatinya, tapi masyarakat dunia pun akan terselamatkan dari atas efek rumah kaca.

Komitmen global untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060 adalah target emisi nol bersih pada tahun tersebut, yang diwujudkan melalui pengurangan emisi gas rumah kaca secara drastis dan penyeimbangan emisi yang tersisa. Indonesia, sebagai salah satu negara yang berkomitmen, telah memperbarui targetnya dan akan fokus pada pengembangan energi terbarukan (EBT) serta reboisasi lahan untuk mencapai tujuan itu. 

Sumbangan terbesar polusi udara berasal dari sektor transportasi (terutama kendaraan bermotor) dan industri (pembangkit listrik dan manufaktur) yang membakar bahan bakar fosil. Sumber lain yang signifikan termasuk pembakaran sampah dan aktivitas pertanian. 

Bila terbukti mampu menjadi subtitusi BBM, maka BOBIBOS dari Indonesia untuk dunia menjadi penyelamat bumi dari ancaman efek rumah kaca. Semoga!


*Penulis pimpinn redaksi pelakubisnis.com