Zhafran Batik Membidik Segmen Pejabat dengan Harga Merakyat

Latarbelakang orangtua sebagai pengrajin batik menginspirasi Fatkhurozi  terjun berjualan batik bersama istri. Dua tahun pertama berdarah-darah dengan omzet penjualan berkisar Rp16-21 juta per bulan. Namun paska pandemic, ia menemukan kunci  menuju sukses  dengan fokus memproduksi batik tulis. Alhasil, ia mampu mendongkrak omzet penjualan hingga Rp250 juta per bulan.

Mengintip akun instagram @zhafranbatikpremium  cukup menarik perhatian.  Disitu tertulis tagline “Batik Pejabat Harga Merakyat” dan “Garansi 100% Uang Kembali”.  Memang  tak sekedar omong kelobot, bila melihat sorotan dari IG merek batik nasional ini,  ternyata tak sedikit  pejabat yang menjadi pelanggannya. Terlihat testimony  para pelanggan dari  Gedung MPR/DPR, pejabat daerah dan  public figure seperti Helmi Yahya dan Henry Yosodiningrat yang rupanya penyuka produk lokal dan mendukung UMKM di Tanah Air. 

Kepada pelakubisnis.com  Fatkhurozi  bercerita  tentang awal mula  berjualan  pakaian batik.  Berangkat dari pernikahannya dengan wanita asal Minangkabau, Riza Karlina, teman kuliahnya semasa  di Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) yang ia nikahi tahun 2009.  “Saya terlahir dari orangtua yang bekerja sebagai  buruh batik.  Mengerjakan batik punya orang,”tutur  pria asal Wiradesa Pekalongan, Jawa Tengah  ini seraya menambahkan daerah Wiradesa ini mayoritas  masyarakatnya memiliki pekerjaan membatik.

Mayoritas masyarakat  Wiradesa menerima orderan dari para pengusaha batik. Dengan modal canting para masyarakat membatik. Demikian halnya dengan orangtua Fatkhurozi.  Sang ayah merupakan pengrajin batik cap, sementara ibunya  terampil di kerajinan batik tulis.

Fatkhurozi bersama para pengrajin batik di Wiradesa Pekalongan/Foto: dok. pribadi

Hingga di tahun 2014-2015 muncul tren sablon malam yang mulai menggeser keberadaan batik cap yang selama ini dikerjakan para pengrajin.  Sedikit informasi tentang perbedaan batik cap dengan batik malam.  Mengutip dari laman fitinline.com,  kalau batik cap perintang warnanya menggunakan malam dan proses pembuatannya masih manual.  Sedangkan batik sablon  pembuatannya sama dengan produksi sablon, yaitu menggunakan klise (kassa) untuk mencetak motif batik di atas kain.

“Akhirnya daripada bapak nganggur dan kebetulan saya sudah bekerja, sudah punya penghasilan , saya beli kain ,”ujar PNS Kementerian Perhubungan ini  sambil mengungkapkan,  ia selalu sedih bila mengingat masa-masa orangtuanya berjibaku menghidupi keluarga dari jerih payah menjadi buruh batik.

Ada cerita unik di masa muda Fatkhurozi yang perlu diteladani.  Tahun 2001 lulus SMA dan lolos di UMPTN dan masuk Fakultas Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang Jawa Tengah. Namun hanya 3 bulan saja ia kuliah. Kiriman uang dari orang tua tersendat  dan sulitnya mencari pekerjaan  pada masa itu membuat  Fatkhurozi memutuskan  berhenti kuliah dan kembali membantu orangtua membuat batik cap. “Kalau saat itu sudah ada ojek online mungkin saya pilih jadi driver Gojek,”ucap pria 39 tahun ini.

Tahun 2003 ia kembali mencoba  untuk bisa kuliah tapi tidak bayar.  Ia pun lolos di Sekolah Tinggi Penerbangan Curug, Banten yang kini berubah menjadi  Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI).  Lulus dari PPI ia langsung ditempatkan di kantor pusat Kementerian Perhubungan RI di Jakarta. 

Berangkat dari situ, ketika mulai punya penghasilan ia mencoba membantu orangtua. Pada momen tren batik cap yang tergeser dengan tren batik sablon malam, ia terpacu untuk mengangkat derajat orangtua pindah kuadran dari posisi sebagai pengrajin batik  menjadi pengusaha batik.

Awalnya ia menitipkan hasil kerajinan orangtuanya ke toko teman di Thamrin City. Berjalan beberapa tahun,  toko teman tersebut tutup karena sesuatu hal,  sementara saat itu  stok batik hasil kerajinan orangtuanya semakin banyak.  Akhirnya ia memutuskan untuk menyewa toko di Thamrin City.  Sesekali ikut pameran.

Dua tahun pertama mengelola toko batik masih berdarah-darah. Pertama kali omzet berkisar Rp16-21 juta per bulan. Artinya, bila dihitung modal menyewa toko dan membayar gaji 1 orang karyawan, itu masih belum cukup.  

Diakuinya,  di awal merintis usaha bersama istri memang tidak mudah. Belum lagi ia harus bisa meyakinkan mertua ketika  ia meminta sang istri untuk berhenti bekerja dari perusahaan pengelola bandara terbesar di Indonesia agar fokus mengurus anak dan memiliki usaha sambilan.

Sempat mengalami pertentangan dari mertua yang memiliki latar belakang pekerjaan di bidang pendidikan.  Apalagi saat itu sang istri sudah memiliki penghasillan yang cukup baik.  Maklum, saat itu pekerjaan Riza Karlina istri Fatkhurozi, bekerja di lapangan yang jam kerjanya bukan office hour. Menurut Fatkhurozi, hal tersebut tidak baik untuk pendidikan anak ke depannya karena tidak intens mengurus anak. Akhirnya pada kehamilan 8 bulan ia meminta sang istri untuk berhenti kerja. Karena sudah menjadi komitmen keduanya untuk fokus mengasuh anak.  Maka ia yang meminta istri untuk berhenti  bekerja  dan ia yang berjibaku mencari nafkah untuk keluarga.

Ia juga sempat ‘gamang’ ketika harus memilih menjadi PNS atau bekerja di perusahaan swasta . Ia sempat berada di posisi harus memilih bekerja dengan penghasilan besar  untuk satu tujuan ingin membelikan ibunya sawah. “Dan misi saya kesampean membelikan  emak sawah meski  cuma ‘sekecrit’  –sedikit–. Intinya keinginan emak sudah terpenuhi,” ungkap Fatkhurozi  yang akhirnya pada 2008 kembali melamar kerja sebagai PNS dan hingga saat ini masih menjadi  pilihan karirnya sambil ‘nyambi’ berdagang batik bersama istri.

Ada dua alasan kenapa ia tergerak membangun usaha berjualan batik. Pertama karena faktor mencari kesibukan untuk sang istri. Kedua  karena melihat  pekerjaan ayahnya  sebagai pengrajin batik cap yang  sempat mengalami kevakuman karena hadirnya tren batik sablon malam di kisaran tahun 2014. Kedua faktor ini yang membuat Fatkhurozi  akhirnya terjun ke bisnis batik.

Dari menyewa kios  di Thamrin City menjual produk pakaian batik dengan beragam jenis batik  agar tokonya kelihatan  memiliki banyak moti. Namun  ternyata  dalam analisanya  menjual beragam jenis batik justru  tidak tepat karena tidak memiliki ciri atau tidak memiliki positioning yang tepat.  Ia pun melakukan  strategi mencari ciri dari produk batiknya dengan fokus ke batik tulis. “Saat itu justru penjualan jadi lumayan terdongkrak,”terang Fatkhurozi.

Ciri Zhafran Batik menonjolkan warna-warna terang khas Pekalongan/Foto: pelakubisnis.com

Tak lama ayahnya meninggal dunia dan yang memproses batik cap sudah tidak ada lagi. Ia pun memutuskan untuk fokus memproduksi batik tulis sampai sekarang. Bagaimana strategi pemasaran hingga masyarakat suka dengan produk batik tulisnya?

Fatkhurozi menjelaskan, ia melakukan diversifikasi   agar produknya semakin diminati pasar. Diantaranya dalam hal menciptakan produk berkualitas dengan  difrensiasi pada jahitannya  yang  berkualitas sekelas ‘taylor’.   Bila jahitan batik di daerahnya selama ini menggunakan kualitas jahitan konveksi, ia justru  berani merekrut penjahit  handal  mantan penjahit  taylor.  Alhasil, tak sedikit kalangan menengah atas yang tertarik membeli koleksi Zhafran Batik khususnya Zhafran Batik Premium . Dengan menggunaan tagline  “Batik Pejabat, Harga Merakyat” tak sedikit kalangan pejabat yang menjadi langganannya.  

Menurut Fatkhurozi, batik tulis ini memang sangat segmented, sehingga harga  jual pun mengarah ke menengah atas dengan kisaran harga mulai Rp 1 juta. Kebutuhan kemeja batik di kalangan pejabat amat  tinggi. Bahkan, di segmen ini  ada  slogan “perang batik” yang mengisyaratkan bahwa setiap orang berupaya tampil menggunakan pakaian batik dengan  kualitas terbaik.

Zhafran Batik di Pameran Warisan/Foto: pelakubisnis.com

Salah satu strategi pemasaran yang dijalankan Fatkhurozi  adalah lewat pameran.  Biasanya kalangan high class lebih suka berbelanja di pameran-pameran daripada datang ke toko. “Bahkan, ada  pelanggan  yang chat ke kami. Makanya saya ikut pameran, karena salah satu targetnya itu tadi,” tandasnya serius seraya menambahkan, untuk pelanggan yang enggan datang ke tokonya di Thamrin City,  biasanya  terjaring pada saat  pameran.

Tidak hanya itu, Fatkhurozi  juga melakukan promosi dan pemasaran dari “mulut ke mulut”. Misalnya ada pelanggan dari Polda Metro Jaya yang dapat informasi dari temannya. Ternyata kekuatan pemasaran dari “mulut ke mulut” cukup efektif. Komunikasinya sambung menyambung  sehingga peminatnya semakin meluas.  

Lebih lanjut ditambahkan, ada beberapa kategori batik tulis yang dipasarkan, yaitu ada batik tulis premium dan ada  juga yang menyukai  basic collection. “Batik tulis-batik tulis ini kan bahan sama, tapi hasil ternyata berbeda. Seperti ibarat tulis tangan, ada yang tulis tangan rapi, maka akan rapi terus selama menulis. “Kalau pembatik mengerjakan rapih, maka akan rapih terus hasilnya. Batik tulis yang hasil pekerjaannya rapih dikategorikan batik premium. Sedangkan batu tulis yang standar saya kategorikan batik tulis basic collection, artinya batuk tulis ini tidak terlalu mahal,” urainya.

Konsumen yang sudah terbiasa mengenakan pakaian batik tulis dan biasa memakai batik tulis  biasanya tidak mau membeli batik cap atau jenis lainnya. “Dia akan selalu memakai batik tulis,”tutur bapak beranak dua ini.

Menurutnya, berjualan melalui jalur rekomendasi , dari mulut ke mulut (word of mouth-red)  justru lebih  menguntungkan  bagi  pedagang.  Karena tidak perlu terlalu repot membuat  story telling menjelaskan batik-batik yang dipasarkan.  Biasanya konsumen yang mendapat rekomendasi  akan  langsung percaya kualitas batik tulis yang ditawarkan.

Belum lama ini produk batik tulisnya  masuk ke Gedung Sarinah. “Alhamdulillah beberapa batik tulis kami yang premium lolos kurasi oleh kurator pihak Sarinah. Jadi saya juga kerjasama dengan Sarinah,” urainya. Harga yang dipasarkan untuk kategori batik tulis premium berbahan katun di jual di kisaran  Rp 1 juta sampai Rp 3 juta per piece. Sedangkan batik tulis biasa harga jualnya di bawah Rp 1 juta. Sedangkan batik non-tulis (batik cetak) dijual di kisaran Rp 300 – Rp 400 ribu per piece.

Difrensiasi dari produk Zhafran Batik, menurutnya adalah kualitas Taylor. Di mana jahitannya sangat rapi, berbeda dengan hasil  jahitan konveksi. Selain itu  motif-motif dan warna cerah khas Pekalongan yang menonjol pada koleksi Zhafran Batik dan ada juga koleksi batik tulis dengan motif  ‘Iwan Tirtaan” yang memiliki kekhasan dalam struktur penempatan  objek gambar sehingga terlihat tepat dan serasi.

Fatkhurozi menambahkan, Zhafran Batik Tulis lahir pada tahun 2015. Brand ini diambil dari  nama anak pertamanya, Fakhrie Zhafran Khairy Rozi. Perolehan omzet dua tahun pertama berdiri hanya berkisar Rp 16 – 22  juta per bulan. Diakuinya dua tahun pertama usahanya masih berdarah-darah.

Mulanya Zhafran Batik menjual aneka jenis batik. Setelah dievaluasi ternyata  strategi yang ia jalankan salah. Artinya tidak harus menjual  semua jenis batik. “Saya merubah strategi, dengan  fokus  menjual  batik tulis. Dengan fokus menjual batik tulis, perkembangan usaha sudah mulai kelihatan. Sudah ada hasilnya. Padahal sebelumnya masih impas-impas saja (belum ada keuntungan-red),” katanya.

Diakuinya omzet ratusan juta rupiah di peroleh setelah ia fokus menjual batik tulis.  Memang ketika pandemic  Covid-19 muncul,  omzet Zhafran Batik kembali “berdarah-darah”. Pasalnya waktu itu  terjadi lockdown dimana-mana,  terlebih di  pusat-pusat belanja. Tokonya sempat   tutup selama tiga bulan, sehingga mulai merangkak dari nol lagi. “Pandemi kemarin merupakan titik nol saya. Ketika mall-mall tutup tiga bulan, itu saya punya asuransi jiwa uannya ditarik juga untuk kelangsungan agar tetap berproduksi. Semua uang di rekening habis.  Saya kasihan dengan teman-teman di kampung kalau tidak bekerja. Saya sampai pinjam uang  Rp 30 juta sama adik saya. Utang di bank minta direstrukturisasi dan sebagainya. Tapi Alhamdulillah  setahun ini bisa jalan lagi,”papar Fatkhurozi  seraya menyebut   usaha batik tulis ini ia mampu meraup omzetpenjualan hingga Rp250 juta. [] Siti Ruslina