Menangkap Jejak Sejarah Zaman Praaksara

Lewat museum kita bisa menangkap jejak-jejak sejarah suatu peradaban ratusan ribu tahun silam. Keberadaan museum menjadi tempat kita memahami evolusi kebudayaan. Bagaimana cerita sejarah di zaman praaksara?

Beberapa waktu lalu saya bersama orangtua melepas rindu jalan-jalan ke Museum Nasional Indonesia, setelah sekian lama kami tak berkunjung ke sana. Boleh jadi sejak usia pra sekolah, saya sudah suka ilmu sejarah. Tak heran bila dari usia balita hingga sekarang, saya begitu menikmati setiap perjalanan ke museum-museum.  Sebut saja Museum Geologi Bandung  Jawa Barat, Museum Zoologi Bogor Jawa Barat, Museum Fatahillah Jakarta, Museum Satria Mandala Jakarta, Museum Ronggo Warsito Semarang dan lain-lain.

Museum Nasional Indonesia salah satu museum favorit saya. Karena di sana kita bisa belajar Sejarah Indonesia dari zaman pra sejarah hingga di masa Kemerdekaan Republik Indonesia.  Di Museum Nasional kita bisa menjumpai bukti sejarah seperti Arca Adityawarman, Prasasti Singosari, Patung Bhairawa, dan lain-lain. Adapula  miniatur candi seperti Miniatur Candi Borobudur. Tidak lupa juga terdapat beberapa baju adat dari seluruh daerah di Indonesia dan juga beberapa kebudayaan dari kearifan lokal di setiap daerah di Tanah Air.

Potret Homo Erectus yang terpajang di Museum Nasional/Sumber: Dok. Pribadi

Apa korelasinya dengan Masa Praaksara? Selain mengoleksi berbagai Arca dan Prasasti, Museum Nasional Indonesia juga mengoleksi beberapa tengkorak manusia purba. Bahkan terdapat miniatur manusia purba disana. Selain itu juga terdapat beberapa peninggalan kebudayaan hasil zaman batu hingga zaman logam. Tak lupa, di museum ini disediakan penjelasan edukasi mengenai migrasi manusia purba dari seluruh dunia hingga ke Indonesia. Tak pelak, Museum Nasional Indonesia menjadi salah satu destinasi tujuan untuk mempelajari sejarah praaksara bagi turis lokal maupun asing.

Masa Praaksara atau yang biasa disebut sebagai Masa Prasejarah adalah masa dimana ketika dunia dikuasai oleh makhluk homonini atau makhluk yang terdiri dari Homo dan anggota dari Klade Manusia setelah terpisah dari suku Panini atau Simpanse. Berakhirnya zaman ini ditandai dengan munculnya aksara atau tulisan oleh karena itu masa ini disebut Masa Praaksara.

Masa Praaksara terbagi menjadi dua zaman besar yaitu Zaman Batu dan Zaman Logam. Zaman Batu sendiri terbagi lagi menjadi 4 periodisasi zaman. Keempat zaman ini adalah Zaman Paleolitikum, Zaman Mesolitikum, Zaman Neolitikum, dan Zaman Megalitikum. Sedangkan Zaman Logam sendiri terbagi menjadi 3 periodisasi zaman. Ketiga zaman ini adalah Zaman Tembaga, Zaman Perunggu, dan Zaman Besi. Namun artikel ini akan berfokus pada Zaman Batu dan periodisasi-nya.

Zaman Paleolitikum/Foto: ist

Mulai dari periodisasi paling awal yakini Zaman Paleolitikum atau yang biasa disebut Zaman Batu Tua. Zaman Paleolitikum ini diyakini terjadi pada sekitar 600.000 tahun lalu. Kehidupan masyarakat pada zaman ini masih terbilang sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia purba pada zaman ini berburu hewan untuk makanan. Mereka mencari makanan dan mengumpulkannya. Teknik mengumpulkan makanan ini sering disebut sebagai teknik food gathering. Oleh karena itu, mereka hidup secara nomaden atau berpindah-pindah. Mereka harus hidup nomaden agar mereka bisa mencari sumber daya yang baru dan mencari tempat yang masih subur untuk ditempati.

Hasil kebudayaan pada Zaman Paleolitikum dibagi menjadi dua kebudayaan yaitu Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong. Hal ini dikarenakan banyak peninggalan yang ditemukan di dua wilayah tersebut.

Zaman Mesolitikum/Sumber: Abhiseva

Mulai dari kebudayaan Pacitan terlebih dahulu. Kebudayaan ini pertama kali ditemukan pada tahun 1935 di Kab.Pacitan oleh Von Koeningslad. Beberapa peninggalan yang ditemukan pada Kebudayan Pacitan adalah Kapak Genggam, Kapak Perimban, Alat-alat serpih, dll. Selanjutnya adalah peninggalan dari kebudayaan Ngandong yang ditemukan di daerah Ngandong, Kab. Blora, Jawa Tengah. Beberapa alat yang ditemukan kurang lebih sama dengan peninggalan kebudayaan Pacitan. Namun ada beberapa alat tambahan seperti Alat-alat yang dibentuk dari tulang hewan membentuk belati dan juga Ujung Tombak.

Manusia purba pendukung pada Zaman Paleolitikum diantaranya adalah Meganthropus Paleojavanicus, Pithecantropus Robustus, Pithecantropus Erectus, dan lain-lain.

Berlanjut pada Zaman Measolitikum yang berlangsung kurang lebih pada 10.000 – 5.000 SM. Jika Zaman Paleolitikum dikenal dengan zaman batu tua maka Zaman Paleolitikum dikenal dengan Zaman Batu Tengah. Ciri hidup manusia pada zaman ini bersifat semi nomaden. Yang dimaksud semi nomaden adalah beberapa manusia purba masih bersifat berpindah-pindah dan ada juga yang sudah hidup menetap didalam goa.

Pemukiman lebih sering ditemukan di daerah pesisir pantai. Hal ini dibuktikan dengan banyak ditemukannya Kjokkenmoddinger yakini tumpukan sampah dapur berupa kulit siput dan kerang.

Dikarenakan kehidupan pada masa ini bersifat semi nomaden berarti ciri penghidupan kebutuhan mereka juga berpengaruh. Pada masa ini, manusia purba masih melakukan Teknik food gathering namun ada juga yang melakukan Teknik cocok tanam. Jadi ada yang masih berburu dan ada yang menetap bercocok tanam. Terlebih pada masa ini, masyarakatnya sudah mengenal system kepercayaann terhadap nenek moyang, pembagian kerja, dan organisasi sosial.

Manusia pendukung pada Zaman Mesolitikum diantaranya dating dari berbagai campuran bangsa-bangsa Asia seperti Suku Irian, Suku Sakai, Suku Atca, Suku Aborigin, dan Suku Semang.

Selanjutnya adalah Zaman Neolitikum atau Zaman Batu Muda. Pada zaman ini, revolusi kebudayaan yang sangat besar pada manusia terjadi. Manusia yang tadinya hidup bercirikan nomaden kini sudah mulai menetap. Tidak hanya itu, teknik food gathering perlahan mulai menghilang dan mulai menerapkan teknik food producing. Teknik inilah yang biasa dikenal sebagai Teknik berternak dan bercocok tanam. Tempat tinggal yang dipilih tidak hanya sebatas goa namun mereka mulai belajar untuk membuat rumah sederhana.

Kehidupan sosial pada Zaman Neolitikum ditandai dengan berkembangnya sistem kepercayaan animisme dan dinamisme, bergotong royong, serta membuat aturan dalam suatu masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa pada Zaman Neolitikum, manusia sudah mulai melangkah lebih maju.

Beberapa hasil kebudayaan pada Zaman Neolitikum diantaranya adalah kapak lonjong dan kapak persegi yang dimana kedua benda ini dipakai untuk kepentingan pertanian.

Zaman Neolitikum/Kewajiban/ Sumber: Ist

Manusia pendukung pada Zaman Neolitikum adalah manusia Proto Melayu yang hidup pada 2000 SM, seperti Suku Nias, Toraja, Dayak, dan Sasak.

Dan masuk ke periodisasi Zaman Batu terakhir yaitu Zaman Megalitikum. Megalitikum sendiri memiliki arti Batu Besar jadi pada zaman ini akan banyak ditemukannya kebudayaan-kebudayaan yang berbentuk batu yang sangat besar.

Sebenarnya, pada zaman ini memiliki cukup banyak kemiripan dengan Zaman Neolitikum seperti contohnya Manusia sudah mengenal kepercayaan terhadap nenek moyang dan sudah hidup menetap. Yang membedakan adalah di peninggalan kebudayaannya.

Peninggalan pada Zaman Megalitikum terbuat dari batu yang sangat besar. Beberapa contohnya adalah Kubur Batu, Menhir, Dolmen, Sakrofagus, Waruga, Punden Berundak, dan Arca Batu.

Manusia pendukung pada zaman ini diantaranya adalah Pithecanthropus Erectus, Pithecanthropus Mojokertensis, Pithecanthropus Soloensis, dan sebagainya.

Itulah evaluasi peradaban bangsa! Ratusan ribu tahun yang silam, kita kini masih bisa menangkap jejak-jejak sejarah suatu peradaban. Keberadaan museum menjadi tempat kita memahami evolusi kebudayaan.  Tapi sayangnya pemerintah kurang gencar mengkampanyekan pentingnya mengunjungi museum. Padahal museum mampu memvisualisasikan kembali peristiwa masa silam di era modernitas seperti saat ini!  [Abrar Rizq Ramadhan]