Menatap Asa UMKM Milenial Naik Kelas
Keberhasilan UMKM sangat ditentukan oleh kolaborasinya dengan stakeholders. Kolaborasi ini diharapkan membangun simbiosis antara semua pihak, sehingga terbentuk ekosistem kondusif bagi akselerasi UMKM agar naik kelas.
Saat ini jumlah entrepreneurs di Indonesia baru mencapai 3,4% dari rasio jumlah penduduk Indonesia. Jumlah tersebut masih sangat kecil untuk bisa menjadi “lokomotif” ekonomi Indonesia menjadi suatu negara maju. Menurut Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), paling tidak dibutuhkan 12 hingga 14% rasio dari jumlah penduduk.
Untuk mencapai harapan tersebut, diperlukan motivasi untuk membangkitkan anak-anak muda berani membangun usaha. Pasalnya, peluang sukses membangun usaha di Indonesia masih terbuka lebar. Jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270 juta jiwa merupakan pasar pontensial. Jangan sampai pasar pontensial tersebut justru dinikmati oleh produk-produk atau jasa-jasa dari luar negeri.
Sifat Milenial yang suka dengan tantangan dan perubahan, mendorong mereka untuk senantiasa mandiri dan kreatif. Para Milenial, merupakan generasi yang siap menjadi entrepreneur muda. Dengan berbagai persiapan dan bekal, mereka bisa menjadi pengusaha yang sukses.
Apalagi kini banyak perguruan tinggi membuka program studi bisnis. Universitas Prasetiya Mulya, salah satu kampus yang banyak melahirkan entrepreneur. Salah satu temuan Kantar (konsultan riset global) ketika melakukan tracer study menunjukkan lulusan perguruan tinggi ini menjadi seorang pebisnis sebesar 27%. Angka ini jauh di atas rata-rata lulusan perguruan tinggi Indonesia dan perguruan tinggi dunia.
Muhammad Ravie Cahya Anso, umpamanya, lulusan Umar Usman Business School, Jakarta dengan program singkat (D1), tahun 2018 berhasil menjadi entrepreneur. Bermula dari menyelesaikan tugas akhir kuliah dimana ia harus membuat business performance sebagai syarat kelulusan. Pilihannya waktu itu adalah membangun bisnis di kategori food and beverage (F and B) dalam kemasan.
Dari tugas akhir kuliah itu, kata Ravie, ia jadi memiliki usaha yang terus berkembang pesat hingga sekarang. Tak terbayang olehnya bisnis snack fish skin dengan brand Rafin’s snack mampu menembus pasar ekspor ke Mesir dengan membukukan transaksi senilai US$35.000 atau sekitar Rp500 juta. Padahal modal awal membangun usaha hanya Rp500 ribu.
Banyak lagi Ravie-Ravie lain yang berkiprah di bidang usaha dan mendulang sukses. Sebut saja Gita Nurhati Rochmah! Ibu satu anak kelahiran 5 September 1994 ini berhasil membangun usaha. Mulanya hanya sebagai karyawan di sebuah konvensi Bandung, tapi karena ia punya passion menjadi entrepreneur, akhirnya mimpinya terwujud. Usahanya memproduksi kaos jersey dengan brand Radja Jersey mampu menembus omzet Rp 400-an juta per bulan. Bahkan ini ia mempunya beberapa brand, diantara Gorgeous Indonesia, fesyen khusus wanita dan Wolke Apparel serta Mozlemen yang menyasar ke segmen pria.
Apalagi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan korporasi besar lainnya – melalui kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) – turut mendorong lahir para pengusaha muda. Berbagai fasilitas berupa pelatihan, inkubator bisnis dan bantuan modal serta pembimbingan dapat dimanfaatkan para pengusaha milenial dalam mengembangkan usahanya.
Sinergi antara lembaga-lembaga tersebut dengan pengusaha milenial dapat menjadi instrumen mengembangkan usaha. Cukup banyak pengusaha-pengusaha milenial anak negeri terfasilitasi dengan kepedulian institusi-institusi tersebut dalam menumbuhkembangkan para pengusaha milenial.
Potret UMKM Indonesia didominasi oleh pelaku usaha mikro yang berjumlah 98,68% dengan daya serap tenaga kerja sekitar 89%. Sementara itu sumbangan usaha mikro terhadap PDB hanya sekitar 37,8%.
Indonesia mempunyai potensi basis ekonomi nasional yang kuat karena jumlah UMKM terutama usaha mikro yang sangat banyak dan daya serap tenaga kerja sangat besar. Pemerintah dan pelaku usaha harus menaikkan ‘kelas’ usaha mikro menjadi usaha menengah. Basis usaha ini terbukti kuat menghadapi krisis ekonomi. Usaha mikro mempunyai perputaran transaksi yang cepat, menggunakan produksi domestik dan bersentuhan dengan kebutuhan primer masyarakat.
Dengan demikian, tantangan UMKM ke depan yang harus diatasi bersama oleh segenap stakeholders terkait antara lain berkaitan dengan inovasi dan teknologi, literasi digital, produktivitas, legalitas atau perizinan, pembiayaan, branding dan pemasaran, sumber daya manusia, standardisasi dan sertifikasi, pemerataan pembinaan, pelatihan, dan fasilitasi, serta basis data tunggal.
Branding strategy dan digital marketing activation juga memegang peranan penting dalam memajukan visi pemerintah satu ini. Dengan adanya brand activation yang tepat, social media strategy yang efektif, dan optimasi digital activation yang kuat, UMKM bisa semakin berkembang. Berkembang bukalah soal kuantitas, melainkan kualitas. Bagaimana UMKM yang sudah ada bisa mengembangkan usahanya hingga memiliki pijakan yang kuat untuk berbisnis di Indonesia maupun di luar melalui platform digital. Karena kalau bicara soal kuantitas saja, siapa pun bisa membuka usaha bisnis. Namun, untuk memberikan kontribusi yang signifikan, UMKM tersebut membutuhkan landasan yang kuat – berupa brand activation, good digital marketing strategy, resources yang tepat, dan sebagainya, sebagaimana dikutip dari fullstopindonesia.com, pada 12/10/2022.
Munculnya pengusaha-pengusaha milenial yang inovatif dan kreatif pada satu dekade belakangan boleh jadi dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak muda. Mereka yang mempunyai passion di bidang usaha — membuktikan dirinya – mampu membangun usaha dengan hasil yang cukup memuasan. Oleh karena itu, perlu dirubah mindset dalam menatap hari esok yang lebih baik.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengajak Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mengikis kesenjangan antara perusahaan besar dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). HIPMI memiliki kemampuan melakukan hal tersebut.
“Saya selalu menekankan, HIPMI kan sudah sukses membangun tokoh-tokoh nasional, tapi saya harap 10-20 tahun ke depan justru HIPMI harus terus mendorong menjadi bagian membangun perusahaan nasional yang kelasnya juga besar,” ujar Erick saat menghadiri Diklatda Badan Pengurus Daerah (BPD) HIPMI Jaya di Jakarta, pada 27/10.
Menurut Erick, HIPMI dan UMKM bisa membangun eksosistem supply chain yang terintegrasi. Hal ini tak lepas dari begitu besarnya jumlah UMKM Indonesia yang mencapai 65,4 juta pelaku UMKM.
“Dalam bisnis ada yang namanya supply chain, yang besar disuplai kecil, UMKM bagian fondasi tapi jangan sampai yang tengah kosong, hanya ada yang besar dan kecil. Yang tengah harus diisi agar gap yang besar dan kecil tidak terlalu jauh,” lanjut Erick.
Sementara PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) serta didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menggelar acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2022 mengusung tema “Pasar Modal untuk Semua Menuju Ekonomi Kuat Berkelanjutan” yang berlangsung 13-15 Oktober 2022.
Sampai 15 Oktober, antusiasme peserta terlihat dari total peserta (booth visitor dan summit viewers) yang tercatat sebanyak 111.441 peserta. Hal ini menjadi torehan rekor baru melampaui tahun sebelumnya yang berjumlah 101.443 peserta. Terdapat pula peningkatan pada jumlah pendaftar, yaitu dari 20.201 pendaftar pada CMSE 2021 menjadi 24.277 pada penyelenggaraan tahun ini. Ajang CMSE 2022 didominasi oleh generasi milenial sebanyak 52.9% serta Gen Z sejumlah 25.5% yang berasal dari dalam dan luar negeri.
Berdasarkan indikator pengunjung acara itu, kalangan milenial mulai tertarik melakukan investasi di pasar modal. Hal ini merupakan fonemena positif dalam menggairahkan milenial tertarik terjun ke investasi di pasar modal. Akhirnya nanti diharapkan juga bisa menjadi pelaku usaha yang usahanya tercatat di pasar modal.
Menjadi pengusaha justru membuka kesempatan kita untuk meraih pendapatan yang tak terbatas. Tidak hanya itu, kita juga sudah berkontribusi membuka lapangan kerja, sehingga akan meningkatkan daya beli masyarakat. Meningkatnya daya beli masyarakat akan bersimbiosis dengan meningkatnya spectrum bisnis, sehingga simbiosis demikian akan menjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Meningkatnya pertumbuhan ekonomi, merupakan cermin kemajuan suatu negara. Artinya sinergi semua pihak dalam melahirkan pengusaha-pengusaha muda merupakan suatu keniscayaan. Kondisi itu yang perlu didorong, sehingga anak negeri yang mempunyai passion menjadi pengusaha dapat terbantu untuk mewujudkan mimpinya. Bila 10% saja UMKM yang jumlahnya mencapai 65,4 juta di Indonesia bisa naik kelas, maka bukan tidak mungkin akselerasi kemajuan bangsa ini akan jauh lebih cepat untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju dan sejahtera.
Semoga kita mempunyai kesadaran kolektif untuk menggapai itu![] Yuniman Taqwa


