Disperindag Jabar Dorong UMKM Go Ekspor
Kontribusi ekspor produk-produk UMKM-nya masih bertengger di angka 1,8% terhadap Product Domestic Bruto (PDB). Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat (Jabar) terus mendorong agar angka ekspor ini terus meningkat. Instrumen apa yang dijalankan Pemprov Jabar untuk menderek UMKM-nya go ekspor?
Ekonomi Jawa Barat masa pandemic dan paska Pandemi Covid-19 ini terus berjalan, meski terjadi perlambatan. Sektor perdagangan Jawa Barat memberi kontribusi terbesar terhadap nasional, khususnya ekspor yang mencapai 13-an persen, di atas Kalimantan Timur dan Jawa Timur. Meski sektor perdagangan masih didominasi sektor manufaktur yang mayoritas industri besar yang mencapai 98,8%.
Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat (Kadisperindag Jabar), Dr. Iendra Sofyan ST MSi, kontribusi UMKM Jawa Barat terhadap PDB baru mencapai 1,8%. Tapi potensinya masih besar. Berdasarkan data BPS jumlah UMKM di Jawa Barat mencapai 4,6 juta. “Tapi setelah didata oleh teman-teman Dinas KUK, teman-teman UMKM Jawa Barat lebih dari 6 juta. Ini potensi sangat besar,” kata Iendra Sofyan kepada pelakubisnis.com, pertengahan Oktober lalu.
Iendra Sofyan menambahkan, teman-teman UMKM dan IKM umumnya didominasi sektor ekonomi kreatif. Sektor ini di Jabar memberikan kontribusi cukup besar. Data pada tahun 2016 -2017 menyebutkan 11,3% terhadap PDB Nasional. Artinya Jawa Barat tidak kalah dengan Yogyakarta, bahkan Bali sekali pun.
Banyak kreator-kreator UMKM, kata Iendra Sofyan, yang berasal dari Jawa Barat yang didominasi kuliner, fesyen dan kerajinan. “Dulu banyak orang Malaysia membeli produk fesyen mulai dari kerudung, pakaian dan sebagainya. Mereka membeli di Pasar Baru, Bandung. Kini banyak penjualan online yang dilakukan kaum muda menjual kelengkapan fesyen,” katanya seraya menambahkan ekonomi kreatif seperti pembuatan games juga berkembang di Jawa Barat.
Lebih lanjut ditambahkan, UMKM dan IKM di Jawa Barat berpotensi dikembangkan. Disperindag Jabar mempunyai semangat dan tantangan mendorong teman-teman UMKM dan IKM. Mereka lebih dimotori teman-teman berusia muda, di bawah 40 tahun. “Saya sangat surprise teman-teman IKM ini bisa menembus pasar ekspor,” tambah Kadisperindag.
Secara keseluruhan, kata Iendra Sofyan, target Disperindag Jabar ingin mendorong kontribusi UMKM dan IKM di atas 2% dari PDB. Meski tidak menyaingi industri manufaktur besar, tapi kontribusinya terus didorong meningkat. Berdasarkan laporan bahwa UMKM dan IKM ini tetap hidup di masa pandemic, terutama yang “melek” digital.
Berdasarkan data yang dihimpun Disperindag Jabar, tercatat pada tahun 2019 – 2021 sekitar US$ 8,9 juta ekspor IKM. Ada Sembilan negara yang menjadi target ekspor dan ada 10 produk yang diekspor. Sedangkan tahun 2022 tercatat US$ 195 ribu dan ada delapan negara serta 10 produk yang diekspor. “Saya ingin memperbaiki data ini. Kami harus berkolaborasi dengan institusi-institusi lain untuk level Jawa Barat terkoordinir di Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Kalau data dari keseluruhan ekspor, dari BPS ada, Secara keseluruhan IKM yang kita bina ini ada 240 perusahaan khusus untuk ekspor,”lanjut Iendra.
Menurut Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jabar, Mochamad Lukmanul Hakim,SS.MM, jumlah UKM dan IKM yang dibina sampai mereka paham tentang ekspor secara benar sebanyak 270 perusahaan. Dari angka tersebut, sekitar 30 perusahaan diantaranya sudah siap go ekspor. Mereka sudah diarahkan bagaimana bisnis orientasi ekspor, melakukan kontak dagang, bagaimana berkorespondensi sampai bagaimana melakukan one on one business.
“Itu yang dilakukan pembinaan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Jawa Barat. Sedangkan pembinaan yang dilakukan oleh dinas-dinas lain juga ada,” katanya seraya menambahkan ada tiga segmen. Ada yang mulai dari tingkat Dasar, Elementary sampai Advance. Sebagian dari 240 perusahaan itu masih mendapat pembinaan secara lengkap dari Disperindag. Sementara yang masuk kategori Advance itu sekitar 30 perusahaan yang disebutkan di atas.
Adapun dari 30 perusahaan binaan Disperindag yang siap go ekspor dan sebagian diantaranya sudah melakukan transaksi ke lebih dari 10 negara tujuan ekspor bahkan beberapa diantaranya sudah repeat order. Dari jumlah eksportir tersebut separuhnya terdiri dari anak-anak milenial bahkan Generasi Z. Sekitar 100 jenis komoditas menjadi lahan usaha para anak muda di Jawa Barat dengan menggunakan teknologi digital.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat boleh bangga punya banyak UMKM Milenial yang sukses menjadi petani (modern). Dari usaha bertani mereka juga melakukan diversifikasi ke bisnis yang lain, diantaranya membangun Desa Wisata. Tak heran bila anak-anak muda di Jawa Barat ini dapat sebutan ‘Tinggal di Desa, Rejeki Kota, Bisnis Mendunia’.
Ada juga Vdimir Dicky, UMKM Furnitur Rotan dari Cirebon, Jawa Barat. Memulai bisnis di tahun 2019 di saat usianya baru 20 tahun dan sampai sekarang masih tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Di usia sebegitu muda dan sendirian dia merantau ke Cirebon mencari peruntungan di bisnis furnitur rotan. Siapa sangka kini barang furniturnya sudah sampai ke negara ekspor seperti Australia, Israel hingga Dubai. Nilai transaksinya jangan ditanya, terakhir ia menerima order barang furnitur senilai USD88 ribu dari negara Dubai.
Lukman melanjutkan, konsep Pembinaan Dasar, Elementary dan Advance bukan dilihat dari seberapa besar investasi perusahaannya. Tetapi dilihat berdasarkan pengetahuan mereka tentang ekspor dari hasil pembinaan yang dilakukan Disperindag Jabar.
Sementara Kepala Disperindag Iendra Sofyan menambahkan, ada program yang namanya 3N dan 1G.”Kami ingin menaikkan new exporters sebagai N pertama. Yang sekarang sudah berjalan di dalam negeri didorong menembus pasar ekspor. Dalam konteks penyesuaian pasar atau konsumen, kita perlu meningkatkan new product sebagai N kedua dan N ketiga mencari New Market. Memang yang terbesar ekspor kita ke Amerika, China, Jepang. Kalau Eropa, dari delapan negara tujuan ekspor IKM kita hanya Jerman,” urainya.
Iendra Sofyan menambahkan, dalam mendorong ekspor IKM, dalam hal ini pihaknya melakukan kolaborasi dengan Kementerian Perdagangan. Di sana ada satu unit khusus yang melatih IKM go ekspor yang disebut Pusat Pelatihan Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP). “Kami juga berkolaborasi dengan Bank Exim, mengadakan pelatihan dan pembiayaan. Juga dengan Bank Negara Indonesia (BNI) yang mempunyai program UMKM BNI Xpora,” jelasnya.
Memang menurut Iendra Sofyan, ada kategori-kategori bagi UMKM. Contoh nilai 0 – 5. Kategori ini masih perlu pembinaan dari nol. Misalnya dari aspek kelembagaan, pembiayaan sampai ke produksi masih minim. Sementara UMKM kelas 5 – 8 merupakan UMKM yang mumpuni di sektor perdagangan dalam negeri. Sedangkan UMKM orientasi ekspor adalah kelas 8 ke atas. Jadi ada kriteria atau persyaratan yang lebih daripada perdagangan dalam negeri.
Apa yang didorong untuk ekspor, tambah Iendra Sofyan, adalah IKM yang sudah memenuhi kriteria dengan cara melakukan kurasi. Apabila mereka perlu “suntikan” untuk memperbaiki UMKM dari berbagai persyarakan (administrasi, pengolahan dan sebagainya), termasuk bagaimana dia mencari market melalui business matching, difasilitasi pertemuan dengan atase perdagangan bahkan dengan calon buyers. Kemudian mengikutsertakan mereka di pameran-pameran baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Menurut Iendra Sofyan, adalah istilah 1A4K yang harus dipenuhi UMKM berorientasi ekspor. A Pertama adalah memenuhi administrasi. Administrasi ini untuk ke perdagangan luar negeri. Ini sesuatu yang sangat diperlukan, baik sertifikasi maupun standarisasi. Sedangkan K pertama adalah kualitas. Untuk barang kerajinan kualitas sudah dicek oleh calon pembeli. Sedangkan untuk makanan adalah harus disesuaikan atau cocok dengan “lidah” orang luar negeri. Kemudian K kedua adalah kuantitas. Ini menjadi PR (Pekerjaan Rumah) UMKM. Kuantitas seringkali yang menjadi masalah buat UMKM karena tidak bisa memenuhi permintaan buyer. K Ketiga adalah kontinuitas. Ini menjadi kelemahan kita juga. “Kualitas dan kontinuitas inilah yang dibantu untuk penyediaan alat (mesin), sehingga bisa memproduksi secara efektif dan efisien sesuai kapasitas,” kata mantan Kepala Ekonomi Bappeda Provinsi Jawa Barat ini.
Sedangkan K keempat Kemasan. Kemasan menjadi persyaratan untuk produk makanan, khususnya buyers di luar negeri. Untuk kemasan kita punya satu unit yang bisa membantu UMKM untuk merancang dan bahkan membantu proses pengemasan dengan volume terbatas. “Masalah kemasan memang masalah pemahaman. Kami dari Dinas Peindustrian dan Perdagangan Jawa Barat ada UPTD (Unit Pelayanan Teknis Daerah) yang secara murah dan gratis bisa membantu UMKM atau IKM untuk mendesain dan membuatkan kemasan dalam volume terbatas,” kata Iendra Sofyan.
“Kami bantu melalui promosi, seperti business matching atau mengikutsertakan dalam pameran. Jadi cukup lengkap disiapkan dari mulai hulu sampai hilir,” jelas Iendra serius.
Ia menambahkan, tantangan utama UMKM yang pertama adalah kuantitas, yang berujung pada menjaga kontinuitas. Kuantitas ini memang memerlukan mesin. Dalam hal ini Disperindag mengupayakan dengan Kementerian Perindustrian untuk membantu mesin kepada UMKM yang memang mumpuni dan potensi untuk ekspor untuk memenuhi kuantitas.
Kendala lain untuk operasional, lanjut Iendra Sofyan, masalah biaya pengiriman (shipping). Kalau satu kontainer di isi produk hanya setengah kontainer, maka biayanya jadi mahal. Kalau tidak terpenuhi dilakukan agragasi (penggabungan) dengan produk lain, sehingga satu kontainer bisa berisi beberapa produk. Di sini perlu ada jasa aggregator.
“Saya punya pemikiran, pertama UMKM fokuslah memproduksi sebuah barang, sedangkan untuk marketing ada teman-teman lain yang memang sudah jagonya. Misalnya bekerjasama dengan aggregator karena dia sudah paham jualnya ke mana. Kedua, bisa bekerjasama dengan trader. UMKM yang penting barangnya dibeli oleh siapa pun dan tujuannya ke mana pun. Ketiga, kerjasama diaspora Indonesia di luar negeri. Siapa buyers yang membutuhkan produk-produk UMKM. Dia cari di Indonesia dan menghubungkan UMKM dengan para buyers di luar negeri,” tandas Iendra Sofyan. [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa


