Sukses Ilham Pinastiko Membesut PALA Nusantara
Jam tangan eksotik PALA Nusantara yang terbuat dari kayu ini mendapat respon positif di kalangan ibu-ibu pejabat. Bahkan, menjadi official merchandise bagi para Presiden mancanegara yang menghadiri KTT G20 pada November 2022 di Bali. Bagaimana Ilham Pinastiko membangun branding dengan kearifan lokal?
Display jam tangan PALA Nusantara selalu menarik perhatian di setiap ajang pameran fesyen. Produknya yang ‘eye catching’ dengan material utama kayu sonokeling dan bahan kuningan pada kepala jam dan bahan kulit pada tali jam tangan (strap). Jam tangan ini juga menjadi magnet di acara Pameran The Jakarta International Handicraft Trade Fair (InaCraft 2022), Indonesia Fashion Week 2022 dan dipamerkan pula di booth InaCraft pada Pameran Warisan 2022 sebagai brand lokal berprestasi untuk kategori ASEPHI Emerging Award 2019. PALA Nusantara besutan Ilham Pinastiko ini juga berhasil meraih penghargaan “Indonesia Good Design Selection (IGDS)” secara berturut-turut dari tahun 2017 sampai tahun 2020 yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.
Kisahnya berawal tahun 2010, dimana Ilham Pinastiko, menciptakan jam tangan terbuat dari kayu sonokeling, kulit dan kuningan. Dari hobby mengoleksi jam tangan bermerek dan keahlian mendesain produk, didevelop produk jam tangan yang berbeda dari jam tangan umumnya. Berkongsi dengan seorang teman, ia mengembangkan produk jam tangan eksotik pertama di Indonesia. Namun, karena ada masalah internal, akhirnya ‘bercerai’ dalam arti pecah kongsi dengan rekan bisnis.
Menurut Ilham, eksposurnya sudah sangat bagus, peminat mulai banyak dan demand-nya cukup tinggi. Omzet saat itu sudah mencapai Rp 700-an juta per bulan. Sistem sudah terbangun. Tapi apa hendak dikata, “garis nasib” menggiringnya melepas brand yang dibangun bersama temannya itu!.
“Saya mulai merintis bisnis baru dengan produk sejenis dengan brand berbeda. Bagi saya, menggeluti bisnis pembuatan jam tangan dari kayu bukan karena ikut-ikutan tren. Saya sebagai pioneer di lini bisnis ini,” kata Ilham yag mengambil program S2 pada tahun 2012 di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB), masih tentang jam tangan.
Asset intelektual yang dikembangkan pada brand jam tangan kayu sebelumnya, merupakan modal yang tak semua orang miliki. Akhirnya dibesut produk sejenis melalui brand PALA Nusantara pada tahun 2016. PALA Nusantara merupakan brand jam tangan eksotik terbuat dari kayu.
Ilham mendirikan badan hukum PT Kreasi PALA Nusantara. Saat itu masih berjuang sendiri, sebagai sebagai Chief Executive Office (CEO), merangkap Chief Operation Operation (COO) dan sekaligus mendesain jam tangan kayu dengan dibantu satu tenaga kerja. Dari mulai mengorder ke vendor sampai mengirim pesanan jam tangan ke kurir dilakukannya sendiri.
“Ketika brand PALA Nusantara dibangun, saya mencoba memperbaiki desain dengan statement budaya dan memperbaharui semua kesalahan desain sebelumnya. Ketika saya membangun brand pertama, diakui masih banyak error. Kehadiran PALA Nusantara merupakan penyempurnaan dari jam tangan kayu yang saya desain sebelumnya,” kata pria kelahiran Bandung tahun 1986.
Modal awal yang ditanamkan membuat jam tangan kayu dengan merek PALA Nusantara sebesar Rp35 juta. Di tahun pertama hanya membuat sekitar 40 pieces jam tangan yang habis terjual 2 sampai 3 bulan. Belum ada target penjualan. Pertama produksi, jual dengan harga bandrol Rp800 ribu sampai Rp1 juta per pieces. Saat itu urusan produksi ke ‘tukang jahit’ (makloon).
Produk ini, menurut Ilham, bisa membawa pembaharuan pasar. Bisa menghidupkan kembali kepercayaan pasar. Walaupun saat ini raw material terus bergerak naik, sementara konsumen menuntut harga jual lebih murah. Ada semacam cross border yang harus edukasi ke konsumen.
Untuk membangun kepercayaan pasar terhadap jam tangan kayu, lanjut Ilham, mengikuti kompetisi. Tahun 2017, misalnya, saya mendapat penghargaan Indonesia Good Design Selection (IGDS) dari Kementerian Perindustrian dengan tematik desain jam tangan kayu “Ayam Cemani” berwarna warna hitam. Penghargaan itu membangkitkan rasa percaya diri. “Ternyata desain saya masih diapresiasi dengan culture khas Indonesia. Apresiasi itu bukan karena mesin jamnya, tapi karena cerita khas di balik desain jam tangan tersebut.,” katanya kepada pelakubisnis.com beberapa waktu lalu.
Diakuinya, kurun waktu 2016 -2017 itu merupakan fase melakukan riset dengan mengikuti sejumlah kompetisi sambil melakukan penetrasi pasar. Walaupun volume penjualan masih sangat terbatas. Dalam kurun waktu itu omzet masih di angka Rp30-an juta per bulan. Kendati demikian saat itu over head masih hitungan “coboy”. Misalnya modal membuat jam sebesar Rp 15 juta dapat 100 pieces jam. Pegawai saat itu baru dua dan tiga orang termasuk dirinya. Bayar gaji karyawan Rp 2 juta per bulan, berarti Rp 6 juta per bulan termasuk. Dengan over head seperti itu sebetulnya sudah ada untung, tapi masalahnya saat itu tidak ada target.
Minimal tiap bulan saya hanya mengeluarkan gaji untuk karyawan saja. Artinya minimal tiap bulan harus dapat Rp 6 juta. Kondisi demikian berlangsung selama dua tahun. Pengeluaran sebesar itu bisa ditutupi dengan menjual 8 – 10 jam per bulan.
Kondisi demikian tak membuatnya patah arang. Memasuki awal tahun 2018 terjadi transformasi menjadi industri. Saat itu seorang teman “menyuntikan” dana sebesar Rp500 juta secara bertahap. Padahal saat itu omzet PALA Nusantara baru di kisaran Rp 30 juta per bulan. Investor percaya pada produk yang hasilkannya dan rekam jejak jauh sebelumnya.
“Desain jam tangan kayu yang saya buat sebelumnya itu sudah banyak ditiru orang. Akibatnya bermunculan produk-produk sejenis yang mengakibatkan terjadi perang harga. Akhirnya trust terhadap jam tangan kayu semakin rendah dan gampang rusak, sehingga harga jual pun terjun bebas. Itulah kondisi yang terjadi,” tandasnya serius.
Kelahiran PALA Nusantara menjadi milestone bagi industri jam tangan kayu di tanah air. Satu per satu mulai bermunculan followers yang meniru desain PALA Nusantara sebelumnya. Sayangnya yang mereka tiru bukan produk yang bagus. Namun ironisnya saat itu desainnya belum dipatenkan, sehingga tidak ada perlindungan terhadap hak cipta.
Pada tahun 2018, dilakukan perubahan strategi dengan mendevelop industri manufaktur jam tangan dengan difrensiasi terbuat dari kayu dengan tampilan yang eksotik. Dilakukan replika model industri yang pernah dilakukan sebelumnya. “Saya bangun unit produksi, mesin yang digunakan dan unit-unit pendukung lainnya. Memang sempat mengalami kesulitan karena ada buffering sekitar tiga sampai empat bulan untuk mencari tenaga kerja atau Sumber Daya Manusia (SDM). Pasalnya, saat itu, yang mau kerja di industri jam tangan jarang sekali,” urainya.
Apalagi membuat jam tangan dengan spare part yang kecil dan memotong-motong kayu dengan ukuran yang kecil, bukan perkara gampang. Beda halnya dengan membuat kusen atau furniture yang ukurannya besar. Bayangkan membuat jam kayu harus mengamplas dengan presisi yang tepat. Kalau tidak presisi, maka tidak akan simetris. Jadi, membuat jam tangan kayu harus ada Standard Operating Procedure (SOP) yang ketat. Sebab kalau tidak, presisi sesuai ukuran – mesin jam – tidak bisa mengunci. Dalam hal ini mesin jam tangannya sendiri didatangkan langsung dari Jepang.
Namun demikian PALA Nusantara mengeluarkan sertifikat sebagai jam tangan original buatan PALA Nusantara made in Indonesia. Selain itu, sebenarnya produk-produk jam tangan keluaran PALA Nusantara ada barcode, sehingga sulit ditiru oleh pihak lain.
Dulu buah pala di zaman Belanda harganya mencapai senilai 1 kg emas. Fungsinya sama seperti kulkas. Pada kisaran tahun 1400-an, daging yang ditimbun dalam buah Pala bisa awet sampai 6 bulan. Itu yang menjadi jawaban atas pertanyaan, kenapa orang Belanda ingin mengambil jutaan ton kubik buah Pala setiap harinya dari Indonesia. Tak heran bila buah Pala terkenal di seluruh dunia. Banyak negara-negara Eropa menjajah Maluku yang terkenal sebagai daerah penghasil buah Pala. Dari sisi story telling, saya ingin PALA Nusantara bisa terkenal di seluruh dunia seperti buah Pala.
Menurut Saya, seorang entrepreneur ketika membuat brand harus memiliki filosofi dan latar belakang yang memotivasi atas nama brand itu. Sudah ada pengalaman dan sudah babat alas dari merek sebelumnya. Jadi saya sudah berhasil membuka dan mengedukasi pasar, sehingga pasar lebih mudah menerima dan akhirnya tidak sulit bagi saya melakukan penetrasi pasar.
PALA Nusantara membidik pasar ibu-ibu kelas menengah atas, ibu-ibu pejabat misalnya. Lebih mengejar ke segmen pasar wanita yang suka dengan desain bernuansa pop nusantara dengan warna-warni yang menarik perhatian. Kendati demikian diakuinya saat ini Gen Z dan kalangan milenial juga mulai suka menggunakan produknya.
Alhasil pertumbuhan penjualan sejak tahun 2018 terus meningkat. Bila pada tahun 2018 penjualan bisa mencapai 50 pieces jam tangan per bulan. Angka ini meningkat menjadi 300 pieces per bulan pada tahun 2019. Saya masih ingat dari tahun 2019 sampai Desember 2020 penjualan meningkat mencapai 500 – 600 pieces jam tangan per bulan. Peningkatan omzet itu memang didorong untuk menaikkan revenue sampai Rp 300 -500 juta per bulan untuk meng-cover semua kebutuhan karyawan. Bahkan sampai September 2019 PALA Nusantara melakukan perubahan, baik dari segi marketing maupun produksi. Perubahan dua tahun terakhir dilakukan di lini produksi.
Penjualan sempat stagnan di angka 600 pieces per bulan sampai tahun 2021. Namun pada September 2022 penjualan meningkat menjadi 1600 pieces per bulan atau naik 150%. Bahkan target tahun 2023 bisa produksi mencapai 3000 pieces jam per bulan.
Untuk mencapai target produksi sebanyak itu, sebagai solusinya dalam waktu dekat workshop PALA Nusantara akan pindah ke tempat yang lebih luas. Meskipun workshop yang lama tetap dimanfaatkan hanya untuk pekerjaan kreatif. Jadi, PALA Nusantara ada dua pilar, yaitu pilar produksi dan pilar kreatif.
Dalam kondisi krisis seperti pandemi ini memang ada faktor yang harus dikorbankan. Pekerjaan satu divisi yang ia korbankan yaitu Divisi Marketing. Kompetisi dan ajang bergengsi dikurangi karena memang harus survival mode on,” jelasnya seraya mengatakan sampai saat ini jumlah karyawannya mencapai 42 orang.
Untungnya brand awareness PALA Nusantara sudah semakin kuat. Sehingga penjualan di momen pandemi tetap berjalan. Bahkan di 2021-2022 penjualan naik. Omzet 2019 Rp300 juta per bulan, sekarang sudah sampai Rp600 juta per bulan.
PALA Nusantara terpilih menjadi souvenir resmi delegasi negara di Side Events G20 Parekraf di Jakarta yang diinisiasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf RI-red) untuk mempromosikan ragam produk ekonomi kreatif sekaligus mendukung perhelatan dunia tersebut yang diselenggarakan di Indonesia. Mereka memesan sebanyak 55 pieces jam tangan PALA Nusantara untuk para tamu.
Bahkan jam tangan PALA Nusantara kembali terpilih sebagai souvenir untuk para presiden negara-negara di dunia yang akan hadir nanti di puncak acara KTT G20 pada November 2022 di Bali. Ini ajang bergengsi! Menjadi official merchandise bagi Presiden di dunia di ajang G20.
Dengan adanya perhelatan G20, PALA Nusantara mulai mendapat order B to B (Business to Business). Anggaplah B to B sebagai bonus. Namun demikian, menurutnya momentum G 20 menjadi pertaruhan gengsi brand PALA Nusantara, sehingga masyarakat dunia “melek” dengan PALA Nusantara bahwa jam tangan kayu itu dipakai oleh presiden suatu negara.
Momentum ini bisa mengedukasi pejabat bahwa PALA Nusantara bisa dijadikan souvenir kepada tamu-tamu negara. Selama ini tamu-tamu negara diberikan plakat sebagai bentuk souvenir. Dengan dipilihnya PALA Nusantara, maka bukan tidak mungkin ke depannya PALA Nusantara kembali menjadi buah tangan bagi tamu-tamu negara atau tamu penting lainnya.
“Saya sengaja mendesain jam tangan kayu PALA Nusantara untuk segmen level menteri ke atas dengan harga sekitar Rp 2,5 juta. Harga tersebut sebetulnya tidak berbeda jauh dengan harga plakat-plakat yang diberikan pejabat kepada tamu-tamu penting. Jam tangan yang khusus didesain untuk pengganti plakat ini bisa dibuat sesuai pesan,” tutup Ilham. [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa



