TEI ke-41: Catat Potensi Transaksi Sebesar USD 22,94 miliar
Selama lima hari pelaksanaan, pameran dagang terbesar di Indonesia ini mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 22,94 miliar, atau 31,1 persen melampaui target USD 17,5 miliar. Keberhasilan ini hasil sinergi pemerintah, perwakilan perdagangan RI di luar negeri, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan yang berhasil mempertemukan eksportir Indonesia dengan buyer internasional.
Pameran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41, resmi dibuka pada 14/10, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Pameran dagang yang digelar Kementerian Perdagangan tersebut mengusung tema “The Ultimate Hub for Global Sourcing”, dan akan berlangsung pada 14 – 18 Oktober 2026.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, membuka TEI ke-41 hari ini mewakili Presiden Prabowo Subianto. Dalam sambutannya, Bahlil menyampaikan, pengelolaan sumber daya alam yang optimal menjadi salah satu langkah strategis untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Pemerintah terus mendorong hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi.
“Pemerintah menggalakkan ekspor bernilai tambah tinggi melalui hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam. Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” ujar Menko Bahlil.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan, para buyer mancanegara dan pengunjung pameran antusias menyambut TEI ke-41. Hingga pembukaan pameran, telah terdaftar buyer dari 134 negara dan 1.873 ekshibitor.

“Selama lima hari penyelenggaraan TEI ke-41, nilai transaksi mencapai USD 22,94 miliar, melampaui target USD 17,5 miliar. Capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak yang terlibat, mulai dari eksportir, perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri, hingga para pemangku kepentingan,” ujar Budi dalam konferensi pers penutupan TEI, pada 18/10, di ICE BSD City.
Nilai potensi transaksi TEI ke-41 mencakup 426 nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU). Di dalamnya juga sudah termasuk nilai potensi transaksi sebesar USD 327,77 juta dalam penyelenggaraan pameran kuliner dalam negeri Pangan Nusa Expo yang berlangsung di tempat dan waktu yang sama dengan TEI ke-41. Sementara itu, jika dilihat secara keseluruhan, potensi transaksi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tercatat mencapai USD 510,79 juta.
Negara dengan nilai potensi transaksi terbesar pada TEI 2026 adalah India, Belanda, Bangladesh, Uni Emirat Arab, dan Jepang. Sementara itu, kategori produk dengan nilai potensi transaksi terbesar meliputi makanan dan minuman, perhiasan, produk kayu, produk pertanian, serta kertas.
Dari sisi partisipasi, TEI ke-41 diikuti 1.873 ekshibitor, melampaui target 1.500 perusahaan hingga sebesar 24,9 persen dari target yang ditetapkan. Pameran tahun ini juga mencatat 9.600 buyer terdaftar dari 151 negara. Berdasarkan jumlah buyer, lima mitra dagang dengan partisipasi terbesar adalah India, Malaysia, Tiongkok, Arab Saudi, dan Taiwan. Sementara itu, jumlah pengunjung pameran tercatat lebih dari 45.287 orang, meningkat 31,08 persen dibandingkan penyelenggaraan tahun lalu.
Mendag Budi menjelaskan, TEI merupakan salah satu program Kemendag untuk menjaring peluang ekspor yang lebih luas dengan cara mempertemukan pelaku usaha Indonesia dan calon buyer mancanegara. Pameran ini menampilkan beragam produk unggulan nasional mulai dari makanan dan minuman, pertanian, manufaktur, fesyen dan kriya, furnitur dan dekorasi rumah, hingga kawasan industri untuk menarik minat investor.
Penyelenggaraan TEI ke-41 ini sejalan dengan tiga program prioritas Kemendag, yaitu Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, dan Dari Lokal untuk Global. Ketiga program tersebut diarahkan untuk meningkatkan daya saing produk lokal, memperluas akses pasar internasional, serta mendorong lebih banyak pelaku usaha nasional memasuki pasar ekspor.

“Selaras dengan petunjuk Bapak Presiden, kami terus melakukan perundingan dagang dengan berbagai negara dan kawasan untuk membuka pasar ekspor. Hingga saat ini, ada 25 perjanjian dagang yang sudah terimplementasi dan 13 perjanjian sedang dalam proses perundingan. Upaya ini adalah bagian dari “2 TAHUN GERAK NYATA” transformasi bangsa oleh pemerintahan yang dipimpin Bapak Presiden,” ungkap Budi.
Terkait Program Dari Lokal untuk Global, Kemendag konsisten mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasuki pasar ekspor. Salah satu upayanya adalah memfasilitasi penjajakan bisnis (business matching) antara UMKM dan calon buyer mancanegara. Fasilitasi tersebut didukung 46 kantor perwakilan perdagangan RI di 33 negara yang terdiri atas atase perdagangan RI, Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), Konsul Perdagangan RI di Hong Kong, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, dan Duta Besar RI untuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
“Kami juga mengupayakan fasilitasi ekspor melalui Desa Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor yang telah mengidentifikasi banyak produk potensial dari desa untuk dikembangkan menembus pasar ekspor. Selain itu, kami menjalin kemitraan antara UMKM dan ritel dalam negeri sehingga produk-produk lokal semakin mendominasi pasar domestik,” ungkap Budi.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyoroti semakin terbukanya peluang ekspor Indonesia ke pasar nontradisional, khususnya kawasan Asia Selatan dan Afrika. “Pasar kita berkembang ke negara-negara mitra baru yang tidak kita duga, ternyata potensinya luar biasa, terutama Asia Selatan yang pertumbuhannya paling tinggi. Ada Bangladesh, Pakistan, India. Kemudian, kita masuk juga ke Afrika,” ungkap Zulkifli Hasan.
Untuk mendorong momentum pasca-TEI ke-41, Kemendag menerapkan strategi terintegrasi melalui tiga tahapan. Pertama, pertemuan untuk penjajakan kerja sama bisnis (business matching) sebelum pameran dengan dukungan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri. Kedua, business matching selama pameran. Ketiga, pengawalan kesepakatan dagang setelah pameran agar peluang transaksi dapat ditindaklanjuti.
“Kami tidak berhenti pada penyelenggaraan pameran. Kementerian Perdagangan bersama perwakilan perdagangan di luar negeri akan terus memantau dan mengawal kesepakatan yang terjalin selama TEI. Harapannya, kesepakatan tersebut dapat berkembang menjadi kontrak dagang dan memberikan kontribusi nyata terhadap kinerja ekspor nasional,” ujar Mendag Busan.[]Yuniman Taqwa
