Perluas Pasar Ekspor, Perlu Memahami Karakteristik Pasar Tujuan
Pelaku usaha perlu memperhatikan preferensi konsumen, tren produk, saluran distribusi, regulasi, standar, dan sertifikasi yang berlaku, serta mengidentifikasi calon pembeli (buyer). Dengan demikian, dapat menyusun strategi pengembangan pasar secara tepat.
Kinerja perdagangan Indonesia hingga Agustus 2026 menunjukkan perkembangan positif. Total ekspor Indonesia mencapai USD 193,64 miliar, tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 7,25 miliar. Capaian ini menunjukkan pentingnya upaya memperluas pasar ekspor dan membuka peluang baru bagi produk Indonesia di pasar global.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Fajarini Puntodewi saat membuka kegiatan “Business Counseling with Republic of Indonesia Trade Representatives” dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, pada 15/10.

“Peningkatan ekspor tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan nilai perdagangan, tetapi juga dengan upaya memperbesar kontribusi Indonesia dalam perdagangan dunia. Saat ini, pangsa ekspor Indonesia di pasar dunia masih berada pada kisaran 1–1,1 persen. Artinya, peluang untuk meningkatkan kontribusi produk Indonesia di pasar internasional masih sangat besar,” ujar Puntodewi.
Menurut Puntodewi, perluasan pasar ekspor memerlukan pemahaman yang baik mengenai karakteristik dan kebutuhan pasar tujuan. “Melalui konsultasi bisnis, pelaku usaha dapat melakukan konsultasi langsung dengan perwakilan RI di luar negeri untuk memperoleh masukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasar tujuan. Kami berharap konsultasi ini dapat membantu pelaku usaha menentukan langkah yang tepat dalam mengembangkan bisnis ekspornya,” kata Puntodewi.
Kehadiran perwakilan perdagangan Indonesia dari 33 negara membuka akses bagi pelaku usaha untuk memperoleh wawasan mengenai dinamika pasar internasional. Kehadiran tersebut diharapkan dapat mendukung pelaku usaha dalam menentukan arah pengembangan ekspor sesuai dengan potensi produknya.
Selain perwakilan perdagangan, kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan RI dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kyiv yang menangani penyampaian informasi terkait Ukraina, Kirgizstan, dan Kazakhstan, serta KBRI Lima. Kehadiran perwakilan RI tersebut diharapkan dapat memperluas akses informasi mengenai peluang pasar dan potensi kerja sama perdagangan di negara akreditasi masing-masing.
“Kami berharap pelaku usaha dapat memanfaatkan forum ini untuk berdiskusi langsung dengan perwakilan perdagangan dan menggali masukan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis masing-masing. Kami ingin kesempatan ini menjadi langkah awal bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kerja sama dan memperluas jangkauan ekspornya,” ungkap Puntodewi.
Puntodewi menekankan, hasil konsultasi melalui konsultasi bisnis perlu ditindaklanjuti dengan langkah konkret. Pelaku usaha diharapkan dapat memanfaatkan masukan yang diperoleh untuk menyempurnakan strategi bisnis, meningkatkan kesiapan produk, dan menjajaki kerja sama dengan mitra di pasar tujuan.
“Kami berharap konsultasi bisnis ini dapat menjadi langkah awal bagi terbangunnya kemitraan bisnis yang berkelanjutan. Dengan kolaborasi yang kuat antara pelaku usaha dan perwakilan RI di luar negeri, makin banyak produk Indonesia diharapkan mampu berkembang dan memperkuat posisinya di pasar global,” tutup Puntodewi.
Pelaksanaan konsultasi bisnis ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Perdagangan memperkuat dukungan bagi pelaku usaha dalam mengembangkan ekspor nasional melalui akses informasi pasar dan fasilitasi penjajakan kerja sama dengan mitra internasional.

Kepala Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Santiago, Annisa Fitri Wulandari menyampaikan, ITPC Santiago telah menyosialisasikan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 melalui kegiatan Trade Connect yang dihadiri sekitar 20 calon pembeli dari Cili. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan produk Indonesia dan meningkatkan minat pelaku usaha Cili terhadap peluang perdagangan dengan Indonesia.
Dalam mendukung penetrasi pasar, ITPC Santiago menyiapkan informasi mengenai pemanfaatan Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA), termasuk peluang tarif bea masuk 0 persen untuk pos tarif tertentu, serta informasi mengenai tren dan preferensi pasar Cili. Selain itu, ITPC Santiago berupaya memfasilitasi perluasan pasar ke negara-negara Amerika Latin lainnya. Namun, eksportir masih menghadapi tantangan logistik yang dapat memperpanjang waktu pengiriman dari sekitar 45 hari menjadi 90 hari.
“Melalui konsultasi bisnis ini, kami berharap para eksportir, baik yang sudah berpengalaman maupun yang baru memulai, dapat memanfaatkan peluang pasar untuk meningkatkan ekspor Indonesia. Kami juga siap menjadi jembatan bagi eksportir Indonesia, termasuk UMKM, dalam memasuki pasar Cili dan menghadapi berbagai kendala perdagangan,” ujar Annisa.
Salah satu peserta, pelaku usaha dari Rumah Tenun Magelang (Rutema) Rif Fadka Ridwan menyampaikan, keikutsertaannya dalam konsultasi bisnis ini memberinya kesempatan untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik pasar Amerika Serikat, termasuk preferensi desain, kebiasaan konsumen, dan penetapan harga yang sesuai.
“Melalui kegiatan ini, saya berharap bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang minat pasar Amerika terhadap produk kerajinan kami, termasuk harga yang sesuai, serta memperoleh akses ke calon buyer, asosiasi, atau perusahaan pemasok hotel yang berpotensi menjadi mitra bisnis,” ujar Fadka.
Sementara Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong para perwakilan perdagangan (perwadag) RI untuk terus memaksimalkan perannya dalam memperkuat kinerja ekspor nasional. Dalam hal ini, para perwadag RI yang terdiri atas atase perdagangan (atdag) RI dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), konsul perdagangan, Duta Besar RI untuk Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO), serta Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) dapat mendukung perluasan pasar, membantu eksportir menjaring buyer potensial, serta meningkatkan efektivitas penjajakan bisnis (business matching).
Mendag Budi memberikan arahan dalam pertemuan bersama 46 perwadag RI pada hari terakhir Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 18/10, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. Budi menegaskan, seluruh kegiatan perwadag RI perlu diarahkan untuk menghasilkan kontribusi nyata dan terukur terhadap peningkatan ekspor nasional.
“Kami berharap seluruh atdag RI dan ITPC terus berfokus pada peningkatan ekspor. Setiap negara memiliki karakteristik pasar yang berbeda, sehingga perlu strategi dan pendekatan yang sesuai untuk membuka lebih banyak peluang ekspor Indonesia,” ujar Budi.
Penguatan kinerja ekspor, kata Budi, sejalan dengan tiga program utama Kementerian Perdagangan, yaitu Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, serta Dari Lokal untuk Global. Ketiga program tersebut memiliki keterkaitan dalam memperkuat akses pasar sekaligus mendukung pencapaian agenda pembangunan nasional.
“Ketiga program utama Kemendag selaras dengan Asta Cita Presiden. Seluruh program yang kami susun berlandaskan pada prioritas pembangunan pemerintah sehingga pelaksanaannya dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian agenda pembangunan nasional,” ujar Mendag Budi
Mendag Budi mendorong atdag RI dan ITPC semakin kreatif dan inovatif dalam mengembangkan strategi promosi perdagangan. Melalui optimalisasi sumber daya, pemanfaatan berbagai alternatif promosi, dan penjajakan bisnis, Ia berharap atdag RI dan ITPC mampu memperluas jangkauan pasar dan membuka lebih banyak peluang transaksi ekspor.[] Yuniman Taqwa
