Kinerja Neraca Perdagangan Positif Sejak 30 Bulan Terakhir
Indonesia mencatatkan kinerja ekspor positif dan menorehkan surplus neraca perdagangan di tengah perlambatan ekonomi dan ancaman resesi global. Surplus neraca perdagangan pada Oktober 2022 mencapaian surplus bulanan berturut-turut ke-30 sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Setianto, mengatakan nilai ekspor Indonesia pada Oktober 2022 mencapai US$24,81 miliar atau naik 0,13 persen dibanding ekspor September 2022. Sedangkan nilai impor mencapai US$19,13 miliar atau turun 3,4 persen dibandingkan September 2022. Neraca perdagangan nasional mengalami surplus sebesar US$5,67 miliar.
Setianto menambahkan surplus neraca perdagangan tersebut ditopang komoditas nonmigas, seperti bahan bakar mineral, lemak dan minyak, serta besi dan baja. Sedangkan tiga negara yang menjadi penyumbang surplus terbesar yaitu India, Amerika Serikat, dan China. Kendati demikian, untuk neraca perdagangan migas mengalami defisit. Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang di antaranya, yaitu minyak mentah dan hasil minyak.

“Surplus perdagangan Oktober 2022 disumbang surplus perdagangan nonmigas US$ 7,66 miliar dan defisit perdagangan migas US$ 1,99 miliar,” kata Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, pada 17/11.
Kinerja positif pada Oktober 2022 tersebut, menurut Zulkifli Hasan, didorong oleh surplus dengan beberapa negara mitra dagang. India menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai surplus US$ 1,61 miliar, diikuti RRT dengan surplus sebesar US$ 1,20 miliar, dan AS dengan nilai surplus US$ 1,15 miliar.
Sementara itu, jika melihat secara kumulatif, neraca perdagangan Januari – Oktober 2022 pun mencatatkan surplus US$45,52 miliar. Surplus perdagangan Januari–Oktober 2022 ini ditopang surplus nonmigas sebesar US$ 66,41 miliar serta defisit migas sebesar US$ 20,89 miliar. Zulkifli Hasan menyebut, surplus perdagangan Januari–Oktober 2022 telah melampaui kinerja perdagangan dua tahun belakangan.
“Surplus perdagangan Januari–Oktober 2022 telah melampaui capaian sepanjang tahun 2021 yang sebesar US$35,42 miliar dan dua kali lipat capaian sepanjang tahun 2020 yang sebesar US$ 21,62 miliar. Kondisi ini merupakan hal yang menggembirakan bagi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi dan ancaman resesi ekonomi global. Kita harap surplus perdagangan Indonesia tahun ini dapat berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal bidang ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia,”kata Zulkifli Hasan.
Bila dilihat dari sisi ekspor, nilai total ekspor Indonesia pada Oktober 2022 mencapai US$ 24,81 miliar. Nilai tersebut meningkat 0,13 persen dibanding September 2022 (MoM) dan tumbuh 12,30 persen dibanding Oktober 2021 (YoY). Ekspor Oktober 222 didorong peningkatan ekspor migas sebesar 4,93 persen MoM, sementara ekspor nonmigas turun 0,14 persen MoM.
Ekspor non-migas secara kumulatif Januari-Oktober 2022 masih mencatatkan pertumbuhan yang sangat tinggi sebesar 30,61% (ytd). Sementara itu pada periode yang sama, pertumbuhan ekspor migas mencapai 37,4% (yoy). Dari sisi sektoral, sektor pertambangan mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 82,68% (yoy), disusul sektor manufaktur yang tumbuh mencapai 20,4% (yoy), sementara sektor pertanian tumbuh 14,17% (yoy), sebagaimana dikutip dari theiconomics.com, pada 16/11
“Pertumbuhan ekspor yang terjadi di semua sektor menjadi indikasi berlanjutnya pemulihan ekonomi secara merata (broad-based), terutama sektor manufaktur yang berkontribusi paling besar pada ekspor nasional,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Febrio Kacaribu.
Ekspor Indonesia pada Oktober 2022 masih meningkat bahkan saat kinerja ekspor beberapa negara mitra turun. Berdasarkan Trading Economics, beberapa negara mitra dagang Indonesia yang kinerja ekspornya melemah pada Oktober 2022 antara lain RRT (turun 7,56 persen MoM), Brasil (turun 5,70 persen MoM), Korea Selatan (turun 8,64 persen MoM), Pakistan (turun 7,12 persen MoM), danTurki (turun 5,84 persen MoM).
Beberapa produk utama ekspor nonmigas Indonesia dengan kenaikan tertinggi pada Oktober 2022 dibanding September 2022 (MoM) adalah bahan kimia anorganik (HS 28) yang naik 35,72 persen, lemak dan minyak nabati (HS 15) naik 14,38 persen, besi dan baja (HS 72) naik 7,79 persen, bahan bakar mineral (HS 27) naik 5,59 persen, serta ikan dan udang (HS 03) naik 4,93 persen. Peningkatan ekspor produk-produk tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan permintaan dipasar tujuan ekspor Indonesia.
Sementara beberapa produk utama ekspor nonmigas yang berkontraksi pada Oktober 2022 dibanding September 2022 (MoM) antara lain bijih, terak, dan abu logam (HS 26) yang turun 38,57 persen; pulp dari kayu (HS 47) turun 20,58 persen; serat stapel buatan (HS 55) turun 14,64 persen; kayu dan barang dari kayu (HS 44) turun 14,53 persen; serta timah dan barang dari padanya (HS 80) turun 10,39 persen. Penurunan ekspor nonmigas Indonesia diakibatkan melandainya harga beberapa komoditas unggulan Indonesia seperti bijih besi, tembaga, dan timah. Penurunan ekspor nonmigas juga diakibatkan adanya penurunan permintaan beberapa produk manufaktur asal Indonesia seperti mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85), kendaraan dan bagiannya (HS 87), berbagai produk kimia (HS 38), alas kaki (HS 64), serta mesindan peralatan mekanis (HS 84).

Zulkifli Hasan menyampaikan, RRT, India, dan AS menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia pada Oktober 2022 dengan total nilai ekspor ketiganya mencapai US$ 10,44 miliar dan kontribusi sebesar 44,52 persen terhadap ekspor nonmigas nasional. Beberapa pasar utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia yang tumbuh tertinggi pada Oktober 2022 (MoM) adalah Pakistan dengan kenaikan 83,66 persen, Myanmar (67,69 persen), Spanyol (43,68 persen), Turki (42,52 persen), dan Mesir (40,55 persen).
“Ditinjau dari kawasan, pertumbuhan ekspor nonmigas terbesar terjadi ke kawasan Afrika Timur yang tumbuh 39,45 persen, Afrika Selatan 37,68 persen, dan Afrika Utara 36,76 persen MoM. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara berkembang di Benua Afrika masih potensial untuk dijadikan negara tujuan diversifikasi ekspor nonmigas Indonesia ke depannya,”kata Mendag.
Jika dilihat dari total impor Indonesia Oktober 2022 mencapai US$ 19,14 miliar. Nilai ini relatif melemah 3,40 persen dibanding Agustus 2022 (MoM), namun meningkat 17,44 persen bila dibandingkan Oktober 2021 (YoY). “Penurunan kinerja impor pada Oktober 2022 dipicu menurunnya impor nonmigas sebesar 3,73 persen (MoM) dan menurunnya impor migas sebesar 1,81 persen (MoM),” jelas Zulkifli Hasan.
Lebih lanjut dtambahkan, jika berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong dan barang modal melandai masing-masing sebesar 3,99 persen dan 7,22 persen MoM. Penurunan impor bahan baku/penolong dan barang modal di Oktober ini tecermin dari penurunan Standard and Poor’s (S&P) Global Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor industri manufaktur di Indonesia pada Oktober 2022 dilevel 51,8 atau turun dari September 2022 di level 53,7.
Di sisi lain, impor barang konsumsi justru meningkat 10,13 persen (MoM) pada Oktober 2022. Kenaikan impor barang konsumsi ini menandai pulihnya ekonomi dalam negeri dan membaiknya permintaan domestik sebagaimana tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2022 sebesar 120,3 yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 117,2.
“Penurunan impor bahan baku dan barang modal pada dua bulan terakhir ini perlu diwaspadai, mengingat impor bahan baku/penolong dan barang modal mempengaruhi aktivitas industri, gerak ekonomi, dan investasi di masa depan,”ujar Mendag.
Beberapa bahan baku/penolong yang impornya turun adalah bahan bakar mineral, logam mulia dan perhiasan/permata, gula dan kembang gula, serta ampas/sisa industri makanan. Sedangkan beberapa komoditas barang modal yang berkontraksi terdalam adalah laptop, alat berat, barang-barang lain pada kelompok mesin dan peralatan mekanis (HS 84), serta mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85).
Di sisi lain, barang konsumsi yang impornya meningkat signifikan antara lain vaksin, bawang putih, bahan bakar kendaraan bermesin diesel, minyak medium lainnya dan olahannya, tali pengaman bukan untuk keperluan industri, serta buah-buahan seperti anggur, kelengkeng, dan apel.
Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia didominasi komoditas dari RRT, Jepang, dan Korea Selatan dengan total pangsa 48,03 persen dari total impor nonmigas Oktober 2022. Negara asal impor dengan penurunan impor nonmigas terdalam pada Oktober 2022 adalah Argentina yang turun 37,02 persen, Arab Saudi (turun 33,78 persen), Hongkong (turun 25,75 persen), India (turun 21,02 persen), dan Singapura (turun 17,01 persen MoM).
Lebih lanjut Mendag Zulkifli Hasan menyampaikan, secara kumulatif, total impor periode Januari–Oktober 2022 mencapai US$ 198,62 miliar atau naik 27,72 persen dari Januari–Oktober 2021 (YoY). Pertumbuhan impor tersebut dipicu lonjakan impor migas sebesar 79,92 persen dan kenaikan impor nonmigas sebesar 20,40 persen YoY.[]Yuniman Taqwa
