Revolusi Sosial dan Pro Kontra Modernisasi Arab Saudi
Revolusi sosial telah terjadi di Arab Saudi. Tahun 2016 semasa menjabat Menteri Pertahanan Arab Saudi, Mohammed Bin Salman (MBS) menggarap sebuah solusi menangani krisis dan ketergantungan minyak yang kini menjadi permasalahan bagi negeri Tanah Dua Masjid Suci dengan membangun proyek-proyek besar. Kebijakan ini menjadi kontroversi bagi masyarakat Arab Saudi sendiri bahkan masyarakat dunia khususnya kaum beragama Islam.
Mohammed bin Salman bin Abdulaziz bin Abdul Rahman al-Saud, demikian nama lengkap putera dari Raja Salman serta putera mahkota Arab Saudi. Mari kita bahas karir berpolitiknya sebelum pada akhirnya kini ia menjabat sebagai Perdana Menteri Arab Saudi atas penunjukkan langsung dari ayahnya, Raja Salman.
Karir berpolitiknya dimulai sejak tahun 2009 silam dimana ia menjabat sebagai penasihat khusus ayahnya ketika menjadi Gubernur Provinsi Riyadh. Saat ini Muhammad bin Salman mulai naik dari satu posisi ke posisi lainnya, seperti menjadi Sekretaris jenderal Dewan Kompetitif Riyadh, penasihat khusus ketua dewan untuk Yayasan Raja Abdulaziz untuk Penelitian dan Arsip, dan anggota dewan pengawas Lembaga Albir di wilayah Riyadh. Pada 2011, Raja Salman naik pangkat menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri kedua dan Menteri Pertahanan. Dalam jabatan ini, lagi-lagi Raja Salman menjadikan Mohammed Bin Salman (MBS) sebagai penasihat khususnya.
Juni 2012, MBS naik ke posisi dua hierarki, saat ayahnya menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pertama sekaligus putera mahkota yang baru. Berlanjut pada 2013 dimana MBS naik pangkat menjadi Ketua Mahkamah menggantikan Nayef bin Abdul Aziz al-Saud yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Provinsi Timur. Pada April 2014, MBS naik pangkat menjadi Menteri Negara. Dan pada Juni lalu, Raja Salman secara resmi menunjuk MBS sebagai Perdana Menteri yang baru.
MBS sendiri diketahui telah mengubah Arab Saudi ke arah yang lebih radikal bahkan sejak 2017, ia memimpin upaya untuk mendiversifikasi ekonomi dari ketergantungannya pada minyak, memungkinkan perempuan untuk mengemudi dan membatasi kekuasaan ulama. Reformasinya, disebut Reuters, juga diiringi tindakan keras terhadap perbedaan pendapat. Di mana sejumlah aktivis, bangsawan, dan pengusaha dipenjara. Pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat kerajaan di Istanbul pada 2018 juga telah menodai reputasinya. Ini membuat renggang hubungan kerajaan dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutu Barat lainnya.

Jika dulu seorang perempuan di Arab Saudi khususnya di Jeddah, Mekkah dan Madinah, sangat tabu ke luar rumah tanpa abaya dan berjalan sendirian. Dimana ada rumor, bila perempuan berjalan sendirian akan diculik, dimasukkan ke dalam mobil dan dibuang ke gurun pasir. Kini perempuan di Arab Saudi lebih leluasa bergerak selama berpakaian sopan. Bahkan Kementerian Pendidikan dan Komisi Evaluasi Pendidikan Pelatihan (Education Training Evaluation Commision/ETEC) sudah menetapkan larangan mengenakan abaya bagi siswa perempuan dan wajib mengikuti aturan dalam menjaga kesopanan public saat di ruang ujian.
Perubahan besar terjadi di negeri Tanah Dua Masjid Suci inisejak 2017 lalu. Beberapa megaproyek sedang dikerjakan. Perubahan besar ini seringkali disebut-sebut sebagai revolusi sosial budaya yang dilakukan oleh MBS. Ide untuk melakukan perubahan ini telah muncul di benaknya bahkan sejak 2016. Dan pada 2017, perubahan sosial budaya mulai dilaksanakan. Terlihat dari banyaknya Gedung-gedung besar disekitar Mekkah dan Madinah.
Di sisi ekonomi dan sosial budaya, mungkin proyek perubahan besar ini dapat dipandang sebagai proyek yang bagus karena dinilai dapat meningkatkan ekonomi dan sosial budaya itu sendiri. Seperti yang kita tahu, bahwa Arab Saudi adalah negara yang bergantung terhadap minyak, namun MBS berpendapat bahwa pariwisata dapat dijadikan sebagai pengganti ketergantungan tersebut. Dampak negatifnya dapat dilihat dari sudut pandang agamis dimana Nabi Muhammad saw pernah bersabda dalam sebuah hadist bahwasanya tanda-tanda kiamat adalah Tanah Arab yang kembali hijau. Sementara saat ini salah satu proyek besar modernisasi MBS adalah melakukan penghijauan di Arab Saudi.
Lepas dari hadits tersebut, tak dipungkiri sejak 5 tahun Arab Saudi banyak berubah. Jika kita mengunjungi Arab Saudi dan transit di Bandara International King Abdulaziz di Jeddah, kita dapat menyaksikan langsung perubahan besar yang terjadi di negeri pemilik dua kota suci tersebut. Sebagai contohnya adalah kini perempuan dapat menyetir kendaraan sendiri dan bekerja di sektor bidang manapun, serta masyarakatnya menonton konser musik dan pertandingan olahraga. Konser musik terkait memperbolehkan aliran musik manapun ditambah beroperasinya kembali industri bioskop.

Sejak diangkat menjadi putra mahkota, MBS menggaungkan rencana reformasi Arab Saudi hampir di semua sektor. Yang paling kentara adalah reformasi dalam bidang kultur dan sosial yang semakin bebas dan melonggarkan syariat Islam. Beberapa bulan setelah pengangkatan MBS, Arab Saudi mulai mengizinkan bioskop dan sejumlah tempat hiburan dibuka lagi. Serangkaian pelonggaran aturan lainnya juga terus berlangsung hingga menjadikan Saudi terasa lebih “terbuka dan toleran”.
Dapat saya simpulkan, MBS melakukan banyak perubahan besar demi memajukan dan modernisasi Arab Saudi. Ini menjadi sebuah perdebatan tersendiri. Disisi lain, jika dipandang dari sudut agamis maka ini adalah sebuah proyek yang hebat dikarenakan memajukan Arab dan mencoba untuk mengatasi ketergantungan Saudi akan Minyak sebagai penghasil ekonomi. Disisi lain, di mata pemuka agama, jelas ini merupakan gagasan yang fatal dikarenakan mendekari hadist Nabi. Oleh karena itu MBS banyak dikritisasi perihal revolusi sosial budaya di Arab ini. Bagaimana menurut Anda?***Abrar Rizq Ramadhan
