PPKM Dicabut, Optimis Ekonomi Bangkit
Kebijakan pemerintah mencabut PPKM mendorong mobilitas masyarakat, sehingga konsumsi rumah tangga diperkirakan meningkat tahun 2023 ini. Fenomena itu menimbulkan optimisme pelaku usaha dalam menjalankan usaha, walau kondisi ekonomi global masih membayang-bayangi di tahun kelinci ini.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia berlanjut didorong oleh permintaan domestik yang semakin kuat. Pertumbuhan ekonomi 2022 diprakirakan bisa ke atas dalam kisaran 4,5-5,3% didorong oleh kuatnya kinerja ekspor serta membaiknya konsumsi rumah tangga dan investasi non-bangunan.
Walaupun pada tahun 2023 pertumbuhan ekonomi diprakirakan berlanjut, tapi sedikit melambat ke titik tengah kisaran 4,5-5,3%, sejalan dengan menurunnya prospek pertumbuhan ekonomi global. Namun demikian, konsumsi rumah tangga diprakirakan akan tumbuh lebih tinggi sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat pasca penghapusan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kebijakan Masyarakat (PPKM).
Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah mendukung kebijakan Presiden Jokowi mencabut kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dinilai situasi pandemi Covid 19 berhasil ditangani baik oleh pemerintah.
“Kondisi di Indonesia selama beberapa bulan terakhir memang sudah tidak lagi dalam suasana pandemi. Saya sependapat dengan pemerintah untuk mencabut status PPKM,” ujar Piter, sebagaimana dikutip dari gatra.com, pada 3 Januari 2023 lalu.
Menurutnya dengan pencabutan status PPKM, optimis kondisi ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh positif berada pada kisaran 4-5 persen. Situasi ekonomi global pada tahun 2023 terancam resesi dan pandemi belum sepenuhnya berakhir. “Proyeksi selama ini sudah mempertimbangkan berakhirnya pandemi. Proyeksi Pertumbuhan ekonomi 2023 tetap di kisaran 4,75-5,25 persen,” ucapnya.
Sejumlah lembaga dunia seperti OECD, IMF, World Bank, ADB memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,7 sampai 5,1 persen pada tahun 2023. “Semua lembaga dalam maupun luar negeri saya kira tidak ada satu pun yang memproyeksikan pertumbuhan Indonesia tahun 2023 akan negatif,” jelasnya.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan harapannya usai kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dicabut pada akhir tahun lalu. Dia ingin aktivitas perdagangan bisa kembali semarak seperti sebelum pandemi COVID-19. “Termasuk yang kedua setelah pencabutan PPKM kita harapkan UKM-UKM, outlet, toko-toko kecil semuanya bisa semarak lagi seperti sebelum pandemi, kita harapkan gitu, tapi kan baru aja, baru seminggu dua minggu. Saya kira efeknya akan kelihatan nanti di Februari,” kata Jokowi seperti dalam video di akun YouTube Sekretariat Presiden, pada 8/1.
Jokowi berharap langkah pencabutan PPKM itu berdampak positif ke berbagai sektor, terutama ekonomi. Dia berharap kondisi ekonomi Indonesia pada tahun 2023 lebih baik.”Semoga bisa nanti mendorong, men-trigger ekonomi kita untuk tumbuh lebih baik dibanding tahun 2022,” ujarnya.
Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, dampak dari kebijakan penghentian PPKM ke perekonomian domestik, masyarakat akan lebih confident untuk melakukan kegiatan ekonomi. “Kalau memang bisa diumumkan, dari ekonomi lebih confident bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas normal dan memperlakukan Covid-19 sama seperti virus lain,” katanya, sebagaimana dikutip dari majalahpeluang.com, pada 30 Desember lalu.
Meski demikian, Menkeu meminta semua pihak tetap waspada dan menjaga ketahanan tubuh, namun tidak menghalangi aktivitas secara normal. Kebijakan ini diyakininya akan menopang ekonomi Indonesia pada 2023 di saat masih ada tantangan global yang akan dihadapi.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid mengatakan pencabutan PPKM akan menjadi peluang para pelaku usaha untuk menata kembali usahanya, terutama bagi para pelaku usaha yang sempat lesu akibat dari pandemi Covid-19.
“Mengenai pencabutan PPKM, buat kami sebagai usahawan, pelaku usaha, tentunya sangat menyambut baik rencana ini. Dengan dicabutnya PPKM, maka mobilitas masyarakat akan terus meningkat sehingga berpotensi meningkatkan konsumsi masyarakat dan juga mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia,” katanya dalam keterangan di Jakarta, pada 30 Desember lalu, sebagaimana dikutip dari antaranews.com.
Badan Analisa Informasi dan Kebijakan (BAIK) Kadin memprodeksikan sektor ritel akan tumbuh 4,4 – 4,8 persen pada tahun 2023. Demikian pula sektor pariwisata yang juga berada di jalur positif. BAIK Kadin memproyeksikan pertumbuhan sektor pariwisata bisa mencapai 4,2 persen pada tahun 2023 menyusul kondisi wisatawan mancanegara dan domestic yang telah bebas berpergian di Indonesia dan mendorong peningkatan sektor akomodasi, makanan serta minuman.
Di sisi lain, sektor kesehatan, masih dari sumber antara.com, juga masih memiliki potensi untuk terus berkembang dengan penekanan lebih besar pada tindakan pencegahan seperti vaksin, perawatan jarak jauh (telemedicine), dan penggunaan teknologi untuk deteksi dini penyakit. Begitu pula industri farmasi dan alat kesehatan juga diprediksi terus berkembang di tahun 2023 karena meskipun PPKMI sudah ditiadakan, pola pikir masalah sudah banyak berubah dengan kesadaran akan kesehatan yang lebih tinggi.
Arsjad berharap kebijakanpencabutan PPKMI dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat perekonomian. Di mana peluang dunia usaha sangat terbuka lebar untuk memulai beroperasi secara normal. Pemulihan kinerja UMKM menjadi salah satu daya dorong utama saat ini, mengingat kontribusi yang besar pada PDB dan penyerapan lapangan kerja.[] Yuniman Taqwa
