Pasar Global  Produk Kerajinan  Menggiurkan, Tapi Perlu Memahami Karakteristik Negara Tujuan

Pangsa pasar ekspor produk kerajinan cukup potensial. Data Pusdatin Kemenperin, kinerja ekspor industri kerajinan dalam negeri pada tahun 2024 mencapai angka US$ 679,02 juta. Namun demikian, eksportir harus memahami karakteristik negara tujuan ekspor, mulai dari musim, gaya hidup, hingga target pasar.  

Industri kerajinan Indonesia berpotensi tumbuh lebih besar mengingat beragamnya sumber daya alam yang tersebar di berbagai wilayah di tanah air. Sumber daya alam lokal tersebut kemudian diolah oleh perajin-perajin terampil, dengan efisien dan ramah lingkungan serta teknologi sederhana, namun tetap inovatif, hingga menghasilkan produk yang bernilai tambah tinggi.

Kementerian Perindustrian terus berupaya mempromosikan produk dan jenama kerajinan lokal ke pasar internasional melalui berbagai program. Salah satunya yaitu dengan memfasilitasi industri kecil dan menengah (IKM) di sektor kerajinan dan wastra untuk dapat berpartisipasi dalam pameran dagang bertaraf internasional. Fasilitasi tersebut dilakukan demi mendorong semangat para perajin di berbagai daerah untuk mampu meraih peluang pasar domestik dan mancanegara, dengan menawarkan produk kerajinan Indonesia

“Kemenperin melalui Ditjen IKMA telah memberikan berbagai program kegiatan kepada para IKM untuk meningkatkan kualitas, keterampilan, dan pengetahuan lebih luas, serta mendapatkan akses pasar dan promosi yang baik,” ungkap Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin, Reni Yanita di Jakarta, pada 5/2.

Kemenperin memfasilitasi 10 IKM binaan untuk ikut serta dalam pameran Inacraft ke-25 /foto: doc. Kemenperin

Demi meningkatkan  akses pasar produk-produk kerajinan dalam negeri, tahun ini, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka memfasilitasi 10 IKM binaan untuk ikut serta dalam pameran Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) ke-25 yang digelar sepekan pada 5-9 Februari 2025 di Jakarta International Convention Center (JCC) Senayan. 

Pameran produk kerajinan terbesar di Asia Tenggara tersebut kembali digelar sebagai ajang pameran dagang, wadah promosi, sekaligus sarana edukasi, sosialisasi, dan kolaborasi antar komunitas perajin serta jenama kerajinan lokal dengan berbagai pihak. Pameran Inacraft tahun ini mengusung tema Sustainibility and Collaboration, dengan menetapkan kerajinan dan kesenian dari Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Icon Pavilion, dengan tema The Cosmological Axis of Yogyakarta Living in Harmony.

Adapun sepuluh IKM yang difasilitasi Ditjen IKMA Kemenperin dalam Pameran Inacraft 2025 antara lain Rubysh Jewelry, Hexagon by Zara Tentriabeng Designs, Intan Songket, Tuban Lokcan Tenun Gedhog dan Batik Tulis, Miss Allyna, Ketak Nusantara, Cemara Ceramics, Risman Wijaya Keramik, Cabaco.id, dan Bagbone Leather. Lokasi stand paviliun Kementerian Perindustrian untuk sepuluh IKM tersebut berada di Main Lobby  Booth  No.B Jakarta International Convention Center.

Reni mengungkapkan,  IKM yang mendapatkan fasilitas merupakan IKM yang telah melalui proses kurasi dan seleksi yang dilaksanakan di awal hingga pertengahan Januari 2025.“Melalui fasilitasi pameran ini, kami berupaya menampilkan produk IKM yang inovatif dengan berkolaborasi dalam  satu pavilliun. Yaitu, produk-produk kerajinan yang berkualitas tinggi sehingga dapat bersaing dengan produk impor dan meningkatkan posisi di pasar lokal,” tegas Reni.

Ia mengungkapkan,  industri kerajinan dalam negeri memiliki pangsa pasar ekspor yang potensial dan harus terus dimaksimalkan oleh para pelaku IKM dalam negeri.  Berdasarkan data Pusdatin Kemenperin, kinerja ekspor industri kerajinan dalam negeri pada tahun 2024 mencapai angka US$ 679,02 juta . Adapun lima negara tujuan ekspor produk industri kerajinan Indonesia yaitu ke Cina, Taiwan, Amerika Serikat, Jepang, dan Belanda. 

Direktur IKM Kimia, Sandang dan Kerajinan, Budi Setiawan memaparkan,  dalam rangka terus mengembangkan industri kerajinan tanah air, Ditjen IKMA menjalankan berbagai program pembinaan. Di antaranya berupa fasilitasi sertifikasi  Sistem Verifikasi Legalitas Kayu ( SVLK ) dan sertifikasi untuk produk olahan hasil hutan Forest Stewardship Council ); penumbuhan wirausaha baru IKM kerajinan; penerapan industri 4.0; pembangunan dan revitalisasi sentra IKM; serta restrukturisasi mesin dan atau peralatan.  

Selain itu, Ditjen IKMA Kemenperin juga rutin melakukan bimbingan teknis pengembangan produk inovatif; pendampingan Program Aku Siap Ekspor; serta pendampingan diversifikasi produk. “Selama beberapa tahun terakhir, Ditjen IKMA menyelenggarakan kompetisi dan inkubasi bisnis melalui Indonesia Fashion and Craft Awards (IFCA) dan Creative Business Incubator (CBI),” ucap Budi.

Partisipasi IKM dalam pameran seperti Inacraft tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga membuka peluang bisnis dengan pembeli dari berbagai negara. Diharapkan, melalui ajang ini, produk kerajinan Indonesia semakin dikenal dan mampu memperluas pangsa pasarnya di tingkat global.

Produk UMKM asal Bandar Lampung Sulam Usus potensial ekspor/foto: Siti Ruslina/pelakubisnis.com

Dengan inovasi dan kolaborasi yang terus didorong, industri kerajinan nasional berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi kreatif yang berdaya saing tinggi, sekaligus membawa budaya Indonesia ke panggung dunia.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengatakan, Kemendag  mempunyai program utama, yaitu UMKM BISA Ekspor. Pengusaha UMKM dapat mengikuti beberapa program promosi ekspor untuk dapat memperluas pasar ekspor, antara lain melalui pameran dagang, misi dagang, dan business matching.

Namun demikian, ekspor produk kerajinan bukanlah hal yang mudah. Setiap negara memiliki regulasi dan persyaratan tersendiri yang harus dipenuhi oleh eksportir. Oleh karena itu, pemahaman yang baik tentang proses dan persyaratan ekspor sangat penting bagi eksportir untuk sukses di pasar internasional, sebagaimana dikutip dari customspedia.com.

Sebelum memulai proses ekspor, masih dari sumber yang sama,  penting untuk memahami perbedaan antara kerajinan dan kriya. Meskipun sering dianggap sama, keduanya memiliki perbedaan yang jelas. Kerajinan merupakan visualisasi keterampilan manusia, sedangkan kriya adalah salah satu bentuk dari kerajinan.

Memahami perbedaan ini penting karena masing-masing memiliki karakteristik dan standar kualitas yang berbeda. Misalnya, produk kerajinan biasanya memiliki nilai seni yang tinggi dan dibuat dengan tangan, sedangkan produk kriya bisa melibatkan proses produksi massal.

Setiap negara memiliki karakteristik berbeda. Oleh karena itu, eksportir harus memahami karakteristik negara tujuan ekspor, mulai dari musim, gaya hidup, hingga target pasar. Pemahaman ini penting untuk menentukan strategi pemasaran dan distribusi yang tepat.

Misalnya, jika negara tujuan adalah Jepang, eksportir harus memahami bahwa masyarakat Jepang sangat menghargai kualitas dan detail. Oleh karena itu, produk kerajinan yang diekspor ke Jepang harus memiliki kualitas yang tinggi dan detail yang rapi. Selain itu, masyarakat Jepang juga sangat menghargai estetika dan keindahan, sehingga desain produk kerajinan juga harus menarik dan estetis.[] Yuniman Taqwa