Kiprah Bisnis Difabel Perempuan Pengrajin Nata De Coco

Harapan Enok Sri Kurniasih  pupus untuk bekerja  di bidang kehutanan ketika  mengalami kecelakaan dalam perjalanan studi tour  yang membuatnya cacat seumur hidup.   Tapi boleh jadi peristiwa  itu juga yang mengubah garis tangannya menjadi  perempuan UMKM tangguh di industri nata de coco. 

Foto: dok. pribadi

Pada Oktober  1994, Nia, demikian panggilan Enok Sri Kurniasih   yang  saat itu baru duduk di semester tiga  Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti (Unwim) Bandung,   bersama  dua temannya  mewakili kampus mengikuti  study tour  Perkemahan Bakti Saka Kalpataru dan Wanabakti Nasional (Pertikawan) di Universitas Udayana, Bali.  Namun musibah tak dapat ditolak, ketika  memasuki  daerah Alas Roban, di kawasan hutan jati Pielen, Gringsing, Kabupaten Batang Jawa Tengah, bus ditumpangi  bersama rombongan terjungkal masuk jurang.

Tidak semua  tujuan  yang kita harapkan bisa  berjalan mulus.  Demikian Nia berpikir ketika  mendapati tangan kanannya  terputus karena kecelakaan itu dan harus diamputasi, sementara  jari tangan kirinya pun nyaris putus.  Empat bulan ia dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo  (RSCM)  sebagai  rujukan dari  rumah sakit di Semarang.  Kala itu Nia sampai mendapat dukungan dari Endang Kusuma Inten Suweno, Menteri Sosial Periode 1993 – 1998.

“Bisa ibu bayangkan, gadis usia 20 tahun yang masih mempunyai banyak mimpi mendapati  tangannya harus diamputasi? Serasa  bencana besar bagi hidup saya.  Karena menuntut ilmu sampai perguruan tinggi itu mimpi orangtua saya. Ayah saya bilang tidak bisa kasih apa-apa selain ilmu.  Tapi ternyata ada hikmah di balik musibah yang kita alami,” ungkap Nia kepada pelakubisnis.com.

Kendati hampir frustasi, wanita kelahiran 1974 ini akhirnya dapat menyelesaikan kuliahnya.  Setelah menyandang gelar Sarjana Kehutanan , Nia melamar kerja ke salah satu  bank BUMN.  Namun gagal pada tahap test kesehatan  karena  alasan difabel. Beberapa kali ia mencoba peruntungan melamar kerja di beberapa kementerian. Lagi-lagi  ia terus menemukan kegagalan karena faktor yang sama. Ya! Faktor kesehatan  sebagai difabel yang membuatnya gagal menjadi pegawai negeri.

Bersama mantan Gubenur Bank Indonesia, Agus Martowardojo/Foto: dok. pribadi

Kekuatan hati  dan sudah jalan Tuhan yang membuatnya mampu mengolah nata de coco hingga kini. Berawal dari tawaran sepupunya yang saat itu menjadi pemasok nata de coco  ke perusahaan-perusahaan makanan di tanah air hingga melakukan ekspor ke Taiwan.  “Tapi di perusahaan ini saya hanya mengerjakan urusan personalia, sama sekali tidak ada kesempatan melihat seperti apa produksinya,” kenang  ibu dua anak ini.

Namun seiring berjalannya waktu,  di perusahaan itu ia banyak bertemu dengan mitra pemasok. Dari mereka ia belajar membuat nata de coco.  Suatu ketika ia menikah  dan keinginan membangun usaha sendiri begitu besar.  Akhirnya bersama suami  ia   belajar  membuat nata de coco.  Tapi bagaimana bisa dengan satu tangannya ia mengolah air kelapa menjadi nata de coco? Kenyataannya bisa!   “Bersama suami saya mengolah dan menghasilkan nata de coco dengan tangan kiri saya,”cerita Nia mengawali kiprah bisnis nata de coco .

Ia berpikir tak ada salahnya menekuni usaha ini. Ia lihat  sepupunya begitu sukses hingga memiliki 200 karyawan. Pun, ia melihat bisnis ini dapat berkembang dan potensinya  luar biasa. Dari sisi bahan baku kita tak takut kehabisan bahan baku karena  Indonesia memiliki banyak sekali perkebunan kelapa. Sementara pasokan industri nata de coco itu sendiri kontinyu. Permintaan selalu ada.

Akhirnya bermodal Rp5 juta dari pinjaman BRI  Unit  di daerahnya, ia memberanikan diri  membangun  usaha ini dengan mengandalkan  jaringan mitra dan pasar yang sudah ia pahami ketika bekerja membantu saudaranya.  Disitu ia juga mendapat klien yang cukup besar seperti Wong Coco dan beberapa perusahaan makanan.

Ia juga  bergabung dengan  komunitas UMKM  WUBI –Wira Usaha Bank Indonesia–.  Disitu ia diajarkan  bagaimana memenej usaha, bagaimana mencapai target dan bagaimana mengevaluasi hasil usaha. Apa saja masalah yang muncul, bagaimana mengatasinya (problem solving), bagaimana mengelola usaha ketika sumber daya manusia mulai banyak? Bagaimana mendelegasikan tugas dan  sebagainya.  Bahkan  mendapat kesempatan   mempelajari  tentang kegiatan ekspor.  “Kami diajarkan, bagaimana  bisa berkembang  dari UMKM naik menjadi UKM dan bisa ekspor.   Kami  juga belajar masalah pajak, sampai dikasih PR . Kalau belum selesai akan dipantau terus setiap hari.  Sebelum kenal BI saya tak kenal what’s app, tak punya email dan lain-lain,”ujarnya seraya menambahkan, dari komunitas UMKM ini ia belajar tentang kedisiplinan dan tertib administrasi.  Menjadi binaan Bank Indonesia menurutnya dituntut tak hanya kerja keras tapi juga kerja cerdas.

Bersama Komunitas Wirausaha Bank Mandiri/Foto: dok. pribadi

Tak dipungkiri Nia  melalui WUBI, ia mendapat banyak kesempatan belajar.  Tak pelak, omzet penjualan dari 4 ton minggu kini mencapai 22 ton per minggu.  Di sisi lain, ia juga diajarkan bagaimana mengubah mindset  untuk  meningkatkan value dari usahanya.  “Jadi kapasitas tetap namun  valuenya yang berubah.  Dulu kami jual dengan harga Rp 1500/lembar dimana setiap lembar beratnya sekitar 1 – 1,2 kg. Coba bayangkan harga nata de coco di modern market   rata-rata dijual Rp18 ribu/kg  hingga Rp20 ribu/kg,”jelas Nia yang juga tergabung dalam komunitas UMKM  yang bersinergi dengan dinas terkait di Jawa Barat.

Nia menyebut bisnisnya bisnis ‘recehan’ bukan bisnis sebesar ‘pintu’.  Bisnis yang  ia geluti merupakan usaha padat karya yang memberdayakan  banyak orang yang terdiri dari  5 orang karyawan  dan 30 orang karyawati. Ada  beberapa diantaranya  karyawati yang menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya terkena stroke, kena jantung dan ada juga yang anaknya thalassemia. Tapi mereka bekerja  dengan baik sesuai target. “Diantara kami ada rasa memiliki yang tinggi. Usaha ini merupakan usaha bersama. Kalau usaha  kita gak jalan, maka gak jadi duit,”tutur istri Dedi Supriadi ini.

Dalam merekrut karyawan, syarat utama Nia adalah mencari orang-orang yang berada di sekitar rumahnya. Jika dalam radius tertentu tak ada lagi warga yang membutuhkan pekerjaan, barulah ia bergerak lebih jauh.  Namun, apakah  usaha ini  menuntut keterampilan tertentu bagi para pekerjanya? Ia percaya segala sesuatu dilakukan bisa karena biasa. Seperti hal dirinya ketika memulai usaha nata de coco ini. Siapa sangka dengan satu tangannya ia bisa mengolah nata de coco? “Dulu saya menganggap kecelakaan itu sebuah bencana, tapi sekarang saya pikir ini anugerah. Dalam arti, Tuhan pasti punya maksud untuk diri saya?,”kata Nia.

Jatuh bangun membangun usaha produksi  nata de coco, ia sempat mengalami kondisi minus tak punya uang sama sekali karena  ada satu momen ia tertipu oleh mitranya sendiri. “Saya pernah tertipu sama orang Bogor tidak dibayar sebesar Rp 97 juta padahal, itu uang pinjaman dari BJB (Bank Jawa Barat-red). Tiga tahun saya bayar cicilan BJB kaya angin, uangnya tidak saya nikmati. Orang ini  semacam broker pemasok coconut,”ungkap peraih penghargaan  “ Wirausaha  Terbaik” bidang fermentasi nata de coco” dari mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan pada  Februari 2017 ini.

Mulai membuat produk minuman dengan bermerek Naza/Foto: dok.pribadi

Diakuinya sampai sekarang ia masih memakai perantara untuk bisa masuk ke pabrik-pabrik besar. UMKM sepertinya tidak akan kuat masuk ke perusahaan-perusahaan besar tanpa perantara.  Karena  sistem pembayarannya  tidak langsung tunai yang mengharuskan ia mengambil jalan itu. “Makanya sekarang kerjasama menggandeng pihak yang bisa mem-backup giro saya. Jadi mereka cash ke saya tapi mereka dapat keuntungan Rp200/kg dari penjualan ini,”terang Nia yang mampu meraup omzet penjualan nata de coco Rp 100 – 150 juta per minggu.

Hingga kini ia  harus berpikir keras memajukan usahanya meski sejumlah kendala kerap dihadapi.  Tiga hal yang sampai hari ini masih menjadi  kendala dalam membesarkan usahanya adalah terkait dengan masalah, pertama modal, kedua  masalah teknologi dan ketiga sumber daya manusia.

Untuk mengatasi masalah permodalan, Nia bekerjasama dengan pihak lain. Semisal, belum lama ini ia menggandeng salah satu pesantren di Bogor yang juga memproduksi sari kelapa.  Menjadi satu tim dalam melakukan penetrasi pasar dimana  ia mendapat dukungan modal dari mitra tersebut.  Sejauh ini ia merasa cukup aman dengan cara itu.

Dan yang kedua, mengatasi masalah teknologi, ia bersinergi dengan pihak-pihak yang terkait di industri nata de coco. Diantaranya masuk dalam Perkump  Pengusaha Nata De Coco Indonesia  (GAPNI) dan turut berkontribusi memajukan industri  nata de coco.

Ia juga harus memikirkan pengelolaan SDM  yang rata-rata memiliki latarbelakang pendidikan SD  dan SMP.  Karena usahanya tak hanya bicara 4 sampai 6 orang seperti ketika ia memulai usaha ini. Sekarang ia harus bisa menghidupi 35 karyawannya, ditambah lagi dengan  munculnya  wabah Covid-19 yang tentu saja membuat laju usahanya  agak tersendat.

Nia adalah perempuan tangguh yang dimiliki Indonesia.  Dan dia seorang difabel. Menurutnya,  saat ini  wanita Indonesia memiliki kesempatan berkarya lebih luas. Kaum perempuan  sekarang  hidup mandiri dan kalau ingin sukses harus berjuang berusaha sesulit apapun keadaannya untuk keluar dari zona nyaman. Kerja keras dan kerja cerdas tidak akan membohongi hasil  tanpa mengenyampingkan kodratnya sebagai ibu bagi anak-anaknya dan istri bagi suaminya. Karena hidup itu perlu keseimbangan materi.  “Wanita sekarang bisa lebih berprestasi dari kaum pria bahkan menjadi pemimpin di dalam pekerjaannya. Untuk menyiasati bisa seperti itu tentu harus berjuang berusaha dan pantang menyerah,” demikian pungkas Nia mengakhiri  percakapan. [] Siti Ruslina