UMKM Perempuan Single Parent Jaman Now 

Menjadi single parent membuat Ajeng Meiwita harus berjuang lebih keras membesarkan dua anaknya. Ia rela keliling berjualan kue basah dari warung ke warung dengan berjalan kaki karena tak memiliki kendaraan. 

Ajeng Meiwita proaktif dalam kegiatan Komunitas UMKM/Foto: dok.pribadi

Bukan hal  yang mudah bagi Ajeng menjalani hidup paska perceraian dengan suami beberapa tahun silam.  Ia  sendiri  sebelumnya berkarir di perusahaan supplier bahan kimia sebagai asisten apoteker. “Lokasi kerja cukup jauh dari rumah. Setiap hari saya pulang malam.  Dan karena ayahnya anak-anak pindah kerja ke Kalimantan sebagai kontraktor listrik, sementara anak-anak waktu itu masih kecil-kecil, jadi saya putuskan berhenti dari situ dan memilih cari uang dari rumah sambil mengurus anak-anak,”cerita Ajeng Meiwita kepada pelakubisnis.com.

Namun roda berputar dan mengubah nasibnya. Ia tak dapat menolak perpisahan dengan suami, kondisi yang akhirnya memaksanya  mampu  hidup mandiri.   Meski memiliki latarbelakang pendidikan  di bidang farmasi, namun Ajeng memilih membuat kue. Karena ia melihat bisnis kuliner adalah salah satu pilihan yang banyak diminati. Kebutuhan makanan dan minuman yang tidak pernah berhenti, menjadi alasan Ajeng mengembangkan bisnis kuliner.

Diakui Ajeng, di tahun 2014 itu ia benar-benar merintis usaha dari nol. Sejak menikah ia hampir tak punya alat-alat membuat kue meski sebenarnya sejak remaja Ajeng Meiwita gemar membuat kue. “Kue yang pertama saya buat untuk memulai usaha adalah bolu kukus gula merah.  Dari satu macam produk, paling 20-30 pieces, kemudian bertambah 4 macam produk.  Dari cuma buat 20 pieces kemudian saya buat 100 pieces sehari dan habis terjual. Dari hasil penjualan, saya sisihkan sedikit-sedikitdi  untuk membeli alat-alat pendukung.  Saya sampai  mampu beli sepeda dari jualan kue waktu itu,”kenangnya di tahun-tahun merintis usaha.

Hingga pada 2017 wanita asal Serang Jawa Barat ini bertemu dengan banyak komunitas UMKM, diantaranya WUB –Wira Usaha Baru— di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Heryawan di masa itu. Selain itu ia juga bergabung dalam UMKM Dinas Koperasi Jawa Barat yang dikoordinir Komunitas UMKM Benua Balantik (sekarang Benua Citra Niaga-red) dan Bekraf yang sukses menyelenggarakan Food Startup.  “Kami mendapat pelatihan gratis setidaknya sebulan sekali,”jelas Ajeng yang kini menetap di Bandung Jawa Barat ini.

Mulai membangun merek/Foto: dok. pribadi

Banyak pelajaran diperoleh ketika bergabung dengan komunitas-komunitas UMKM.  Ia dibantu mendaftarkan mereknya, SALDAN, yang diambil dari penggabungan nama kedua anaknya, Salsabila dan Danang, ke DJHKI (Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual-red) dan  PIRT (Produksi Pangan Industri Rumah Tangga-red) di 2018 lalu.  Lewat Dinas Koperasi ia  dibantu masalah kepengurusan HAKI, PIRT hingga Sertifikat Halal dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) secara gratis.  “Kami  juga harus rajin mencari informasi  dan proaktif dalam kepengurusannya. Kami berkomunikasi melalui what’s app dan telegram,”imbuhnya.

Ajeng tak menepis bahwa tak sedikit fasilitas gratis yang diberikan pemerintah bagi UMKM di tanah air.  Asal mau proaktif dan mau berkembang. Dari kepengurusan perijinan usaha, pelatihan dan konseling  diberikan gratis. “Sampai sekarang sebelum wabah Covid-19 muncul, kami masih mengikuti pelatihan. Ada dari Kementerian, ada dari Provinsi Jawa Barat dan ada juga dari Kota Bandung,”ungkap Pemenang I Kompetisi Produk Bahan Baku Mocaf ini.

Di komunitas bisnis ia juga dilatih masalah manajemen keuangan. Jujur diakuinya, mantan suaminya sekarang masih bertanggungjawab untuk kebutuhan sekolah anaknya. Namun  menurutnya itu tak cukup untuk kebutuhan hidup yang lainnya. Apalagi seperti saat ini  muncul wabah virus corona mendera tanah air dan berimbas pada usahanya yang hampir vakum sama sekali. Namun menurutnya,  anak adalah benang merah yang membuatnya kuat untuk terus berjuang menjalani hidup.  `

Sebelum merebaknya pandemi virus corona, usaha Ajeng sudah mulai  bertumbuh. Setidaknya sehari dia bisa mengantongi Rp 100 – 150 ribu  dengan profit di kisaran 30%. Bahkan ia sempat selama setahun bekerjasama dengan ritel modern di wilayah Bandung yang memesan kue buatannya dengan sistem jual putus. “Lumayan waktu dapat orderan dari supermarket. Pesanannya sampai 750 pieces,”ujar Ajeng.

Tapi sekarang situasinya serba sulit.  Ia masih  ada pinjaman bank yang harus dibayar dua minggu sekali.  Saya juga dapat dana CSR dan dari dana PKBL –Program Kemitraan dan Bina Lingkungan–. “Dengan plafond Rp 15 juta ada kewajiban membayar bunga 3% per tahun dan kasih jaminan motor,”aku Ajeng.

Tapi bagaimana menyiasati agar uang pinjaman ini bisa digunakan seefektif mungkin untuk perputaran usaha dan tidak tercampur dengan pengeluaran pribadi?

“Memang harus seperti itu. Diajarkan dalam pelatihan, harus dibedakan isi dompet usaha dengan isi dompet pribadi. Dompet usaha jangan dijadikan satu. Biar usaha bisa jalan terus.
Tapi seperti saya yang single parent, kalau yang punya suami mungkin ada dana yang diberikan dari suami yang bisa digunakan untuk kebutuhan rumahtangga. Jadi jika mereka punya usaha, dompet usahanya tidak terganggu.  Sedangkan kami yang single parent ini sumbunya cuma satu. Kalau dagangan banyak sisa, akhirnya terpaksa modal  habis  buat makan. Selanjutnya mencari pinjaman modal lagi,”ungkapnya lirih.

Sulitnya menjual kue basah, lanjut Ajeng,  adalah ketika dagangan tersisa tak laku terjual, jalan keluarnya kita bagi-bagikan. “Otomatis modal habis dan keuangan stag disitu. Berjualan sejak 2014, hingga hari ini terus mengalami kendala keuangan yang masih tercampur dengan kebutuhan.”tambah Ajeng.

Belum lagi kendala masalah sumber daya manusia (SDM) ketika usaha sedang menurun. Seperti cerita tahun lalu Ajeng mendapat order dari supermarket besar di Bandung. Mengisi 3 gerai outletnya dengan sistem jual putus. Ia sempat merekrut 3 karyawan karena saat itu permintaan mengisi 1 toko dengan 20 item  250 pieces per hari.   Ajeng sampai mengalihdaya (outsource) ke beberapa teman supplier kue. Berarti 750 pieces per hari. Omzet sebulan bisa mencapai Rp15 juta. Saat itu ia sangat bersyukur bisa memberdayakan banyak perempuan UMKM untuk terlibat di lini produksi.

Juara I Kompetisi Produk Bahan Baku Mocaf/Foto: ist

Di 2018 – 2019 omzet praktis bisa mencapai Rp 15 juta per bulan. Namun sayangnya kerjasama tak berlanjut karena ada kebijakan yang tidak dapat dipenuhi pihaknya.  Tak patah arang, Ajeng terus menawarkan produknya  ke modern market namun hampir semuanya meminta sistem konsinyasi bahkan jika terjual harus menunggu term 2 minggu baru dibayar. Ajeng pun memilih mundur tak berani melanjutkan kerjasama.

Apalagi dalam situasi sekarang yang saat ini ia tak lagi dapat menjual  kue.  Ia tak lagi dapat memberikan order bagi UMKM yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu pejuang keluarga. Untuk mengisi kesibukan saat ini Ajeng  membuat kue kering karena sebentar lagi  momen lebaran, juga menjadi reseller untuk beberapa jenis produk kuliner dan fesyen.

Tahun 2018 ia  konsern membuat makanan sehat yang bebas gluten dan tanpa bahan pengawet. “Saya membuat crispy cookies gluten free, bika mocaf, sosis solo mocaf, sempol ayam dari bahan mocaf. Semua menggunakan olahan tepung mocaf” tambah Ajeng tentang kepeduliannya memberikan makanan sehat untuk pasar segmented seperti untuk anak berkebutuhan khusus, penderita stroke dan diabetes yang menjadi target pasar dan untuk masyarakat umumnya yang membutuhkan makanan sehat. Misi UMKM yang tergabung dalam Program 100 UMKM Naik Kelas ini adalah membuat makanan olahan sehat dengan menggunakan tepung lokal hingga ke mancanegara.

Namun membidik segmen pasar khusus memang membutuhkan modal besar. Terlebih  di situasi seperti saat ini. Akan tetapi, Ajeng tidak menyerah. Ia akan terus berjuang menghasilkan produk-produk berkualitas dengan terus mengasah potensi bakat menekuni usaha kulinernya. Dan satu hal, ia membutuhkan akses pasar yang lebih besar dan  di era digital seperti sekarang masih menjadi kendala buatnya sebagai pelaku UMKM.[]Siti Ruslina