Merry Harun: “Jangan Berhitung Dalam Bekerja”

Jangan berpikir  sempit  hanya berperan sebagai pekerja. Bila frame berpikir kita demikian, maka bukan tidak mungkin pola kerja kita terjebak dalam  “hitung-hitungan”. 

Merry Harun, menyukai pekerjaan yang dinamis dan menantang (Foto: Datascrip)

Merry Harun. Nama ini tak asing lagi di jajaran Divisi Canon di Datascrip. Di tangannya, produk-produk Canon di Indonesia menjadi generik.  Wanita yang mengawali kariernya di Datascrip sebagai assistant division manager tahun 1990 ini selalu menargetkan produk-produk Canon menjadi market leader. Sebut saja printer Canon yang  “berkibar” lebih dulu sebelum  kamera digital Canon populer dan sekarang semakin populer di tengah tren masyarakat pengguna kamera smarphone mengemuka.

Sejak 2004 sampai sekarang Merry menduduki jabatan    Canon Division Director PT Datascrip. Rentang waktu 15 tahun menduduki jabatan itu, membuatnya dikenal dengan sebutan  “Ibu Canon”. Dirinya bagaikan  menyatu dengan personal branding seorang Merry Harun.  Setiap “tarikan nafasnya”,  menjadi suatu icon Canon yang mengkristal dalam dirinya.

Merry mengaku sangat menyukai pekerjaan yang dinamis dan menantang. Ia cocok bekerja di Datascrip, karena perusahaan ini  memberikan kesempatan untuknya lebih  berkembang. Itulah sebabnya, Ia mendorong kemampuan yang dimiliki kepada para karyawan untuk mengembangkan perusahaan. Sebab menurutnya hasil tidak akan mengkelabui usaha.

Menurut Merry, wanita Indonesia saat ini sudah begitu maju, bahkan di dunia yang didominasi kaum pria pun, wanita sudah banyak berperan menjadi pimpinan.  “Dari pendidikan pun wanita memiliki  kesempatan yang sama dengan pria,” katanya kepada pelakubisnis.com, minggu awal April lalu.  Kini tak ada lagi sekat-sekat gender, misalnya, yang membatasi ruang gerak kaum hawa ini.

Walau diakuinya, potret wanita di pedesaan, masih banyak memilih urusan pekerjan domestik dan memilih “sesuai kodratnya” sehingga kurang berusaha dan menerima kehidupan apa adanya, bahkan memilih menikah muda. Stigma seperti ini, seharusnya dibuang jauh-jauh. Di mana pun wanita berada, dapat mengaktualisasikan diri, sehingga dapat memberikan kontribusi, baik bagi keluarga maupun masyarakat luas.

Sementara di dunia bisnis, misalnya,  semakin banyak kalangan wanita yang menjadi pengusaha. Adanya wadah Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia (IWAPI), menjadi indikator bahwa wanita memberikan kontribusi  bagi perekonomian bangsa. Saat tercatat lebih dari 30.000 anggota IWAPI, meskipun sekitar 80-an persen masih dalam kategori Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Merry menambahkan, mereka yang berhasil (wanita sukses-red) selayaknya menjadi role model bagi “kartini-kartini” bagi muda. Caranya? Memberikan contoh melalui kinerja dan hasil dengan memanfaatkan teknologi. Dengan demikian, terjadi transformasi di kalangan “Kartini-Kartini” muda yang diharapkan dapat memacu motivasi mereka untuk lebih berkembang.

Lebih lanjut ditambahkan, tantangannya dalam berkarier adalah bagaimana menjadikan produk-produk Canon bisa menjadi market leader di Indonesia. Apalagi, barangnya banyak dan satu per satu harus diangkat, agar berhasil di pasaran. Inovasi, teknologi, regulasi terus berkembang, dan mengalami perubahan secara cepat. Secara umum tetap mengacu kepada prinsip segmentation, targeting, dan positioning. Beda produk, beda pula strateginya.

Apa yang harus dilakukan  profesional wanita agar bisa menjadi leader? Menyesuaikan antara kemampuan, integritas, kepemimpinan, bijaksana dan tangguh. Seorang pemimpin harus memiliki pandangan yang lebih luas, sehingga bisa memberikan pengarahan kepada anggota dalam tim-nya, juga kemampuan multitasking. “Tantangan utama biasanya bagaimana mengatasi moody, bagaimana supaya tidak terbawa perasaan dalam bekerja,” ujarnya seraya menambahkan karyawan di departemen yang  dipimpin berjumlah 54 orang.

Kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi profesional wanita, kata Merry, never stop  learning. Belajar sepanjang masa. Oleh karena itu saya memiliki ritme kerja yang cukup panjang. Jangan dilihat sukses seseorang hanya sepenggal, tapi lihat secara utuh. Maksudnya, bagaimana ia mendedikasikan profesi yang digelutinya secara total memajukan perusahaan. Di mana pun kita bekerja, anggap sebagai perusahaan milik sendiri, sehingga secara total energi tercurah untuk memajukan perusahaan.

Jangan berpikir  sempit hanya sebagai pekerja. Bila frame berpikir kita terjebak demikian, maka bukan tidak mungkin pola kerja kita terjebak “hitung-hitungan”. Kita tidak akan kerja maksimal, mindset kita akan selalu mengkalkulasi “untung-rugi” setiap energi yang dikeluarkan. Padahal berapa besar energi yang dikeluarkan, hasilnya akan berbanding lurus dengan energi yang dikeluarkan itu.

Tuhan mempunyai kalkulasi tersendiri terhadap hal itu. Luruskan niat, bekerja maksimal dan hasilnya pun tak akan mengelabuhi usaha.

Merry menilai bahwa wanita tak perlu diberlakukan khusus dalam menjalankan profesi. Ukuran-ukuran profesionalitas bukan berdasarkan gender. Ukuran itu berlaku universal. “Yes! Wanita sangat mampu, dan tidak mendukung perlakuan khusus seperti keberpihakan. Ingat para wanita juga yang meminta “gender equality” oleh karena itu tidak perlu ada keberpihakan pada wanita,” katanya. Bersaing dari prestasi saja!

Walau diakui kebanyakan dari para wanita bisa menerapkan multitasking dengan baik. “Oleh karena itu, saya juga tidak memiliki kesulitan berarti untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan bersosialisasi. Apalagi saat ini di zaman digital memudahkan banyak hal. Semuanya dapat berjalan pararel tanpa ada pihak yang dikorbankan,”tukas wanita pehobi traveling dan kulineran ini. [] Siti Ruslina