Kesetaraan Wanita Yang Termaginalkan
Oleh: Yuniman T Nurdin
Diciptakan alam pria dan wanita
Dua makhluk dalam asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
Adapun wanita lemah lembut manja
Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita…
Syair lagu Sabda Alam tersebut terdengar indah. Ada kekuatan magis yang mengiringi kita pada romantisme. Namun di balik romantisme tersebut, ada esensi yang patut dicermati. Eksistensi wanita seakan terkungkung dalam ketidakberdayaan. Ia hanya merupakan “hiasan” kaum hawa. Dan bukan tidak mungkin dalam perjalanan waktu, “hiasan” itu tercampakkan karena “aura kehindahannya” mulai memudar. Adilkah keindahan itu hanya sebatas “perhiasan sangkar madu?”
Terlalu naif bila kiat melihat wanita hanya sebatas “perhiasan”. Ia diciptakan bukan hanya semata pelengkap. Melainkan setara dan saling melengkapi. Masalah ini sebetulnya jauh hari sudah selesai. Stempel gender yang masih tercium “bau sinis”, membuat peradaban kita mundur puluhan tahun silam
Di zaman pergerakan masa silam, misalnya, stigma itu sudah pudar. Kaum wanita – saat itu bahu membahu berjuang untuk mencapai tujuan kemerdekaan Indonesia. Organisasi Wanita Indonesia yang pertama didirikan di jakarata pada 1912 bernama Putri Mardika. Organisasi itu berdiri berkat bantuan Budi Utomo. Tujuannya berusaha memajukan pendidikan-pengajaran anak-anak wanita. Kemudian muncul organisasi-organisasi sejenis. Saat itu hampir setiap kota-kota besar terdapat organisasi wanita.
Masih ingat ucapan romantis mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama untuk sang istri, Michelle Obama, di hari pernikahan mereka ke-25? So sweet dan menyentuh banget ya. Obama sendiri memang sering melempar pujian untuk istrinya yang hebat. “Jelas, saya tidak bisa melakukan apapun yang seperti saya lakukan sekarang tanpa Michelle,” ucap Obama kepada Oprah Winfrey pada tahun 2011, dikutip dari CNBC.
Pernyataan mantan orang nomor satu di Amerika Serikat itu merupakan sikap diri bahwa dia tiada apa-apa tanpa ada pendamping setia (istri-pen) setiap jejak kariernya. Dari bimbingan, sentuhan, dorongan dan pendulum meredam emosi – semuanya terakumlasi – dari sosok pendamping suami. Obama mafhum istrinya bagaikan lokomotif yang mampu menarik gerbong-gerbong untuk mencapai suatu tujuan.
Wanita jangan hanya diimajinasikan lemah lembut di “sangkar emas”. Pada dasarnya ia justru lebih kuat sebagai problem solving dalam keluarga. Ketika “periuk nasi” terdegradasi karena tekanan ekonomi, umpamanya, tak jarang naluri bertahan justru lebih bertuah ketika menghadapi tekanan-tekanan kehidupan. Banyak kisah heroik wanita tangguh yang tak mungkin terabaikan dalam ritme semesta ini.
Kini kesetaraan antara wanita dan pria tak perlu dibahas. Ia telah berada pada garis lurus dalam dimensi apapun. Budaya patriarki yang kerap memojok peran wanita dalam “sudut ring” dalam sistem sosial dan politik di negeri ini terkadang masih muncul. Keterwakilan perempuan di lembaga legislatif minimal 30% sampai kini belum juga terlampaui.
Berdasarkan UU No. 2 Tahun 2008 memuat kebijakan yang mengharuskan partai politik menyertakan keterwakilan perempuan minimal 30% dalam pendirian di tingkat kepengurusan di tingkat pusat. Angka ini didapat berdasarkan penelitian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyatakan bahwa jumlah minimum 30 persen memungkinkan terjadinya suatu perubahan dan membawa dampak pada kualitas keputusan yang diambil dalam lembaga-lembaga publik.
Meski representasi perempuan di ranah politik praktis sudah didorong sedemikian rupa melalui berbagai macam kebijakan, namun hasilnya masih jauh dari memuaskan. Data Inter Parliamentary Union (IPU), seperti dikutip Scholastica Gerintya (2017) di level ASEAN Indonesia menempati peringkat keenam terkait keterwakilan perempuan di parlemen. Sementara di level dunia internasional, posisi Indonesia berada di peringkat ke-89 dari 168 negara, jauh di bawah Afganistan, Vietnam, Timor Leste, dan Pakistan, sebagaimana dikutip dari detik.com.
Fenomena itu menunjukkan kesetaran wanita di segala lini belum mampu menempus, sekat-sekat politik. Misalnya. Dikhawatirkan dominasi pria di parlemen – dalam merumuskan peraturan — kurang mengakomodatif bagi kepentingan langsung dengan wanita. Padahal cukup banyak kebijakan-kebijakan publik yang bersentuhan langsung dengan peran domestik wanita.
Kebijakan-kebijakan tentang kesejahteraan rakyat, misalnya, secara makro banyak keterlibatan wanita di sektor ini. Di sektor peningkatan kualitas hidup, umpamanya meminimalisasi kasus stunting, akan lebih banyak pendekatan dengan kaum wanita. Pasalnya, mereka yang terlibat langsung mengurus anak-anaknya.
Sama halnya dengan pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Berdasarkan data dari sekitar 40.000 anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), sekitar 85% bergerak di sektor Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM). Sejauhmana proses pembentukan kebijakan ekonomi kerakyatan tersebut mampu mengakomodir kepentingan wanita?
Kini wanita-wanita di parlemen harus bekerja ekstra keras. Keberadaannya tidak semata mengakomodir kepentingan kaumnya semata, dalam setiap proses pengambilan keputusan. Dalam merumusan kebijakan-kebijakan tertentu, wanita di parlemen pun harus mampu meyakinkan anggota parlemen laki-laki untuk menyelami peran domestik wanita dan peran gandanya dalam keluarga; ketika merumuskan kebijakan-kebijakan publik yang aspiratif bagi tumbuh kembangan peran wanita di masyarakat.
Padahal seharusnya peran laki-laki di parlemen pun berkepentingan merumuskan kebijakan-kebijakan yang public yang akomodatif bagi kaum hawa. Betapa tidak, keberadaan wanita dan laki-laki dalam masyarakat merupakan satu totalitas dalam menciptakan iklim kondusif di masyarakat. Pasalnya, di rana sana – sudah tidak membedakan gender – semua mempunyai peluang yang sama.
Mungkin memang sensitivitas kaum adam kurang peka terhadap peran ganda wanita. Keegoan pria acap muncul karena sifat budaya patriarki yang seakan ada jarak membatasi eksistensi wanita. Padahal di mata di Allah SWT, kedua makhluk-Nya mempunyai kedudukan yang sama. Yang membedakan hanya kadar keimanan dan ketaqwaan masing-masing individu. Bagaimana?
*Penulis pimpinan Redaksi pelakubisnis.com
