Filosofi Yin-Yang Sebagai Strategi Manajemen
Oleh : Prof. Dr. Mohammad Hamsal, MSE, MQM, MBA, CISCP
“Paradoks didasarkan pada persepsi organisasi dicirikan dengan elemen yang acap kali bertentangan tapi terjalin satu sama lain dan merupakan fakta yang tidak dapat diabaikan”.
Strategi paradoks sebagai kontradiksi (pertentangan) yang dapat diselesaikan, dalam arti memperkaya pemahaman fakta atau memberi manfaat peluang baru, nilai baru atau inovasi. Ini berdasar pada fenomena tekanan yang terus muncul antara kebutuhan hari ini dan besok (paradoks inovasi), antara integrasi global dan kepentingan lokal (paradoks globalisasi), serta antara misi sosial dan tekanan keuangan (paradoks kewajiban).
Elemen kontradiktif yang diadopsi sebagai salah satu dasar dari paradoks ini adalah “yin-yang” yang dalam filsafat Cina digunakan untuk menggambarkan bagaimana kutub berlawanan bergantung satu sama lain. “Yin” mewakili kekuatan feminin dan “yang” mewakili kekuatan maskulin.
Model “yin-yang” menggambarkan kontradiksi dan dualitas dalam keseimbangan yang mencerminkan realitas dan persistensi dalam pergerakan yang terus-menerus. Ini menunjukkan bahwa bagian-bagian yang berlawanan secara konsisten mengalir dan memperkuat satu sama lain.
Mengutip dari PwC (2020), saya mencatat ada enam paradoks yang menjadi semakin penting untuk dikelola yang mendukung keberhasilan seorang pemimpin.
Pertama adalah Globally-minded Localist yang merupakan Pemimpin harus bisa berkiprah secara efektif di pasar lokal dan terhubung dengan baik di seluruh dunia pada saat yang bersamaan. Ini membutuhkan pemimpin yang tidak terpaku pada sistem kepercayaan dan struktur pasar, dan mampu mengenali bias dan melihat dunia tanpa kehilangan integritas dan sukses pasar lain.
Kedua, High-integrity versus Hypocrisy Politicia. Paradoksnya dalam lingkungan politis, pemimpin bisa kehilangan integritasnya karena fokus pada memenuhi kebutuhan orang lain dan manajemen politik. Namun, integritas sangat penting bagi keberlangsungan perubahan dan keterlibatan insan dalam organisasi.
Ketiga, Humble Versus Arrogant Hero. Paradoksnya dalam situasi kritis, pemimpin harus tampil seperti pahlawan, namun juga harus menerima saran dan meminta bantuan. Memiliki kemampuan mengelola paradoks penting untuk membuat keputusan cerdas dan melewati kegagalan, sehingga membuat bawahan menghargai pemimpin sebagai atasan yang baik.
Keempat, Strategic-Executor. Paradoksnya orang cenderung lebih memperhatikan strategi atau eksekusi. Pemimpin harus mampu mengartikulasikan strategi, memahami bagaimana pengembangannya, dan melaksanakan dengan baik. Ini membutuhkan kemampuan untuk menentukan saat strategis dan memecahkan masalah hari ini dengan memikirkan hari esok.
Kelima adalah Tech-savvy Humanist. Paradoksnya keterampilan teknis dan pemahaman aspek kemanusiaan seringkali bertentangan. Banyak orang yang kuat dalam teknologi tidak memahami dampak manusianya, dan sebaliknya. Pemimpin juga harus memahami dampak teknologi pada bisnis dan tenaga kerja. Peran pemimpin adalah menyeimbangkan kedua hal tersebut untuk memastikan keberhasilan bisnis dan masa depan yang lebih baik bagi bawahannya.
Keenam adalah Traditioned Innovator dengan paradoks Pemimpin harus menemukan keseimbangan antara mempertahankan hal-hal yang sudah baik dalam bisnis dan membuka peluang untuk inovasi baru yang relevan. Ini membutuhkan kemampuan untuk menghargai masa lalu dan memutuskan apa yang perlu dibawa ke depan, serta keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Pemimpin harus bisa menentukan kapan harus melestarikan masa lalu dan kapan harus mengembangkan inovasi baru yang sesuai dengan zaman.
Oleh karena itu, kegiatan penelitian di bidang manajemen stratejik dan kerja sama industri akan terus digalakkan dan dukung oleh industri dan lembaga pemerintah untuk mencapai level global.
Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengakuan internasional dan membantu BINUS UNIVERSITY dalam memenuhi Visi untuk membina dan memberdayakan masyarakat. Ini akan meningkatkan daya saing dan keunggulan sebagai Perguruan Tinggi Indonesia yang berkualitas dunia.***
*Penulis Menjadi Guru Besar Untuk Kontribusi yang Lebih Besar Bagi Masyarakat dan merupakan Guru Besar Tetap ke-18 yang dikukuhkan BINUS UNIVERSITY. Opini ini disarikan dari Orasi Ilmiah penulis pada 6/2, BINUS UNIVERSITY.
