Kelemahan Anak Muda Membangun Bisnis Startup
Agile menjadi boomerang bagi anak-anak muda yang terjun ke bisnis startup. Mudanya usia menjadi kelemahan. Semuanya masih mencari bentuk. Presisinya di atas kertas tidak bisa dipastikan 100 persen. Anak-anak muda masih butuh pengalaman dan mentor ketika perusahaan mulai naik kelas!

Boleh jadi umumnya mereka yang berkiprah di bisnis startup masih berusia muda. Pengalaman masih terbatas, terutama di bidang finance, sehingga tidak menutup kemungkinan keliru menghitung budget. Itu baru satu sisi! Sementara di sisi lainnya pihak investor membutuhkan target GTV (Gross Transaction Value) terhadap usaha yang mereka kelola.
Menurut Startup Advisor & Investor, David Cornelis Mokalu, untuk mengejar GTV, para startup membutuhkan dana besar untuk menguber target tersebut. Akibatnya justru menjadi beban dalam aspek operasional. “Apalagi mereka tidak punya pengalaman sebelumnya di corporate dan belum teredukasi tentang manajemen dan finance,” kata David kepada pelakubisnis.com, baru-baru ini.
Walaupun mindset anak muda, kata David, sudah benar dan berani melakukan eksekusi dibandingkan kalangan usia baby boomers yang justru lebih takut berbisnis karena sudah tahu dan pernah mengalami kegagalan, misalnya. Tapi sayangnya mindset anak muda yang berani itu belum ditunjang dengan skill yang cukup. Memang memulainya mudah, tapi menjalankannya susah, sehingga sulit melakukan scale up! .
Akhirnya, ketika dikasih pendanaan oleh investor, jadi salah arah karena tidak bisa di scale-up terhadap bisnisnya. “Ada mental yang salah! Kalau modal berani kan itu hanya modal awal, tapi jika ingin menjalankan usaha sustainable, maka perlu ilmunya. Anak-anak muda belum sampai ke situ. Anak-anak muda itu butuh mentor ketika mau scale up,” kata Managing Partner London Tower Capital ini.
Ia menambahkan, kebanyakan anak-anak muda “di atas kertas” bisa mencapai target dengan membuat roadmap bisnis beberapa tahun ke depan. Tapi implementasinya bisa terjadi kesalahan. Pasalnya, startup ini industrinya masih agile atau masih bisa berubah-ubah, baik dari sisi startup-nya sendiri, bahkan dari sisi operasional, juga dari sisi market. “Semuanya masih mencari bentuk. Di atas kertas tidak bisa dipastikan 100 persen,” tandasnya.
Tak sedikit perusahaan-perusahaan startup besar yang mengeluarkan anggaran gaji dan operasional justru lebih besar dari omzet perusahaan. Tapi sampai kapan kondisi ini bisa bertahan? Menurut David, perusahaan-perusahaan startup besar sudah ada kalkulasinya. Mereka sudah tahu jalan menuju profit. Dan itu biasanya sudah diestimasi sebelumnya. Misalnya tahun-tahun awal para BOD (Board Of Directors) bahkan ada yang tidak digaji. Kemudian staf-staf lainnya digaji rendah, tapi tahun tertentu diakumulasi untuk mendapat gaji besar. “Biasanya startup yang sudah Seri A itu sudah disepakati oleh investor. Dan investornya bukan hanya satu, mungkin bisa lima atau sepuluh investor. Jadi sudah dikalkulasi bersama, dan sudah disetujui oleh BOD-nya,” jelas Partner Maka Capital ini.
Di sisi lain belakangan ini tersiar berita banyak perusahaan startup melakukan PHK ( Pemutusan Hubungan Kerja-red) terhadap ratusan karyawannya. Apakah sinyalemen itu merupakan indikasi adanya tanda-tanda “kebangkrutan” perusahaan-perusahaan startup? Menanggapi pernyataan tersebut, David mengatakan, sejauh ini pada tahap awal langkah yang diambil misalnya mem-PHK salah satu divisinya atau mungkin ada yang terpaksa ditutup. Tetap saja harus dilihat mana untung ruginya. Sebab, tidak semua bisnis berjalan sesuai rencana. Ada yag harus ditutup, ada yang berubah bisnis model.”Nah, kondisi ini yang menyebabkan adanya pengurangan karyawan, tapi secara keseluruhan tetap jalan,” tandasnya.
Lebih lanjut ditambahkan, di dalam market biasanya dua sampai empat perusahaan besar akan tetap berjalan. Intinya semua keputusan yang diambil oleh startup-startup besar itu sudah dikalkulasikan bersama dengan manajemen dan BOD. “Masing-masing startup beda-beda strateginya. Apakah strategi untuk profitable lebih cepat atau lebih lama? Intinya semua ingin menguasai pasar. Menguasai pasar seperti apa, kapan, strateginya bagaimana, targetnya kapan? Semua itu masing-masing startup punya jalan sendiri-sendiri,” jelas Doctor of Philosophy (PhD) Finance & Investment Business Management Institut Pertanian Bogor ini.
Sementara beberapa tahun terakhir ini banyak bermunculan startup dalam skala kecil. Perusahaan-perusahaan tersebut belakangan mulai goyah bahkan ada yang menutup usahanya.
Fundamental awal startup itu, tambah David, dilihat dari bisnis modelnya. Bila bisnis modelnya tidak bakar uang untuk scale up, artinya boleh jadi bisa bertahan. Walaupun modalnya sedikit tetap bisa scale up. Beda dengan startup besar yang bisa menggunakan dananya untuk scale up. Tak dipungkiri untuk bisa cepat berkembang pasti dibutuhkan investor. “Tapi startup perlu membuka diri pada investor atau kerjasama dengan big player atau startup lain,” urainya.
Menurut David, ketika startup sudah siap untuk scale up, maka diperlukan investor. Hal ini disebabkan karena banyak yang sudah ketemu investor tapi tidak siap scale up. Akhirnya hanya “bakar uang”. Banyak yang fundamentalnya belum kuat, belum rapih, tapi sudah keburu mendapat dana investor. Sementara investornya juga perusahaan investing unlisted. Jadi, sama-sama belum mengetahui bisnisnya secara utuh. Ditambah belum punya pengalaman, sehingga salah ambil posisi, sehingga menjadi rugi, misalnya.
David menjelaskan, bila ada pertumbuhan dari sisi revenue dan gross profit, berarti tidak bakar uang. Tapi kalau operasionalnya lebih besar dibandingkan pemasukan, maka otomatis minus. Dan minusnya harus ditambal, baik melalui dana pribadi atau dana dari investor. Kedua ini memungkinkan perusahaan tetap bisa jalan. Tapi jalannya seberapa jauh? Tergantung kapan bisa dapat profit dan sustainability-nya seperti apa.
“Banyak startup yang tidak bikin metrik (dashboard), sehingga tidak bisa memantau perkembangan usahanya. Banyak diantara startup yang tidak tahu cara membuat metrik. Ibarat menyetir mobil tidak lihat spidometer, sehingga dia tidak tahu apakah bensinnya masih cukup atau tidak,” ungkap David. Padahal kalau startup itu mempunyai metrik, maka ia dapat mengetahui pada kondisi seperti apa ia mendapat investor. Tapi karena tidak mempunyai metrik, akhirnya usaha berhenti di tengah jalan.
Itu pentingnya dashboard untuk mengetahui pengeluaran-pengeluaran yang tidak wajar. Walaupun sebenarnya pengeluaran yang tidak wajar itu tidak lebih dari 10 persen dari keseluruhan budget. Artinya tidak mungkin terjadi pengeluaran seperti “bola salju”, kecuali tidak mengerti finance atau tidak membuat dashboard untuk monitor budget.
Menurut David, bila bisnis modelnya benar dan laporannya untung, maka hasil keuntungan itu yang dipakai untuk sustainability startup. Tapi sebaliknya bila startup itu tidak untung, mungkin boleh jadi karena sudah ada kompetitor atau kurang ada nich market atau kurang relevan produknya. Jadi positioningnya harus benar-benar jelas dan punya difrensiasi yang jelas. “Kalau positioning berhimpitan dengan para kompetitor, akhirnya terjepit di tengah, sehingga tidak bisa berkembang,” jelasnya.
Positioning itu berkaitan dengan target market. Lebih baik, lanjut Venture Partner Gua Digital ini, target market difokuskan lebih mendalam dibandingkan melebar. Artinya harus ada niche market. Contoh e-commerce untuk produk muslim! Target pasar muslim itu lebih ketemu insight nya ketimbang untuk produk segala umur. Bisa juga main di sisi jenis produk, misalnya pakaian muslim dan hanya fokus menjual produk jilbab saja.
Ia menambahkan, belakangan ini ada fenomena menarik, yaitu UMKM yang go digital. Menurut David, UMKM yang go digital akan lebih menarik di mata investor ketimbang startup yang tidak punya basic klien. Yang membedakan antara jenis startup dan UMKM, kalau startup itu kebanyakan kuat di teknologi, tapi basis marketnya kurang kuat karena hanya berkutat di teknologi saja. Sedangkan penetrasi ke marketnya masih kurang kuat. Sedangkan UMKM itu dari sisi market kuat secara offline. “Tinggal PR (Pekerjaan Rumah) bagaimana si UMKM ini menjadi startup. Caranya gampang, yaitu go digital. Nah, itu yang diminati oleh investor saat ini, karena sudah mempunyai market,” jelasnya.
David menjelaskan, investor lebih melihat ke marketnya. Investor investment basic-nya adalah hanya mendanai startup, tidak mendanai UMKM. Artinya dari sisi UMKM harus bergerak, jangan ber-positioning UMKM lagi. Tapi jadilah UMKM yang startup, supaya masuk dalam radar investor. Caranya? Go digital! Investor maunya transparan dan secara teknologi integratif atau tidak manual. “Kalau UMKM kan lebih banyak manualnya, tidak dalam satu sistem yang terintegrasi di satu platform,” lanjutnya lagi.
Itulah kelemahan UMKM yang belum masuk ke ranah digital. Tapi itu, menurut David lebih mudah ketimbang startup mengambil market offline. Sebab, startup itu target dari teknologi bukan dari market. Contohnya Bhinneka mulanya offline, kemudian ada platform-nya atau omni channel. Jadi kalau umkm sudah punya market, tinggal siapkan platform. Ini lebih gampang ketimbang startup masuk ke market.
Seiring dengan berjalannya waktu, semua UMKM, kata David, dipaksa atau tidak, akhirnya akan mengikuti tren atau zaman. Cuma go digitalnya tergantung setiap produk yang berbeda. Kalau ada payment pasti ada bank. Tapi ketika melakukan hal yang lain, pasti beda. Contohnya orangtua sudah pakai QRIS, tapi untuk memesan barang belum bisa. Jadi, tergantung seberapa rumit atau gampangnya digital itu. “Kalau hanya payment saya rasa banyak yang bisa, tapi ketika memesan obat atau berbincang dengan dokter belum terlalu digital,” tandasnya. Tinggal pertanyaannya seberapa cepat digitalisasi yang dilakukan UMKM? Ini tergantung dari masing-masing industri. Dan seberapa cepat “pemaksaan” untuk digital?
Perkembangan digitalisasi itu justru lebih cepat digerakkan oleh sektor swasta, dalam hal ini regulator sebagai penunjangnya. “Tapi rasanya peraturan-peraturan yang keluar selalu ketinggalan dibanding inovasi. Tapi ini terjadi di mana-mana, bukan hanya di Indonesia saja. Namanya juga inovasi itu mendobrak yang belum ada. Makanya peraturan selalu ketinggalan,” kata David mengunci percakapan. [] Siti Ruslina /Ilustrasi: Pinterest

