Awas! Dampak Pandemi “Merusak” Industri
Meski Pandemi Covid-19 mulai menjauh, tapi tantangan tidak langsung lenyap. Bahkan tahun 2023 ini akan menjadi penuh tantangan bagi para pelaku bisnis. Ada tiga change driver yang terus mengintai. Pertama, krisis global. Kedua, tahun politik. Dan ketiga, disrupsi pasca-pandemi.
Perihal krisis global, perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung telah menimbulkan ancaman resesi di banyak negara. Sementara di lingkup nasional, tahun politik mendatangkan potensi ketidakpastian yang tinggi.
Lembaga konsultan Inventure dan biro riset Alvara kembali hadir menggelar Indonesia Industry Outlook (IIO) 2023 yang berlangsung 15-16 Maret 2023 secara hybrid. Apa yang dapat dipetik dari hasil survei tersebut? Bagaimana potret indutri Indonesia di tahun ini?
Menurut Yuswohady, Founding Chairman Indonesia Industry Outlook, dunia kini mengalami “kegelapan”. Berdasarkan survei yang dilakukan lembaga konsultan Inventure dan biro riset Alvara meyakini bahwa tahun 2023, Indonesia tetap baik. “Tapi baik ini tergantung mereka yang bisa mengambil peluang,” katanya serius.
Khusus pada change driver ketiga, disrupsi pasca-pandemi tak bisa diabaikan. Pasalnya, tiga tahun pandemi berjalan (2020-2022) telah membuat guncangan besar. Paling nyata adalah terjadinya “pembilasan” (seleksi) di banyak industri. Banyak pemain yang tak memiliki fondasi dan model bisnis yang sehat, telah bertumbangan digulung pandemi.
Yuswohady mengatakan, pada saat pandemik, semua orang go digital, tapi dalam tempo singkat, tiba-tiba kita mulai lewati pandemi dari tahun 2022 ke tahun 2023. Sementara customer paling benci dengan perubahan. “Makanya saya tidak percaya revolusi. Customers itu kalau revolusi nggak bisa. Dulu saya ingat waktu mahasiswa kost tidak pernah pindah, waktu kerja di Jakarta pun kost nggak pernah pindah. Kalau pindah kita ketemu teman baru, tempatnya baru. Dan orang nggak suka yang baru,” tandasnya.
Customer pun, lanjut Yuswohady, pun seperti itu. Nah, apa yang terjadi pada tahun 2020 kita tidak boleh ke mana-mana, kita harus go digital, sehingga bingung semua. Belum selesai bingung, tiba-tiba akhir tahun 2022 harus go physical lagi. Hal ini menyebabkan industri mengalami kerusakan luar biasa. “Tiga tahun terakhir ini terjadi kerusakan industri,” tandasnya serius.
Pilar-pilar industri diserang tiga disrupsi. Itulah yang memporak-porandakan industri di tanah air. Pertama adalah digital disruption. Kedua, millennial disruption. Ini adalah pembilasan customers dari awalnya sangat didominasi oleh Gen X. Kini dunia dikuasai oleh Millenial. “Saya bilang generasi yang paling kaya adalah Gen X dan generasi yang paling miskin adalah generasi millennial,” katanya.
Menurut Yuswohady, ketika terjadi millennial disruption, maka pasar mengalami perubahan. Seperti Gen X yang sebelumnya power full, tiba-tiba berganti menjadi millennial. Pergeseran dari Gen X ke millennial seperti Gempa Palu, seperti gempa tektonik, ekstrim langsung amblas. “Otaknya millennial dengan otaknya Gen X sama sekali berbeda. Faktor penyebabnya adalah digital” urainya.
Millennial membunuh banyak produk, banyak industri dan banyak bisnis. Berdasarkan survei di seluruh dunia millennial nggak suka sepatu high hills. Industri kamera, seperti Nikon dan Cannon terlibas karena millennial memotret memakai handphone. Musik rock pun dibunuh sama millennial. “Kemarin di Solo ada konser Deep Purple, tapi millennial nggak ngerti apa itu Deep Purple. Termasuk group lawak, zaman saya ada yang namanya Srimulat. Tapi ketika bertanya ke millennial, lucunya di mana Srlmulat? Sebaliknya Gen X melihat Stand Up Comedy itu lucunya di mana?” kata Yuswohady. Itu sebabnya disruption millennial banyak menelan korban industri.
Terakhir adalah disruption pandemic. Tiga tahun terakhir, kata Yuswohady, kondisinya industri mengalami kerusakan karena tiga disrupsi tersebut. Akibatnya terjadi market mega shift. Melalui survei pada Februari lalu mengenai kondisi industri tahun 2020, 2021, 2022 sampai 2023.”Kesimpulannya tiga tahun terakhir ini industri kita berubah luar biasa. Terutama diperubahan market, maka istilah saya market mega shift,” tandasnya.
Menurut Yuswohadi, ada banyak insight yang diperoleh dari riset IIO 2023. “Selain pembilasan di industri, tiga tahun pandemi juga menimbulkan apa yang kami sebut sebagai ‘kerusakan’ di banyak industri,” ujar Yuswohady.
Salah satu dampak yang terlihat menonjol adalah di industri startup. Tak terkecuali di Indonesia, para pelaku startup menghadapi ancaman meletusnya gelembung. Di sisi hulu, era bakar uang telah selesai. Investor, terutama investor global, kini semakin banyak perhitungan, terlebih di tengah situasi global yang terancam resesi. Mereka menekan startup untuk segera cetak profit. Sementara di sisi hilir, konsumen yang price sensitive cenderung meninggalkan layanan yang digunakannya karena berkurangnya aneka diskon yang dilakukan startup demi menjaga efisiensinya.
“Ketiga change driver ini luar biasa saling pengaruh-mempengaruhi satu sama lain, menciptakan VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang sangat besar di tahun 2023. Para industry leaders mesti mewaspadai efek-efeknya,” tambah Yuswohady.
Kendati tantangan demikian berat, Yuswohady yang juga pakar manajemen dan bisnis ini optimistis jalan terang tetap terlihat. “Lewat IIO inilah kami ingin membekali para industry leader agar bisa menyukseskan target 2023 dengan sebaik-baiknya,” katanya. Pasalnya, dalam report yang disajikan di IIO 2023, selain disajikan insight atas perkembangan sejumlah industri, juga akan dibedah dan diidentifikasi secara lengkap berbagai tren pasar yang berpotensi tumbuh beserta strategi dan tips menjalankan usaha dan bisnis di tahun 2023. Siapa yang akan menang? Mereka yang bisa loncat dari yang lama ke yang baru.
Yuswohady menambahkan, untuk melihat ekonomi bagus atau tidak, maka lihatlah keluarga. Kalau keluarga itu oke, terlihat dari spending money emak-emak. Kalau sampai emak-emak tidak ke mall, tidak belanja, itu bahaya. Kalau emak-emak belanja, maka tokonya ramai, pabrik menjadi buka, berarti pegawainya kira-kira naik gaji. Kalau naik gaji, dia akan belanja lagi, sehingga tidak terjadi PHK. Kondisi ini berputar terus. Itulah yang disebut ekonomi itu mengalami virtual cycle. Sebaliknya krisis terjadi kalau emak-emak tidak belanja, artinya tokonya tutup, pabriknya tutup, terjadi PHK, sehingga tidak mampu membeli. [] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa/Ilustrasi: Shutterstock


