Review Film Buya Hamka Bernilai Rp70 Milyar
Film Buya Hamka yang menghabiskan banyak dana namun belum bisa membuktikan kualitasnya. Urutan trilogy yang tidak historis dan penokohan yang kurang mendalam membuat film ini kurang ‘greget’, namun tetap asyik di tonton bersama keluarga.
Film menjadi salah satu aspek yang mewarnai hari-hari lebaran. Banyak film-film bertebaran pada momen jelang lebaran khususnya film keluarga. Lebaran tahun ini ada satu film yang wajib ditonton oleh seluruh keluarga Indonesia khususnya, yakni film “Buya Hamka”. Film yang menyentuh hati dengan kisah drama dibaliknya ditambah bahwa film ini adalah biografi dari salah satu ulama besar sekaligus pahlawan nasional di Indonesia yakni Buya Hamka. Pada kesempatan ini, penulis akan mencoba untuk memberi tanggapan terkait film “Buya Hamka Vol.1” yang dirilis pada tanggal 19 April kemarin. Baik dari segi alur, penokohan, hingga cinematography.
Ada beberapa fakta menarik dari film Buya Hamka. Film ini ternyata telah direncanakan sejak 9 tahun silam (tahun 2014). Berawal dari produser Starvision, Chand Parwez yang mulanya bertemu dengan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) kala itu, Din Syamsudin untuk membahas perencanaan film ini. Naskahnya kemudian ditulis oleh Alim Sudio dan Cassandra Massardi. Namun prosesnya mengalami kendala sehingga naskahnya sering mengalami perubahan. Sedikitnya perlu waktu tiga tahun penguatan naskah yang akhirnya film ini rilis pada tahun ini.
Tidak hanya proses penggarapan berjalan sangat lama, tapi film Buya Hamka menghabiskan dana “jumbo” mencapai Rp 70 milyar, sehingga menjadi film dengan budget termahal produsen anak negeri. Ini membuat film Buya Hamka berhasil mengalahkan “Bumi Manusia” sebagai film termahal di tanah air.
Film “Buya Hamka” akan menjadi trilogy untuk kedepannya. Akan ada dua film lagi yang akan ditampilkan di layar lebar yakni “Buya Hamka Vol.2” dan “Buya Hamka Vol.3”. Sementara yang baru tayang adalah “Buya Hamka Vol.1” sekaligus menjadi topik utama dalam artikel ini.
Ketiga film itu akan menceritakan periodisasi seorang Buya Hamka. Vol.1 akan berfokus pada masa prime tokoh bernama Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Dalam volume ini, penonton akan diperlihatkan tokoh Buya Hamka tidak hanya sebagai ulama tapi juga sebagai seorang sastrawan, jurnalis, dan pejuang kemerdekaan. Sementara di Vol.2, penonton akan disuguhkan kisah Buya Hamka ketika masa agresi militer Belanda hingga memasuki rezim orba. Di Vol.3, cerita mengalami flashback yakni ketika masa remaja dari Buya Hamka yang berkelana di tanah Jawa sampai ia menuntut ilmu ke negeri Makkah.
Secara singkat, volume pertama dari trilogy “Buya Hamka” ini cukup bagus namun menurut saya, seharusnya periodisasi kisah dari Buya Hamka harus disesuaikan dengan timeline dan secara historis agar penonton yang belum mengenal kisah hidup Buya Hamka bisa mendalami setiap karakternya dengan baik. Seharusnya Vol.1 dimulai ketika periodisasi Hamka remaja atau yang terdapat dalam Vol.3. Penceritaan yang dilakukan secara historis ini tidak hanya sesuai dalam penulisan sejarah atau historiografi, tapi juga penting untuk character development dalam sebuah film.
Penonton akan merasa empati berlebih ketika telah memahami betul seorang karakter. Contohnya dalam film ini adalah ketika anak pertama Hamka dan Siti Raham, Hisyam meninggal dunia. Ketika menonton adegan tersebut, saya tidak merasa berempati. Pasalnya saya belum mengenal lebih dalam sosok Hisyam. Ditambah dengan adegan kematian Hisyam yang berada di bagian awal-awal film sehingga mungkin sebagai penonton hanya mengenal ia sebagai anak dari Buya Hamka.
Beda cerita kalau Hisyam diperkenalkan lebih dalam melalui Vol.3 maka penonton bisa lebih mendapatkan feel-nya. Ini merupakan salah satu sisi jelek dari film trilogi yang disusun secara tidak historis.
Untuk story dalam Vol.1 ini masih terbilang belum begitu greget. Konflik yang dihadirkan belum bisa menggugah hati penonton. Ya memang, periodisasi Hamka pada masa-masa itu (1933-1949) terbilang cukup flat. Hamka lebih sering ditunjukkan sebagai penulis dan jurnalis sehingga scene ketika Hamka mengetik itu sangat banyak sekali. Ya memang pada dasarnya, perjuangan Hamka itu melalui pemikirannya yang ia salurkan lewat tulisan-tulisannya. Mungkin konflik baru memanas ketika periode kedatangan Jepang yang dimana Hamka terpaksa bersikap kooperatif terhadap Dai Nippon yang kemudian menbuatnya dimusuhi sehingga jabatannya sebagai ketua umum Muhammadiyah Sumatera Timur harus dicabut.
Yang menarik dari periode Hamka itu menurut saya terletak di masa-masa demokrasi terpimpin hingga orde baru yang nantinya akan ditampilkan dalam Vol.2. Pada Masa itu, Buya Hamka mendapat cobaan sangat berat. Ketika ia difitnah dalam upaya pembunuhan presiden Soekarno. Tuduhan tersebut akhirnya berujung pada ditahannya Buya Hamka di Sukabumi pada tahun 1964. Ditahannya Buya Hamka tidak lepas dengan keterkaitannya sebagai anggota Partai Majelis Syuro Muslimin (Masyumi) yang saat itu terlibat dalam aksi PRRI-PERMESTA pada akhir tahun 1950-an.
Selain konflik dengan kawan lawasnya Soekarno, konflik antara Buya Hamka dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang pernah menuduh Buya terkait karyanya yang dituding plagiarisme. Meskipun pada akhirnya Buya memaafkan Pramoedya Ananta Toer sebagai salah satu anggota Lekra. Bahkan, Buya pula yang meng-Islamkan menantu Pram (Daniel Setiawan-red) dan mengajarkan tentang Agama Islam. Akan sangat menarik melihat dua sastrawan besar Indonesia yaitu Buya Hamka dan Pram divisualisasikan dalam film. Namun hingga saat ini, kita hanya bisa berandai-andai saja bahwa konflik Hamka-Pram bisa ditampilkan dalam Vol.2 karena belum ada informasi lebih lanjut.
Pun dari segi cinematography sebenarnya biasa-biasa saja. Tidak bagus tidak jelek. Tergolong standar, namun cukup memanjakan mata. Production design dari film ini tidak main-main. Penonton benar-benar terasa dibawa ke daerah Medan dan Padang Panjang di sekitaran tahun 1930-an. Kombinasi antara production design dan cinematography yang dihasilkan menambah nilai plus sehingga kurangnya film ini bisa ditambal sedemikian rupa. Tidak lupa dengan acting dari para aktor pemeran terutama Vino G Bastian dalam memerankan Buya Hamka.
Applause untuk Vino yang bisa memaksimalkan peran seorang yang kharismatik. Sementara pemeran lain seperti Laudya Cynthia Bella yang memerankan Siti Raham juga tergolong bagus meski logat Padangnya tidak begitu terasa. Yang sangat saya tunggu adalah acting dari Reza Rahardian dalam memerankan HOS Tjokroaminoto kembali. Sebelumnya Reza memang sudah memerankan tokoh pemimpin Sarekat Islam itu dalam film “Guru Bangsa: Tjokroaminoto” dengan maksimal. Akan sangat menarik untuk melihat Reza sebagai Tjokro di Vol.3.
Kesimpulannya adalah bahwa film “Buya Hamka Vo.1” ini memang belum sempurna namun cukup untuk menghangatkan hati penontonnya terlebih bersama dengan keluarga. Selain sebagai film Biopik, film ini juga menghadirkan banyak kutipan dari Buya Hamka yang seringkali membuat bulu merinding dan memotivasi siapapun yang mendengarnya.
“Salah satu penggalian terkejam dalam hidup ialah membiarkan pemikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah” -Buya Hamka[] Abrar Rizq Ramadhan

