Dorong Diaspora Indonesia Pasarkan Produk UMKM

Keberadaan diaspora Indonesia di banyak negara dapat dimanfaatkan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi sarana pemasaran produk-produk UMKM Indonesia. Perlu dibangun ekosistem yang mampu memanfaatkan potensi itu.

Hadirnya  Ruang  Trade  Display    dapat  dimanfaatkan secara optimal sebagai ajang  promosi dan membidik peluang usaha dalam meningkatkan hubungan dagang kedua negara. Demikian disampaikan Menteri Perdagangan Indonesia, Zulkifli Hasan saat meresmikan Ruang Trade Display di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo.

Pada peresmian, Zulkifli Hasan  melakukan pertemuan dengan diaspora Indonesia di Wisma Duta, KBRI Kairo, Mesir. Diaspora Indonesia di Mesir mencakup antara lain mahasiswa yang sedang  menempuh  pendidikan  di  perguruan  tinggi  di  Mesir  dan  pekerja  yang  menetap  di  Mesir, termasuk warga negara Indonesia yang menikah dengan warga negara Mesir. “Diharapkan diaspora Indonesia di Mesir dapat memanfaatkan Ruang Trade Display sebagai salah satu upaya untuk melihat peluang-peluang usaha yang mungkin digarap dalam kesempatan yang lebih luas lagi dan peningkatan hubungan perdagangan kedua negara,”ujarnya.

Zulkifli Hasan  melakukan pertemuan dengan diaspora Indonesia di Wisma Duta, KBRI Kairo, Mesir/Foto: Ist

Zulkifli Hasan menyebut, Ruang Trade Display menjadi tempat untuk menyambut buyers dan pengusaha Mesir yang berkunjung ke KBRI Kairo. Ruang ini akan menampilkan produk-produk unggulan   Indonesia.   Selain   itu,   Ruang   Trade   Display   ini   dapat   dimanfaatkan   untuk   tempat penjajakan  kesepakatan  bisnis (business  matching),  pameran  kecil  (mini  exhibition),  serta  tempat untuk meningkatkan komunikasi dan interaksi antara pelaku usaha kedua negara.

Lebih lanjut ditambahkan, orang Indonesia yang tinggal di negeri orang akan selalu rindu dengan  kuliner  daerah  asal  mereka.  Hal  ini  dengan  sendirinya  telah  menciptakan  peluang  pasar, salah satunya adalah ekspor bahan pangan dari Indonesia. “Terlebih jika memperkenalkan makanan Indonesia ke rekan atau teman kuliah dari negara lain. Saudara berkontribusi mempromosikan produk-produk Indonesia,” tandas Zulkifli Hasan.

Jika  konsisten  mempromosikan  dan  berbisnis  produk  Indonesia,  diaspora  dapat  bertransformasi sebagai pembeli atau distributor produk-produk Indonesia di Mesir dan negara-negara tetangganya. Zulkifli Hasan menempatkan diaspora sebagai duta bangsa yang merefleksikan wajah Indonesia. Tidak menutup kemungkinan, jika usahanya berkembang, diaspora dapat menjadi agen bisnis dalam memasarkan produk Indonesia di  Mesir.

Menurutnya, salah satu keuntungan tinggal lama di suatu negara adalah dapat mengumpulkan  informasi  pasar  negara  tersebut. Diaspora umumnya dapat mengenal karakter penduduk setempat, termasuk produk yang dibutuhkan.

“Saudara juga memiliki pengetahuan yang lebih mumpuni tentang tren dan selera pasar di Mesir. Bisa jadi saudara juga  telah  hafal  jaringan  ritel  dan  industri  besar  yang  mendominasi pasar di Mesir. Pengetahuan dan pengalaman yang saudara miliki tersebut merupakan asset bisnis tak ternilai dan menjadi peluang ekonomi,” kata Zuklifli Hasan.

Kementerian Perdagangan dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo berkomitmen membantu diaspora Indonesia untuk  menjembatani  perdagangan  antara  Indonesia  dan  Mesir. Atase  Perdagangan  Kairo  siap  membantu  diaspora  Indonesia  yang  ingin menjalin hubungan bisnis yang melibatkan Indonesia dan Mesir.

“Jika ada diantara saudara yang  telah  memiliki  izin  usaha  resmi  di  sektor  perdagangan  dan distribusi, silakan menghubungi Atase Perdagangan di KBRI Kairo untuk membahas peluang pasar Mesir yang bisa dimanfaatkan oleh diaspora,”pungkas Zulkifli Hasan.

Duta Besar RI di Kairo, Lutfi Rauf menyambut kedatangan Mendag Zukifli Hasan dan delegasi RI pada rangkaian misi dagang serta menyampaikan apresiasi atas komitmen Kementerian Perdagangan untuk  memperluas  perdagangan  ke  Mesir. 

Lebih lanjut ditambahkan, diaspora Indonesia di Mesir jeli melihat peluang ke depan, khususnya setelah dilakukan penandatanganan Joint Trade Comission (JTC) antara Indonesia dan Mesir. “Melalui JTC, peluang eksportir Indonesia untuk masuk ke pasar Mesir dan sekitarnya semakin terbuka.  Jadi,  silahkan  memanfaatkan  kesempatan  tersebut  untuk  mengembangkan  bisnis para diaspora Indonesia,” Lutfi Rauf.

Sementara tahun lalu, Ketua Umum INTANI (Insan Tani dan Nelayan Indonesia) yang juga Asisten Staf Khusus Wakil Presiden (Wapres) RI, Guntur Subagja menyoroti industri halal yang belum banyak dilirik UMKM. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi menjadi produsen industri halal yang kini dikuasai Brazil, AS, India, Rusia dan China, sebagaimana dikutip dari dutaindonesia.com, 24/2 ahun lalu.

Pemerintah dan pengusaha pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Platform Digital Ekspor Indonesia (PD Ekspor) berkolaborasi dengan membangun ekosistem ekspor produk halal UMKM, “Global Halal Hub Indonesia”. Hal ini sejalan dengan arahan Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin yang menargetkan Indonesia menempati posisi sebagai pusat produk halal dunia di tahun 2024.

Dengan belanja konsumen sebesar USD184 milyar di tahun 2020, Indonesia tercatat sebagai pasar konsumen halal terbesar dunia. “State global Islamic Economic Indicator 2021/2022 menyebutkan, terdapat USD 8 milyar  ekspor produk halal oleh Indonesia, sementara impor produk halal oleh pemerintah mencapai USD 10 milyar. Selain itu terdapat investasi sebesar USD 5 milyar dalam sektor halal Indonesia, ini menunjukan Indonesia adalah pasar yang sangat besar,” jelasnya.

Dia juga menegaskan pentingnya kerjasama dan kolaborasi semua pihak yang peduli akan kemajuan UMKM. “Saat ini semua instansi/lembaga, sama-sama kerja, jadi mungkin yang belum ada kerjasamanya, jadi bagaimana ini kita kolaborasikan dalam satu orkestra yang menjadi kesatuan visi membangun Indonesia maju,” imbuhnya.

Di lain pihak ada pemikiran sebaiknya UMKM fokus memproduksi barang, sedangkan untuk marketing ada teman-teman lain yang memang sudah jagonya. Misalnya bekerjasama dengan aggregator karena dia sudah paham jualannya ke mana. Kemudian bisa bekerjasama dengan trader. UMKM yang penting barangnya dibeli oleh siapa pun dan tujuannya ke mana pun. Selain itu, kerjasama diaspora Indonesia di luar negeri. Siapa buyers yang membutuhkan produk-produk UMKM, dia cari di Indonesia dan menghubungkan UMKM dengan para buyers di luar negeri, (sebagaimana dikutip dari buku bertajuk: Kisah 10 UMKM Milenial Inspiratif, oleh: Yuniman Taqwa Nurdin dan Siti Ruslina, Penerbit RAI Publishing, Desember 2022.).

Menjadi pengusaha justru membuka kesempatan kita  untuk meraih pendapatan yang tak terbatas. Tidak hanya itu, kita juga berkontribusi membuka lapangan  kerja, sehingga akan meningkatkan daya beli masyarakat. Meningkatnya daya beli masyarakat akan bersimbiosis  dengan meningkatnya skala bisnis, sehingga simbiosis demikian akan menjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi, merupakan cermin kemajuan suatu negara. Artinya sinergi semua pihak dalam melahirkan pengusaha-pengusaha muda merupakan suatu keniscayaan. Kondisi itu yang perlu didorong, sehingga anak negeri yang mempunyai passion menjadi pengusaha dapat terbantu untuk mewujudkan mimpinya. Bila 10% saja UMKM yang jumlahnya  mencapai 65,4 juta di Indonesia bisa naik kelas.

Oleh karena itu, perlu dibangun  ekosistem  kolaborasi antara UMKM dengan stakeholders (Pemerintah, KBRI di  luar negeri, perbankan dan diaspora Indonesia di luar negeri. Kalai ekosistem ini terbangun, maka bukan tidak mungkin produk-produk UMKM bisa go global, sehingga UMKM bisa naik kelas.

Bukan tidak mungkin akselerasi kemajuan bangsa ini akan jauh lebih cepat untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju dan sejahtera. Bagaimana menurut Anda? []Yuniman Taqwa