Semangat Bangkit  Bersama UMKM Paska Pandemi

Simbiosis mutualisme bisnis yang memfasilitasi keberadaan UMKM di Indonesia mampu bangkit bersama di tengah perubahan bisnis yang begitu cepat. Keberadaan mata rantai dari bisnis UMKM, akhirnya membentuk ekosistem bisnis yang sama-sama bangkit dalam rantai bisnis yang panjang.

Tak dipungkiri bila sektor UMKM  disebut sebagai sektor potensial penopang  perekonomian nasional.  Melansir dari ukmjagoan.id,  berdasarkan Peraturan Pemerintah no.7/2021 tentang UMKM, Usaha Ultra Mikro (omset tahunan di bawah Rp300 juta) jumlahnya mencapai 98,7%. Sementara kategori Usaha Mikro (Rp300 juta – Rp2 miliar) jumlahnya sekitar 0,9%, Usaha Kecil 0,3% (omzet tahunan Rp2-15 miliar) dan usaha menengah hanya 0,07% dengan nilai omzet tahunan Rp 15 – 50 miliar). 

Besarnya jumlah pemain di sektor UMKM ini  tidak menjadikan supply lebih besar daripada  demand. Menyimak pidato Presiden Joko Widodo  pada momen Musyarawah Rakyat Indonesia (MUSRA)  melalui Instagramnya, Bapak Presiden menyebutkan, saat ini penduduk Indonesia sudah mencapai 280 juta jiwa. Indonesia bangsa yang besar dan jumlah penduduknya amat besar menjadikan pasar Indonesia sangat besar dan potensial bagi para pelaku usaha dan industri.

Namun bagi UMKM, untuk menjangkau seluas-luasnya pasar di tanah air, dibutuhkan effort yang tinggi. Setidaknya harus punya kekuatan modal dan perlu kepintaran untuk mengakses pasar. Perlu kemampuan mengakses pasar, akses modal bahkan akses mentor bisnis. Perlu adanya satu ekosistem yang bisa menguatkan  posisi UMKM Indonesia.

Menjawab kendala-kendala tersebut, saat ini pemerintah dan BUMN juga korporasi besar lainnya  melalui kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR)  turut mendorong dan merangkul para pegiat UMKM di tanah air. Dari sinergi dan dukungan  institusi-institusi  tersebut, pada akhirnya  para pegiat UMKM terfasilitasi  dalam upaya agar bisnisnya bisa terus bertumbuh. 

Tak hanya instansi pemerintah dan korporasi besar. Ada catatan yang menarik ditandai ketika Indonesia mengalami berbagai disrupsi. Disrupsi digital misalnya!  Di mulai dengan bermunculannya  platform belanja online yang marak dalam 10 tahun terakhir.  Aksi ‘bakar uang’ yang dilakukan para pengelola e-commerce telah membuat masyarakat Indonesia ‘mabok’  barang diskon.

Kehadiran  e-commerce membawa angin sejuk bagi  para pegiat UMKM. Pasalnya para pengelola belanja online ini bersinergi dengan pemerintah untuk sama-sama memprioritaskan menjual produk lokal, dimana para pelapak  UMKM  menjadi prioritasnya.  

Sistem belanja online  makin bertumbuh ketika dunia mengalami pandemic Covid-19.  Kebijakan Pembatasan Sosial  Berskala Besar (PSBB)  untuk menekan laju penyebaran virus corona kala itu dimana masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah,  membuat semua berduyun-duyun mengubah sistem belanja offline ke online. Pada titik ini bisnis e-commerce tiba-tiba  ‘bak jamur di  musim hujan’   menjadi andalan konsumen.

Muncul ekosistem bisnis UMKM  yang hadir  dan membangun komunitas bisnis melalui ajang pameran/Foto: pelakubisnis.com

Pada 2021 PSBB dicabut,  muncul tren ‘hybrid’ yang memungkinkan masyarakat berinteraksi.dengan tetap menjalani protokol kesehatan (prokes). Pada masa ini muncul ekosistem bisnis UMKM  yang hadir  dan membangun komunitas bisnis melalui ajang pameran business to customer (B2C) . Sebut saja HijabFest, Muslim Fest, Muslim Life yang merupakan pameran dengan menyasar gaya hidup syariah  hingga event berskala besar seperti Indonesia Trade Expo.

Hingga saat ini kegiatan ‘hybrid’ di  pusat belanja ataupun  tempat-tempat penyelenggaraan  MICE (meeting, incentive, conference exhibition–pen)semakin ramai dipadati pengunjung yang datang memborong belanjaan. Selain berdagang offline dengan menyewa booth, di era sekarang para exhibitor menggunakan dua channel distribusi dan komunikasi.  Jadi selain memasang display di dalam booth-nya dengan sistem offline, para exhibitor juga melakukan life streaming  menjual produk hasil karyanya.

Dari belanja online hingga hybrid sampai kembali off line lagi, sejatinya ikut mendongkrak bisnis-bisnis yang lain. Diantaranya bisnis logistic dan jasa kurir yang mengalami pertumbuhan cukup signfikan.

Perusahaan jasa pengiriman barang, Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) diantaranya yang  memperkuat pasar bisnis dagang-el [e-commerce] dengan menggandeng PT Qourier Indonesia Kartika, perusahaan lokal berbasis teknologi yang menjual solusi transportasi. Dengan kerja sama ini, Qourier menjadi penyedia mobile application dan web application dengan nama Qourier powered by JNE.

Sejatinya saat ini bukan saatnya berkompetisi melainkan berkolabarasi membentuk kekuatan yang satu sama lain saling menguatkan. Alhasil, terbentuklah  simbiosis mutualisme bisnis yang memfasilitasi keberadaan UMKM di Indonesia. Keberadaan mata rantai dari bisnis UMKM, akhirnya membentuk ekosistem dalam jaringan bisnis untuk  sama-sama bersinergi dalam rantai bisnis yang panjang.[] Siti Ruslina