Jalan Panjang YDBA lahirkan UMKM Mandiri
Beberapa UMKM binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) kini mampu mandiri, bahkan sudah menularkan ilmunya kepada UMKM-UMKM juniornya. Bagaimana proses pembinaan yang dilakukan YDBA agar mampu melahirkan UMKM mandiri secara berkesinambungan?
Lebih dari empat dekade lalu, founder PT Astra International Tbk William Soeryadjaya sudah memikirkan jauh ke depan atas eksistensinya terhadap anak negeri. Ia berkomitmen agar perusahaan otomotif nasional yang dibangunnya ini berperan serta aktif dalam membangun bangsa. Sebagai implementasinya didirikan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Yayasan ini merupakan satu dari sembilan yayasan yang bernaung di bawah PT Astra International Tbk (Astra).
YDBA merupakan salah satu pelaksana kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Astra Internasional Tbk (Astra). Boleh jadi merupakan perwujudan cita-cita Astra “Sejahtera Bersama Bangsa”.
Menurut Chief Executive YDBA, Sigit P Kumala, YDBA yang berdiri 2 Mei 1980 ini adalah yayasan yang membantu UMKM bukan setahun dua tahun, tapi bisa puluhan tahun. “Apa yang sudah kami bina itu diharapkan bisa mandiri untuk membina yang junior. Mentransformasi UMKM-UMKM yang lebih di bawahnya,” imbuhnya.

YDBA bersama Astra dan para stakeholders berupaya membangun program sinergi ayah angkat untuk para UMKM, membangun hubungan kerja sama saling menguntungkan antara Astra dan stakeholders dengan UMKM untuk satu tujuan agar UMKM bisa naik kelas dan berkesinambungan.
Menurut Sigit, Astra mempunyai visi Catur Dharma, yaitu pertama menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Kedua, memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan dalam kegiatan Astra terhadap konsumen. Ketiga, menjaga tim yang baik dan menjaga individu serta bekerjasama. Keempat, mencapai yang terbaik melalui proses standar Quality Cost and Delivery (QCD). Keempat konsisten menghasilkan produk sesuai QCD.
YDBA memberikan program pelatihan, pendampingan, fasilitas pemasaran dan fasilitas pembiayaan yang mendorong UMKM menuju kemandirian. YDBA berupaya untuk mendorong UMKM dari sentra industri modern melalui program sektor unggulan. Dengan memberikan pelatihan, pendampingan, fasilitasi pemasaran dan fasilitasi pembiayaan kepada UMKM, diharapkan UMKM dapat mencapai kemandirian serta naik kelas dan berkelanjutan.
Namun demikian, YDBA mempunyai motto: “Memberi Kail Bukan Ikan”. UMKM yang mengikuti pembinaan di YDBA jangan berpikir setiap pelatihan mendapat uang saku. Fenomena ini merupakan mindset yang salah. YDBA akan memfasilitasi UMKM binaannya untuk mendapat pembiayaan bila memang perlu pembiayaan. Karena YDBA sudah menciptakan rantai pasok untuk pembelinya,” tambah Sigit.
Lebih lanjut ditambahkan, YDBA bersama stakeholders dan UMKM berkolaborasi mengembangkan dan mendorong UMKM naik kelas. Proses ini berjalan jangka panjang membina UMKM agar bisa naik kelas dan mandiri. Untuk itu, ada 4 pilar dasar yang menjadi pedoman pembinaan YDBA. Pertama, membangun mentalitas dasar UMKM untuk menanamkan perubahan. Mereka yang biasanya memproduksi rumahan, akan dijadikan UMKM yang dapat menjadi salah satu vendor Astra bila bisa memenuhi standar QCD. Kedua, UMKM yang dibina jumlahnya banyak. Mereka dididik untuk mempunyai rasa saling menolong. Ketiga, berkomitmen mengikuti program yang diberikan YDBA secara berkelanjutan. Dan keempat konsisten menghasilkan produk sesuai QCD.
Dalam pengembangan UMKM, kata Sigit, menggunakan metode ekosistem. Ekosistem di sini adalah metode pendidikan melalui video edukasi dan sistem informasi terintegrasi. “Kami mempunyai dua infrastruktur yaitu Gallery UMKM dan Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB). Ini perpanjangan YDBA yang ada di daerah,” katanya kepada pelakubisnis.com, pertengahan Juli lalu.
Sementara narasumber (instruktur) dari YDBA bisa berasal dari eksekutif Astra, dari karyawan Astra, bisa juga dari pensiunan Astra yang mempunyai keahlian khusus. Sama halnya dengan pemberdayaan yang ada di LPB perpanjangan tangan YDBA.
Sedangkan jaringan YDBA melibatkan beberapa kementerian. Saat ini ada 4 kementerian, yaitu Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal dan Kementerian Keuangan. Ada juga beberapa perusahaan swasta yang ingin bergabung dengan Astra.
Sigit menambahkan, YDBA bergerak di 4 sektor pemberdayaan, yaitu sektor manufaktur, sektor perbengkelan roda empat, sektor pertanian, dan sektor kerajinan serta kuliner. Sektor manufaktur dan perbengkelan terkait erat dengan bisnis Astra Internasional. Di sektor pertanian, misalnya, diakui Sigit, Astra mengajak beberapa perusahaan swasta bergabung di YDBA untuk bersama-sama membina UMKM.

Syarat menjadi binaan YDBA, tambah Sigit, pertama harus memproduksi barang, bukan sebagai pedagang. Kedua minimal usahanya sudah berusia 1 tahun. Minimal punya izin usaha dan bergerak di 4 sektor tersebut. UMKM yang dibina YDBA harus mau melaporkan perkembangan usaha secara berkala (3 bulan) supaya bisa melihat perkembangan usahanya.
Astra dan stakeholders lainnya, lanjut Sigit, menyediakan tempat training center untuk UMKM agar bisa belajar di tempat perusahaan besar dan sekaligus mengetahui proses produksinya seperti apa. Kemudian karyawan aktif diminta bantuannya mendidik para UMKM. “Para pensiunan diajak membantu pengembangan UMKM. Kalau sudah memenuhi standar QCD, UMKM ini bisa menjadi vendor atau supplier Astra maupun stakeholders melalui pola rantai pasok,” urai Sigit.
Di dalam pola pendidikan, menurut Sigit, YDBA mencari UMKM yang informal leader. Hal ini bertujuan supaya bisa menjadi tokoh penggerak bagi UMKM lain. Kita mencari UMKM percontohan supaya yang lain mau ikut. ”Dari sini kami ke step berikutnya mencari ayah angkat (off taker), menyiapkan para UMKM ini mau diajarkan mengenai QCD yang diberikan oleh ayah angkat. Setelah itu membentuk komunitas untuk memenuhi order dari ayah angkatnya dan membuat koperasi yang dikenal dengan ekonomi berbagi agar UMKM mempunyai power (bargaining). Itu tujuannya,” jelas Sigit.
Lebih lanjut ditambahkan, UMKM itu bukan hanya diberikan teori, tapi didampingi. Proses ini berjalan panjang untuk bisa memenuhi standar QCD. Makanya Program-program yang diberikan YDBA kepada UMKM sekaligus menjadi motivator. Biasanya training berlangsung dua sampai tiga bulan. Ini fungsi motivator yang sekaligus sebagai konsultan dalam menghitung harga jual, misalnya. Konsultan dalam menentukan berapa cost yang bisa masuk dengan jumlah produksi. Pola ini diatur secara bersama untuk mencapai QCD.
Sekarang ini ada 15 cabang YDBA di seluruh Indonesia. Rencananya tahun ini akan menambah 2 cabang lagi. Dari total itu, sudah ada 12 area yang dimandirikan. Terakhir ada di Nusa Tenggara Barat. “Maksudnya mandiri sudah tidak tergantung dari YDBA lagi sudah bisa menjalankan tugas-tugasnya sendiri,” jelas Sigit.
Menurut Sigit, YDBA membagi 4 level UMKM yang menjadi binaan. Pertama, level pemula. Kedua, madya. Ketiga level pramandiri dan kempat level mandiri. Untuk bisa naik level harus bisa lulus 5 materi yang diajarkan , yaitu produksi, keuangan, HRD, pemasaran dan QCD. Masing-masing level itu harus bisa memenuhinya agar bisa naik level sampai mandiri. “Tapi tidak harus menyelesaikan kelima materi tersebut. Misalnya level pemula belajar dulu perhitungan produksi, kemudian pengiriman tepat waktu. Tapi kalau sudah level mandiri sudah harus menguasai semuanya,” terangnya lanjut.
Biasanya level pemula diajari 5 R, yaitu Rapi, Resik, Rawat, Rajin dan Ringkas. 5 R ini merupakan standar dasar. Kalau naik kelas ke Madya, peningkatannya pada kompotensi dan menyangkut kapasitas produksi. Kalau sudah Pra-Mandiri, menyangkut operational excellence dari sisi quality, cost dan delivery yang memenuhi standar Astra. Kalau sudah menjadi vendor Astra, harus menguasai seluruh material, termasuk bagaimana memilih material yang memenuhi standar produksi.

“Kami sejak berdiri sudah membina 12.313 UMKM sampai tahun 2022, dengan melibatkan 72.465 tenaga kerja,” kata Sigit. Sejak tahun 2015 YDBA membuat program UMKM kemandirian. Dari tahun tersebut sampai tahun 2022 sudah melahirkan 262 UMKM mandiri. Kenapa UMKM Mandiri sedikit? Menurut Sigit. karena sebelum tahun 2015 belum ada program kemandirian.
“Untuk mengisi program kemandirian, YDBA harus bisa melahirkan setiap tahun berapa yang naik kelas dari level pemula, ke madya, level madya ke pra-mandiri dan level pra-mandiri ke mandiri. Kami ukur data berapa yang naik kelas, berdasaran per sektor, yaitu kerajinan dan kuliner, perbengkelan, pertanian dan manufaktur. Rata-rata naik kelas sekitar 80-sampai 100 UMKM dari per 1000 UMKM atau sekitar 10 persen,” kata Department Head and Communication & Information System, Rahmat Handoyo.
Rahmat mengatakan, tiap tahun YDBA menekrut sekitar 300-350 program baru UMKM. Tergantung tadi kalau level pemulanya tidak naik-naik . “Kami tidak bisa merekrut yang baru. Kemampuan YDBA dalam merekrut UMKM baru tergantung dari binaan UMKM YDBA yang naik kelas. Kalau UMKM-nya cepat naik kelas, kami akan merekrut lebih banya. Tapi kalau mogok, tidak naik kelas, kami harus mengurangi rekrut UMKM,” tandasnya.
Di samping itu, menurut Rahmat, YDBA juga berkolaborasi dengan group PT Astra International Tbk dalam menjalankan Comdev (Community Development). Di Kalimantan Timur, misalnya. Di sini yang dibina di bidang pertanian. Padahal kompetensi astra di bidang otomotif, sehinga ketika YDBA membina pertanian, maka membutuhkan support dari lembaga-lembaga spesialis, seperti balai pertanian, atau ahli dibidang organic dan lainnya.
“Ketika kami menjalankan pembinaan Comdev, di pastikan pelaku usaha atau petani di sekitar site Astra . Contoh di Sangatta sektor perikanan. Ketika kami membina teman-teman perikanan darat, kami mengundang teman-teman dari Balai Besar Perikanan, bagaimana proses pembibitan yang tepat,” urainya seraya menambahkan tidak berhenti sampai di situ saja, YDBA mendorong para petambak bisa mengelola paska panen. Olahan paska panen bisa menjadi sambel lele. “Tadinya mereka hanya membudidaya ikan lele, lalu bergeser ke kuliner. Di kuliner YDBA tidak setengah-setengah mendorong bagaimana membuat packing, desain packing. Dalam hal ini YDBA berkoordinasi dengan dinas setempat untuk memberi perizinan. Izin produksi, halal dan sebagainya. Akhirnya YDBA bisa mendorong mereka meningkatkan nilai tambah,” papar Sigit.
Sementara petani di sana, tambah Rahmat, didorong masuk ke petani organic, sehingga rutinias menggunakan bahan kimia sangat rendah. Ketika didorong ke organic, tanah menjadi subur kembali dan panen meningkat. “Kami tidak hanya sampai mendorong petani sampai ke gabah saja. Kami dorong mereka mengolah menjadi beras. Lalu packing-nya, kami laporkan ke dinas setempat, kami laporkan ke bupati bahkan sampai gubernur. Teman-teman UMKM di sana mendapat izin edar. Ini suatu hal bagaimana kami membina UMKM agar naik kelas, meningkatkan nilai tambah dan akhirnya mandiri,” lanjutnya.
Sedangkan di Lebak, Banten, YDBA berkolaborasi dengan Bintang Toedjoe sebagai ayah angkat. Di sana penduduk menanam jahe merah. Pastinya Bintang Toedjoe yang tahu bagaimana jahe merah yang dibutuhkan. Untuk itu YDBA mendatangkan anak perusahaan Kalbe Group ini untuk mengajarkan mereka bertani jahe merah.
Ketika Bintang Toedjoe komit menjadi ayah angkat akhirnya mereka turut datang ke sana membantu memberi bibit, membantu budidayanya, bahkan memberikan pelatihan-pelatihan dan pendampingan. Sehingga ketika berbicara jahe merah yang awalnya usia panen 6 bulan sekali dan petani langsung menjualnya ke tengkulak. “Basic-nya dari YDBA, bagaimana petani jahe Merah memenuhi QCD Bintang Toedjoe. Panen yang ideal 10 sampai 12 bulan. Hasilnya bagus harga jualnya meningkat,”ungkap Sigit yang juga CEO PT Astra Motor Indonesia ini.
Menurut Sigit, dasar kolaborasi harus mempunyai kebutuhan dan kesulitan. Misalnya Bintang Toedjoe butuh jahe untuk bahan baku. Bahan baku untuk suplay ke proses produksi. “Dengan adanya kebutuhannya itu, kami minta kepada ayah angkat mau membina UMKM-nya.
Apakah binaan YDBA ada yang sudah go ekspor? Menurut Sigit, ada yang langsung ekspor. Tapi ada juga yang tidak langsung. “Kalau spare part motor itu kan sumplai ke Astra motor. Astra motor yang melakukan ekpor. Itu yang tidak langsung. Tapi ada juga yang langsung seperti pembuatan Loyang produksinya sudah ekspor ke Singapura, Malaysia, Philipina,” jelas Sigit.
Bahkan ada beberapa perusahaan binaan YDBA yang telah berhasil menjadi mandiri. Setelah masuk kategori UMKM mandiri, barulah perusahaan tersebut mentransfer ilmunya membina UMKM-UMKM juniornya agar bisa naik kelas. Contohnya adalah PT Nandya Karya Perkasa ( NKP), perusahaan komponen yang sudah puluhan tahun menjadi binaan YDBA. “NKP kini membina puluhan UMKM komponen di Tegal,” tegas Sigit mengunci percakapan. [] Siti Ruslina/ Yuniman Taqwa
