Lagi-lagi Review Film Petualangan Sherina 2 (2023)

Film Sherina dan lagu-lagu dalam soundtrack filmnya cukup menancap dalam memory masyarakat. Tak hanya milik anak milenial tapi Sherina dan Derby Romero boleh jadi adalah idola semua generasi di tanah air. Penulis ingin sekali memberi 10/10 bagi Petualangan Sherina 2 jika dilihat dari sisi nostalgianya. Namun bagaimana dengan vfx nya?

Antusias para orangtua mengajak anak menonton film Petualangan Sherina/Foto: pelakubisnis.com

Setelah penantian 23 tahun, Miles Films kembali menghadirkan sekuel  film legendaris tanah air bertajuk Petualangan Sherina 2, yang dirilis pada 28 September 2023. Film yang dibintangi oleh Sherina Munaf dan Derby Romero ini pada masanya memang menjadi kisah tersendiri bagi anak-anak milenial. Dihadirkannya kembali sekuel atas film pertamanya, Petualangan Sherina 2 mampu membangkitkan memori masa lalu dari kalangan milenial dengan sentuhan nostalgia yang kental. Masih disutradarai oleh sosok yang sama dengan yang menangani film pertamanya, Riri Riza kembali membuat penonton kagum dengan sentuhan baru di film keduanya ini. Apa saja aspek-aspek yang menjadikan Petualangan Sherina 2 menarik untuk ditonton dan laku keras sejak penayangan di hari pertamanya? Mari simak artikel dibawah ini.

Cerita dan Penokohan

Film sekuel ini mengisahkan kehidupan dari Sherina M Darmawan 23 tahun setelah event di film pertama. Kini Sherina telah menjadi wanita karir yang berprofesi sebagai jurnalis ternama di salah satu stasiun televisi. Awalnya Sherina mendapat tugas jurnalistik untuk meliput di Swiss, namun karena beberapa permasalahan, bosnya membatalkan tugas itu dan justru mengalihkannya ke Kalimantan untuk meliput satwa langka Orangutan dan penangkarannya demi melestarikan populasinya. Sherina kesal karena pemindahan tugas tersebut, namun resahnya menghilang ketika mengetahui bahwa pimpinan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang konservasi Orangutan yang menjadi narasumbernya  tak lain adalah Sadam, teman masa kecilnya. Chemistry antara Sherina dan Sadam kemudian perlahan terbangun kembali setelah keduanya terpisah selama belasan tahun. Keduanya kemudian mengalami perasaan nostalgia bersama serta sedikit muncul bumbu-bumbu romansa. Franchise film kemudian dimulai dari pertemuan antara Sherina dan Sadam serta usaha mereka demi menjaga Orangutan dari aksi-aksi yang mengancam keberlangsungan habitatnya.

Yang membedakan dari film pertamanya jelas dari pembagian konflik cerita. Sherina di film pertama menghadapi permasalahan anak sekolahan mulai dari konflik internal antara dirinya dan Sadam hingga eksternal yang melibatkan gerombolan penculik. Namun, di film sekuel ini, Sherina menghadapi hal yang lebih berat. Dirinya memiliki tanggungjawab lebih sebagai seorang jurnalis. Ditambah yang menjadi anti tesis dari film pertamanya, Sherina ditampilkan sebagai sosok yang perlu belajar lebih banyak soal hidup dan kaitannya dengan interaksi sosial dan hal itu ia pelajari dari Sadam. Berbanding terbalik dari film pertama bukan? Di film pertama, Sadam yang seorang bully dan ia belajar banyak soal rasa rela berkorban dari Sherina, sedangkan Sherina di masa depan belajar untuk mengerti kehidupan sosial yang bijaksana dan tidak individualis dari Sadam. Penonton pasti merasakan bahwa Sherina terkesan beban di film ini dan justru Sadam yang menutupinya. Hal ini penulis sebut sebagai alur yang bagus karena Sherina sebagai tokoh utama yang dulunya serba sempurna ternyata juga memiliki kekurangan yang turut menyebabkan Sadam harus meninggalkan Sherina di masa lalu.

Berbicara soal Sherina dan Sadam, keduanya memiliki chemistry baru yang terkesan lebih dari sekedar sahabat masa lalu. Jika film pertama mengusung persahabatan sebagai konsep utamanya, maka hubungan dua individu yang romantis menjadi konsep baru di film kedua. Sherina dan Sadam telah dewasa dan di film ini keduanya dipertemukan kembali sebagai seorang yang sama-sama single. Bibit-bibit romansa muncul dari sini, ditandai dengan beberapa adegan keduanya dan lirik-lirik lagu yang di remake dengan lirik yang romantis.

Tambahan

Sekarang mari kita ulas kembali terkait aspek-aspek pendukung dalam film. Kalau soal musik dan scoring, tidak usah ditanya. Ini adalah film musical yang tentunya memiliki nilai plus dalam ranah musik terbukti dengan musik-musik yang dihadirkan dalam film. Yang menjadi applause bagi musiknya adalah mereka tidak mengubah musik di film pertama secara drastis dan hanya sekedar meremake-nya dengan lirik-lirik baru. Hal itu yang membuat rasa nostalgia masih melekat dalam film ini.

Bagaimana dengan cinematography dan vfx? Secara cinematography sudah bagus dan tidak ada yang perlu dikritisi namun vfx-nya memiliki banyak kekurangan. Scene ketika Sherina dan Sadam berandai dengan memasuki dunia penuh bintang terkesan sangat buruk. Greenscreen-nya sangat keliatan kaku sehingga hal tersebut menjadi satu-satunya kekurangan fatal di dalam film Petualangan Sherina 2.

Selain vfx, tidak ada aspek yang kurang memuaskan. Storynya memang terkesan flat namun masih dapat dinikmati sebagai hiburan dengan baik. Karenanya penulis ingin sekali memberi 10/10 bagi Petualangan Sherina 2 jika dilihat dari sisi nostalgia, namun kekurangan di vfx mengharuskan film ini mendapat rating pribadi 8/10.[]Abrar Rizq Ramadhan/Ilustrasi: Pinterest