Kilas Balik “1984” : Distopia Dari Rezim Totaliter
Oleh: Abrar Rizq Ramadhan
“War is peace. Freedom is slavery. Ignorance is strength”.
Kutipan di atas diambil dari salah satu slogan yang hadir dari novel paling populer besutan George Orwell yang berjudul “1984”. George Orwell atau yang memiliki nama asli Eric Arthur Blair, lahir pada 25 Juni 1903, tepat hari ini 121 tahun yang lalu. Melalui penanya, Orwell menghasilkan banyak novel, diantaranya bertemakan politik.

Beberapa diantaranya terinspirasi dari pengalaman kerjanya dan yang lain diambil atas idealismenya yang humanis dan sosial-demokrat. Sebagai seorang sosialis moderat, Orwell menentang rezim Stalin di Uni Soviet, terlebih ketika dirinya mengamati langsung penindasan kaum Stalinis di Spanyol selama periode Perang Sipil (1936-1939). Hal itu yang membuat ia banyak menulis novel yang menunjukkan satir terhadap Stalin dan rezim totaliternya. Diantara novel Anti Stalinisnya, Orwell menghasilkan sebuah karya besar yang akan diingat seluruh dunia, yakni 1984.
Wow, 1984 adalah novel klasik ciptaan Orwell terbitkan tahun 1949. Novel ini menggambarkan kehidupan distopa di Inggris pada tahun 1984. Dalam story di novel, dikisahkan seorang pegawai negeri bernama Winston Smith yang hidup di Kota London, Oseania. Ya, bukan Inggris atau United Kingdom yang berstatus sebagai negara, melainkan sebuah persemakmuran antar benua yang diberi nama Oseania, dan meliputi Benua Amerika, Benua Australia, dan Pulau Britania. Hanya ada 3 negara yang ditampilkan di dunia distopia ini selain Oseania, yakni Eurasia dan East Asia. Dan ketiga negara ini, telah mengalami perang berkepanjangan yang entah dimulai dan berakhir kapan.
Seluruh negara di kisah ini merupakan negara yang totaliter dengan caranya masing-masing. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, tidak jelas kapan persemakmuran tersebut terbentuk. Ketidaktahuan ini lahir dari bagaimana masyarakat Oseania tidak pernah memiliki pengetahuan empiris yang jelas soal kapan revolusi terjadi dan kapan rezim ini memerintah serta kapan ketiga negara ini berperang. Hal ini dapat dikaitkan dengan kekuasaan rezim partai yang diberlakukan terhadap rakyatnya.
Hanya ada satu partai di Oseania, yakni “ING-SOC”, yang diambil dari kata “English Socialism” namun dengan kosakata Newspeak. Partai memiliki 3 slogan yang selalu ditetapkan dalam menjalankan pemerintahan mereka, yakni “Perang adalah Kedamaian. Kebebasan adalah Perbudakan. Ketidaktahuan adalah Kekuatan”. Demi memantapkan rezim ING-SOC di Oseania, partai menjalankan tipe pemerintahan yang terpusat dan bersifat totaliter. Seluruh kehendak rakyat adalah kehendak partai sebagai sentral. Dan demi mencegah terjadinya perlawanan, maka partai membodohkan rakyatnya.
Di Oseania hanya ada dua tipe masyarakat, yakni kelas proletar dan birokrat pemerintahan. Kelas proletar adalah target pembodohan. Mereka dipaksa untuk mengikuti perintah dan bimbingan partai, yang segala caranya dilakukan dengan dogma. Partai menyatakan bahwa merekalah penyelamat rakyat, bahwa mereka sedang berjuang melawan dua negara lain dan rakyat harus mendukung mereka dengan nasionalismenya. Karenanya dimulai produksi komoditas nasionalisme seperti novel heroik terbitan Kementerian Cinta, musik militer yang diputar setiap hari tanpa henti di depan Telescreen, pensederhanaan bahasa dengan kosakata baru bernama Newspeak, dan lain-lain. Semua itu ampuh di mata proletar yang tidak terdidik. Namun bagaimana dengan orang-orang birokrat?
Kaum borjuis yang termasuk dalam birokrasi pemerintahan juga harus mengikuti kemauan partai. Namun perlakuan yang partai berikan jelas berbeda dengan kelas proletar. Para birokrat yang termasuk ke organ kecil partai di tiap kementerian yang berbeda-beda, diawasi selama 24 jam non stop melalui sebuah Telescreen dan polisi pikiran. Telescreen dapat memantau apapun yang tampak pada kamera begitu juga dengan suara yang dihasilkan di sekitarnya.
Karenanya, partai selalu mengingatkan bahwa Pemimpin Besar mereka selalu mengawasi kalian! Hal ini ditunjukkan dengan wajah sang Pemimpin Besar dengan kumis yang tebal tengah menatap tajam di Telescreen. Hadirnya polisi pikiran yang bertugas untuk memastikan bahwa pikiran masyarakat tetap “bodoh” dan tidak akan membiarkan sedikitpun langkah pemberontakan tercium. Setiap birokrat rendahan juga tidak bisa bernapas lega dengan keluarga dan kerabatnya sendiri, karena bisa jadi mereka merupakan antek-antek partai. Diam menjadi solusi yang baik bagi para birokrat agar hidup mereka tetap aman dan terus berbakti terhadap tugas dan pengabdian kepada partai.
Di luar itu, konsep Enemy of the State juga diperkenalkan kembali dalam Oseania. Jika Soviet punya Leon Trotsky, maka Oseania memiliki Emmanuel Goldstein. Goldstein adalah salah satu oposisi pemimpin besar di partai. Ia pernah memimpin revolusi di masa lalu, namun karena cekcok dengan Pemimpin Besar, ia diasingkan dan dinyatakan musuh negara. Setiap minggunya, seluruh rakyat wajib berpartisipasi dalam acara 2 Menit Kebencian, yang diutarakan untuk membenci Goldstein atas pengkhianatannya.

Namun, menjelang akhir cerita, pembaca baru akan mengetahui bahwa Goldstein, Perang dengan Eurasia maupun Eastasia, dan hal-hal terkait merupakan produk partai yang tidak benar-benar nyata dan hadir untuk membodohi rakyat serta memaksa mereka untuk setia.
Winston Smith di sini hadir sebagai seorang pegawai negeri yang memiliki kesadaran bahwa kehidupan seperti ini tidaklah benar. Namun, jika ia berpikiran seperti itu, ia akan ditangkap oleh polisi pikiran dan disiksa. Ia merasakan marah atas rezim ini, namun tetap tidak mungkin untuk mengutarakannya.
Ia membeli sebuah barang terlarang di negeri itu, yakni buku tulis dan sebuah pena bertinta hitam. Winston menuliskan kemarahannya dalam buku itu. Ia melakukannya sebaik mungkin dan sehening mungkin, agar Telescreen tidak menyergapnya. Waktu demi waktu,
Winston bertemu dengan seorang wanita bernama Julia. Seseorang yang diam-diam mencintainya, namun sadar bahwa memiliki perasaan antar birokrat sangat tabu. Ditambah keduanya sama-sama memiliki idealisme yang sama, yakni kemuakan terhadap ING-SOC dan Pemimpin Besar. Dapatkah Winston dan Julia mengembalikan tatanan Inggris seperti semula sebelum ING-SOC mengambil alih? Dapatkah ia mengembalikan demokrasi dan hak untuk menjadi bebas? Silahkan baca novelnya terlebih dahulu![]
