Banyuwangi Ethno Carnaval: Dukung Grand Design Wisata Banyuwangi Bali Barat

Banyuwangi Ethno Carnaval menjadi salah satu atraksi wisata pendukung dalam pengembangan grand design wisata Banyuwangi Bali Barat (BBB). BBB diciptakan untuk mengurangi beban wisata di Bali Selatan.

Ribuan pasang mata  menyaksikan parade fesyen kontemporer Banyuwangi Etno Carnival (BEC) 2024. Mereka menjadi saksi keseruan puluhan talent menampilkan aneka kostum yang melintasi sepanjang jalan sejauh 2,5 km. Acara itu berlangsung pada 13 Juli 2024.

Rencana pelaksanaan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2024 awalnya akan dilakukan di Kecamatan Genteng. Namun, rencana ini batal karena berbagai pertimbangan dan akhirnya diputuskan untuk kembali dilaksanakan di pusat Kota Banyuwangi.

Event ini merupakan bentuk upaya pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk melesatrikan budaya dan memadukanya dengan konsep modernitas. Kegiatan ini berupa parade kostum atau karnaval fashion yang digelar sejak tahun 2011, dengan mengambil jalanan di pusat kota sebagai cat walk.

Pada saat Grand Carnival BEC 2024 menampilkan parade kostum unik dan elegan dari 130 peserta perwakilan desa-desa di Banyuwangi. Tema kostum yang ditampilkan mencakup warisan budaya, keindahan alam, atraksi desa, kuliner, ekonomi kreatif, inovasi teknologi, dan lainnya.

Di mana spirit inovasi dan penggunaan teknologi itu kemudian ditampilkan dalam defile. Aneka kostum yang menyajikan beragam inovasi dan inklusifitas pemerintahan desa dalam penerapan teknologi digital terejawantah pada kostum-kostum yang futuristik.

Dalam BEC kali ini mengulik kekhasan Banyuwangi dari berbagai sisik melik potensi desa dalam tajuk “Ndaru Desa: Revival of Village”. Potensi yang tersebar di 189 desa dan 28 kelurahan di Bumi Blambangan tersebut tersaji apik dalam enam defile.

Defile pertama, misalnya,  menghadirkan warisan budaya yang masih lestari di berbagai desa di Banyuwangi. Seperti halnya kostum dengan nuansa Seblang Olehsari. Dihiasi dengan omprog hijau dan seperangkat gamelan tersaji aktratif melukiskan budaya agraris yang telah berusia ratusan tahun itu.

modernisasi seni budaya lokal yang selama ini tumbuh dan berkembang di Banyuwangi/foto: laman PANRB

Disusul kemudian dengan defile keindahan alam yang membentang di ujung timur Jawa ini. Nuansa hijau mendominasi warna kostum yang ditampilkan. Menandakan keasrian dan kelestarian alam Banyuwangi yang baru saja ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark. Dipadu dengan kekayaan geologi dan keindahan lautnya.

“Tema ini sengaja kami angkat untuk menekankan pentingnya menghidupkan kembali potensi dan kegiatan lokal dari desa-desa di Banyuwangi,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, sebagaimana dikutip dari banyuwangikab.go.id, pada 13/7.

Desa, imbuh Ipuk, tak semata harus memperkuat identitas lokalnya dengan beragam budaya dan potensi alamnya. Namun, juga tentang bagaimana desa beradapatasi dengan berbagai inovasi dan kemajuan teknologi.”Smart Kampung yang dimulai dari desa sejatinya adalah upaya bagaimana kita semua harus bergegas menyongsong berbagai kemajuan zaman. Mewujudkan kesejahteraan dengan berbagai inovasi,” imbuhnya.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggagas event ini bertujuan untuk menjembatani modernisasi seni budaya lokal yang selama ini tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi agar menjadi sebuah event dalam bentuk parade berskala Internasional tanpa harus mengubah nilai-nilai yang sudah tertanam di dalam kehidupan masyarakat baik spirit maupun filosofinya.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas menyaksikan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2024, di Banyuwangi, Jawa Timur, BEC 2024 turut dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno; Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono.

Sandiaga Salahuddin Uno: mengapresiasi event Banyuwangi Ethno Carnival yang telah terpilih menjadi salah satu event terbaik di Indonesia dalam 110 Kharisma Event Nusantara/foto: laman PANRB

Acara pembukaan Banyuwangi Ethno Carnival 2024 dimulai dengan Creative Expo yang akan resmi dibuka pada 11 Juli 2024 di Lorong Bambu Gesibu Blambangan pukul 15.00 WIB. Pengunjung dapat menemukan berbaga cinderamata khas Banyuwangi, seperti suvenir, fashion, produk unggulan desa, kerajinan, kuliner, hingga kesenian.

Kemudian Srawung Seni adalah bagian dari rangkaian acara Banyuwangi Ethno Carnival 2024 yang berfungsi sebagai ruang diskusi dan apresiasi seni. Acara ini melibatkan budayawan dan seniman, serta mengundang delegasi kelompok seni dari 11 kabupaten dan kota di Indonesia untuk menampilkan karya seni tari mereka. Delegasi tersebut berasal dari Berau, Bandung, Magelang, Klungkung, Cirebon, Indramayu, Subang, Malang, Surabaya, Situbondo, dan Banyuwangi.

Dan diakhiri Malam penganugerahan BEC Awards adalah puncak dari rangkaian acara Banyuwangi Ethno Carnival 2024, pada 14/7. Selain penghargaan untuk kostum terbaik, acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan artis terkenal seperti Wandra Restusiyan, Anggun Pramudita, dan Denik Armila.

Sementara Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengapresiasi event Banyuwangi Ethno Carnival yang telah terpilih menjadi salah satu event terbaik di Indonesia dalam 110 Kharisma Event Nusantara. 

“Menurut saya ini bisa menjadi acuan bagi penyelenggaraan Kharisma Event Nusantara di beberapa daerah lainnya, karena keterlibatan dari desa, mayarakat dan partisipasi itu buakan hanya unsur-unsur internasional yang masuk ke sini, tapi juga dari tradisional bisa masuk,” kata Sandiaga.

Sandiaga menambahkan, Banyuwangi Ethno Carnaval juga menjadi salah satu atraksi wisata pendukung dalam pengembangan grand design wisata Banyuwangi Bali Barat (BBB). BBB diciptakan untuk mengurangi beban wisata di Bali Selatan. Sekaligus mendongkrak pariwisata Indonesia di Pulau Jawa ke tingkat internasional.[] Yuniman Taqwa Nurdin