Swasembada Energi Dorong Pencapaian Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Indonesia memiliki banyak sumber-sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan. Potensi itu mendorong kita optimis capai swasembada energi. Langkah apa yang harus diambil untuk mencapai target tersebut?
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya bekerja sama serta berkolaborasi bersama untuk mewujudkan swasembada energi. Hal ini menjadi penting untuk diwujudkan segera karena negara lain tidak akan menjual begitu saja sumber energi dalam keadaan kritis atau genting.
“Jika dalam keadaan kritis dan genting tidak akan ada negara lain yang menjual barang mereka untuk kita beli,” kata Prabowo usai dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia periode 2024-2029 di Gedung Nusantara, kompleks parlemen, Jakarta, pada 20/10.
Swasembada energi bukan menjadi hal mustahil diwujudkan. Apalagi Indonesia memiliki banyak sumber-sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan. “Kita harus swasembada energi dan kita mampu untuk swasembada energi karena kita diberi karunia oleh Tuhan Yang Maha Besar tanaman-tanaman yang membuat kita bisa menjadi tidak bergantung dengan negara lain, seperti kelapa sawit dapat menjadi solar dan bensin. Kita juga punya tanaman-tanaman lainya seperti singkong, tebu, sagu, jagung dan lain-lainnya,” tutur Prabowo.
Lebih lanjut ditambahkan, Indonesia memiliki sumber energi lain seperti air, dan panas bumi yang tersedia sangat banyak di Indonesia. “Kita punya energi bawah tanah geothermal yang cukup, kita punya batubara yang sangat banyak, kita punya energi dari air yang sangat besar yang dapat dimanfaatkan,” lanjutnya.

Sementara Wakil Menteri ESDM Yuliot mengatakan, untuk mencapai swasembada energi, Kementerian ESDM akan fokus pada peningkatan lifting minyak yang saat ini berada di angka sekitar 600.000 barel per hari. Yuliot menekankan perlunya peningkatan produksi minyak sesuai dengan target nasional guna mendukung ketahanan energi.
Selain itu, konversi kendaraan BBM ke listrik juga menjadi prioritas. “Semakin banyak penggunaan kendaraan listrik, konsumsi BBM akan berkurang. Ini salah satu strategi penting kita,” jelas Yuliot.
Upaya lain yang dilakukan untuk menekan konsumsi BBM adalah pengoptimalan program Bahan Bakar Nabati (BBN), yang saat ini berada di level B35. Pemerintah berencana meningkatkan campuran biodiesel menjadi B40, B50, hingga B60.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa arahan Presiden sudah sangat jelas agar swasembada energi bisa dicapai dalam pemerintahan beliau. Swasembada energi akan tercapai seiring dengan meingkatkanya ketahanan energi nasional. “Kemandirian energi kan salah satunya ada bioetanol, bioenergi, dan biodiesel. Biodiesel sekarang kita sudah B35 dan B40 sudah selesai uji coba,” ujarnya pada 21/10.
Bahlil mengatakan, ke depan pemerintah akan mendorong pemanfaatkan B50 dan B60, mengingat ketersediaan pasokan kelapa sawit sebagai bahan bakunya di Indonesia cukup melimpah. “Kalau ditanya itu cukup atau tidak, B35 sampai B40 itu kan kita habiskan kurang lebih sekitar 14 juta kiloliter. Sementara ekspor kita kan masih banyak. Nah, kalau ditanya kapasitas Crude Palm Oil (CPO) kita cukup atau tidak, pasti cukup. Tinggal kita lihat teknologinya, teknologinya harus by process untuk kita uji coba. Agar ketika itu diimplementasikan, B50-B60 itu betul-betul sudah lewat uji coba yang baik.,” imbuhnya.
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agus Cahyono Adi mengungkapkan, realisasi pemanfaatan biodiesel dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren meningkat.
“Tren kenaikan tersebut menunjukkan komitmen dan keseriusan pemerintah dalam mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil dan meningkatkan ketahanan energi dengan memanfaatkan biodiesel, yang rasio campurannya juga terus akan ditingkatkan, yang sekarang sudah B35, akan ditingkatkan menjadi B40, kemudian B50 hingga B60,” tandas Agus ditemui di Jakarta, pada 26/10.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, pada tahun 2021 realisasi biodiesel mencapai 9,3 juta KL. Angka ini meningkatmenjadi 10,45 juta KL pada tahun 2022. Sementara tahun 2023 meningkat menjadi 12,2 juta KL dengan mandatori B35 yang dimulai Agustus 2023. Angka ini ditargetkan meningkat menjadi 12,5 juta kiloliter pada 2025.

Adapun manfaat ekonomi dari realisasi biodiesel pada tahun 2023 tersebut, terjadi penghematan devisa negara sebesar Rp120,54 triliun, peningkatan nilai tambah CPO menjadi biodiesel sebesar Rp15,82 triliun, serta penyerapan tenaga kerja lebih dari 11.000 orang (off-farm) dan 1,5 juta orang (on-farm).
Yuliot meminta PT Pertamina (Persero) meningkatkan produksi minyak nasional guna menekan ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM). Upaya ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam program Asta Cita untuk mewujudkan swasembada energi. Salah satu langkah yang diharapkan turut mendukung pengurangan impor adalah implementasi bahan bakar nabati melalui program B40.
“Ketahanan energi nasional adalah hal yang sangat penting untuk dicapai. Ini menyangkut kondisi terjaminnya ketersediaan energi yang dapat diakses masyarakat dengan harga terjangkau, berjangka panjang, dan tetap memperhatikan perlindungan lingkungan hidup,” kata Yuliot saat membuka Pertamina Portfolio Forum 2024 di Graha Pertamina, Jakarta, pada 4/12.
Di samping itu, Yuliot menyoroti bahwa produksi minyak nasional saat ini masih jauh tertinggal dibandingkan tingkat konsumsi. Pada 1997, Indonesia sempat menjadi eksportir minyak karena produksi melebihi kebutuhan domestik. Namun, kondisi ini telah berubah drastis.
“Saat ini, produksi minyak bumi dalam negeri hanya sekitar 600.000 barel per hari, sementara tingkat konsumsi lebih dari 1,5 juta barel per hari. Akibatnya, kita harus memenuhi kebutuhan tersebut melalui impor,” ungkap Yuliot.
Untuk mengurangi ketergantungan pada impor, pemerintah mendorong peningkatan produksi migas nasional, termasuk kontribusi dari Pertamina. Saat ini, Pertamina menyumbang 60 persen dari total produksi minyak nasional, atau sekitar 400.000 barel per hari.
“Pemerintah menargetkan peningkatan produksi minyak nasional hingga 700.000 barel per hari pada 2025-2026. Dengan kontribusi Pertamina yang diproyeksikan tetap 60 persen, target produksi Pertamina diharapkan mencapai 480.000 barel per hari, meningkat sekitar 20 persen dari produksi saat ini,” jelas Yuliot.
Pemerintah tidak hanya berfokus pada pemanfaatan BBN untuk mencapai swasembada energi. Beragam upaya lain juga terus dilakukan, seperti pengembangan energi baru terbarukan (EBT), percepatan penggunaan kendaraan listrik, dan peningkatan efisiensi energi.
Sementara Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menyambut baik Asta Cita pemerintah, terutama berkaitan dengan swasembada energi dan keberlanjutan lingkungan. Hal ini disampaikan Chief Executive Officer Pertamina NRE John Anis dalam kunjungan misi perdagangan Kanada ke Indonesia pada Senin (2/12).
Dalam sesi keynote speech tersebut, John banyak menyampaikan tentang inisiatif-inisiatif Pertamina dalam mengoptimalkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan dalam rangka mendukung ketahanan energi.
“Situasi geopolitik dan ekonomi global saat ini sangat berdampak terhadap industri energi. Untuk itu krusial bagi kita untuk meningkatkan ketahanan energi, sekaligus memprioritaskan keberlanjutan lingkungan. Pemerintah Indonesia menjadikan dua hal ini di antara misi Asta Cita yang tentunya kami dukung penuh,” ujar John.
Pertamina NRE berada di garda terdepan untuk membangun bisnis rendah karbon. Salah satunya adalah pengembangan bioethanol untuk biofuel atau bahan bakar nabati. John mengatakan, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8 persen, bahan bakar fosil masih tetap dibutuhkan karena saat ini lebih mudah diakses dengan harga lebih terjangkau, khususnya untuk sektor transportasi. Mencampurnya dengan bahan nabati menjadi bahan bakar minyak (BBM) menjadi lebih ramah lingkungan. Untuk itu biofuel menjadi Solusi yang tepat di masa transisi energi.
Pertamina NRE saat ini bekerja sama dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) berencana membangun pabrik bioethanol di Glenmore, Banyuwangi, dengan kapasitas produksi 30 ribu kiloliter (KL) per tahun. Bioethanol ini nantinya akan menjadi bahan baku untuk bahan bakar nabati (BBN).
“Pertamina mendukung misi pemerintah untuk membangun swasembada energi di Indonesia. Pemanfaatan sumber energi domestik adalah inisiatif Pertamina untuk mendukung misi tersebut. Tidak hanya dari tebu, bahan baku bioethanol dapat berasal dari sorgum, jagung, dan lain-lain. Pertamina juga aktif melakukan riset untuk diversifikasi bahan baku bioethanol,” ujar John.[] Yuniman Taqwa
