Sudahkah Indonesia Menjadi Fesyen Muslim Dunia?

Pemerintah  pernah mencanangkan Indonesia sebagai kiblat fesyen muslim dunia. Namun keinginan  menjadi pusat fesyen muslim dunia masih “sebatas mimpi”. Walapun ada  beberapa orang mengklaim bahwa Indonesia sudah menjadi kiblat bagi mode muslim dunia. Bagaimana kenyataannya?

Beberapa tahun lalu, pemerintah memproyeksikan Indonesia bisa menjadi pusat fesyen muslim dunia pada 2024. Industri fesyen muslim di Indonesia setiap tahunnya mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Di samping itu, Indonesia merupakan salah satu negara muslim terbesar di dunia.

Data State of the Global Islamic Economy Report 2022, menunjukkan Indonesia berada di peringkat ketiga dunia untuk sektor modest fesyen muslim, setelah Uni Emirat Arab dan Turki. Peluang ini harus dimanfaatkan, mengingat potensi belanja umat muslim dunia mencapai US$925 miliar, dengan perhitungan konsumsi fesyen muslim di Indonesia sekitar US$20 miliar. 

Kementerian Perindustrian terus mendorong keterlibatan berbagai pihak untuk bersinergi dalam upaya mempercepat pengembangan industri fesyen muslim (modest fashion) di Indonesia. Apalagi, geliat sektor industri fesyen muslimdi tanah air beberapa tahun terakhir ini semakin tumbuh seiring adanya peluang di tingkat nasional maupun global.

Fesyen muslim Indonesia menjadi inspirasi fesyen muslim dunia/foto: KSFW

“Perkembangan industri modest fashion tidak lepas dari peran berbagai pihak. Kami mengajak seluruh stakeholder baik asosiasi, industri tekstil, pelaku usaha, desainer, akademisi, influencer, marketplace, hingga konsumen untuk dapat mewujudkan industri fesyen muslim yang berkelanjutan dan berdaya saing,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, pada 25 Februari 2025 lalu.

Reni  mengapresiasi beragam penyelenggaraan program dan kegiatan yang mendukung kemajuan sektor industri modest fashion di Indonesia. Salah satunya melalui gelaran Muslim Fashion Festival (Muffest) 2025. Kegiatan ini sukses dilaksanakan pada 20-23 Februari 2025 di Jakarta, dengan mengusung tema “Connecting in Style”.

Reni menyampaikan, peluang perkembangan sektor industri pakaian muslim diperkirakan tumbuh pesat pada tahun mendatang, sejalan dengan berkembangnya pasar ekonomi Islam di dunia. Laporan State of Global Islamic Economy 2023-2024 yang dirilis oleh Lembaga DinarStandard menyebutkan,  pengeluaran konsumen muslim terhadap enam sektor komoditi  menembus USD3,1 triliun pada tahun 2027.

“Nilai belanja ini tumbuh 4,8 persen dalam kurun waktu lima tahun, jika dibandingkan dengan tahun 2022 yang hanya mencapai USD2,29 triliun. Adapun enam komoditas sektor ekonomi Islam yang diperkirakan tumbuh pesat tersebut, yaitu makanan, fesyen, media dan rekreasi, travel, farmasi, serta kosmetik,” tuturnya.

Menurut Reni, sektor fesyen muslim menempati posisi kedua tertinggi. “Selain itu, konsumsi fesyen muslim di dunia juga diprediksi tumbuh, dan pada tahun 2027 diprediksi mencapai USD428 miliar,” sebutnya.

Adapun proyeksi konsumsi barang/jasa halal di Indonesia pada tahun 2025, diperkirakan mencapai USD330,5 miliar. Sementara untuk produk pakaian jadi menduduki posisi tertinggi kedua yang dikonsumsi di pasar syariah Indonesia.

“Dengan adanya peluang pasar dan perkembangan industri fesyenmuslim saat ini, kita harus optimistis untuk memaksimalkan penguasaan pasar domestik maupun meningkatkan daya saing kita di pasar global. Kita bisa jajaki negara dengan konsumsi fesyen muslim terbesar seperti Iran, Turki, Arab Saudi, Pakistan dan Mesir sebagai negara tujuan ekspor yang potensial,” ungkap Reni.

Tak hanya itu, demi memperkuat kemampuan industri fesyen muslim dalam negeri agar mampu tembus pasar ekspor, Reni mengajak seluruh pelaku usaha fesyen muslim untuk mengembangkan produk yang dihasilkan, sehingga dapat bersaingdi pasar lokal maupun global serta dapat menjalin kerja sama dengan industri pakaian jadi di dalam negeri.  Sebab, industri pakaian jadi di dalam negeri memiliki potensi besar dijadikan sebagai mitra produksi, termasuk sektor industri kecil dan menengah (IKM).

“Mengingat tenaga kerja industri pakaian jadi mencapai 2,7 juta pekerja dengan jumlah 569 ribu industri, yang menurut data Profil Industri Mikro dan Kecil 2022 dan Statistik Industri Manufaktur Indonesia tahun 2022, hal ini akan mendukung industri modest fashion lokal menjadi tuan di rumah sendiri,” imbuhnya.

Oleh karena itu, untuk pengembangan ekosistem industri modest fashion di Indonesia semakin solid, Kemenperin pun konsisten untuk terus menjalankan serangkaian program kegiatan, seperti peningkatan kompetensi SDM, pengembangan kualitas produk, fasilitasi sertifikasi halal, bantuan mesin dan peralatan, unit pendidikan dan balai program inkubasi fesyen, hingga penyediaan akses promosi dan pameran bagi para pelaku industri fesyensecara umum.

Sementara dengan memanfaatkan momentum berbagai perhelatan fesyen di Indonesia, seperti Indonesia Fashion Week (IFW), Jakarta Fashion Week (JFW), Jakarta Modest Fashion Week (JMFW), Muslim Fashion Festival (Muffest), sampai Indonesia International Modest Fashion Festival (IN2MF). Tujuannya tentu saja memperkenalkan fesyen Indonesia ke kancah internasional, terutama fesyen muslim.

Dengan maraknya beragam pagelaran tersebut, target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fesyen muslim dunia pada 2024 seharusnya bisa tercapai!

Masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang dihadapi industri fesyen muslim Indonesia. Keinginan untuk menjadi pusat fesyen muslim dunia masih sebatas mimpi. Meskipun beberapa orang telah mengklaim bahwa Indonesia sudah menjadi kiblat bagi mode muslim dunia, faktanya tidak demikian.

Tujuan itu masih on going dan harapannya baru bisa tercapai pada 2025. Setidaknya, itu yang dikatakan oleh National Chairwoman Indonesia Fashion Chamber (IFC), Lenny Agustin, sebagaimana dikutip dari validnews.id, pada 2 januari 2025.

“Kita sudah mencapai sekian puluh persen-lah untuk menjadi pusat mode muslim dunia karena beberapa ajang kita kan merupakan perhelatan fesyen mdest terbesar di dunia. Selain itu juga tidak ada event yang mengkhususkan pada produk fesyen muslim. Jadi, ya kita sudah pede untuk bisa mencapai target itu di 2025,” kata Lenny.

Dia menambahkan, masih dari sumber yang sama,  untuk menjadi pusat mode muslim dunia, sebenarnya dapat dilihat melalui dua hal. Pertama, besaran dan banyaknya perhelatan fesyen yang sudah digelar di negara tersebut. Kedua, masifnya masyarakat yang menggunakan produk fesyen itu dan bisa menjadi inspirasi mode dunia. Hal itu perlahan sudah dicapai oleh Indonesia.

Sementara yang tak kalah penting untuk mendorong Indonesia menjadi kiblat fesyen muslim dunia adalah masalah sertifikat hal untuk untuk produk tekstil (kain). Menurut Sekjen Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSYFI), Farhan Aqil Saugi, potensi tidak halal industri tekstil  berada di tengah, yaitu dikain dan dibenang. Di mana proses pengkajian untuk memperkuat bahan baku tekstil supaya kuat.

“Ada enzim-enzim atau unsur tertentu yang mirip dengan babi. Namanya proses pengkajian dan finishing kain. Itu yang harus ditelusuri, dikaji, diteliti lagi. Apakah itu bisa diganti dengan enzim yang lain atau bisa menggunakan zat atau unsur dari alam,” kata Farhan kepada pelakubisnis.com, pertengahan Maret lalu.

Farhan menambahkan, sekarang ini sertifikasi halal untuk tekstil masih sukarela. Kalau dari hulunya sudah  banyak menerapkan sertifikat halal. “Kalau kami dari hulu sudah terbiasa dengan hal itu. Makanya nanti kain ini, kita dorong supaya kain compliance terhadap terhadap proses halal,” tambahnya seraya menambahkan mungkin tahun 2027 atau 2028 diwajibkan sertifikat halal untuk tekstil dan produk tekstil

Sementara industri produk tekstil (pakaian) mayoritas  Industri Kecil Menengah (IKM). Boleh jadi industri pakaian mengalami kendala kendala  mendapat sertifika halal. Tentu perlu ada bantuan dari pemerintah  untuk mengurus sertifikat halal.

Nah, untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fesyen muslim dunia, maka perlu juga mempertimbangkan sertifikat halal bagi produk tekstil dan produk tekstil. Dengan menerapkan sertifikat halal untuk tekstil dan produk tekstil, maka bukan tidak mungkin akan mempercepat terwujudnya Indonesia sebagai kiblat fesyen muslim dunia. [] Yuniman Taqwa