Covid 19 Timbulkan Dampak Ekonomi Dahsyat
Dampak ekonomi wabah Covid 19 jauh lebih dahsyat dibandingkan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut lembaga pemeringkat Moody’s akan terkoreksi tahun ini dari 4,9% menjadi 4,8%. Semoga segera ditemukan vaksinnya, sehingga gejolak dunia normal kembali.
Sampai 12 Maret lalu, virus corona COVID-19 telah mencapai 118 ribu kasus di lebih dari 110 negara di dunia. WHO juga menetapkan status pandemi karena diprediksi masih akan terjadi penyebaran COVID-19 secara global dan lebih luas.
“Ini bukan hanya krisis kesehatan masyarakat, ini adalah krisis yang akan menyentuh setiap sektor,” kata Direktur Jendral WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers, seperti dikutip Time.
Menurut Organization for Economic Co-operation and Development, (OECD) atau Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, pertumbuhan ekonomi bisa turun menjadi yang terburuk sejak 2009. Ekonomi China yang merupakan negara manufaktur raksasa dunia saat ini, mengalami penurunan drastis. Rantai pasokan terganggu menyebabkan perlambatan produksi.
OECD memperkirakan pertumbuhan dunia di tahun 2020 ini akan berkisar pada angka 2,4%, turun dari angka 2,9% pada November lalu. Namun menurut mereka, apabila wabah ini menjadi lebih intensif lagi, pertumbuhan bisa hanya tinggal 1,5%, hampir separuh dari tahun lalu, sebagaimana dikutip dari bbc.com, 3 Maret lalu.
Sepanjang Pebruari 2020, ekonomi China mengalami pertumbuhan terendah sejak tahun 2005 seiring langkah pemerintah menangani penyebaran virus. Menurut data dari Kantor Statistik Nasional China (ONE), patokan Purchasing Managers’ Index (PMI) dari sektor manufaktur jatuh 14,3 poin ke 35,7 setelah sebelumnya mencapai angka 50 poin pada Januari tahun ini.
Sektor manufaktur dunia saat ini sepertiganya berada di China. Negara tirai bambu ini juga menjadi eksportir terbesar dunia, maka kejatuhan angka PMI mereka akan memiliki dampak kepada negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Dampak virus corona di China, menyentuh langsung terhadap konsumsi domestik. Padahal ini merupakan salah satu landasan model ekonomi yang dipromosikan Presiden Xi Jinping. Di sana toko-toko banyak yang tutup karena permintaan yang rendah. Ini disebabkan banyak pelanggan masih memilih tinggal di rumah dan tidak banyak berbelanja, seperti dilaporkan Capital Economics.
Lembaga konsultan Capital Economics yang berkantor di London memperkitakan wabah ini akan menghabiskan biaya hingga US$280 milar, hanya pada tiga bulan pertama tahun 2020. Angka ini lebih besar daripada anggaran tahunan Uni Eropa, setara kira-kira pendapatan Microsoft atau Apple, dan delapan kali lipat anggaran tahunan pemerintah Nigeria.
International Monetary Fund (IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto, PDB, China di tahun 2020 dari 6% menjadi 5,6%. Menurut mereka, virus corona telah menghadapkan ekonomi global pada “ketidakpastian yang mendesak” dan menjadi ancaman bagi pemulihan karena adanya kemungkinan dampak terhadap rantai pasokan global.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok perkiraan turun dari 5,2% ke 4,8%. Lalu, Korea Selatan hanya tumbuh 1,4% dari perkiraan sebelumnya di 1,9%. Jepang angkanya di 0%. Italia diperkirakan akan mengalami resesi. Pertumbuhannya diperkirakan minus 0,5%. Jerman akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, dari perkiraan 1% menjadi 0,3%. Amerika Serikat ekonominya hanya naik 1,5% dari prediksi awal 1,7%.
Sementara lembaga pemeringkat Moody’s menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dari 4,9% menjadi 4,8%. Virus corona menjadi pemicu penurunan tersebut karena menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi secara global. “Resiko resesi global telah meningkat. Semakin lama wabah ini terjadi akan mempengaruhi kegiatan ekonomi, permintaan terganggu dan mengarah ke resesi,” demikian tertulis dalam laporan Moody’s Investors Service berjudul Global Macro Outlook 2020-21, pada 6/3.
Menurut Moody’s, perekonomian masih bisa diselamatkan dengan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat. Hal ini terlihat dari keputusan bank sentral AS, Federal Reserves, memangkas suku bunga 50 basis poin. Pengumuman bank sentral Eropa dan Jepang yang akan membatasi volatilitas pasar keuangan juga menjadi langkah tepat.
Pengusaha nasional, Sandiaga Uno mengatakan penyebaran virus corona membuat ekonomi dunia melemah 0,5-0,9%. Pelemahan itu juga akan berdampak terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hanya, dirinya menilai ekonomi dunia tidak akan lumpuh karena Corona.”Melumpuhkan sih nggak, tapi kita lakukan simulasi bahwa potensi penurunannya itu 0,5-0,9 persen secara global dan berdampak simetris terhadap Indonesia,” kata Sandiaga, sebagaimana dikutip dari detik.com, 8/3 lalu.
Sandiaga menjelaskan rantai pasok bahan baku industri manufaktur Indonesia mulai menipis lantaran produsennya di China tidak beroperasi. Pemerintah China sendiri melarang warganya melakukan kegiatan di luar rumah hingga 8 Maret lalu. Dengan begitu, produksi bahan baku yang diimpor ke banyak negara termasuk ke Indonesia pun terganggu. Belum lagi ada larangan penerbangan pesawat dari China ke Indonesia dan sebaliknya.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan, dampak virus corona akan lebih buruk daripada krisis ekonomi global pada tahun 2008. Selain sudah menyebar ke 90 negara, wabah tersebut juga tidak dapat diselesaikan hanya dengan memberikan kebijakan fiskal. “Virus corona membuat kebijakan ekonomi tumpul. Dalam konteks seperti itu, saya setuju dampaknya lebih buruk dari krisis ekonomi 2008,” kata dia di ITS Tower, Jakarta Selatan, pada 6/3, sebagaimana dikutip tempo.com.
Faisal Basri menjelaskan, wabah virus corona telah menyebabkan pertumbuhan ekonomi hampir semua negara melambat. Menurut catatannya pertumbuhan ekonomi global akan turun dari yang sebelumnya di angka 3,3 persen menjadi 3,2 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia semula diperkirakan bisa menembus angka 5 persen, bakalan anjlok di angka 4,8 persen. Adapun negara yang mengalami pelambatan terburuk adalah India yang sebelumnya diprediksi tumbuh 6,2 persen, kemungkinan hanya akan mampu mencapai 5,1 persen.
Sementara Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani mengatakan, secara garis besar dampak ekonomi wabah virus corona terhadap Indonesia bisa dibagi dua. Pertama, dampak yang bersifat self-inflicted (disebabkan oleh kebijakan Indonesia sendiri sebagai respon terhadap wabah di dalam dan luar negeri). Kedua, yang bersifat inevitable (tidak terhindarkan) karena berasal dari kebijakan pemerintah China dan negara lain dalam mengontrol wabah.
“Pada dasarnya, semakin penting signifikansi ekonomi negara partner yang terkena wabah, dampak negatifnya terhadap ekonomi Indonesia akan semakin besar. Semakin luas penyebaran wabah di Indonesia, semakin besar juga dampak negatifnya terhadap ekonomi nasional,” katanya kepada pelakubisnis.com.
Shinta menambahkan, dampak negatif wabah ini akan semakin besar terhadap ekonomi nasional apabila: pertama, wabah berlangsung lebih lama dan lebih luas di Indonesia dan/atau negara partner dagang & investasi penting bagi Indonesia. Kedua, Indonesia dan/atau negara partner menerapkan kebijakan tambahan yang secara langsung maupun tidak langsung mendisrupsi lalu lintas orang dan barang antara Indonesia dengan negara tersebut. Ketiga, Indonesia atau negara partner membatasi kegiatan produksi, perdagangan dan transaksi ekonomi lain di negara tersebut atau secara bilateral dengan Indonesia. Keempat, Indonesia gagal mengontrol wabah di dalam negeri dan volatilitas pasar dalam negeri yang disebabkan oleh wabah.
Dampak terbesar wabah terhadap ekonomi Indonesia sejauh ini disebabkan oleh disrupsi supply chain China. Kebijakan travel ban Indonesia dan sejumlah negara terhadap Indonesia, tingginya volatilitas pasar global dan penurunan demand global karena wabah. Karena gangguan yang bersifat global tersebut, dampak wabah terhadap ekonomi nasional menjadi semakin luas dan semakin menyebar ke seluruh sektor ekonomi.
“Selama wabah ini belum bisa dikendalikan atau menunjukkan penurunan penyebaran, dampak kerugian ekonomi belum bisa dihitung karena kerugian akan semakin dalam di industri-industri yang sudah terkena dampak dan domino effect ke sektor-sektor ekonomi lain yang belum terkena, masih tinggi,” katanya serius.
Shinta menambahkan, per 17 Februari 2020 beberapa pabrik di China sudah mulai beroperasi meskipun belum maksimal karena after effect dari kebijakan karantina, yakni kekurangan tenaga kerja. Hingga saat ini sekitar 50% tenaga kerja China belum bisa kembali bekerja. Per awal Maret 2020 aktifitas manufaktur yang berada di provinsi Jiangsu dan Guangdong sudah beroperasi lebih dari 90% dan sudah 100% di provinsi Shandong dan Zhejiang. Kebanyakan industri di China yang lebih dahulu menormalisasi kegiatan ekonomi adalah industri besar dalam kondisi kekurangan tenaga kerja.
Lebih lanjut ditambahkan, industri kecil pendukung industri besar di China melakukan normalisasi dengan lebih lambat dan beberapa pabrik di China juga terhambat meningkatkan produktifitas karena sebagian atau seluruh operasinya dialihkan oleh pemerintah China untuk memproduksi alat kesehatan. Oleh karena itu, kapasitas produksi China masih belum kembali normal meskipun sudah membaik. Kegiatan lalu lintas barang dari Indonesia dan China juga belum sepenuhnya kembali normal dan masih mengalami penundaan pengiriman ke Indonesia. Beberapa sector yang terdampak dari disrupsi supply chain ini termasuk sector elektronik, automotif, garmen & sepatu, konstruksi, farmasi, dan industry lain yang memerlukan supply barang modal, bahan baku dan bahan penolong dari China.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, dampak ekonomi yang diakibatkan virus corona lebih kompleks dan serius dibandingkan dengan krisis ekonomi global yang terjadi pada 2008. “Lebih rumit yang ini (corona) karena ini menyangkut manusia, harus memberikan ketenangan dulu apa yang disebut dengan ancaman atau risiko terhadap mereka. Karena ini menyangkut diri langsung pada ancaman mereka,” ujar Sri Mulyani di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 5/3, sebagaimana dikutip kompas.com.
“Keselamatan, kesehatan, sampai pada kemungkinan terancam meningggal dunia. Itu yang jauh lebih langsung. Kalau dulu kan melalui lembaga keuangan, korporasi jatuh, PHK paling,” lanjut Sri Mulyani.
Ia menambahkan, krisis ekonomi global pada 2008 dipicu oleh lembaga keuangan. Karena itu, efeknya paling dirasakan oleh lembaga keuangan seperti perbankan dan pasar modal. Sedangkan saat ini penyebaran virus corona langsung menghantam sektor rill di masyarakat.
Sri Mulyani mengingatkan kepada seluruh eselon I dan II Kementerian Keuangan untuk turut menjaga kondisi ekonomi Indonesia secara bersama-sama. Hal itu dia sampaikan saat melantik sejumlah eselon I dan II di Aula Mezzanine, Kementerian Keuangan, Jakarta.
Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah saat ini sedang melihat perkembangan yang ada karena masih terlalu dini untuk merespons, namun tetap menginventarisasi stimulan yang bisa diberikan.
”Jadi kita sedang melihat langkah-langkah yang dilakukan. Pemerintah sekarang menginventarisasi stimulan yang bisa diberikan. Ada yang sifatnya non fiskal dan ada yang fiskal. Yang Fiskal Ibu Sri Mulyani sudah menyampaikan kita sedang mengkalkulasi. Jadi mudah-mudahan tidak dalam waktu lama bisa kita lihat,” ujar Menko Perekonomian menjawab pertanyaan wartawan usai Rapat Terbatas (ratas) di kantornya pada 11/3.
Dengan harga BBM turun, menurut Airlangga, itu juga menurunkan komoditas-komoditas yang lain, sehingga tentu sedang dievaluasi apa yang terjadi dan berapa lama ini akan bertahan. ”Kemudian setelah ini ada stabil, ada beberapa hal yang akan diambil oleh pemerintah, termasuk juga terkait dengan delta antara Palm Oil dan Gas Oil. Karena sekarang deltanya semakin melebar dengan harga minyak yang sudah turun,” kata Airlangga.
Sementara Pemerintah saat ini sedang menyiapkan stimulus fiskal jilid kedua dengan fokus pada industri manufaktur dan kemudahan ekspor-impor. Stimulus fiskal jilid kedua ini diluncurkan untuk mengatasi dampak negatif wabah Virus Korona yang menyebar di Indonesia yang juga akan berpengaruh terhadap kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia, kinerja ekspor Indonesia, current account deficit (CAD), kinerja fiskal, dan aliran modal.
Menurut Sri Mulyani, da beberapa insentif perpajakan yang sedang disiapkan pemerintah sebagai bentuk stimulus fiskal jilid kedua tersebut. “Untuk paket stimulus fiskal itu terdiri dari beberapa hal yang sudah saya sampaikan yang mencakup mengenai PPh pasal 21 yang ditanggung pemerintah untuk industri, kemudian untuk PPh pasal 22 import yang ditangguhkan juga, serta PPh pasal 25 juga sama. Semua paket ini diharapkan dapat dilakukan dalam jangka waktu 6 bulan,” ujar Menkeu.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves), Luhut B. Pandjaitan, mengatakan, saat ini industri di Tiongkok sudah mulai bekerja dan berharap nanti pada akhir Maret akan full speed karena sekarang di Tiongkok sudah ada penurunan yang drastis dari adanya Covid-19 ini.
Semoga vaksin dapat lebih cepat ditemukan, sehingga seluruh lini kehidupan, ekonomi, sosial, psikologis dan sebagainya dapat segera diredam, sehingga kecemasan tidak “membayang-bayangi” di segala lini kehidupan.[] Yuniman Taqwa Nurdin/Siti Ruslina/foto ilustrasi: Shutterstock
