Wamendag Roro Dorong Semangat Optimisme Sektor Perdagangan

Jakarta, 23 April 2025, pelakubisnis.com – Indonesia  memiliki  peran  besar  dalam  peningkatan  nilai  perdagangan dunia,  mengingat  Indonesia  memiliki  pendapatan  domestikbruto  (PDB) terbesardi  ASEAN.  Hal tersebut  dapat  menjadi  pendorong  semangat  optimisme  dalam  menghadapi  tantangan  global, termasuk kondisi perdagangan yang penuh ketidakpastian seperti saat ini. Sudah sepatutnya bagi Indonesia berkontribusi bagi pertumbuhan perdagangan dunia, baik regional maupun global.

Demikian disampaikan Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri,dalam gelaran HSBC Summit  2025  di  Jakarta, pada 22/4. Dalam kegiatan yang mengangkat tema ‘Transforming Indonesia: Redefining  Growth,  Reimagining  Future’ ini, turut hadir Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono dan President DirectorPT Bank HSBC Indonesia, Francois de Maricourt, juga sekitar 300 peserta yang merupakan para pelaku usaha, nasabah, serta para perwakilan asosiasi terkait.

 “Indonesia merupakan negara ASEAN dengan PDB terbesar. Dengan peran tersebut, Pemerintah Indonesia,  dan  khususnya  Kementerian  Perdagangan,  terus  berkomitmen  memperkuat  fondasi ekonomi  nasional  melalui  strategi  perdagangan  yang  inklusif,  adaptif,  dan  berkelanjutan  di berbagai kondisi,” ujar  Roro.

Roro   menyampaikan, World   Economic   Outlook   (Oktober   2024),   International Monetary  Fund  (IMF)  memproyeksikan  pertumbuhan  ekonomi  dunia  pada  2025  sebesar  3,2 persen,  sedikitlebih  rendah  dari  proyeksi  sebelumnya  yang  sebesar  3,3  persen.  Namun,  Asian Development  Bank  (ADB)  memprediksi  ekonomi  Indonesia  stabil  di  angka  5  persen  pada  2025. Sedangkan, OECD sedikit lebih optimis dengan perkiraan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 0,1 persen menjadi 5,2 persen pada 2025.

“Ke   depan,   akan   banyak   dinamika   terjadi,   tetapi   di   tengah   berbagai   tantangan   dalam perekonomian   dan   perdagangan   global,   kita   harus   tetap   memandang   masa   depan   penuh optimisme,” lanjut Roro.

Roro   menambahkan,   di   tengah   tantangan   yang   semakin   kompleks,   deregulasi ketentuan   impor   bahan   baku/penolong   khususnya   bagi   industri   berorientasi   ekspor   akan menurunkan  biaya  produksi  dan  mempertahankan,  serta  meningkatkan  daya  saing  produk ekspor nasional. Walau demikian, tetap memperhatikan dan melindungi daya saing industri yang berorientasi pasar domestik.

Meningkatnya   ketegangan   geopolitik,   berubahnya   demografi   global,   disrupsi   ekonomi   dan keuangan  digital,  terganggunya  rantai  pasok  global,  gejolak  harga  pangandan  energi,  serta pergeseran  status  ekonomi  negara LDC’smenciptakan  ketidakpastian  yang  berpengaruh  pada arus perdagangan internasional.

“Namun,   di   sisi   lain, Indonesia   dapat   memanfaatkan   momen   ini   sebagai   sebuah   peluang peningkatan  ekonomi  dalam  negeri.  Potensi  mineral  Indonesia  adalah  produsen  nikel  ke-1  di dunia,  produsen  timah  ke-3  di  dunia,  dan  cadangan  bauksit  ke-6  terbesar  di  dunia,” terang  Roro.

Terkait  Amerika  Serikat  yang  telah  menerapkan  kebijakan  tarif  resiprokal  terhadap  sejumlah negara mitra dagangnya, Wamendag Roro menjelaskan, sebagai negara non-blok, Indonesia akan bersinergi   dengan   negara-negara   terkait   dalam   mencari   jalan   keluar   terbaik   dan   saling menguntungkan.

 “Kita juga patut bersyukur di tengah kondisi saat ini, fondasi ekonomi Indonesia tetap stabil dan kuat. Di sisi perdagangan internasional, neraca perdagangan Indonesia periode Januari—Februari 2025 kembali surplus senilai USD 6,59 miliar. Surplus ini lebih tinggi dibandingkan dengan surplus di   periode   yang   sama   pada   tahun   sebelumnya   yang   mencapai   USD   2,83   miliar,”  ungkap Roro.

Di  sisi  lain,  perluasan  dan  peningkatan  akses  pasar  internasional  terus  menjadi  prioritas  utama kebijakan   perdagangan.   Pemerintah   secara   aktif   melanjutkan   negosiasi   dan   penyelesaian berbagai  perjanjian  dagang  strategis.  Hingga  April  2025,  Indonesia  telah  menjalin  21  perjanjian perdagangan dengan 30 negara mitra, mencakup PTA, FTA, dan CEPA di enam kawasan regional.

Data  menunjukkan,  lebih  dari  72  persen  ekspor  dan  74  persen  impor  Indonesia  berasal  dari negara  mitra  FTA.  Angka  ini  mencerminkan  pentingnya  keberadaan  perjanjian  tersebut  dalam mendukung   pertumbuhan   ekspor,   menciptakan   peluang   kerja,   dan   memperkuat   struktur ekonomi  nasional. “Dalam  implementasi  strategi  tersebut,  sinergi  yang erat  antara  pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat merupakan faktor penting. Dengan upaya bersama, optimis dapat mengatasi berbagai tantangan yang ada,” tutup Roro.

President   Director PT   Bank   HSBC   Indonesia,   Francois   de   Maricourt   menyampaikan, HSBC berkomitmen untuk selalu siap berkolaborasi dengan berbagai pihak. “HSBC  dengan  tangan terbuka akan ikut serta dalam peningkatan daya saing global Indonesia dan berkontribusi dalam peningkatan   sektor   penanaman   modal   asing   (foreign   direct   investment/FDIdi   Indonesia,” pungkas Francois.[]sp