Menghindari Penyakit Diabetes, Kurangi Asupan Karbo dan Jangan Mager

Seseorang ketika masuk dalam kategori prediabets, ia tidak menimbulkan gejala apa pun, seperti manusia sehat biasa. Baru setelah dinyatakan diabetes, mulai timbul gejala. Bagaimana menghidari penyakit diabetes?

September 2024 lalu, saya melakukan pemeriksaan gula darah puasa. Hasilnya masuk dalam kategori prediabetes . Di mana gula darah saya mencapai 107 miligram per desilter (mg/dl). Pasalnya gula darah seseorang dianggap normal di bawah 100 mg/dl. Sedangkan seseorang dinyatakan prediabetes bila gula darah puasa berkisar 100 -125 mg mereka yang mg/dl

Seseorang baru dinyatakan mengidap penyakit diabetes bila memiliki kadar gula darah di atas 125 mg/dl. Sebelum mengidap penyakit gula dari akan ditandai dengan prediabetes. Kadar gula darah akan mengalami peningkatan bila gaya hidup tidak dirubah

Sebetulnya prediabetes merupakan peringatan dini cikal bakal penyakit diabetes. Namun demikian, kita jangan terlalu cemas bila dinyataan prediabets. Pasalnya, prediabetes sebetulnya tidak berlanjut menjadi diabetes bila kita dapat mengatur pola hidup sehat.

Kendati saya masuk dalam kategori prediabetes, bukan berarti langsung oleh dokter diberi obat penurun gula dari. Saat itu dokter menganjurkan saya menguba pola hidup. Perlu diketahui berat badan saya saat itu mencapai 101 kg dengan lingkar perut perut 112 cm. Dokter menyarankan supaya mengubah pola makan dengan mengurangi asupan karbohidrat.

Saya pun bertekad mengubah pola hidup yang lebih sehat. Sebab mencegah terkena diabetes lebih baik dibandingkan mengobati diabetes.

Menjaga Berat Badan

Berikut ini saya berbagi informasi atas pengalaman saya  untuk mencegah prediabetes menjadi diabetes. Saya mulai mengatur pola makan. Sebelumnya porsi makan saya sehari bisa tiga sampai emat kali makan dengan kandungan karbo yang cukup tinggi. Belum lagi ditambah makan cemilan yang mengandung kadar gula yang berpotensi bisa meningkatkan kadar gula di dalam darah.

Kurangi Makanan karbo tinggi/foto:ist

Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengurnagi porsi makan. Walaupun frekuensi makan saya tidak berubah, yaitu sehari 3 kali sehari, tapi jumlah karbo mulai dikurangi. Sebelumnya setiap makan porsi karbo satu piring, nasi, saya kurangi menjadi kurangi menjadi 1/3 nasi. Untuk tidak merasa lapar, makanan kandungan serat (sayur-sayuran) dan protein diperbanyak. Makan cemilan dan minuman  yang mengandung gula saya stop. Saya mulai minum kopi hitan tanpa gula.

Mulai Rutin Olah Raga

Saat itu usia saya 61 tahun lebih. Untuk olah raga berat tidak memungkinkan karena faktor fisik. Sebelumnya saya mager (malas gerak/berolahraga), lalu saya rubah pola hidup dengan melakukan aktivitas jalan pagi minimal seminggu  4 kali. Mulanya durasi jalan pagi hanya 15 menit, tapi secara berlahan saya tingkatkan lama waktunya. Sampai saat ini setiap jalan pagi lama durasi anatara 45 sampai 55 menit.

Hasilnya dalam tempo 9 bulan berat badan saya turun menjadi 82 kg dan lingkar perut mengecil menjadi 102 cm.

Jalan sehat minimal 3-4 seminggu/foto: ist

Periksan Kesehatan Secara Rutin

Selain berpotensi terkena diabetes, saya sudah cukup lama mengidap darah tinggi dan kolestrol. Setiap dua minggu sekali saya control darah tinggi dan rutin mengkonsumsi obat darah tinggi. Alhamdulillah tensi saya terkontrol nomal terus. Sementara kolestrol saya sempat turun naik. Mungkin karena masih makan gorengan. Tapi belakangan ini kolestrol saya mulai normal dan dokter menstop konsumsi obat kolestrol.

Sementara tiap bulan saya rutin memeriksa kadar gula darah. Meskipun gula darah saya belum normal, tapi beberapa bula sempat stabil diangka 107 – 108 mg/dl. Tapi Mei 2025 lalu turun menjadi 102 mg/dl.

Kemudian Mei lalu, saya memeriksa gula darah HBA1C adalah tes darah yang mengukur rata-rata kadar gula darah selama 2-3 bulan terakhir. Tes ini membantu dalam diagnosis diabetes, memantau efektivitas pengobatan diabetes, dan mengidentifikasi risiko prediabetes. Hasil tes dinyatakan dalam persentase, dan nilai normal, prediabetes, dan diabetes memiliki rentang persentase yang berbeda. 

Berdasarkan kreteria ADA (American Diaetes Association) bahwa 5,7 -6,4 % masuk dalam kategori Prediabetes, sedangkan 6,5 % ke atas masuk dalam kategori diabetes. Sementara hasil tes saya hasil 5,44 %. Ini artinya saya dinyatakan normal, tidak termasuk dalam kategori Prediabetes.

Namun demikian, angka ini bisa sewaktu-waktu berubah tergantung dengan pola hidup kita. Untuk, kita perlu menjaga gaya hidup  sehat. Sebab seseorang ketika masuk dalam kategori prediabetes, ia tidak menimbulkan gejala apa pun, seperti manusia sehat biasa. Baru setelah dinyatakan diabetes, mulai timbul gejala. [] Yuniman Taqwa