Pergerakan Pemuda di Balik Gedung Joang 45 Menteng 31

Menjelajahi kota Jakarta belum afdhol bila tak mampir ke museum. Kali ini pelakubisnis.com berkesempatan mengunjungi Museum Gedung Joang 45, yang terletak di Jalan Menteng 31, Jakarta Pusat.

Bila Anda berjalan atau berkendara melewati daerah Patung Tugu Tani, Jakarta Pusat menuju Taman Ismail Marjuki atau Stasiun Cikini Jakarta Pusat, Anda akan menemukan satu bangunan tua bertuliskan Gedung Joang 45.    Mungkin untuk anak-anak jaman sekarang tak banyak yang tahu tentang sejarah di balik kisah sebuah bangunan kuno yang berada  di Jalan Mentang Raya N0. 31, Jakarta Pusat tersebut. Bangunan itu merupakan museum yang merekam banyak kisah pergerakan kaum muda dalam mendorong kemerdekaan Indonesia.

Museum Joang 45 merupakan saksi bisu kebangkitan dan perjuangan rakyat Indonesia, sebagai tempat pembelajaran dan penyimpanan barang-barang bersejarah para pahlawan nasional. Jelajahi momen kemerdekaan Republik Indonesia dan perjuangan meraih kemerdekaan para pahlawan nasional.

Museum ini berfokus pada sejarah Indonesia pada masa-masa menjelang proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Sekelompok Pemuda Menteng 31 yang dulu sempat menghuni Gedung ini turut membantu mendukung upaya kemerdekaan para pemimpin bangsa saat itu. Lewat aksi-aksinya yang radikal seperti peristiwa Rengasdengklok, menjadi catatan tersendiri bagi sekelompok pemuda yang menghuni rumah tersebut. Gedung Joang ’45 pada masa itu merupakan sebuah asrama yang dipakai para pemuda untuk menempuh pendidikan sosial yang bernama Asrama Angkatan Baru Indonesia atau Asrama Menteng 31.

Pada masa kependudukan Belanda sekitar tahun 1930-an, gedung ini dibeli oleh seorang pria berkebangsaan Belanda bernama L.C. Schomper dari tanah milik warga  keturunan Arab. Gedung ini lalu dibangun sebagai sebuah hotel dengan nama Hotel Schomper yang dipergunakan khusus untuk para pedagang asing, pejabat tinggi Belanda, dan pribumi yang singgah di Batavia.

Berlanjut ke tahun 1942, Sendenbu Jepang atau barisan propaganda Jepang mengambil alih Hotel Schomper. Tahun berikutnya, Jepang menyerahkan Gedung Menteng 31 kepada para pemuda Indonesia dan dijadikan Asrama Angkatan Baru Indonesia. Gedung Menteng 31 lalu dijadikan markas Pusat Tenaga Rakyat atau PUTERA yang didirikan Jepang untuk mewadahi dan mengendalikan kaum pergerakan nasional.

Di tempat ini, para pemuda Menteng 31 yang revolusioner menerima pendidikan kebangsaan. Materi yang didapat berkaitan dengan Ilmu Sosial seperti Sejarah, Politik, dan Ekonomi. Di mana materi-materi ini diajar oleh senior mereka seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Muhammad Yamin dan banyak lagi lainnya. Di asrama ini juga, para pemuda Menteng 31 merencanakan aksi-aksinya yang mendukung kemerdekaan salah satunya adalah  Peristiwa Rengasdengklok.

Insiden Rengasdengklok dilakukan atas dasar kemauan para pemuda Menteng yang menginginkan kemerdekaan secepatnya. Melihat Jepang telah kalah di Perang Asia Timur Raya, namun Soekarno dan Hatta masih menundanya demi kepastian kemerdekaan yang dijanjikan Jepang. Para Pemuda Menteng lalu mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan dan  tidak terpengaruh janji Jepang. Oleh karena itu, para pemuda menculik kedua tokoh besar itu ke Rengasdengklok.

Setelah dibujuk, Soekarno dan Hatta lalu setuju untuk memproklamirkan kemerdekaan hari berikutnya. Mereka lalu kembali ke Jakarta, tepatnya ke rumah Laksamana Maeda yang menyediakan dengan rela rumahnya sebagai tempat penulisan naskah proklamasi. Pada akhirnya, Soekarno-Hatta menjadi pemimpin Indonesia setelah memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Tentunya kita tidak lupa dengan aksi para pemuda Menteng yang membujuk kedua proklamator untuk segera memproklamirkan kemerdekaan.

Selain membahas pengalaman dan aksi pemuda Menteng 31, Gedung Joang ’45 menyajikan beberapa konten lain salah satunya adalah lukisan megah Bung Karno dan Hatta serta lukisan Ibu Fatmawati. Selain itu terdapat juga beberapa koleksi seperti penghargaan medali Dr.Moestopo, Diorama peristiwa IKADA, Tandu Jendral Soedirman, Poster propaganda Nippon/Jepang, patung dada pahlawan proklamasi, mobil Bung Karno dan Hatta, serta relief para pemuda Menteng 31 dan tokoh proklamasi.

Beberapa peristiwa penting pasca kemerdekaan seperti perundingan Linggajati yang diwakilkan Perdana Menteri Sutan Sjahrir, Perundingan Renville yang diwakilkan oleh Amir Sjarifuddin, dan Konferensi Meja Bundar yang diwakilkan Muhammad Hatta juga menjadi bagian dari edukasi yang disajikan dalam museum ini.

Beberapa tokoh yang berideologi kiri sayangnya tidak terlalu ditonjolkan disini. Sebut saja D.N. Aidit dan M.H. Lukman yang dalam kajian sejarah objektif ternyata merupakan bagian dari para pemuda Menteng 31. Mungkin atas apa yang terjadi tahun 1965 dan berbagai macam kontroversial yang terjadi, membuat museum ini harus menyembunyikan kedua tokoh itu. Bahkan Wikana tidak terlalu menonjol meskipun beberapa kali sering ditampilkan dalam diorama.

  • Beberapa Tokoh Menteng 31 diantaranya adalah:
  • Sukarni
  • Chaerul Saleh
  • Wikana
  • Adam Malik
  • D.N. Aidit
  • M.H Lukman
  • A.M. Hanafi
  • Maruto Nitimihardjo
  • Subadio Sastrasatomo
  • B.M. Diah
  • Djohar Nur

Tiket masuk Gedung Joang ’45 hanya Rp5000 untuk umum, Rp3000 untuk mahasiswa, Rp2000 untuk pelajar dan gratis untuk balita dan lansia. Termasuk murah bukan? Terlebih kita bisa mengenal sejarah bangsa sendiri demi meningkatkan rasa nasionalis kita. Museum adalah sarana untuk belajar sejarah selain membaca buku dan museum menampilkan objek fisik sehingga dapat menggugah hati para pengunjungnya. Namun cukup disayangkan bahwa museum jarang sekali dikunjungi oleh masyarakat terlebih para pelajar. Padahal banyak sekali museum kesejarahan yang tersebar dipenjuru Jakarta, namun rasa ingin belajar dan ingin tahu nampaknya masih minim bagi rakyat Indonesia.

Perlu kesadaran bahwa kita tidak boleh melupakan sejarah. Bung Karno pernah mengatakan “Bangsa yang hebat adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawan.”. Jangan lupa dengan slogan JASMERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) yang diucapkan Presiden Soekarno yang terkenal itu.[] Abrar Rizq Ramadhan