James Gunn Kembalikan Citra Pahlawan Superman (2025)

Oleh: Abrar Rizq Ramadhan

Di Indonesia Film Superman (2025) tayang 9 Juli lalu dan respon masyarakat sungguh luar biasa/Foto: pelakubisnis.com

Setelah satu dekade lebih sejak Man of Steel (2013) dirilis, gambaran soal Superman kian terombang-ambing mencari makna antara hitam dan putih, jahat dan baik. Film yang disutradarai oleh Zack Snyder itu menghadirkan sisi Superman yang lebih bernuansa gelap dan kelam. Henry Cavill selaku aktor dari Clark Kent alias Superman itu sendiri juga semakin memperkuat identitas gelap dari Superman ini. Konsep semesta yang dibangun oleh Snyder melalui DCEU (DC Extended Universe) memang menarasikan film adaptasi DC Comic yang menggunakan perspektif dengan tone yang lebih dark dan kompleks.

Di sisi lain, pembangunan DCEU juga kerap dikritik oleh fans dan kritikus terhadap inkonsistensi pembangunan ceritanya hingga berujung pada kegagalan yang dikonfirmasi di 2023. Disandingkan dengan rivalnya, MCU (Marvel Cinematic Universe), DCEU memang gagal total dari segala aspek mulai dari plot, penokohan, tone, dan konsistensi.

Konstruksi budaya yang dialami oleh Superman sebagai karakter yang kian dipandang sebagai tokoh yang merujuk pada hal negatif semakin diperkuat dengan series The Boys (2019-2024) yang menampilkan antitesa dari film-film superhero kebanyakan.

Dalam series The Boys, superhero menjadi villain yang bersatu dalam kelompok The Seven dan dikepalai oleh Homelander, sosok yang terlihat jelas menjadi bentuk parodi dari Superman dari segi superpower hingga kostum ikonik berjubahnya. Homelander seakan menunjukkan sisi ‘realistis’ dari Superman jika sosoknya hadir di dunia nyata. Penuh dengan validasi, kebohongan, penipuan dan kekejaman dari pikiran dan perbuatannya adalah yang melekat dalam tokoh Homelander. Saya teringat bahwa Homelander bahkan rela membiarkan puluhan penumpang pesawat mati dalam turbulensi kecelakaan karena ia rasa mustahil untuk menyelamatkan semuanya. Ia merasa tidak acuh kepada manusia dan hanya menganggap mereka sebagai alat untuk mengagungkannya. Sementara ketika kamera merekamnya, ia menangis dan menyesali keterlambatannya dalam menyelamatkan kecelakaan pesawat tersebut. Pencitraan, ya tepat sekali.

Citra Superman sebagai pahlawan kian meredup. Ditambah muncul berbagai variasi Evil Superman seperti yang tampil di game Injustice (2013) dan Injustice II (2017) yang memang mengambil inspirasi dari komik DC dengan judul yang sama. Belum lagi dengan tokoh Omni-Man di seri Invincible. Semua itu memberi citra Superman yang buruk. Konstruksi budaya seperti itu kian membangun narasi posibilitas Superman yang realistis. Padahal orang lupa bahwa Superman pertama kali diciptakan oleh Jerry Siegel dan Joe Shuster sebagai pahlawan super yang dapat menyelamatkan manusia dengan sangat cepat dan tak terkalahkan. Simbol di dadanya adalah bentuk harapan bagi umat manusia. Bagaimana kemudian DC bisa merekonstruksi Superman seperti sedia kala? Seperti Superman versi Christopher Reeve yang sangat ikonik dan perannya jelas, sebagai pelindung manusia. Bukan seperti Superman versi Injustice atau Homelander di The Boys.

Harapan itu kembali muncul ketika DCEU reboot menjadi DC Studios dan James Gunn diamanahkan untuk memegang kendali film pertamanya yang sekaligus juga film yang menjadi topik pembahasan artikel ini.

Film Superman (2025) telah tayang 9 Juli lalu dan respon masyarakat sungguh luar biasa. PR besar yang ditugaskan oleh James Gunn berhasil dieksekusi dengan matang dan sempurna. Sebelumnya track record James Gunn dalam film superhero tampak memukau dalam trilogy Guardian of the Galaxy yang konsisten memberikan tontonan yang memukau, terutama untuk volume terakhirnya yang paling emosional dan terbaik dari segala aspek. Track record ini yang membuat saya merasa optimis dalam memandang kerja James Gunn di Superman dan ternyata memang betul bahwa dia mampu mengembalikan citra Superman sebagai pahlawan melalui aktornya David Corenswet. Tone filmnya juga diubah menjadi lebih cerah dan menyenangkan dibandingkan dengan karya Snyder di DCEU.

Plot yang dibawa oleh James Gunn rumornya terinspirasi dari komik DC, Superman Legacy. Di filmya sendiri, James Gunn tidak menceritakan Superman di fase awal seperti yang terjadi di Man of Steel, melainkan time skip 30 tahun setelah Superman pertama kali sampai di bumi dari Krypton dan telah menjadi pelindung manusia selama itu. Namun, Superman mengalami kekalahan pertamanya ketika Hammer of Boravia berhasil menghancurkannya. Ia kemudian diselamatkan oleh Krypto, anjing super yang terkenal di komik sebagai pendamping Superman dan Superirl serta dapat terbang dan baru pertama kali muncul di film ini. Kelak diketahui bahwa skema tersebut telah diatur oleh Lex Luthor (Nicholas Hault) yang sudah bertahun-tahun mempelajari Superman dan berniat menjatuhkannya sebagai bentuk resistensi terhadap metahuman.

Konflik dalam plot semakin diperkuat dengan permainan politik media yang dapat meredupkan citra satu individu termasuk Superman yang dimanipulasi oleh Luthor dan dicitrakan sebagai alien yang hendak menghancurkan bumi. Permainan politik media seperti ini relevan di zaman sekarang, melihat peran buzzer dan konten kreator dalam memainkan isu serta mencari kesamaan pandangan.

Di sisi lain, film ini juga kembali menekankan sisi ketidakmampuan manusia dalam berjuang sendirian dan memerlukan pendamping dalam kehidupannya, termasuk Superman sekalipun yang masih membutuhkan Lois Lane (Rachel Brosnahan) serta teman-temannya di Justice Gang yang beranggotakan Green Lantern (Nathan Fillion), Hawkgirl (Isabela Merced) dan Mr. Terrific (Edi Gathegi) dalam melawan ketidakstabilan politik yang diskemakan Luthor.

Isu geopolitik juga diangkat terutama dalam penentangan terhadap penjajahan di mana skema Luthor mengatur kondisi tegang yang melibatkan invasi Boravia atas Jarhanpur dengan tujuan meruntuhkan rezim tirani. Mengingatkan saya dengan invasi Amerika Serikat ke Irak tahun 2003. Superman hadir di sana untuk melindungi masyarakat Jarhanpur yang tengah diinvasi dengan alutsista besar. Karena itu juga, film ini banyak disebut oleh kritikus dan awam sebagai bentuk protes terhadap pendudukan Israel di Palestina. Meskipun kita belum memahami keberpihakan politik James Gunn.

Yang terpenting adalah citra pahlawan Superman telah kembali. Clark Kent di film ini benar-benar dibangun sebagai sosok yang sangat mencintai umat manusia. Bahkan ketika musuh-musuhnya berdatangan, Superman memprioritaskan keselamatan penduduk dibanding nyawanya sendiri. Inisiatifnya dalam melindungi Jarhanpur juga menunjukkan humanisme yang lahir dalam pikirannya dan visi yang kedua orangtua kandungnya berikan untuk melindungi bumi. Adegan heroik penyelamatan penduduk ini yang sudah lama hilang dari film superhero kebanyakan selama satu dekade terakhir dan lebih fokus pada hubungan hero-villain. Visi Superman telah kembali pada akarnya, yakni sebagai pahlawan yang melindungi dan menyelamatkan namun juga butuh diselamatkan. Justru Superman versi ini yang menurut saya lebih realistis. Karena Superman tetap akan menjadi baik karena dia adalah Superman.[]Foto utama: Pinterest