PT Sebastian Jaya Metal: Dari Bengkel Rumahan Sampai Bangun Tiga Pabrik
Kepak bisnis Antonno Tjahjono di industri metal stamping terus melebar. Dari sebuah bengkel kecil pada tahun 1996 silam, kini menjadi industri manufaktur metal komponen otomotif dengan tiga pabrik. Di bawah bendera PT Sebastian Jaya Metal (SJM) kini mempekerjakan 600 karyawan, menjadi vendor tier 1 di produsen otomotif Suzuki Indomobil.
Mulanya hanya memproduksi metal dies di bengkel kecil di belakangan rumahnya sampai tahun 1997, kini merambah memproduksi komponen otomotif roda empat dan dua, termasuk suku cadang presisi, jig dan produksi hasil stamping serta pengelasan. Beberapa customer berhasil digaetnya. Baru pada tahun 1998 resmi berdiri PT Sebastian Jaya Metal (SJM). Tak perlu waktu lama, Antonno Tjahjono berhasil membangun pabrik di Pemukiman Industri Kecil (PIK), Jakarta Timur, pada tahun 1999 dengan jumlah karyawan 10 orang.
Menurut Eko Wahyudi, Koordinator SJM di pabrik Tegal yang mulai bergabung pada 1999 ini, pabrik di PIK saat itu mampu memproduksi dies 10 sampai 15 dies per bulan. “Kami saat itu masih tier 3,” kata Eko kepada pelakubisnis.com.
Meskipun Anton saat itu sebagai Engineering Manager Suzuki Indomobil, namun ia tidak dapat langsung tembus tier 1 Suzuki. Meski demikian, SJM terus berkembang. Tahun 2004 membangun manufaktur kedua di PIK. Saat itu, selain memproduksi dies, sudah mulai membangun metal stamping welding untuk memproduksi komponen otomotif roda dua dan empat. “Ada permintaan dari customer, selain membuat dies juga membuat komponen,” tambah Eko.
Sampai tahun 1997 Anton masih bekerja di Suzuki Indomobil. Ia mempercayai seorang profesional memimpin usahanya. Baru pada tahun 1999 ia mengundurkan diri dari Suzuki Indomobil dan fokus mengembangkan SJM dengan menduduki posisi sebagai direktur. “Sampai sekarang orang tersebut masih bergabung di SJM”, kata Eko sambil menambahkan, Anton memahami basic-nya sebagai engineering, memang agak kurang dalam aspek sistem, sehingga perlu tenaga manajerial untuk memenej usaha ini.
“Kalau proses manufacturing itu yang penting skill yang diutamakan ketika membuat dies. Tapi pada saat kita menginjak produksi stamping mapping, maka sistem sudah harus berjalan dengan baik. Makanya manajemen mengambil ISO 9001”, kata Eko.
Akselerasi bisnis SJM tak luput dari bimbingan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Lembaga nirlaba ini memang dibangun untuk meningkatkan bisnis Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) naik kelas. Binaan YDBA diberi pelatihan dasar tentang 5R (Rapi, Resik, Rawat, Rajin dan Ringkas). Konsep yang diadopsi dari Toyota, di Jepang menjadi landasan dalam membangun budaya kerja.
Tidak hanya itu, YDBA juga mengajarkan konsep QCD (Quality, Cost dan Delivery), manajemen produksi, manajemen keuangan dan sebagainya. Boleh jadi salah satu tujuannya adalah membangun rantai pasok bagi Astra Group dan industri manufaktur lainnya.“Kami sering mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan YDBA,” tandas Eko yang mengaku awal tahun 2000-an mulai aktif mengikuti pelatihan-pelatihan dari YDBA.

Tidak ada kendala dalam menjalankan pelatihan. Namun demikian, pada saat implementasi dan menjaga konsistensi dalam proses produksi justru yang lebih berat. Makanya perlu menanamkan konsistensi bekerja dalam setiap proses bagi karyawan.
“Kami sering ikut pelatihan QCC (Quality Control Circle) dan ikut lomba 5 R. Kami selalu ikut partisipasi setiap ada lomba yang diselenggarakan YDBA. Lomba QCC kami pernah juara 1 tahun 2023, juara 3 tahun 2025 dan juara 3 lomba 5R tahun 2025,” jelas Eko.
Dengan mengikuti pelatihan dan bimbingan di YDBA, jelas Eko, membuat proses pekerjaan lebih terarah. Semua karyawan sudah tersertifikasi dan mempunyai pos pekerjaan sendiri-sendiri, sehingga lebih memudahkan dalam bekerja.
Sejauh ini SJM sudah masuk perusahaan mandiri. Pabriknya di Jababeka kini tak lagi mendapat kesempatan training dari YDBA. Justru pabrik SJM di Tegal, tambah Eko yang masih sering mendapat pelatihan dari YDBA, karena omzetnya masih kecil dan masih menginduk di LIK (Lingkungan Industri Kecil) Tegal, sehingga masih mendapat pelatihan. “Baru-baru ini kami mengikuti pelatihan digitalisasi dari YDBA bekerjasama dengan Dinas perindustri,” ujar Eko.
Tidak hanya mengikuti pelatihan yang diselenggarakan YDBA dalam me-upgrade kompotensi karyawan. Pada tahun 2021, misalnya, Dinas Perindustrian Tegal menyelenggarakan training plant manufacturing dari level 1 sampai level 3. Training ini memberi pemahaman penataan manufaktur yang baik. “Saya bersama tim mengikuti pelatihan tersebut,” urainya.
Suatu ketika SJM menerima proyek pembuatan komponen Ertiga. Sekedar informasi, Anton kebetulan yang pertama kali mengambil pekerjaan di Indomobil pada proyek pembuatan mobil Ertiga produksi pertama tahun 2009. Pabrik yang SJM saat itu tidak memungkinkan proses assembling. Pasalnya komponen yang dibuat sudah mulai besar-besar, akhirnya menambah investasi dengan membuat pabrik baru d Jababeka pada tahun 2012. SJM saat itu belum memiliki fasilitas workshop stamping dan welding robotic. Semua masih dilakukan secara manual. Akhirnya sewa workshop di Bantar Gerbang, Bekasi. Saat itu pekerjaan di Subkon. “Tapi dengan perkembangan perusahaan, akhirnya, seluruh komponen bisa dikerjakan sendiri pada tahun 2013,” lanjutnya Eko.

Baru pada tahun 2015, perusahaan sudah menggunakan robotic untuk support welding. Artinya ada investasi baru, karena semakin meningkatnya permintaan dari customer, sehingga tidak memungkinkan lagi produksi dilakukan secara manual. Saat itu yang dibutukan untuk memenuhi kebutuhan welding support Ertiga sebanyak per hari 380 -420 unit. Sementara kemampuan saat itu hanya 280 unit. Fenomena itu yang menyebabkan perusahaan mulai menggunakan robotic untuk welding support.
Eko menambahkan, selain untuk meningkatkan kapasitas produksi juga untuk menjaga quality. Kalau dikerjakan secara manual boleh jadi banyak error. “Untuk upgrade capacity dan quality, maka digunakan robotic support,” jelasnya.
Perusahaan terus bertumbuh, sehingga manajemen memutuskan membuat pabrik baru di Tegal pada tahun 2019. Pabrik di Tegal saat itu baru ada 11 mesin stamping dan 2 robotic welding. “Sampai saat ini seluruh mesin yang dimiliki SJM 118 mesin stamping, welding robotic ada 80-an unit,” ujar Eko. Bila bicara unit produksi secara total mencapai juta-an unit komponen per bulan. Kapasitas produksi pabrik di Tegal saja sudah mencapai 800 ribuan unit per bulan.
Lebih lanjut ditambahkan, di SJM saat ini memiliki divisi Engineering dan produksi serta welding. Markas engineering ada di Delta Silicon Industrial Park, Cikarang, yang khusus membuat dies dan jig. “Tadinya produksi bergabung di pabrik Jababeka Karena tahun kemarin (2024-red) SJM mendapat proyek baru dari Suzuki dan Kawasaki, maka pekerjaan engineering dipindahkan ke pabrik baru di Delta Silicon,” kata Eko sambil menambahkan saat ini ada tiga pabrik, yaitu di Jababeka, Delta Silicon dan di Tegal. Pabrik di Tegal kebanyakan mengerjakan pekerjaan supply chain tier 2 untuk Bukaka, Dharma Polimetal dan rantai pasok Astra Honda Motor (AHM).
Eko menambahkan, meskipun tahun 2025 kondisi ekonomi mengalami penurunan daya beli, tapi SJM tetap tumbuh. Proyeksi pertumbuhan omzet tahun 2026 sekitar Rp 25 miliar dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 8 persen.
Kontribusi terbesar omzet SJM berasal dari pabrik di Jababeka, dan Delta Silicon. Sedangkan kontribusi dari pabrik Tegal masih kecil, sekitar Rp 500 juta per bulan. Sebab, pabrik Tegal hanya jasa proses produksi. Di mana material dan sebagainya dipasok dari pabrik di Jababeka. Kalau di Delta Silicon hanya manufacturing, di mana omzetnya sekitar miliaran per bulan. Walaupun pabrik di Tegal masih satu grup dengan pabrik di Jababeka dan Delta Silicon, tapi keuangannya ditangani masing-masing pabrik.
Proyeksi pertumbuhan tahun 2026, menurut Eko, kalau dari segi engineering sekarang turun, karena tidak ada penambah project. Kalau ada project mobil baru SJM juga turut terdongkrak. Saat ini sedang konsentrasi di project Kawasaki. Hasil karya SJM sudah diekspor komponen print untuk Kawasaki motor laut, lewat Kawasaki Indonesia dan untuk motor roda dua di Indonesia.
Sementara untuk Suzuki roda empat lebih banyak menangani assembling komponen body mobil. Bahkan untuk Suzuki Fronx, SJM menjadi assembling komponen body mobil, seperti membuat tutup bensin mobil Ertiga dan Suzuki Fronx, kalaupun ada pekerjaan engine part seperti bracket, tapi tidak terlalu banyak. SJM juga mendapat pekerjaan membuat body mounting atau dudukan mesin, tapi sebagai tier 2. “Kalau di Suzuki kami sudah tier 1, sedangkan di AHM masih posisi tier 2,” tambah Eko.
Eko menambahkan, kapasitas produksi di pabrik Tegal bisa mencapai 1 juta unit per bulan, tapi utilisasinya baru mencapai 62 persen. Sementara pabrik di Jababeka kapasitas produksi mencapai 2 juta unit per bulan dengan utilisasi mencapai 80 persen per bulan.[] Siti Ruslina
