Menafsir Gaya Komunikasi Purbaya

Oleh: Yuniman Taqwa Nurdin

Gaya komunikasi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung membuat masyarakat mendapat angin segar. Bila sebelumnya arus komunikasi para menteri  kerap kurang mendapat respon positif karena pesan komunikasi lebih banyak terkesan “lip service”, dan kurang  berempati tehadap realitas di masyarakat, tapi justru Purbaya  “memecah stigma” birokrasi dalam nyanyian koor bersama secara kolektif.

Jarang kita dengar “silang pendapat” dalam satu barisan, meski dalam tujuan berbeda.  Purbaya tanpa tedeng aling-aling  berkomentar tegas meski dalam satu kabinet. Ia tanpa sungkan akan menarik anggaran yang tidak produktif (mengendap)  – untuk ditarik dan akan dikontribusikan ke kegiatan lebih produktif yang dapat menibulkan multiplier effect.

Berapa banyak pernyatannya membuat kalangan di lingkaran kabinet seakan kebakaran jenggot. Dengan tegas ia mengatakan tidak akan menggunakan dana APBN untuk membayar utang kereta cepat Whoosh.  Seharus Danantara yang  justru bertangggungjawab membayar utang Whoosh. Pasalnya, semua deviden dari BUMN,  kini  masuk ke Danantara. Apalagi proyek kereta cepat ini – perjanjian dengan China – secara B to B (Business to Bsiness).

Sebagai bendahara keuangan negara, Purbaya tak ingin bertolerasi  dalam mengelola dana negara. Boleh jadi ia bukan menteri yang dapat berempati di lintas sektor dalam Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia menjalankan tugas hanya mengikuti arahan Presiden Prawobo.

Gaya komunikasi ala “koboi”, ceplas-ceplos menjadi magnet yang membuat masyarakat merasa terwakili dengan figur menteri yang lebih empati  dengan  masyarakat. Entah sudah berapa lama masyarakat “kehilangan sosok”  menteri  yang mempunyai keselarasan dan ketertarikan dengan masyarakat. Tak heran bila muncul model komunikasi “koboi ala Purbaya”, membuat masyarakat merespon positif.

Meski begitu,  gaya komunikasi Purbaya sempat menimbulkan polemik di masyarakat. Ketika awal dilantik menjadi Menteri Keuangan, Purbaya menyebutkan bahwa tuntutan masyarakat bertajuk 17 + 8 tidak seluruhnya mewakili masyarakat.

Purbaya mengaku belum mempelajari secara menyeluruh isi tuntutan tersebut. Menurutnya, tuntutan itu datang dari sebagian kecil masyarakat yang merasa hidupnya terganggu dan belum tercukupi. Ia menilai aspirasi itu akan mereda jika pemerintah mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, sebagaimana dikutip dari detik.com yang posting pada 9/9/2025.

Purbaya  segera meminta maaf dan memberikan klarifikasi. Ia menyampaikan bahwa hal ini menjadi pembelajaran baginya. Sikap tanggung jawab dan keterbukaan ini menunjukkan bahwa Purbaya tidak hanya berani bicara, tetapi juga berani mengoreksi diri, yang dikutip dari artikel Memilih Gaya Koboi Ala Purbaya, oleh Bernadetha Kiara Gita Ola, ilkom.fikom.unpad.ac.id, posting 13/10/2025.

Permitaan maaf Purbaya tersebut bukan merupakan blunder, justru menunjukkan sikap sebagai komunikator yang berani mengoreksi diri. Bukan justru sebaliknya, mencoba mencari pembenaran. Sikap berani mengkoreksi diri dan dikoreksi yang belakangan  mulai redup di tengah banjirnya arus informai. Sikap ini  justru membuat masyarakat bertoleransi bila “terpeleset” dari  kerangka persepsi mayoritas mayarakat.

Berdasarkan data survei Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bulan Oktober, Purbaya menjelaskan bahwa tren kepercayaan masyarakat terus meningkat setelah sempat terus mengalami penurunan dari Juli hingga September. Periode itu, menurutnya, diwarnai dengan banyaknya demonstrasi. “Tapi kita lakukan kebijakan yang mungkin sebagian kalangan agak drastis, agak ceplas-ceplos, tapi ini berhasil mengembalikan sentimen masyarakat ke pemerintah,” ucap Purbaya, sebagaimana dikutip dari tirto.id, 27/10/2025

Baru-baru ini Indonesia Political Opinion merilis survei kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Salah satu yang disurvei  adalah menteri yang dianggap memiliki kinerja terbaik dalam  Satu Tahun Pemerintahan Prabowo.  Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion, Dedi Kurnia Syah mengatakan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tercatat sebagai salah satu menteri atau pejabat setingkat menteri dengan kinerja terbaik. Purbaya menempati posisi pertama dengan angka 17,5 persen.

“Anggapan ini menandai jika manuver dan publisitas yang ia lakukan membuat publik optimistis dan memiliki keyakinan terkait kapasitasnya sebagai menteri,” kata Dedi dalam keterangan tertulisnya pada Selasa, 21 Oktober 2025.

Survei nasional yang digelar pada 9–17 Oktober 2025 ini melibatkan 1.200 responden di seluruh Indonesia, dengan metode stratified  multistage random sampling (SMRS),  tingkat kepercayaan 95 persen, dan margin of error ±2,9 persen.

Hasil survei tersebut menunjukan bahwa Purbaya mampu membangun optimisme masyarakat. Indonesia bisa kembali bangkit di tengah melemahnya daya beli masyarakat. Padahal beliau belum diangkat menjadi Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Gaya komunikasi  yang ceplas ceplos, dan percaya diri dengan “menekan pedal gas” agar ekonomi kembali menggeliat di masyarakat  adalah suatu pengharapan.

Datangnya harapan itu memang terlalu dini bila Purbaya bisa menggerek pertumbuhan ekonomi dalam tempo singkat. Namun demikian, biarkan Purbaya  mendapat kesempatan membuat formula ekonomi  yang bisa tumbuh lebih tinggi sesuai yang dicanangan oleh Presiden Prabowo mencapai 8 persen  pertumbuhan ekonomi sampai tahun 2029.

Beri kesempatan Purbaya –  menunjukkan kepiawaiannya di bidang ekonomi – minimal satu tahun pertama. Kita lihat hasil kerja Purbaya satu tahun ke depan. Apakah ia mampu menunjukan harapan itu sesuai target.  Bila harapan itu menunjukkan indikasi positif, bukan tidak mungkin, Purbaya akan masuk dalam kandiddat elit yang akan mendampingi Prabowo Subianto bila beliau ingin masuk kembali ke  gelanggang  pemilihan presiden tahun 2029 – 2034 mendatang.

Dan ingat, kita pun tak perlu terlalu terperangkap euphoria  dengan model-model komunikasi gaya pencitraan. Biarkan siapa pun orangnya diberi kesempatan untuk masuk dalam seleksi  uji kompetensi  dalam menangani  persoalan bangsa.

Gaya komunikasi hanya merupakan visual memperkenalkan figur di tengah masyarakat. Sebab dari komunikasi itu, membuat kita dapat membandingkan antara ucapan dan perbuatan. Biarkan model komunikasi apa pun yang digunakan hanya merupakan cermin.  Di masa mendatang dalam memutuskan siapa calon pemimpin dilihat berdasarkan rekam jejaknya![]foto: laman Kemenkeu

*Penulis pemimpin redaksi pelakubisnis.com