UMKM Mampu Catat Transaksi Sebesar US$ 474,70 Juta Selama TEI 2025

Khusus produk UMKM, selama gelaran Trade Expo Indonesia 2025 mencatatkan transaksi sebesar USD 474,70 juta atau sekitar Rp 7,80 triliun. Angka transaksi ini menunjukan UMKM kita mampu bersaing, baik di dalam negeri maupun global.

Paviliun  Usaha  Mikro,  Kecil,  dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) pada gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 mendorong pelaku UMKM  menjadi eksportir. Paviliun  ini hadir  sebagai  perwujudan  salah  satu  program  prioritas. Boleh jadi menjadi simbol  nyata  komitmen  pemerintah  dalam mendorong UMKM Indonesia menembus pasar global.

“Paviliun ini bukan hanya etalase produk, tetapi juga cerminan dari proses panjang pendampingan dan transformasi pelaku UMKM Indonesia agar siap bersaing di pasar global. Kami ingin dunia melihat Indonesia sebagai negara yangmenawarkan   perdagangan   yang   mengedepankan   inovasi, inklusivitas,   dan keberlanjutan,” kata Menteri Perdagangan Budi Santoso, di TEI, 15/10.

Paviliun UMKM BISA Ekspor menampilkan20 produk UMKM terpilih dari berbagai sektor, mulai dari kreatif, manufaktur, hingga produk  primer. UMKM yang  berpartisipasi telah melalui proses kurasi dan merupakan bagian  dari  program  fasilitasi  ekspor  Kemendag.  Para pelaku UMKM  ini telah  mencatatkan  transaksi ekspor serta menjalin kemitraan dengan mitra dagang internasional.

UMKM BISA Ekspor berhasil gaet buyer selama TEI 2025/foto: doc. Kemendag

Sejumlah  pelaku  usaha  yang  berpartisipasi, antara  lain, PT  Bio  Konversi  Indonesia  dengan  produk pupuk hayati organik cair, CV Wellgroo Dinamika dengan tas kulit, PT Brana Wira Mandiri dengan anyaman berbahan eceng gondok, serta Mamasoul Indonesia dengan produk sepatu.

Selain menonjolkan kualitas, banyak produk UMKM mengusung nilai budaya dan kearifan lokal sebagai identitas  yang  memperkuat  daya  tarik  di  pasar  ekspor.  Salah  satu  contohnya  adalah PT  Cerita  Kreatif Kita dengan  produk tas kulit  yang  dipadukan rotan “Wresti Medium”. Produk ini terinspirasi  dari tarian tradisional  Bali Puspawresti,  yang  menggambarkan  kelembutan,  keluwesan,  dan  keanggunan. Nilai-nilai tersebut  diwujudkan  dalam  desain  tas  yang  anggun,  dengan  perpaduan  anyaman  rotan  dan  kulit  yang lembut.

“Produk UMKM Indonesia tidak hanya bersaing dari segi kualitas, tetapi juga membawa cerita, identitas, dan keunikan  lokal  yang  tidak  dimiliki  produk  negara  lain.  Ini  menjadi  kekuatan  sekaligus  diferensiasi  yang dibutuhkan untuk menembus pasar global,”ungkap Mendag Budi.

Selain   menampilkan   produk-produk   unggulan,   Paviliun   UMKM   BISA   Ekspor   juga   dirancang   untuk memberikan pengalaman interaktif bagi    para buyer dan    pengunjung.  Setiap  etalase  dilengkapi dengan katalog digital yang dapat dipindai, sehingga memungkinkan pengunjung mengakses informasi lengkap mengenai produk serta potensi ekspor yang dimiliki.

“Kami ingin pengunjung dan buyer tidak hanya melihat produknya, tetapi juga memahami cerita dan potensi di balik setiap produk UMKM yang ditampilkan. Paviliun ini menjadi jendela dunia untuk mengenal berbagai produk Indonesia,”kata Budi.

Kehadiran  Paviliun  UMKM  BISA  Ekspor  mendapat  sambutan  positif  dari buyer mancanegara.  Salah  satu pengunjung  asal  Virginia,  Amerika  Serikat, Will Archer mengungkapkan kekagumannya  terhadap  tampilan dan konsep pavilion yang dihadirkan.

“Saya telah melihat beberapa produk ini di lokasi berbeda, tetapi melihat semuanya dikurasi dan ditampilkan bersama dalam satu paviliun seperti ini sungguh mengesankan. Saya juga suka konsep integrasi digital yang disediakan. Jadi, selain menampilkan produk secara fisik, pengunjung juga bisa memindai kode respon cepat (QR) untuk mempelajari lebih lanjut dan menjelajahi lebih banyak produk di dalam katalog digital,”kata Will Archer.

Namun demikian, bukan hanya pavilion ini saja yang hanya isi peserta UMKM. Banyak lagi UMKM binaan lembaga pemerintah dan korporasi yang ikut dalam pameran TEI 2025 yang berlangsung 15 -19 Oktober 2025.

Khusus produk UMKM, gelaran ini mencatatkan transaksi sebesar USD 474,70 juta atau sekitar Rp 7,80 triliun. Angka transaksi ini menunjukan UMKM kita mampu bersaing, baik di dalam negeri maupun global.

Salah satu UMKM yang mencatat transaksi ekspor selama berlangsung TEI 2025 adalah PT  Azaki  Food Internasional  yang membawa  produk  tempe  Indonesia menembus  pasar global. Perusahaan menyepakati  nota  kesepahaman  (MoU) dengan  perusahaan  asal  Arab  Saudi  untuk  menyepakati jaminan  kapasitas  ekspor,  dan  dengan  perusahaan asal  Cile  dengan  total  kesepakatan  ekspor tempe  beku mencapai USD 300 ribu per tahun.

UMKM binaan Pertamina sedang tanda tangan MoU/foto: doc. Pertamina

PT Azaki Food Internasional ini meraih penghargaan  Primaniyarta  untuk  eksportir  UMKM  BISA Ekspor. Ini   merupakan  bentuk  apresiasi  terhadap pelaku   UMKM   yang   berhasil   menembus   pasar   ekspor   dan   menjadi   inspirasi   bagi   UMKM   lainnya. Penghargaan ini diharapkan dapat memotivasi pelaku usaha untuk terus meningkatkan semangat dan daya saing, membuka peluang baru, serta memperluas pasar ekspor demi kemajuan bersama.

Sementara Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri kembali  mengajak  para UMKM  nasional  untuk  tetap melakukan ekspor ke pasar internasional di tengah dinamisnya kondisi dunia saat ini. Menurutnya, pemerintah selalu hadir dan siap membantu para pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya.

Hal itu disampaikan Wamendag  Roro saat  membuka  kegiatan  Forum Bisnis ‘Export  in  Uncertain Times: Protecting SME Exporters Againts Trade Risks’ yang diselenggarakan pada 16/10, di sela-sela pelaksanaan TEI ke-40, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.

“Kebijakan  perdagangan  Indonesia  terus  berkembang  untuk  mendukung  pengekspor,  khususnya UMKM, dalam menghadapi risiko global sekaligus meraih peluang baru. Secara umum, pemerintah sedang  menjalankan  program  deregulasi  yang  komprehensif,  termasuk  peningkatan  investasi, perbaikan  sistem  perizinan,  fasilitasi  perdagangan,  dan  layanan  perdagangan  digital,” ungkap Roro.

Roro   menjelaskan,   Kementerian   Perdagangan terus   memfasilitasi   UMKM   dan mempromosikan  diversifikasi  tujuan  ekspor  melalui  kemitraan  bilateral  dan  regional. Di  samping itu, Kemendag juga berfokus   pada   penguatan   diplomasi   perdagangan   untuk memastikan produk Indonesia memenuhi standar internasional dan dapat memasuki pasar bernilai tinggi, seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur.

Melalui  program  platform  ekspor  digital  seperti  INAExport  dan  INATrade,  serta  program  promosi TEI, Kemendag menghubungkan    langsung    pelaku    usaha dengan    pembeli, menyederhanakan  dokumentasi,  dan  mendorong  transparansi. “Tujuan  utamanya  yaitu membuat ekspor lebih mudah, cepat, dan aman, terutama bagi usaha kecil,” ujar Roro.

Roro  menjelaskan, UMKM  berkontribusi  lebih  dari  60  persen terhadap  perekonomian Indonesia  dan  memainkan  peran  penting  dalam  penyerapan  tenaga  kerja,  pendapatan  rumah tangga,  dan kegiatan  ekonomi  lokal.  Namun,  UMKM  juga  menghadapi  eksposur  yang  tinggi terhadap volatilitas perdagangan dan keuangan.

Oleh  karena  itu,  Kemendag  mengintensifkan  upaya  untuk  mempersiapkan  dan meningkatkan  partisipasi  UMKM  dalam  perdagangan global  dengan  menerapkan  program  UMKM BISA (Berani Inovasi Siap Adaptasi) Ekspor. UMKM BISA Ekspor dirancang untuk membantu UMKM mengatasi  hambatan  ekspor,  memahami  pasar  global,  dan  memanfaatkan  peluang  perdagangan internasional  melalui  pendekatan end-to-end  export  develop ke  depan,  para  UMKM menjadi pelaku ekspor yang makin andal.[] Yuniman Taqwa