Frugal Consumer Muncul Selama Perlambatan Ekonomi

Di tengah ekonomi yang bergerak lambat dan tekanan biaya hidup yang terus meningkat, perilaku konsumen mengalami perubahan. Mereka tidak menunda pembelian, tetapi selektif dalam menentukan pembelian.

Survei Inventure–Alvara 2025 terhadap 589 responden menunjukkan perubahan signifikan dalam pola belanja masyarakat Indonesia. Di tengah dormant economy, konsumen semakin berhati-hati dalam mengelola pengeluaran dan berpindah ke pola micro-spending: belanja lebih sering, dalam jumlah kecil, dan memilih kemasan yang lebih terjangkau.

Yuswohady: Frugal consumer selalu mencari cara untuk menjaga pengeluaran tetap kecil dan terukur/foto doc Inventute

Temuan pertama menunjukkan bahwa 70% konsumen kini memilih produk kemasan kecil, meskipun konsekuensinya mereka harus membeli lebih sering. Hanya 30% yang tetap setia pada kemasan besar. Perubahan ini mencerminkan strategi konsumen untuk menjaga arus kas tetap aman dengan menekan nilai transaksi setiap pembelian.

Yuswohady,Managing Partner Inventure, dalam acara Media Briefing Business Outlook 2026, The Birth of Dormant Economy, The Rise of Frugal Consumer, pada 9/12, mengatakan, fenomena ini merupakan ciri khas dari frugality wave yang menguat di masyarakat. Ia menekankan bahwa “Frugal consumer selalu mencari cara untuk menjaga pengeluaran tetap kecil dan terukur. Memilih kemasan kecil bukan sekadar soal harga murah, tetapi soal kontrol arus kas. Konsumen ingin fleksibilitas agar bisa menyesuaikan belanja harian dengan kondisi keuangan yang berubah-ubah.”

Temuan berikutnya memperlihatkan perubahan kanal belanja. Sebanyak 72% responden memilih belanja di minimarket dengan frekuensi sering namun volume kecil, dibandingkan belanja bulanan dalam jumlah besar. Minimarket dinilai memberi kendali lebih baik: pengeluaran kecil per transaksi, akses cepat, dan risiko impuls buying yang lebih rendah.

Hasannudin Ali, CEO Alvara Research Center,  melihat pola ini sebagai bentuk mitigasi risiko finansial yang sangat rasional. Ia menjelaskan bahwa “konsumen kini mengelola keuangan dari hari ke hari, bukan dari bulan ke bulan. Micro-spending adalah respons adaptif terhadap ketidakpastian pendapatan. Mereka menghindari komitmen pengeluaran besar dan fokus menjaga kestabilan arus kas rumah tangga.”

Kedua temuan ini mempertegas bahwa micro-spending behavior menjadi norma baru dalam industri FMCG dan ritel. Konsumen tetap berbelanja, tetapi dengan strategi yang lebih konservatif dan penuh perhitungan. Dengan daya beli yang masih tertekan, perilaku frugal akan terus mendorong preferensi belanja kecil namun sering, sebuah pola yang akan membentuk ulang strategi produk, kanal, dan promosi di tahun 2026.

Di samping itu, tekanan ekonomi yang berkepanjangan tidak hanya membuat konsumen berhati-hati, tapi juga mengubah pola prioritas belanja secara radikal. Survei Inventure–Alvara 2025 yang melibatkan 589 responden menemukan bahwa 61% konsumen rela mengurangi pembelian kebutuhan pokok demi membeli produk baru atau premium yang sedang viral, sementara 39% lainnya memilih tidak melakukan pengalihan tersebut.

Fenomena ini menandai realitas baru yaitu sekalipun konsumen hidup dalam kondisi dormant economy, mereka tetap mencari ruang untuk memenuhi kebutuhan emosional, sosial, dan aspiratif. Produk viral dianggap menawarkan nilai lebih baik karena kualitas yang dianggap tahan lama, maupun karena aspek status, pengalaman, dan keterhubungan sosial di media digital.

Perilaku ini, kata Yuswohady, mencerminkan logika frugal yang semakin matang. Ia menegaskan bahwa “frugal consumer tidak sekadar mengencangkan ikat pinggang; mereka mengalihkan belanja ke kategori yang memberikan reward emosional dan sosial. Kebutuhan pokok bisa ditunda, tetapi kebutuhan untuk tetap merasa ‘relevan’ dan ‘up-to-date’ dianggap lebih meaningful.”

Prioritas baru ini menunjukkan sifat dasar Frugal Consumer mereka tidak sepenuhnya menahan konsumsi, tetapi melakukan realokasi strategis dengan menekan pos rutin yang dianggap kurang meaningful dan mengutamakan pembelian yang memberikan value, utility, atau status boost lebih besar, meski harganya lebih tinggi.

Pergeseran ini menjadi sinyal strategis bagi industri ritel Kategori kebutuhan pokok tidak lagi menjadi “pembelian default”, sementara kategori lifestyle, premium, dan viral-driven justru memiliki daya tarik tinggi meski ekonomi belum pulih. Di tengah tekanan hidup dan ketidakpastian, konsumen menginginkan sesuatu yang terasa seperti reward.

Dengan kata lain, konsumen tetap berhemat tetapi berhemat secara selektif. Mereka menahan banyak hal, namun tidak pada apa yang membuat mereka merasa berdaya, relevan, dan terkoneksi.

Ketika tekanan ekonomi memaksa rumah tangga lebih disiplin dalam mengelola pengeluaran, sektor telekomunikasi menjadi salah satu kategori yang paling jelas memperlihatkan strategi bertahan konsumen. Survei Inventure–Alvara 2025 menunjukkan bahwa 52% konsumen kini lebih memilih paket internet harian atau mingguan, sementara 48% masih bertahan dengan paket bulanan.

Pergeseran ini bukan semata preferensi harga, tetapi bagian dari micro-spending behavior atau strategi pembayaran dalam nominal kecil yang memungkinkan konsumen menjaga arus kas tetap longgar. Dibandingkan membayar satu biaya besar di awal bulan, konsumen memilih pembayaran kecil yang bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan harian mereka.

Menurut Yuswohady, Managing Partner Inventure, pola ini mencerminkan cara berpikir frugal yang semakin matang. Ia menyatakan bahwa “Frugal consumer tidak mengurangi kebutuhan esensial seperti internet, tetapi mereka mengubah cara membayarnya. Paket kecil memberi ruang bernapas dan kontrol penuh atas arus kas. Mereka ingin biaya yang bisa dihentikan kapan saja tanpa komitmen besar.”

Dalam kondisi dormant economy, ketika pendapatan stagnan dan pengeluaran kebutuhan pokok meningkat, strategi ini menjadi cara efektif untuk mengurangi tekanan finansial tanpa harus mengorbankan kebutuhan konektivitas. Internet tetap esensial, tetapi cara masyarakat membayarnya kini lebih taktis, adaptif, dan sangat sadar biaya.

Fenomena ini sejalan dengan karakter Frugal Consumer yaitu tidak mengurangi kebutuhan utama, namun mengelolanya melalui biaya kecil yang repetitif dan lebih mudah dikendalikan. Micro-spending memberi rasa aman karena konsumen dapat menyesuaikan frekuensi dan nominal belanja secara real-time mengikuti kondisi keuangan mereka.

Bagi operator telekomunikasi, tren ini menandakan peluang sekaligus tantangan. Ke depan, produk data perlu dirancang lebih modular, fleksibel, dan hyper-affordable menyesuaikan ritme keuangan konsumen, bukan memaksa konsumen mengikuti struktur tarif lama.

Sementara  Survei Inventure–Alvara 2025 terhadap 573 responden menunjukkan perubahan besar dalam ritual kecantikan masyarakat Indonesia. Sebanyak 84% konsumen kini lebih memprioritaskan inner wellness dibanding skincare, sementara hanya 16% yang masih menempatkan skincare sebagai fokus utama. Pergeseran besar ini mencerminkan redefinisi kecantikan yang terjadi di tengah tekanan dormant economy.

Konsumen tidak lagi mencari “glow” dari serum atau krim mahal. Mereka mengejar kesehatan tidur, pola makan yang lebih bersih, kestabilan emosi, serta kebiasaan suplementasi yang lebih teratur. Inner wellness muncul sebagai fondasi baru kecantikan modern, menggantikan pendekatan lama yang berorientasi pada tampilan luar.

Menurut Yuswohady, perubahan ini merupakan bentuk kecerdasan baru konsumen dalam mengelola pengeluaran. Ia menegaskan bahwa “frugal consumer tidak berhenti merawat diri, tetapi mereka mengalihkan fokus dari kosmetik ke kesehatan tubuh secara menyeluruh. Wellness dianggap memberi dampak nyata dan berjangka panjang, bukan efek instan. Mereka berniat merawat akar masalah, bukan sekadar menutup permukaan.”

Dalam konteks dormant economy, konsumen memperketat prioritas. Mereka hanya bersedia membayar untuk hal-hal yang benar-benar dirasakan manfaatnya dalam jangka panjang. Keseimbangan fisik dan mental dinilai lebih memberikan return daripada membeli skincare premium yang efeknya tidak selalu signifikan atau cepat terlihat.

Fenomena ini juga didorong oleh gaya hidup urban yang semakin menekan mental dan fisik. Konsumen mencari ketenangan, energi, kualitas tidur, dan stabilitas emosional atau sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh produk skincare, tetapi dapat diperoleh melalui pendekatan wellness. Dengan kata lain, wellness bukan lagi kategori produk, ia telah menjadi cara hidup.

Dalam pembiayaan otomotif, misalnya,  mengalami perubahan signifikan. Survei Inventure–Alvara 2025 terhadap 247 responden menunjukkan bahwa 53% konsumen tidak setuju menggunakan kredit kendaraan dengan tenor panjang, meskipun cicilannya lebih ringan. Hanya 47% yang masih bersedia mengambil tenor panjang.

Temuan ini mengindikasikan perubahan orientasi konsumen dalam mengambil keputusan pembiayaan. Mereka kini memprioritaskan keamanan finansial jangka panjang dibandingkan kenyamanan cicilan bulanan yang lebih rendah.

Dalam kondisi dormant economy, ketika pendapatan stagnan dan harga kebutuhan meningkat, komitmen kredit jangka panjang dipandang sebagai beban risiko. Tenor panjang dianggap memperbesar total biaya bunga, memperpanjang ketidakpastian, serta mengurangi kemampuan konsumen mengatur ulang keuangan ketika kondisi memburuk. Sebaliknya, tenor pendek memberi rasa aman karena durasi komitmennya lebih terbatas dan lebih mudah dikelola.

Hasannudin Ali: preferensi tenor pendek sebagai refleksi meningkatnya kehati-hatian publik/foto: doc. Inventure

Menurut Yuswohady, Managing Partner Inventure, dalam acara Media Briefing, pada 9/12, di Jakarta, perubahan ini sepenuhnya sejalan dengan cara berpikir frugal yang kini mendominasi perilaku konsumen. Ia menegaskan bahwa “frugal consumer sangat sensitif terhadap risiko jangka panjang. Mereka tidak ingin terjebak komitmen panjang yang mengurangi fleksibilitas finansial. Tenor pendek dipilih bukan karena cicilannya lebih mahal, tetapi karena memberi kontrol dan ruang manuver saat ekonomi tidak pasti.”

Sejalan dengan itu, Hasannudin Ali, pada kesempatan Media Briefing Business Outlook 2026, The Birth of Dormant Economy, The Rise of Frugal Consumer, pada 9/12, melihat preferensi tenor pendek sebagai refleksi meningkatnya kehati-hatian publik. Ia menjelaskan bahwa “konsumen kini menilai pembiayaan bukan hanya dari besar cicilan, tetapi dari total cost dan dampaknya terhadap stabilitas keuangan keluarga. Mereka lebih memilih menyelesaikan kewajiban lebih cepat untuk meminimalkan risiko ketika ekonomi masih penuh tekanan.”

Bagi industri otomotif dan lembaga pembiayaan, perubahan ini harus dibaca sebagai sinyal penting bahwa model kredit berbasis tenor panjang tidak lagi seefektif sebelumnya.  Konsumen kini lebih menimbang total cost of ownership, risiko bunga jangka panjang, dan implikasinya terhadap stabilitas finansial personal. Ke depan, pasar membutuhkan produk kredit yang lebih adaptif, lebih transparan, dan lebih selaras dengan ritme keuangan masyarakat di era frugality.[] Siti Ruslina/ilustrasi utma: bankluna.com