Konsumen Lakukan Reengineering  Terhadap Strategi Keuangan

Optimisme konsumen saat ini menunjukkan dua lapisan yaitu optimisme makro yang menguat, dan optimisme mikro yang masih tertahan oleh realitas ekonomi rumah tangga. Selama kesenjangan ini masih terjadi, perilaku frugal spending akan tetap mendominasi lanskap konsumsi Indonesia.

Perlambatan ekonomi yang berlarut-larut mulai menunjukkan dampak nyata pada perilaku finansial masyarakat. Survei Inventure–Alvara 2025 terhadap 600 responden dengan profile responden 50 pria dan 50 persen wanita yang mayoritas berasal dari milenial yang umumnya karyawan swasta/BUMN dan merupakan kelompok calon menengah dan menengah. Survei dilakukan di beberapa kota besar di Indonesia, yaitu: Jabodetabek, Semarang, Surabaya, Bandung, Balikpapan, Medan dan Makassar.

Hasilnya menunjukkan bahwa nasabah melakukan reposisi besar-besaran terhadap cara mereka menggunakan produk perbankan. Dalam dormant economy, masyarakat tidak hanya berhemat, mereka melakukan re-engineering total terhadap strategi keuangannya.

Perubahan ini tidak bersifat fragmentaris. Ia membentuk pola lengkap dan sistematis: nasabah mengurangi kredit, memindahkan investasi ke aset aman, dan memperpanjang horizon keuangan melalui produk jangka panjang. Bagi industri perbankan, ini bukan hanya perubahan preferensi, tetapi pergeseran fundamental dalam struktur permintaan finansial yang akan menentukan arah bisnis ke depan.

Data menunjukkan bahwa produk kredit mengalami penurunan paling signifikan. Transaksi kartu kredit, pinjaman pribadi, dan kredit kendaraan dipangkas oleh mayoritas nasabah. Ini adalah sinyal langsung bahwa masyarakat sedang menghindari komitmen finansial baru. Kredit, yang sebelumnya menjadi pendorong utama pertumbuhan bank, kini berubah menjadi simbol risiko.

Sebaliknya, tabungan berjangka dan deposito justru menunjukkan kenaikan transaksi. Nasabah mengalihkan fokus ke penguatan likuiditas dan cadangan finansial. Ini mengonfirmasi bahwa dalam fase dormant economy, tabungan bukan lagi sekadar produk tetapi mekanisme survival.

Yuswohady: Frugal consumer sangat sensitif terhadap komitmen jangka panjang/foto: doc. Inventure

Menurut Yuswohady, Managing Partner Inventure, pola ini adalah refleksi langsung dari logika frugal. Ia menegaskan, “Frugal consumer sangat sensitif terhadap komitmen jangka panjang. Mereka meminimalkan kredit karena tidak ingin kehilangan fleksibilitas. Tabungan dan deposito menjadi ‘benteng pertama’ untuk menjaga stabilitas arus kas di tengah ekonomi yang tidak pasti.”

Temuan kedua lebih mencolok lagi. Sebanyak 72 persen nasabah mengalihkan investasinya dari instrumen berisiko tinggi ke instrumen aman seperti deposito, emas, dan obligasi. Ini bukan sekadar preferensi; ini adalah flight to safety. Dalam konteks dormant economy dimana pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan yang cukup intens, nasabah memilih stabilitas daripada spekulasi.

Risk aversion ini memperlihatkan bahwa masyarakat tidak ingin volatilitas menggerus nilai kekayaan mereka. Keputusan ini memperkuat karakter frugal consumer dimana mereka rela melepaskan peluang keuntungan tinggi demi memastikan uang mereka tidak hilang di tengah turbulensi ekonomi.

Menurut Hasannudin Ali, CEO Alvara Research Center, keputusan ini sangat rasional dalam konteks saat ini. Ia menjelaskan, “nasabah kini menilai keamanan aset lebih penting daripada potensi imbal hasil tinggi. Flight to safety adalah bukti bahwa masyarakat memilih stabilitas di tengah dormant economy. Mereka mengutamakan perlindungan nilai bukan spekulasi.”

Yang paling menarik, 56 persen responden kini mengutamakan produk keuangan jangka panjang seperti asuransi pendidikan, asuransi jiwa, dan dana pensiun. Pergeseran ini menandakan bahwa nasabah tidak hanya bertahan untuk hari ini melainkan mereka sedang membangun perlindungan struktural untuk masa depan.

Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, produk jangka panjang dianggap memberikan jawaban paling rasional seperti stabilitas, kesinambungan, dan perlindungan. Masyarakat sedang membangun “sistem pertahanan keuangan” yang tidak hanya berbasis mitigasi risiko jangka pendek, tetapi juga kesiapan menghadapi skenario jangka panjang.

Menurut Yuswohady, tren ini menandai babak baru dalam manajemen keuangan rumah tangga. Ia menambahkan,“konsumen kini sadar bahwa bertahan tidak cukup, mereka harus membangun benteng jangka panjang. Produk seperti asuransi dan dana pensiun menjadi instrumen strategis karena memberi rasa aman yang tidak ditawarkan produk jangka pendek.”

Sementara di tengah tekanan dormant economy dan melemahnya daya beli, muncul dinamika penting yang patut dicermati yaitu optimisme konsumen terhadap kebijakan pemerintah dan prospek ekonomi Indonesia menunjukkan penguatan signifikan. Sinyal ini menjadi indikator awal bahwa pemulihan kepercayaan publik mulai terbentuk meski belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku belanja.

Survei Inventure–Alvara 2025 mencatat bahwa 87% responden menyatakan kebijakan pemerintah khususnya Menteri Keuangan meningkatkan rasa percaya diri mereka terhadap kondisi finansial ke depan. 

Menurut Yuswohhady, dalam acara Media Briefing, pada 9/12 mengatakan, di Jakarta sentimen positif ini mencerminkan perubahan psikologis yang penting di tengah tekanan ekonomi berkepanjangan. Ia menjelaskan bahwa “kepercayaan publik terhadap arah kebijakan pemerintah adalah modal psikologis yang sangat kuat. Optimisme ini muncul lebih cepat dibanding pemulihan daya beli, sehingga konsumen merasa lebih percaya diri meski masih menahan belanja. Mereka tetap frugal, tetapi kini lebih yakin bahwa kondisi in akan bergerak ke arah yang lebih baik.”

Optimisme tersebut diperkuat oleh ekspektasi konsumen terhadap pertumbuhan nasional. Sebanyak 72% responden yakin ekonomi Indonesia akan meningkat dalam 12 bulan ke depan, sedangkan hanya 2% yang memprediksi penurunan. Data ini menandakan bahwa konsumen melihat peluang pemulihan, meski tekanan inflasi dan stagnasi pendapatan masih membatasi ruang konsumsi sehari-hari

Menanggapi temuan tersebut, Hasannudin Ali, CEO Alvara Research Center, dalam acara Media Briefing, pada 9/12,  menegaskan bahwa konsumen kini berada pada fase transisi antara kehati-hatian dan harapan. Ia menyebut bahwa optimisme makro sudah bergerak, tetapi optimisme mikro yang terkait langsung dengan kondisi dompet rumah tangga masih tertahan. Konsumen percaya ekonomi akan pulih, tetapi mereka tetap berperilaku frugal sampai perbaikan benar-benar terasa pada pendapatan dan harga kebutuhan.”

Fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pelaku industri. Kepercayaan terhadap arah kebijakan membuka ruang bagi pemulihan konsumsi, namun realisasinya sangat bergantung pada kecepatan pemerintah mengembalikan stabilitas harga, memperluas akses pembiayaan, serta memulihkan ekspektasi pendapatan masyarakat.

Dengan kata lain, struktur optimisme konsumen saat ini menunjukkan dua lapisan yaitu optimisme makro yang menguat, dan optimisme mikro yang masih tertahan oleh realitas ekonomi rumah tangga. Selama kesenjangan ini masih terjadi, perilaku frugal spending akan tetap mendominasi lanskap konsumsi Indonesia.[] Siti Ruslina