Narno: Jualan Sate Tembus Omzet Rp 900 Juta Per Bulan
Ajakan Perry Tristianto berdagang di Floating Market menjadi milestsone Narno merubah nasib. Sebelumnya omzet penjualan sate di pinggir jalan hanya Rp 5 -10 juta per bulan. Tapi setelah berdagang di tempat wisata, omzetnya melesat capai Rp 300-an juta per bulan. Bagaimana kisahnya?
Sebelum berdagang sate di Floating Market, Wiyatno atau yang akrab disapa Narno ini berdagang sate di di pinggir jalan dekat Gereja Karmel, Lembang, Bandung, Jawa Barat. Gereja itu kerap dikunjung Perry Tristianto. Pengusaha yang dikenal sebagai Raja Factory Outlet (FO) ini sering beribadah di geraja tersebut setiap hari Minggu. Biasanya usai ibadah, Perry acap mampir di tenda sate Narno. Sambil makan sate, pemilik sejumlah tempat wisata di Lembang dan sekitarnya ini berbincang-bincang dengan Narno.

Dalam suatu kesempatan, Perry menawarkan Narno berdagang di Floating Market. Saat itu Floating Market baru dibuka, sekitar tahun 2012. Tawaran tersebut diterima dengan senang hati. Ternyata pendapatan Narno berdagang di tempat wisata itu jauh lebih besar dibandingkan berdagang di pinggir jalan. “Ketika saya masih berdagang di pinggir jalan, omzet hanya sekitar Rp 10 juta per bulan. Tapi setelah berdagang di Floating Market omzet langsung meningkat drastis,” kata Narno kepada pelakubisnis.com , pertengahan Agustus lalu.
Menurut bapak empat anak ini, ada beberapa jenis sate yang ditawarkan. Dari mulai sate ayam, sate kambing, sate lemak sapi, sate kelinci sampai satu daging sapi. Perry menyarankan kalau jualan sate, potongan dagingnya agak besar supaya konsumen puas menyantapnya. Kalau konsumen puas, dia akan kembali lagi, sehingga pelanggan semakin bertambah dan penghasilan pun meningkat.
“Alhamdulillah, omzet saya meningkat. Padahal sebelumnya ketika berdagang di pinggir jalan, potongan dagingnya kecil-kecil dengan harga perporsi Rp 20.000. Tapi dengan mengikuti saran Pak Perry dengan potongan daging lebih besar, harga jual juga dinaikkan menjadi Rp 35.000 per porsi dan konsumen justru makin bertambah,”ungkap pria kelahiran 8 September 1981 ini.
Satu tahun pertama jualan di Floating Market, omzet merangkak naik. Baru pada tahun kedua dan ketiga, tambah Narno, omzet meningkat pesat. Bahkan Narno mengaku omzetnya sempat tembus diangka Rp 900 juta per bulan bila libur hari raya lebaran dan natal tahun baru. Angka sebesar itu disumbang dari 10 gerai Narno di beberapa lokasi pariwisata dan mall yakni di 2 gerobak di Floating Market, 1 di parkiran dan 1 di dalam The Great Asia, 1 di tempat rekreasi Tahu Susu Lembang, 1 di rest area 88 milik Perry, 1 di The Ranch Ciater, 1 Farm House, Arcamanik dan ada juga jual putus seperti ke D’Kastelo, Paris Van Java dan Saparua.
Narno menambahkan, sebelum pandemi kalau sedang sepi omzet bisa mencapai Rp300 juta per bulan. Sedangkan kalau ramai bisa lebih dari itu. Meski kini sudah kembali norml, tapi omzet belum kembali pulih seperti sebelum pandemi. Saat ini omzet Rp 100-an juta untuk 12 gerai masih bisa terkejar.
Lebih lanjut ditambahkan, untuk di D’Kastela dan Paris Van Jawa jual sate putus. Tergantung berapa banyak pesanan sate setiap harinya berfluktuatif, bisa banyak bisa sedikit. Bahkan bisa sampai 700 porsi (10 tusuk-red) perharinya.
Boleh jadi Narno sangat bersyukur bertemu seorang pengusaha seperti Perry Tristianto yang hobbinya belusukan ke pinggir-pinggir jalan dan banyak berinteraksi dengan pedagang-pedagang kecil sepertinya. Insting bisnis Raja factory outlet ini tak pernah salah ketika menemukan seorang pedagang yang menurutnya memiliki kemampuan menjadi UMKM sukses seperti yang dialami Narno. Kini Narno tak lagi berdagang di pinggir jalan. Ia tak hanya memiliki sepeda motor, bahkan kini bapak dari Rinia, Harsa, Jalu dan Elok ini sudah memiliki mobil bagus keluaran terbaru.[]Siti Ruslina
