Daya Beli Kelas Menengah Anjlok, Ekonomi Terpuruk
Kelompok middle class berkontribusi mencapai 60% dari penerimaan pajak nasional. Kalau kelompok ini mengalami masalah, itu menjadi “alarm” buat siapa pun. Mungkin ada yang tidak baik-baik saja di perekonomian kita.
September lalu Inventure riset dengan melibatkan 450 total responden millenial dan Gen Z. Metode yang dilakukan face to face interview yang dilakukan di Jabodetabek, Surabaya, Medan dan Makassar. Hasilnya, sebanyak 49% kelas menengah merasa mengalami penurunan daya beli, sementara sebesar 51% daya beli mereka tidak mengalami penurunan daya beli.
Demikian disampaikan oleh Yuswohady, Managing Partner Inventure dalam Press Conference Indonesia Industry Outlook 2025 dengan tema Indonesia Market Outlook 2025: Kelas Menengah Hancur, Masihkah Bisnis Mantul?, pada minggu ketiga Oktober lalu.
Sementara bila kita flashback berdasarkan kajian yang dilakukan LPEM FEB-UI bahwa selama 10 tahun terakhir ini, terjadi penurunan middle class Indonesia. Adapun definisi middle class adalah kelompok yang 10% berpotensi menjadi kelompok miskin. Dengan kata lain, middle class shifting ke aspiring middle class yang rentang menjadi miskin. Klasifikasi baku ini juga dipakai oleh world bank.
Menurut Jahen F. Rezki, Ph.D, LPEM FEB-UI, dari tahun 2014 – 2024 jumlah kelompok menengah mengalami peningkatan. Awalnya sekitar 40-an juta naik menjadi 52 juta. Tapi sejak tahun 2019 jumlah kelas menengah turun 8,5 juta orang menjadi ke aspiring middle class. Kenapa mereka turun? Perekonomian kita kurang inklusif. Dalam laporan LPEM, ada pertumbuhan yang bukan di level konsumsi masyarakat selama satu tahun terakhir.
Jahen menambahkan, kelompok menengah sejak 5 tahun terakhir ini mengalami penurunan daya beli. Daya beli mereka tumbuhnya di bawah 1%, sedangkan kelompok miskin masih terjaga pertumbuhannya karena mereka terbantu dengan social protection (bansos dan lain-lain). Memang secara jumlah kelompok kelas menangah mengalami penurunan yang signifikan, sehingga muncul pertanyaan apa implikasinya?

Dikatakan ada sebagian besar masyarakat yang konsumsinya turun. Padahal jumlah middle class ditambah dengan aspiring middle class berkontribusi 80% konsumsi nasional. “Kenapa ini penting? Sekitar 60% perekonomian kita ditopang oleh komsumsi. Kalau kelompok menengah mengalami perlambatan konsumsi, maka akan menjadi masalah perekonomian kita. Ini satu hal yang krusial,” kata Jahen dalam diskusi Indonesia Industry Outlook 2025, dengan tajuk “Daya Beli Kelas Menengah Kian Kurus!: “Apa Industri & Produk yang Tergerus?”, pada 22 Oktober lalu.
Kelompok kelas memengah, tambah Jahen, berkontribusi terhadap pendapatan pajak kita selain corporate. Kelompok middle class yang mungkin kontribusinya mencapai 60% pada penerimaan pajak nasional. Kalau kelompok ini mengalami masalah, itu menjadi “alarm” buat siapa pun. Mungkin ada yang tidak baik-baik saja di perekonomian kita.
Kenapa kelompok ini penting? Kelompok middle class adalah kelompok professional. Bila perekonomian kelas menengah semakin tumbuh, maka kebutuhan kelas menengah juga akan meningkat. Ini tipikal dari kelompok kelas menengah. Mereka tidak layak mendapat bansos. Hal ini sangat penting bagi kita untuk mendiskusikan apa yang harus dipikirkan agar kelompok kelas menengah tetap bisa memenuhi kebutuhannya.
Melihat data 10 tahun terakhir ternyata proporsi buat makanan mengalami kenaikan. Kalau dikontrol denga kenaikan harga pangan, kelompok kelas menengah harus makan tabungan buat memenuhi kebutuhan dasar. “Ini menarik. Saya rasa studi yang dilakukan teman-teman inventure dan Bisnis Indonesia, terkonfirmasi apa yang ditemukan di lapangan. Kelas menengah mengalami penurunan proporsi dan quality untuk konsumsi,” ujar Jahen seraya menambahkan, penurunan daya beli kelas menengah bukan muncul karena sejak pandemic Covid-19 saja. Benar pandemic itu memperburuk, tapi penurunan kelas menengah itu sudah mulai muncul sebelum tahun 2020.
Sementara Yongky Susilo, Consumer and Retail Strategist Executive Director Nielsen Company Indonesia, mengacu definisi kelas menengah dari World Bank, yaitu spending US$ 2 – 20. Tahun 1999 itu populasi kelas menengah Indonesia sebesar 25% dan 75% kelas bawah. Dari data ritel, tahun 2012 – 2020 pertumbuhan ekonomi kita bisa di atas 6%, dengan average growth 14%.
Orang bisa belanja banyak. Ada apa 10 tahun kemarin itu? Pertama karena harga komoditi naik, seperti batubara dan kelapa sawit. Tapi itu menurut Yongky masuk ke kantongnya bos-bos. Nah, dari mana orang konsumsi? Dari investasi. Investor dari luar negeri berbondong-bondong bikin pabrik di sini, teman-teman lokal bikin pabrik. Gaji jadi naik, informal jadi naik. “Saat itu gampang sekali cari uang karena informal. Nielsen tidak pernah mensurvei gaji, pendapatan karena gaji hanya Rp 10 juta, tapi spending Rp 20 juta, berarti ada Rp 10 juta dari informal. “Zaman itu yang bisa belanja mencapai 14%, tapi kita lihat semuanya step by step punya kartu kredit,” tandas Yongky.
Kemudian mulai masuk era transformasi, pemerintah fokus pada infrastruktur. Waktu itu, lanjut Yongky, Indonesia didesak oleh dunia harus fokus infrastruktur. “Waktu itu listrik kita masih byer pet, nggak punya air, pelabuhan nggak ada, jalan tol sedikit. Jadi memang membangun infrastuktur. Tapi saya bingung selama 10 tahun terakhir ini ekonomi kita flat 5%, kadang-kadang di bawah,” tandas Yongky.

Menurutnya, Gross Domestic Product (GDP) kita habis krisis tahun 1999 dari US$ 500 naik menjadi US$ 4000. Orang banyak belanja. Tapi dari US$ 4000, cuma naik ke US$ 5000 selama sepuluh tahun kemudian. Ini warning dari awal, kita satu kaki sudah masuk ke middle income trap. Sekarang kesempatan terbesar adalah 10 tahun ke depan ini.
Kalau dilihat dari data Bank Indonesia dan Bank Mandiri bahwa kemampuan beli kita anjloknya luar biasa. Ketahanan kita karena ada bansos (bantuan sosial). “Nah, kalau kelas menengah itu flat dan menurun sedikit. Buat saya ini tidak bagus. Kelas menengah harus naik , sehingga dia bisa belanja macam-macam,” ujar Yongky.
Yongky menambahkan, penurunan kelas menengah itu bukan hanya adanya Covid. Covid hanya salah satu penyebab. Memang setelah Covid emerging market termasuk Indonesia, Philipina dan beberapa negara lainya itu masuk casion, yang miskin tambah miskin dan yang kaya tambah kaya. GDP kita punya peluang naik lagi. “Sekarang GDP US$ 5000, tapi 20 atau 30 tahun ke depan diprediksi menjadi US$ 10.000. Bahkan kita punya peluang dengan hilirisasi, tapi dengan syarat hilirisasi ini uangnya kemana? Ini ke kantong bos nikel, bisakah ke rakyat?” lanjut Yongky.
“Apa yang bikin masalah terhadap bisnis di Indonesia? Terlalu banyak omong pajak. Pajak mau naik. Pertahankan saja yang kemarin. Nggak boleh dinaiki, karena makin ambruk kedepan. Kemudian perizinan usaha makin panjang dan makin mahal. Sekarang high cost economy, uang-uang yang tidak ada menjadi ada,” tambah Yongky.
Nah bicara soal daya beli di retail, tambah yongky, sejak dua tahun terakhir ini parah sekali. Lebaran tahun lalu paling parah, lebaran tahun ini mendingan, tapi tidak sembuh-sembuh. Sudah dapat pemimpin masih nunggu lagi, siapa kabinetnya. Terbentuk kabinet, masih nunggu lagi, benarkan kerja. Jadi nggak kelar-kelar. Perlu gebrakan dari pemerintah bikin rancangan program yang langsung to the point. Kita tidak punya banyak waktu lagi!
“Saya sebenarnya mengharap ada second costumer booming. Saya bagi kelas menengah menjadi tiga, yaitu: bawah, menengah dan atas. Yang besar kemarin yang bawah. Saya berharap ke depan yang atas daya belinya makin tinggi. Dari US$ 5000 menjadi US$ 10.000, sehingga jenis barang yang mau dijual pun lebih berkualitas atau premium. Jadi ada peluang untuk kita recovery, tapi harus cepat,” urai Yongky
Sedangkan di sektor infrastruktur tidak dipengaruhi kelas menengah, tapi dipengaruhi oleh suku bunga yang sekarang kecendrungan negara-negara di dunia mulai menurunkan suku bunga.” Harapannya semakin membuat sektor kontruksi tumbuh. Sekarang kan mengalami penurunan. Oke di satu sisi kelas menengah menunda sektor kontruksi itu, tapi harapannya bisa mencover itu lagi,” tambah Jahen.
Sedangkan sektor kosmetik akan mengalami banyak perubahan . Orang sudah mulai care mengenai isu kosmetik, terjadi shifting konsumennya. Saya melihat kita semakin aware dengan itu. Tadi ada pos yang digunakan untuk kosmetik tetap tumbuh.
Bagaimana konsumen merespon produk-produk gadget dan tv?. Mungkin dulu orang nggak akan terlalu banyak membeli peralatan elektronik. “Tapi sekarang kan kalau mau nonton tinggal di handphone. Ada masalah social pressure bagaimana memiliki gadget yang terbaru. Harapannya bisa line dengan keinginan Pak Yongky tadi bahwa konsumen booming akan tumbuh. Saya cukup optimis melihat adanya penurunan suku bunga, mudahan-mudahan customer behavior tidak akan berubah. Suku bungan semakin rendah, orang akan dituntut atau diberi insentif untuk ekspansi dalam konsumsi,” lanjut Jahen.
Jahen menambahkan, sejauh ini sekitar 60% uang dihabis untuk konsumsi makanan. Basic need, tidak bisa ditawar. Sisanya dipakai untuk pendidikan dan kesehatan yang nilainya semakin mahal. Sementara kelas menengah tidak mendapat support untuk itu, sehingga tabungannya semakin kecil lagi unuk kebutuhan yang lain. Kita ingin kelompok kelas menengah tabungannya tidak tergerus, bahkan semakin naik!
Sementara menurut Yongky, program Presiden Prabowo yang Pak Hashim jelaskan justru perumahan menjadi salah satu fokus mereka. Mereka mau bangun perumahan sebanyak 30 juta ramah dalam dua periode. Berarti ada peluang untuk masuk ke sana. Kalau masuk di sektor ini akan bisa tumbuh juga. Karena di perumahan atau kontruksi itu turunan bisnis ada 100 lebih yang diserap.
Sedangkan sektor kosmetik , tambah Yongky, tidak ada matinya. Kita semua lagi susah, tapi kosmetik lagi growth. Sejak 10 tahun terakhir beauty menjadi bintang. Jadi orang Indonesia dibilang bokek, tapi kecantikan jalan terus. Mungkin yang tadi di survei yang kelas atas yang mengurangi.
“Barang mewah perhiasa n yes, tapi perhiasan emas nggak. Handphonen masih bagus. Apaalagi handphonen kelas menengah ke atas. Orang mengikuti gaya terus. TV masih goyang. Sekali lagi elektronik, beauty masih bagus..Entertainment beberapa masih bagus, nggak semuanya rontok. Hanya beberapa sektor yang masih oke,” jelas Yongky
Akan kelas menengah bisa tumbuh dengan cepat? Menurut Jahen, dibutuhkan upaya untuk meningkatkan total productivity yang efisen dari industri. Tidak bisa kita berjalan dengan teknologi yang lama. Mungkin butuh transfer teknlogi , transfer knowledge yang lebih cepat agar nanti produktivitas dari sektor industri akan semakin tinggi dan semakin banyak orang yang bisa bekerja serta semakin tinggi gaji yang diperoleh.
Sejak 5 tahun terakhir, itu pekerjaan yang muncul di service low value added. Mungkin upahnya tidak terlalu besar, kualitas produknya masih rendah. Pemerintah perlu memastikan agar sektor-sektor yang punya value added tinggi yang mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak, sehingga nanti isu kelas menengah ini bisa tumbuh cukup baik.[]Siti Ruslina/ Yuniman Taqwa/foto ilustrasi utama?Canva
