Election Economy Tahun 2024 Dorong Ekonomi Tumbuh

Election economy  di momentum Pemilihan Presiden (Pilpres), Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Kepala Daerah di tahun 2024 boleh jadi akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertanyaannya sektor bisnis mana saja yang  mampu meningkatkan pertumbuhan di tahun Pemilu 2024?

Mulai 28 November 2023 sampai 10 Februari 2024 merupakan ajang kampanye Pilpres. Bahkan sampai November 2024 kesemarakan masih tetap berlanjut. Pada saat itu akan berlangsung pemiihan kepala daerah. Melihat rentang waktu tersebut, bukan mustahil Pemilu akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Mengacu data yang ada di tahun 2014 dan 2019, menurut Managing Partner Inventure Indonesia, Yuswohady, maka bisa diprediksi sektor-sektor mana yang perlu diambil peluangnya. Pertama food & beverage (F and B). Sektor ini pertumbuhannya mencapai 0,5 persen. Di tahun 2014, pertumbuhannya quarter to quarter cukup besar dibandingkan quarter sebelumnya.. Memang angkanya turun, setelah masa kampanye usai. “Polanya terlihat, di masa kampanye geliat ekonomi itu kelihatan,” kata Yuswohady seraya menambahkan sektor tekstil dan pakaian jadi pertumbuhannya mencapai 0,6 persen.

Kedua, industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan media, pertumbuhannya tidak terlalu besar, hanya sekitar 0,05 persen. Namun demikian transportasi pertumbuhannya mencapai 0,13 persen. Transportasi dan pergudangan meningkat karena kampanye selalu melibatkan mobilisasi massa, sehingga transportasi tumbuh di massa-massa kampanye.

Ketiga, informasi dan telekomunikasi, kata Yuswohady, tentu saja tinggi karena penggunaan media sosial (medsos) yang meningkat pesat. Di mana paket penggunaan data besar sekali. Sektor ini pertumbuhannya  sekitar 0,12 – 019 persen di tahun 2019. Hal ini juga akan terjadi di tahun 2024, karena semua orang akan mengikuti cerita-cerita atau isu-isu yang terkait pada Pemilu.

Menurut Yuswohady, customer spending (pengeluaran konsumsi-red)  rumahtangga di masa-masa kampanye terkonfirmasi bahwa konsumsi rumahtangga meningkat pada masa kampanye 2014 dan 2019. Kegiatan-kegiatan bansos (bantuan sosial-red) yang dilakukan pemerintah dan  partai politik meningkat. Bahkan, money politik pun meningkat, walau tidak tercatat di BPS. Hal ini menjadi kekuatan yang besar untuk menggerakkan ekonomi di masa-masa kampanye.

Gelontoran dana dari partai politik besar sekali sampai di masyarakat tingkat bawah/Foto: IG Consumeri.id

Kemudian lembaga non-profit yang melayani rumah tangga, yaitu partai politik. Gelontoran dana dari partai politik besar sekali sampai di masyarakat di tingkat bawah.  Ini menjadi kekuatan konsumsi yang luar biasa untuk menggerakkan ekonomi. Tahun 2019 peningkatannya mencapai 106 persen. Fenomena ini akan terulang di tahun 2024. “Jadi, election economy menjadi peluang yang besar untuk mendorong pertumbuhan.

Keempat media atau advertising spending juga meningkat. Peningkatannya di tahun 2014 dan 2019 luar biasa besar. Bila di tahun 2014 baru sekitar Rp 350 milyar, tapi di tahun 2019 mencapai Rp 2 triliun. “Ini adalah masa-masa yang panen bagi media dan advertising,” kata Yuswohady.

Ada beberapa bisnis yang tumbuh pada Pemilu 2024. Menurut  Bagus Zidni Ilman Nafi, (Business Analyst  Inventure Indonesia, yaitu media dan telekomunikasi. Selain kebutuhan kita ingin mengkonsumsi informasi Pemilu yang naik signifikan menjelang Pemilu dan sepanjang masa kampanye. “Kita tahu sejak tahun 2018 ada budaya pendengung atau disebut buzzer. Tahun 2018 sampai menjelang Pemilu tahun 2019, buzzer banyak menggunakan data yang jumlahnya nggak pernah kita bayangkan,” kata Bagus dalam webinar yang diselenggarakan Inventure pada November 2023 lalu seraya menambahkan budaya buzzer ini, banyak menggunakan data, sehingga media komunikasi adalah bisnis yang akan raising di tahun Pemilu.

Sementara Head of Research DBS Group Research Maynard Arif mengatakan,  dampak dari Pemilu 2024 tidak hanya membuat perekonomian Indonesia tumbuh positif, tetapi sektor telekomunikasi juga akan ikut meroket. “Sektor telko ini akan mendapatkan keuntungan yang besar dari Pemilu 2024 nanti,” tuturnya di Jakarta, pada 2/10, sebagaimana dikutip dari bisnis.com yang diposting pada 2/10 lalu.

Dia menjelaskan dari semua layanan operator di sektor telekomunikasi, layanan data dinilai bakal banyak digunakan oleh masyarakat selama proses Pemilu 2024 jika dibandingkan dengan layanan telekomunikasi maupun pesan singkat. Pasalnya, masyarakat bakal lebih banyak memakai data internet jika dibandingkan dengan layanan lain di Indonesia. “Penggunaan data pada Pemilu 2024 nanti bakal terus meningkat,” katanya.

Tak hanya itu, jasa layanan survei jelang Pemilu 2024 kian marak. Ada tiga hal yang diusung partai untuk dinilai tingkat popularitas, tingkat kesukaan dan tingkat keterpilihan. Nah, elektabilitas ini mengukurnya melalui lembaga survei. Itu sebabnya, jelang Pemilu sampai hari H pemungutan suara, bisnis lembaga survei banyak meraup cuan. Boleh jadi lembaga-lembaga survei banyak mendapat order. Sebab, survei merupakan instrumen politik yang memuluskan langkah para politisi untuk menjadi sesuatu (presiden, wakil presiden, anggota legislatif, dan kepala daerah).

Surokim Abdussalam Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo mengatakan, kredibilitas lembaga survei mengalami ujian terberat menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Menurutnya, sejumlah lembaga survei sekarang juga berperan sebagai konsultan politik. Sehingga, ada kecenderungan berupaya menggiring opini publik untuk pasangan capres-cawapres tertentu.

“Ujian paling berat lembaga survei sepanjang Pemilu pasca reformasi menurut saya ya kali ini, Pemilu 2024. Lembaga survei sekarang terjebak dalam perangkap sebagai konsultan politik. Padahal, keduanya memiliki porsi tugas yang berbeda,” ujarnya kepada wartawan, pada 11/12, sebagaimana dikutip dari suarasurabaya.net.

Selain itu, bisnis-bisnis yang di  tahun 2024 – sehubungan dengan election economy adalah ada makanan dan minuman, transportasi media advertising serta banyaknya bansos dan money politik yang juga menjadi juga pendorong pertumbuhan ekonomi di tahun 2024. [] Yuniman Taqwa/Foto: IG Consumeri.id