Sinergi Mengatasi Opportunity Loss Wisata di Bali
Potensi kerugian sektor pariwisata di Bali mencapai US$200 juta atau sekitar Rp2,7 triliun. Bila tidak diambil langkah antisipatif, bukan tidak mungkin opportunity loss akan jauh lebih besar. Bagaimana mengtatasi fenomena demikian di pulau dewata ini?
Wabah virus corona juga telah mengganggu aktivitas bisnis di China, sehingga memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap perekonomian global. Fenomena ini tak urung membuat industri pariwisata Indonesia lesu. Sektor pariwisata kehilangan potensi pendapatan hingga US$ 2,8 miliar atau setara Rp 38,2 triliun.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama mengatakan jumlah tersebut berasal dari 2 juta turis China yang datang ke Indonesia. Rata-rata mereka membelanjakan uangnya di Indonesia hingga US$ 1.400 atau Rp 19 juta. “Hitungannya 2 juta wisatawan per visit mereka spend US$ 1.400,” kata Wishnutama di Kantor Kementerian PUPR, Jakarta Selatan, pada 7/2.

Ia memperkirakan akan terjadi penurunan kunjungan tahun ini karena calon wisatawan khawatir bepergian. Ini terlihat dari masa reservasi (booking period). Biasanya turis asing memesan tiket dan akomodasi lainnya pada Pebruari, Maret dan April. Tapi memasuki Pebruari, belum juga ditemukan obat virus corona. Hal ini bisa jadi pemicu orang enggan melakukan pemesanan liburan ke Indonesia.
Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani menyebut virus tersebut memberikan ‘pukulan’ terhadap perekonomian dalam negeri, terutama sisi pariwisata. Di Bali, misalnya, sekarang sudah turun kunjungan pariwisata. Para pengusaha hotel di sana mengaku mengalami penurunan jumlah kunjungan turis, sebagaimana dikutip cnnindonesia.com.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebut virus corona benar-benar berdampak pada jumlah wisatawan termasuk ke Pulau Dewata Bali. Kondisi ini salah satunya diakibatkan pembatasan penerbangan dari dan menuju China.
“Virus Corona mulai berdampak pada pariwisata kita. Sekitar 40.000 pemesanan hotel dan 78.000 pax perjalanan dibatalkan di Bali. Sekitar 20.000 potensi wisatawan dari China membatalkan kunjungan,” ujar Hariyadi pada pidato di Munas XVIII Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), pada 10/2.
Potensi kerugian akibat batalnya kedatangan ini disebut Hariyadi mencapai US$200 juta atau sekitar Rp2,7 triliun. Asumsi ini dihitung berdasarkan rata-rata pengeluaran harian wisatawan asal China di Bali. “Dalam waktu 60 hari saja, potensi kerugian bisa mencapai Rp2,7 triliun. Dalam sehari setidaknya terdapat 3.000 kedatangan wisatawan asal China dengan pengeluaran rata-rata US$1.100,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari bisnis.com.
Data Dinas Pariwisata Provinsi Bali, jumlah turis Cina di Bali saat ini berada di urutan kedua setelah Australia. Sepanjang Januari-November tahun lalu, wisatawan Cina di Bali sebanyak 1,1 juta (19,27 persen) sedangkan turis Negeri Kanguru sekitar 23 ribu lebih banyak (19,64 persen).
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa., banyak pelaku pariwisata mulai terkena dampak pembatalan turis Cina ke Bali, terutama di daerah-daerah yang selama ini menjadi lokasi favorit bagi turis Cina. Umumnya, turis dari Cina menyenangi kegiatan wisata air laut, spa dan belanja. Nusa Penida dan Nusa Lembongan, dua pulau terpisah dari Bali daratan, merupakan wilayah yang makin populer di kalangan mereka, sebagaimana disarikan dari balebengong.id.
Nusa Penida adalah pulau di Kabupaten Klungkung. Tiga tahun terakhir menjadi tujuan favorit turis China. Pesatnya turis di pulau ini membuat warga setempat makin banyak yang terjun di usaha pariwisata, termasuk membangun akomodasi. Namun, sejak merebaknya virus corona, turis di sana pun berkurang.
Untuk mengantisipasi makin dropnya kunjungan wisata, diantaranya ke Bali, Pemerintah meminta maskapai memberikan diskon tiket pesawat untuk mengantisipasi dampak virus corona terhadap pariwisata dalam negeri.
Pemerintah berupaya meningkatkan wisatawan domestik. “Kami akan meningkatkan MICE (Meetings, incentives, conferences and exhibitions) di berbagai macam tempat. Tapi apakah bisa cover atau tidak, sulit diperkirakan karena kami tidak tahu kapan wabah virus corona ini akan usai,” jelas Wishnutama.
Sementara Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, salah satu langkah menangkal dampak negatif virus corona terhadap perekonomian terutama pariwisata adalah mendorong rapat pemerintah di daerah.
Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Maulana Yusran mendukung rencana Kementerian dan Lembaga melakukan rapat di daerah. Karena kebijakan tersebut bisa mendorong perputaran ekonomi. Ia mengingatkan agar pemerintah pusat yang bergerak ke daerah dan bukan sebaliknya. Sehingga, daerah ikut menikmati dampak ekonomi dari pergerakan itu. Selain itu, pemerintah harus bisa memetakan daerah mana saja yang terkena dampak akibat berkurangnya kunjungan wisatawan mancanegara semenjak ada virus corona, sebagaiamana dari tempo.co.
Itu sebabnya, stakeholder pariwisata di Bali akan bersinergi mengatasi penurunan jumlah kunjungan wisatawan sebagai imbas dari penyebaran virus Corona. Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati dalam ‘Seminar Kebijakan Pemerintah Dalam Menghadapi Imbas Virus Corona’ di Graha Tirta Gangga, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, pada 13/2 mengatakan, Bali merupakan salah satu daerah terdampak dari imbas virus corona., sebagaimana dikutip dari rilis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Dampaknya berbeda di setiap daerah. Di Ubud dan Sanur, dampak penurunannya sekitar 3-5 persen dan 9-10 persen. Dampak paling besar terjadi di Kuta. Hal ini menyebabkan lesunya aktivitas pariwisata di sejumlah kawasan sehingga beberapa restoran dan hotel mengambil langkah meliburkan pegawainya,” kata Tjokorda.
Turut hadir dalam seminar tersebut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa dan Ketua Bali Tourism Board/GIPI Bali Ida Bagus Agung Partha Adnyana.
Tjokorda mengatakan, Bali telah menyiapkan strategi meminimalisir angka penurunan wisatawan seperti memaksimalkan pasar wisatawan mancanegara dari negara yang tidak terdampak serta memaksimalkan jumlah kunjungan wisatawan nusantara. Strategi yang telah disiapkan antara lain, meminta kepada pemerintah dan maskapai menambah rute penerbangan alternatif seperti dari Vietnam dan India.
Langkah lain yang dapat ditempuh yakni upaya penurunan harga tiket pesawat penerbangan domestik serta dilaksanakannya berbagai upaya pencegahan masuknya Virus Corona dengan melakukan pemasangan Thermo Scanner dan mensiapsiagakan rujukan ke tiga rumah sakit yakni RS Sanglah, RS Sanjiwani Gianyar dan RS Tabanan.

“Pariwisata Bali telah beberapa kali menghadapi hal serupa dan terbukti dapat mengembalikan kondisi krisis menjadi seperti kondisi semula. Maka, diharapkan ancaman Virus Corona hanya terjadi beberapa saat sehingga laju pariwisata setempat tidak lagi lesu. Kami harapkan pelaku bersabar menghadapi situasi ini,” sebut Tjokorda.
Sementara Ketua Bali Tourism Board (BTB)/Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana mengatakan, telah terjadi 40 ribu pembatalan hotel dengan kerugian mencapai Rp 1 Triliun setiap bulan.
“Yang harus kita lakukan adalah mengisi kekosongan untuk mengisi kesenjangan jangka pendek yang sedang terjadi. Saat ini, kita bisa mengandalkan pasar Singapura dan domestik karena beberapa event pariwisata akan tetap dilaksanakan di Bali,” kata Ida Bagus Agung Partha Adnyana.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho mengimbau para pelaku industri pariwisata tidak panik menghadapi situasi tersebut dengan mengubah tantangan menjadi peluang.
“Perekonomian Bali masih terbilang sehat meski terjadi penurunan angka kunjungan wisman yang cukup signifikan. Banyak agenda MICE yang dibatalkan di Singapura dan Malaysia. Ini dapat dijadikan sebagai peluang dengan mengupayakan agar agenda tersebut dialihkan ke Bali sebagai daerah yang tidak terdampak penyebaran virus,” kata Trisno.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama mengatakan di tengah situasi pariwisata yang sedang terdampak wabah virus Corona, diperlukan strategi komprehensif. Salah satunya menggencarkan penyelenggaraan wisata meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) yang identik dengan wisatawan berkualitas.
Menparekraf Wishnutama juga berkesempatan meresmikan Convention Exhibition Bureau (BaliCEB) sebagai wadah yang mengelola para pelaku usaha MICE (Meeting, incentive, Convention, and Exhibition) di Pulau Dewata menjadi lebih terpadu dan terarah.
Wishnutama mengatakan, pihaknya menerima masukan serta berkoordinasi dengan sejumlah Kementerian/Lembaga terkait untuk menyusun langkah penanggulangan dampak virus Corona ini secara menyeluruh. “Semoga bersama kita dapat terus membangun sinergi bersama dan menjadi mitra dalam memajukan pariwisata Indonesia,” ujar Wishnutama.[] Yuniman Taqwa
