Kolaborasi Connectivity Telco Lahirkan Tren Lokal OTT
video local OTT kini mengalami pertumbuhan signifikan. Pangsa pasar mulai terbentuk dalam waktu relatif singkat. Semenjak pandemi masyarakat lebih menyukai OTT video streaming services dibanding layanan TV kabel.
Selama dua tahun terakhir terjadi disrupsi yang kuat sekali di sektor media. Terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat terhadap media. Semenjak pandemi tumbuh media-media baru untuk menikmati konten, yakni layanan Over The Top (OTT) Streaming Video.
Berdasarkan hasil survei Inventure-Alvara, menunjukkan 74,2% responden lebih menyukai layanan OTT video dibanding layanan TV kabel, dimana tren konten original lokal semakin deepening terbukti dari hasil riset kami yang mengatakan bahwa 81,4% responden tertarik menonton konten original lokal serta 80% responden tertarik berlangganan OTT lokal yang lebih banyak menyediakan konten lokal.
Menurut FM Venusiana R, Director of Costumers service Telkom Indonesia, pandemi Covid-19 telah merubah customers behaviour secara signifikan ke arah digital. “Pandemi ini the best chief transformation officer. Dibandingkan dulu mengajak ke arah digital agak susah. Dengan adanya pandemi ini semuanya berubah secara digital,” kata Venusiana acara Indonesia Industry Outlook 2022, pada 9 Februari lalu.
Di tahun 2021 pengguna internet sudah menjadi peringkat ketiga terbanyak di Asia, sekitar 200 juta pengguna di Indonesia. Ke depan setelah masyarakat berubah perilakunya, maka kebiasaan ini akan bertahan. Survei yang dilakukan Inventure- Alvara, paska pandemi tetap membutuhkan digital.
Venusiana menambahkan antara fixed maupun mobile sama-sama growth untuk pemakaian datanya. Ke depan dunia industri Telco akan menuju kelayanan fixed mobile convergence. Pasalnya, kebutuhan masyarakat akan layanan internet akan semakin meningkat.
Pasar internet atau data di Indonesia, menurut Venusiana, menjadi semakin membesar. Jadi mengkombinasikan antara fixed maupun mobile. Saat konsumen di luar rumah dia melakukan mobile, dia juga tetap penggunakan internet di rumah. Portofolio penggunaan internet tetap akan dilakukan di rumah atau pun di kantor. “Ketika masyarakat berjalan, masyarakat menggunakan mobile, masyarakat akan mengkonsumsi quotanya,” katanya seraya menambakan kebutuhan digital tidak hanya sosial media, tapi untuk mendukung aktivitas. Ke depan kedua portofolio ini akan terintegrasi dalam satu layanan yang disebut fixed-mobile convergence.
Saat ini kalau kita lihat, fixed-mobile convergence sudah menjadi tren bisnis perusahaan telco dunia. Dan di Indonesia tahun mendatang bisnis fixed mobile akan tumbuh sangat signifikan.
Kalau kita lihat bisnis telco saat ini, kata Venusiana, terdiri dari 3 domain bisnis, yaitu: digital connectivity, digital platform dan digital service. Masing-masing industri telco akan memperkuat tiga hal tersebut untuk melayani masyarakat. Kunci utama keberhasilan bisnis telco sekarang adalah kolaborasi yang menjadi strategi tepat dalam memenangkan kompetisi di era saat ini.
Dengan cara demikian, bisa menciptakan value added yang bisa ditawarkan kepada pelanggannya. Perusahaan juga bisa meningkatkan bisnis mereka lebih besar dan lebih cepat dengan memanfaatkan ekosistem kolaborasi dari para partner nya. “Dalam industri telco sudah mulai terlihat dengan berbagai macam layanan OTT kelas dunia.seperti Netflix, termasuk perkembangan layanan games”, katanya.
Sedangkan di bidang digital connectivity, tambah Venusiana, mulai muncul inisiatif mengembangkan connectivity berdasarkan satelit atau dikenal dengan mini satelit. Jadi kita perlu berkolaborasi. Mini satelit merupakan satelit yang menggunakan objek rendah yang memungkinkan para pelanggan melakukan panggilan video, game online dan sebagainya,” jelas Alumni Fakultas Teknik Elektronik, Universitas Diponegoro, Jawa Tengah ini.
Sebelum ada OTT video, penonton menikmati layanan visual lewat bioskop dan TV. Perubahan preferensi menikmati layanan konten video lewat media baru itu, yang menjadi landasan terjadinya pergeseran perilaku konsumen, yang diikuti disrupsi. Untuk menggerakkan industri media dibutuhkan konten-konten. Maka penyedia konten menjadi penting. Penyedia konten dibagi menjadi dua: lokal dan bukan lokal. Pada tahap itulah, pemain seperti Netflix, Disney, VIU, WeTV, dan Video berada.
Beberapa waktu terakhir muncul kecenderungan masyarakat mulai menyukai konten yang bernuansa lokal. Hal ini terindikasi dari animo masyarakat yang tinggi terhadap konten lokal: Layangan Putus. Menurut Celerina Judisari, CEO PT Mahaka Global Media, konten seperti Layangan Putus menyadarkan kita bahwa konten lokal cukup bisa menggaet penonton. Hal ini ia sampaikan dalam paparannya dalam acara Indonesia Industry Outlook 2022, awal Februari lalu.
Meski demikian, kata Celerina, sebenarnya tidak ada shifting yang begitu besar tentang selera masyarakat. Ia merujuk data survei beberapa lembaga bahwa 60% penonton bioskop kita memang menyukai konten lokal. Sebesar 60%, sebenarnya, penonton kita menikmati film yang bernuansa komedi, percintaan, horor, dan action. “Jadi sebenarnya penonton lokal film-film kita tinggi sekali.”, jelas produsen film ini.
Menurutnya, kebangkitan konten lokal sehingga ia (kembali) menarik hati masyarakat karena dikemas dengan cara yang beda. Di antaranya adalah kemasan yang baru lewat layar OTT. “Secara selera masih sama, tapi treatment-nya berbeda.”, terang Celerina.
Wanita kelahiran 24 Februari 1967 ini memaparkan ada satu waktu atau periode ketika beberapa production house menganalisis dan mempelajari market. Salah satu hasil outputnya adalah market menyukai produk yang treatmentnya seperti Korean Style: dari segi angle, suasana dan kualitas. “Hal itu dilakukan untuk menggaet penonton yang sebenarnya sudah ada di sana.” jelasnya.
Meskipun era digital mempengaruhi lanskap media, namun pemain-pemainnya tetap sama. Ini termasuk juga di dalamnya Production House. Biasanya mereka mempunyai resources yang sangat besar untuk meriset pasar. “Pemain yang berhasil mempelajari pasar bioskop, juga mempelajari pasar OTT. Sehingga bisa lebih cepat mempelajari pasar”, jelas Celerina dalam sesi Indonesia Industry Outlook 2022. Dari hasil riset itu muncullah produksi konten seperti Layangan Putus.
“Media mulai moving, di sana kita lihat ada MNC +, Emtek, kenapa dia jadi OTT yang kuat, karena secara basic sudah kuat. Netflix kenapa kuat karena dia sudah punya library yang bervariatif.”, kata Celerina.
Meski demikian, viralnya konten lokal seperti layangan putus adalah hasil dari kompleksitas yang luar biasa. Baik dari segi strategi dan promosi. “Gak bisa single promotion yang sederhana. Bahwa sekarang strategi harus di treatment, misal antara satu daerah dengan daerah yang lain.” jelas Celerina menambahkan. “Semuanya ini penuh kompleksitas, ini dipengaruhi dari tingkat promosi dan (sampai) dapur,” kata Celerina.
Layangan Putus berasal dari konten yang sebelumnya sudah terkenal. Sudah banyak demand, secara sederhana cerita itu sudah mempunyai fanbase. Untuk survive di era media sekarang, orang-orang harus mendapatkan IP yang kuat demi mendapatkan traffic penonton yang tinggi.
Terkait konten lokal, jika bisa disimpulkan, meskipun terjadi megashift namun pada dasarnya selera masyarakat masih sama. Meski demikian, juga dibutuhkan peran pemerintah di industri media, perlu adanya sensor untuk konten-konten yang bertanggungjawab.
Celerina sangat optimis bahwa konten lokal masih akan berjaya. Menurutnya mengapa kemarin konten K-Drama bisa sukses, karena ada kevakuman di industri kita, ada satu waktu ketika kita melakukan pembacaan atas pasar terlebih dahulu. Selama ini pemerintah pun membantu para creator lokal untuk membuat konten yang baik. Menurut Celerina, asalkan konten mengikuti rumusan penonton industri media kita akan terus survive.
Dari sana diperlukan perbaikan kualitas. “Misal, bukan horor yang cemen-cemen, tapi yang ada kualitasnya. Kaya dulu Pengabdi Setan menaikan level dari film horor”, kata Celerina.
“Bagaimana untuk bisa bersaing dengan Korea? Kita banyak belajar, dari angle, yang penting omerskita mempunyai jadi diri. Bahwa kita harus bisa merumuskan, dengan style korea dan kemudian membuat konten yang berkarakter (kita sendiri). Demand tinggi tapi produksinya seperti mandeg kaya talent resources (contohnya). Butuh kesatuan dari hulu ke hilir, seluruh stakeholder”, pungkas Celerina.[] Siti Ruslina/Yuniman Taqwa



