Satria Dewa Gatotkaca, Kemas Cerita Wayang Dalam Film

Awalnya saya  kurang berekspektasi dengan kehadiran ini  film karena terbius review toxid  dan ada yang bilang kurang bagus. But DAMN… This movie so good! My Personal Review: (8.5/10).

Film Gatotkaca ini bercerita tentang seorang anak yang bernama Yuda yang ternyata memiliki Gen Pelindung Pandawa dalam tubuhnya yang  diyakini  adalah Gatotkaca.

Aspek-aspek yang ada dalam pewayangan diadaptasikan dalam film ini. Kebetulan saya suka pelajaran sejarah. Lebih tepatnya Satria Dewa Universe mengambil  dari alur cerita pewayangan   Mahabharata. Sutradara dari film Gatotkaca, Hanung Bramantyo  memaparkan,  alur cerita Mahabharata akan menjadi plot utama dari Satria Dewa Universe. Mulai dari kisah perseteruan kaum Pandawa dan Kurawa  hingga Perang Bharatayuddha yang nantinya akan menjadi Endgame dari universe ini.

Selain itu ceritanya juga enjoyable.  Memang kesannya agak terburu-buru dan juga agak klise di bagian klimaks serta ending. Namun bagi penikmat sejarah mungkin akan suka dengan film ini karena film ini juga menyajikan edukasi mengenai cerita original dari Gatotkaca serta awal mula perseteruan antara Pandawa dan Kurawa. Jadinya sekilas cerita Mahabharata dan Bharatayuddha dijelaskan dalam film ini.

Ada satu adegan dimana sebenarnya adegan ini tidak berhubungan dengan inti film.  Adegan ini berisikan 4 orang yang sedang bercanda gurau dan berujung pada munculnya brand aplikasi belanja online.   Banyak penonton yang bingung terhadap scene ini termasuk saya sendiri. Saya bahkan beranggapan harusnya scene ini lebih baik dihapus saja. Ternyata scene ini merupakan bagian dari babak “Goro Goro”.

Goro Goro sendiri adalah sebuah babak dalam pertunjukan wayang yang menampilkan 4 tokoh Punakawan yang menyajikan cerita humor  dan biasanya hadir di  pertengahan pertunjukan, sebelum terjadinya  babak peperangan.  

Kehadiran Punakawan ini sebagai pencair suasana.  Pertunjukan wayang biasanya dimulai pukul 7 malam. Dan tepat pukul 12 malam, biasanya tampil 4 tokoh Punakawan ini yang terdiri dari  Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong  yang  muncul mencairkan suasana yang mulai tegang.

Pada sessi ini,  isinya banyolan yang tak ada hubungannya dengan isi cerita.  Memang menjadi aneh bagi mereka yang belum pernah menonton pertunjukan wayang.  Makanya pada scene  itu  kelihatan ada Jalan Punakawan. Secara visual penonton yang suka nonton pertunjukan wayang akan paham kalau itu bagian dari Goro Goro. “Kami mengambil struktur cerita yang ada di pertunjukan wayang untuk kami masukkan ke dalam film. Ini baru eksperimen. Ini cara kami memperkenalkan metode wayang ke anak-anak muda ,”ungkap alumnus Institut Kesenian Jakarta ini.

Diakui Hanung, memang ada perdebatan di kalangan stakeholders. Namun karena film adalah pekerjaan kolaburasi antara penulis skenario, sutradara, dan juga produser, maklum saja bila muncul perdebatan dari banyak pihak. Ada yang berpendapat  tak perlu mencantumkan bagian tersebut sebagai Goro Goro karena toh sudah diperkenalkan ada nama-nama Semar, Gareng, Bagong dan Petruk.

Konflik yang disajikan dalam film ini sebenarnya sangat menarik,  namun sayangnya di bagian ending , menurut saya merasa ada yang kurang. Terdapat adegan yang klise dimana ternyata tokoh Profesor Arya Laksana merupakan sosok villain. Namun  saat mendekati kematiannya,  Arya Laksana  menyesali perbuatannya dan meminta Yuda untuk membunuhnya karena ia beranggapan bahwa ia lebih baik mati di tangan Gatotkaca daripada mati di tangan Beceng, tokoh yang diperankan Yayan Ruhian. Menurut saya scene ini terasa sangat klise. Saya serig kali melihat scene  seperti ini di banyak film.

Namun di luar ending-nya yang klise, babak awal dari film ini hingga pertengahan sangat menarik untuk disimak dan jujur saja menurut saya itu bagus! 

Selanjutnya selain alur cerita, kita bahas vfx (visual effect-pen) dan CGI (computer graphic image-pen)  nya.  Yang saya suka dari film ini adalah CGI dan visual effect yang bagus untuk ukuran film lokal. Adegan petir merah yang dikeluarkan oleh tokoh Profesor  Arya Laksana sangat memukau. Dan yang tak kalah keren CGI ketika Gatotkaca berhadapan dengan Beceng di udara, itu sangat keren. Meski memang belum bisa setingkat Marvel.

Selain itu,  Cinematography dalam film ini terkesan sangat mewah. Pengambilan kamera dan permainan cahaya di film ini berhasil membuat mata penonton terpukau. Dan yang tak kalah keren adalah sound effect dan musik di film ini. Suara yang dihasilkan ketika Gatotkaca membenturkan Pusaka Brajamusti sangat menggelegar. Musik yang disajikan juga asyik di telinga dan  mencerminkan seperti apa film ini. Namun ada beberapa scene dimana  suara musik jauh lebih besar dibanding pengisi suara karakter sehingga saya kebingungan mereka ngomong apa

Sebenarnya ada banyak scene yang cukup menarik dan mungkin akan sangat epic dalam film ini bila  Hanung Bramantyo selaku sutradara tidak memotong beberapa adegan ini. Seperti contoh adegan dimana Yuda memukul Pusaka Brajamusti yang  harusnya bisa lebih epic karena konsep awalnya adalah Yuda disini langsung bertransformasi menjadi full armor Gatot Kaca dan terbang ke angkasa namun Hanung merasa belum yakin untuk menampilkan scene itu sehingga Ia memutuskan untuk mengubah adegan ini.

Peraih Sutradara Terbaik  Festival Film Indonesia (FFI) 2005 dalam film Brownies dan  FFI 2007 lewat film Get Married ini  beranggapan bahwa film Indonesia belum bisa perfect dalam menyajikan CGI terbang. Bahkan seharusnya di awal pemutaran film terdapat adegan terbang, namun lagi-lagi dipotong karena Hanung merasa belum yakin dan siap.

Mungkin faktor ini juga yang membuat Gatotkaca mulai sepi di berbagai bioskop dikarenakan penonton Indonesia belum siap dengan film bertemakan Superhero.

Ada petunjuk juga tentang karakter berikutnya dengan kemunculan pameo Srikandi yang boleh jadi akan muncul di next movie  Satria Dewa.  Namun hal ini ditepis Hanung. Menurutnya setelah Gatotkaca, justru film  Arjuna yang akan lebih dulu muncul.

Intinya lanjut Hanung, pesan yang ingin disampaikan dari cerita epos BharatYuddha adalah semua pihak akan menerima karmanya sendiri-sendiri.  Hidup manusia itu dibekali oleh dua hal, yakni berkat, yang muncul karena kebaikan dan karma yang muncul karena kesalahan. “Jika kamu berbuat salah pada seseorang, maka takdir kamu akan berakhir di tangan orang tersebut,”jelas Owner Dapur Film Production ini.

Ok that’s it. Ini film bagus. Worth it. Good job Om Hanung![]Abrar Rizq Ramadhan/Ilustrasi: IG