Test Market Satria Dewa Gatotkaca Menuai Kontroversi
Rilis 9 Juni 2022, Satria Dewa Gatotkaca langsung menuai kontroversi. Mulai munculnya produk-produk sponsor yang berseliweran di beberapa scene hingga perbincangan soal kostum Gatotkaca yang bernilai Rp1 milliar. Ada apa dibalik dapur pembuatan film senilai Rp24 milliar ini?
Dunia perfilman nasional kembali menghadirkan film superhero. Kali ini mengusung dari cerita pewayangan Indonesia. Sebuah film karya Satria Dewa Studio hadirkan Film Gatotkaca! Dirilis 9 Juni lalu digadang-gadang akan menjadi awal dari delapan semesta sinema Jagat Satria Dewa (Satria Dewa Universe-red), yang menyadur dari cerita Mahabharata versi Jawa.

Dijelaskan sutradara film Gatotkaca, Hanung Bramantyo, pada kesempatan tim redaksi pelakubisnis.com menyambangi kantornya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan, “Sebelumnya pernah tayang film Gundala yang mengambil referensi dari komik. Mereka mengambil superhero dari komik yang beredar di tanah air. Pemilik Bumi Langit membeli hak cipta dari komik-komik Indonesia. Sedangkan Satria Dewa mengambil tokoh-tokohnya dari dunia pewayangan. Ini yang sedang mewarnai sinema Indonesia sekarang,”.
Kisah epos (peperangan) Gatotkaca telah melegenda bagi masyarakat Jawa, khususnya, dan Indonesia secara umum. Tapi berdasarkan perspektif kultur Jawa, – Gatotkaca – justru akan lebih “membumi” bila dikemas dengan gaya sinema kekinian. Artinya tim Satria Dewa – dengan Gatotkaca boleh jadi mempunyai keunggulan kompetitif dibandingkan film-film superhero yang marak beredar di tanah air.
Betapa tidak, mayoritas masyarakat Indonesia berasal dari suku Jawa yang sangat akrab dengan legenda Gatotkaca secara turun-temurun menjadi legenda. Bahkan, legenda tersebut menjadi cerita nasional anak negeri. Dan kisah ini bisa dieksploitasi dari sudut bisnis.
Menurut Hanung, Film Gatotkaca adalah project jangka panjang yang revenue –nya tidak bisa dihitung dari jumlah penonton layar lebar saja, tapi bisa dikembangkan dengan sejumlah media yang dapat menjadi sumber pendapatan. Misalnya dari konten-konten media sosial, melalui OTT –over-the-Top–, VOD –video on demand—, televisi Digital FTA –free to air–, game online, merchandise kaos dan medali (Pusaka Brajamusti Gatotkaca-red) dan produk-produk turunan lainnya.
Tapi untuk mengeksploitasi produk-produk hilir dari film Gatotkaca ini tidak bisa instant – langsung diproduksi – langsung mendatangkan keuntungan. Boleh jadi film Gatotkaca yang konon bernilai Rp24 milliar ini merupakan uji coba dalam sebuah proyek besar – yang kelak akan menjadi ladang cuan – jika digarap dengan sungguh-sungguh.

Dalam perspektif pelakubisnis.com, langkah awal pembuat film ini – seharusnya – tak perlu meraup keuntungan langsung dengan mengeksploitasi alur cerita dengan muat sponsor yang boleh jadi “mengganggu” alur cerita. Rasionalitas dan estetik seharusnya tetap terjaga, sehingga tampilan perdana film tidak “ternodai” dengan sponsor yang tampilannya dirasa penonton kurang elok.
Brand placement atau menempatkan produk sponsor boleh-boleh saja dalam suatu film. Selama tidak mengganggu alur cerita. Contoh pada film Habibie Ainun dan Di Bawah Lindungan Ka’bah . Dikutip dari 123.dok.com, perusahaan makanan dan minuman Garudafood membuat strategi brand placement dengan menempatkan produk Chocolatos dalam salah satu adegan di film Habibie Ainun dan juga di film Di Bawah Lindungan Ka’bah. “Saya cuma arsitek, insinyurnya dalam film,”ujar Hanung yang sempat terpikir menjadikan permen Frozz sebagai ikon sosok Yuda di film Gatotkaca. Seperti film-film James Bond yang selalu tampil dengan aksesoris jam tangan ikoniknya yang masuk dalam frame cerita bahkan menjadi identitas bagi sang agen rahasia.
Dalam kacamata penonton, mungkin hal-hal seperti itu patut menjadi perhatian bagi tim Satria Dewa, sebagai pemegang lisensi Gatotkaca yang bisa lebih bijak dalam membuat kontrak-kontrak sponsor. Apalagi kini budaya “sosial” media menjadi “kiblat” yang bisa merubah perilaku masyarakat dalam mengambil keputusan. Sehingga boleh jadi media sosial – saat ini — menjadi frame of reference millennial, khususnya, dalam mengambil keputusan.
Yang jelas, pertanyaan besar sudah terjawab, apakah Indonesia bisa membuat film super hero? Dijawablah melalui dua film super hero, Gundala dan Gatotkaca. “Sekarang tinggal bagaimana reaksi pasar? Karena potensi pasar di Indonesia masih didominasi film-film horror, komedi, dan romance. Pun ada film religi dan film action juga,”tutur sutradara, penulis naskah, produser dan pemain film ini.
“Ini namanya test market! Siapa yang akan memulai? Ya, seperti Satria Dewa dan Bumi Langit,”tutur pemenang JUARA SOCi@L MEDIA Indonesia Most Influental Personality in Social Media! 2010 yang diselenggarakan Majalah SWAsembada bekerjasama dengan SITTI (Sistem Iklan Teknologi Indonesia) ini.
Lantas, lanjut Hanung, karena baru memulai, maka muncul kesadaran untuk mempertimbangkan ini semesta perlu dilanjutkan atau tidak? Karena risikonya cukup besar. Seperti Satria Dewa itu tidak berhenti hanya satu film. Skema bisnisnya bukan skema bisnis membuat film terus keuntungannya dari film. Melainkan Satria Dewa ingin membesarkan IP (intellectual property). IP yang mereka ciptakan itu adalah Satria Dewa yang terdiri dari Gatotkaca, Arjuna, Yudhistira, Bharatayuda, Nakula Sadewa, Srikandi, Bima dan Kurukshetra.

Nantinya IP selain film mereka juga menyiapkan barang-barang merchandise seperti kaos dan medali (Pusaka Brajamusti Gatotkaca-red). “Misalnya penontonnya hanya mencapai 200 ribu orang. Tapi dari 200 ribu itu ada yang membeli merchandise Gatotkaca, ya mungkin ndak masalah penontonnya segitu,”tukas Hanung .
Karena itu, lanjut Hanung, perlu menumbuhkan kesadaran dari stakeholder ketika membuat film Gatotkaca. Ini adalah project jangka panjang. Investasi yang digelontorkan juga untuk investasi jangka panjang. Bahkan pada tahap awal test market saja, distribusi film Satria Dewa Gatotkaca juga menembus pasar global. Setelah diputar di tanah air, film semesta ini lanjut diputar di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Canada.
Muncul persepsi masyarakat melalui beberapa review yang kita baca, mengapa stepnya tidak melakukan penetrasi pasar dengan film yang bagus dulu, baru bicara profit? Ada asumsi film ini telah mengeksploitasi keuntungan. Padahal ini bisnis jangka panjang. Apalagi segmen pasarnya segala umur dan mayoritas masyarakat Indonesia orang Jawa. Ini segmen pasar yang luar biasa. “Saya masuk di tengah-tengah. Itu perjanjian Satria Dewa dengan investor,”jawab Hanung.
Yang jelas menurutnya, masih banyak pekerjaan rumah untuk industri perfilman di tanah air dengan menyuguhkan karya-karya film yang menarik dan memiliki daya saing. “Caranya harus seru, armor-armor, senjata-senjatanya harus keren. Kalau gak keren, anak-anak kita semakin banyak pilihan. Seluruh dunia sedang berlomba-lomba menampilkan sesuatu yang menarik buat penonton. Baik itu film superhero, komedi atau jenis film apapun harus bisa buat yang sangat menarik untuk go global. Kemasan menjadi penting!”
Ia menambahkan, boleh jadi saat ini perfilman di tanah air sedang keluar dari zona nyaman dengan membuat film-film yang out of the box! Semua terjadi karena sosial media.
Handphone sekarang sudah menjadi buku, perpustakaan, sekolah, semua informasi ada di dalam handphone. Bahkan kepintaran orangtua, kebijakan dan kebijaksanaan orangtua di-compare dengan handphone. Ini yang membuat kita sebagai orangtua harus out of the box. Jadi bukan hanya untuk para pembuat film saja. “Kalau dulu anak ada masalah, tanya ke orangtua karena ada keyakinan kalau orangtua lebih banyak tahu dibandingkan yang lain. Sekarang, kalau ditanya, apa faktor yang bisa mendongkrak kemajuan film di tanah air? Ya, sosial media!,”tutur pria kelahiran Yogyakarta, 1 Oktober 1975 ini.
Bisnis film tidak hanya di bioskop, tapi medianya lebih banyak lagi. Hanung berharap, dengan 200 ribu penonton kelak akan berkembang lebih banyak dan itu yang harus dikelola. Word of mouth dengan sendirinya akan berdampak bagi karya film-film berikutnya. “Yang terpenting sekarang, jangan sampai film keduanya lebih jelek dari Gatotkaca! Dari film ini kita banyak belajar!,”tutup Setiawan Hanung Bramantyo.[]Siti Ruslina/Abrar Rizq Ramadhan/Nisrina K Putri
